LOGINKeesokan paginya, Al mendatangi gedung administrasi pusat universitasnya. Ia mengabaikan semua mata mahasiswa yang menatapnya penuh gunjing terkait berita pertunangannya dengan Elena. Fokusnya hanya satu: melacak jejak akademis Reva.
"Maaf, Mas Aldebaran Kusuma," ucap petugas administrasi wanita paruh baya itu dengan raut wajah sungkan setelah memeriksa data di komputer. "Mahasiswi atas nama Revalina Putri Gunawan dari Fakultas Ekonomi sudah resmi mengajukan surat pengunduran diri dan pencabutan berkas beasiswa dua minggu yang lalu." Al membelalak, dadanya mendadak terasa sesak seolah-olah dihantam benda tumpal. "Mengundurkan diri? Maksud Ibu, dia bukan ambil cuti akademik?" "Bukan cuti, Mas. Berkasnya benar-benar dicabut secara permanen. Beliau menandatangani surat pernyataan keluar dari universitas ini," jelas petugas itu lagi sambil menunjukkan salinan dokumen di atas meja. Al menatap tanda tangan Reva di atas meterai pada lembaran kertas itu. Goresan penanya tampak tegas, mencerminkan keputusan bulat tanpa keraguan sedikit pun. Reva sekadar ingin lari sejauh mungkin darinya, sampai-sampai rela membuang beasiswa, skripsi yang tinggal selangkah lagi selesai, dan semua impian masa depannya. Rasa bersalah di dada Al kini menjelma menjadi gumpalan obsesi yang kian pekat dan berbahaya. Sisi manipulatif yang ia warisi dari ayahnya perlahan mulai bangkit mengambil alih akal sehatnya. "Dia pikir dia bisa lepas dariku dengan cara seperti ini?" bisik Al pelan dengan tatapan mata yang mendadak dingin dan kosong, membuat petugas administrasi di depannya sedikit bergidik ngeri. 'Kamu bisa lari ke mana pun kamu mau, Reva. Tapi, aku akan menemukan dan membawamu kembali ke sisiku, apapun caranya!' batin Al sambil mengepalkan tangan erat-erat. Tanpa mengucapkan terima kasih, Al memutar tumit dan bergegas meninggalkan tempat, memacu kendaraannya membelah jalanan ibu kota yang padat. Malam harinya, sebuah jamuan makan malam formal diadakan di restoran mewah hotel bintang lima kediaman keluarga Pranoto. Al duduk di samping Elena, mengenakan setelan jas formal yang membuatnya tampak seperti boneka pajangan yang sempurna. Di seberang meja, Satria Kusuma dan Hadi Pranoto tertawa lebar sambil membahas pembagian keuntungan dari proyek merger terbaru mereka. Al hanya menatap piring berisi steak di depannya tanpa minat. Pikirannya melayang jauh, mengitari setiap sudut kota mencari keberadaan Reva. "Al, kenapa makanannya cuma dilihat saja? Apakah kamu sakit? Kamu kelihatan tidak berselera malam ini," tegur Elena dengan suara lembut yang terdengar begitu manis di depan orang tua mereka. Namun di bawah meja, tangan Elena bergerak mencengkeram paha Al dengan kuku-kukunya yang tajam, bermaksud memberi peringatan. Al menjauhkan tangan Elena dari pahanya dengan gerakan kasar, lalu meletakkan garpu dan pisaunya hingga berdenting nyaring, mengundang perhatian kedua orang tua mereka. "Aku kenyang." Satria Kusuma berdeham keras, raut wajahnya langsung berubah menegang dingin. "Jaga sopan santunmu di depan calon mertuamu, Aldebaran. Hapus wajah menyedihkanmu itu. Papa tidak pernah mendidikmu jadi pria lemah yang tidak tahu cara menghargai makanan mewah." Hadi Pranoto tertawa palsu, berusaha mencairkan suasana yang mendadak beku. "Ah, tidak apa-apa, Satria. Namanya juga anak muda, mungkin Al sedang kelelahan karena mulai kau ajari memegang kendali beberapa proyek besar di Kusuma Group. Wajar kalau stres." Elena tersenyum anggun, merapatkan duduknya ke arah Al sebelum mendekatkan bibir ke telinga tunangannya itu. Ia berbisik dengan nada yang teramat pelan, tetapi sarat akan ancaman yang sanggup membekukan aliran darah Al. "Kamu mencari gadis gembel itu lagi ke kosannya semalam, kan? Nggak usah bohong sama aku, Al. Orang-orang suruhanku melihat mobil sport milikmu parkir di area gang itu," bisik Elena sinis, matanya berkilat penuh kemenangan. Al menoleh tajam, menatap Elena dari jarak dekat dengan sorot mata membunuh yang tak lagi ia sembunyikan. "Kalau kamu berani menyentuh atau menyakiti Reva seujung kuku saja, El. Aku bersumpah akan menghancurkan Pranoto Corp dengan tanganku sendiri." Elena justru terkekeh pelan, sama sekali tidak gentar dengan ancaman Al. Ia mundur, kembali menegakkan punggungnya dengan anggun sebelum menyuap sepotong daging ke dalam mulutnya secara perlahan. "Dia sudah pergi dari Jakarta atas kemauannya sendiri, Al. Sukarela, tanpa perlu kukotori tanganku untuk mengusirnya," balas Elena dengan volume suara yang tetap terjaga. "Tapi denger, ya, Sayang. Kalau kamu masih nekat mengerahkan orang-orangmu untuk mencari dia dan bikin malu nama baik keluarga kita di media, aku pastikan Reva akan menerima kejutan yang sangat tidak menyenangkan yang tidak akan pernah dia sangka sebelumnya. Akan aku pastikan dia sangat menderita hingga memohon untuk segera meninggalkan dunia ini." Al mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat di bawah meja marmer hingga buku-buku jarinya memutih pasi dan urat-urat di lengannya menonjol tegang. Amarahnya bergejolak hebat, tetapi ia terpaksa menahannya demi keselamatan Reva yang saat ini entah ada di mana. Pernikahan bisnis itu, Elena, dan ayahnya terasa seperti neraka jahanam yang mengurungnya hidup-hidup. *** Keesokan harinya, keheningan di dalam ruang kerja pribadi Aldebaran terasa begitu mencekam, kontras dengan kesibukan di luar dinding rumah mewah keluarga Kusuma yang sedang bersiap menyambut pesta pernikahan terbesar tahun ini. Pada sebuah gantungan dari kayu, sebuah jas pengantin pria berwarna hitam legam tergantung kaku, tampak seperti sarkofagus yang siap mengubur seluruh sisa kebebasan Al esok pagi. Al menyandarkan kepalanya di punggung kursi, sepasang matanya terpejam rapat dengan gurat frustrasi yang amat dalam di dahinya. Sudah tiga minggu. Tiga minggu penuh siksaan sejak malam di mana ia memuntahkan kata-kata paling kejam untuk mengusir Revalina dari hidupnya di koridor kampus. Al sengaja melakukan kekejaman itu, membiarkan dirinya dicap sebagai bajingan egois demi mengelabui mata-mata Satria Kusuma dan Elena Salsabila yang siap menghancurkan Reva. Namun, efek samping dari sandiwara itu ternyata jauh lebih menghancurkan kewarasan Al. Reva benar-benar menghilang. Gadis itu mengajukan surat pengunduran diri dari universitas, mengosongkan kamar kosnya dalam semalam, dan memutus semua jaringan komunikasi. Reva hilang bak ditelan bumi. Tok. Tok. Tok. Pintu ruang kerja diketuk pelan. Dimas melangkah masuk dengan kepala menunduk, guratan lelah di wajah asisten pribadinya itu sudah cukup memberikan jawaban sebelum Al sempat bertanya. "Bagaimana, Dimas? Ada kabar?" tanya Al terdengar serak, sarat akan keputusasaan yang tertahan di tenggorokan. Dimas menghela napas berat, menggelengkan kepalanya perlahan. "Mohon maaf, Mas Al. Tim lapangan kita sudah memeriksa stasiun, terminal, bahkan kampung halaman mendiang orang tua Mbak Reva. Semuanya nihil. Mbak Reva seolah-olah sengaja menghapus seluruh jejak digital dan fisiknya dari radar kita. Pelacakan rekeningnya juga berhenti di penarikan tunai terakhir tiga minggu lalu." Al mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Rasa bersalah dan kecemasan yang ekstrem bergolak hebat di dalam dadanya, menciptakan rasa sesak yang tak tertahankan. Ia telah berhasil menjauhkan Reva dari ancaman Elena, tetapi di saat yang sama, ia telah kehilangan satu-satunya alasan untuk tetap hidup dengan benar. "Tetap cari, Dimas. Kerahkan dua kali lipat personel. Jangan gunakan aset Kusuma Group, pakai dana dari perusahaan kita di Singapura," perintah Al, suaranya terdengar bergetar rendah. "Baik, Mas Al. Lalu, untuk besok pagi? Mobil jemputan akan datang jam enam," ucap Dimas hati-hati. Al membuka matanya, menatap lurus ke arah jas pengantin di depannya dengan tatapan kosong dan mati rasa. Jiwanya sudah runtuh, menyisakan cangkang kosong yang siap digiring ke altar sandiwara demi ambisi korporat ayahnya. "Biarkan saja. Aku akan datang. Toh, tidak ada lagi yang perlu kuselamatkan besok."Dengan gerakan gesit, Arkananta mendribel bola melewati Aletta, melompat tinggi, dan memasukkan bola ke dalam ring dengan sangat mulus. "Curang! Arkan, kan, badannya lebih tinggi!" protes Aletta sambil berkacak pinggang, bibirnya mengerucut sebal. Arkananta hanya tertawa terbahak-bahak. Ia berjalan menghampiri Aletta, mengacak-acak rambutnya dengan penuh kasih sayang. "Siapa suruh kau malas minum susu peninggi badan? Tapi tenang saja, meski kau pendek, kau tetap superhero terhebatku." Aletta mendengkus kesal, meski senyuman lebar akhirnya terbit di wajah cantiknya. Sampai detik ini, ikatan batin antara kedua saudara itu tidak pernah putus. Mereka saling melindungi, saling menggoda, dan tumbuh dalam kasih sayang yang setara. Tiba-tiba, sebuah suara cadel yang melengking memecah perdebatan kecil mereka. "Kakak Ale! Kakak Alka! Cini, main cama Aksa!" Dari arah pintu kaca paviliun, seorang balita laki-laki berusia tiga tahun berlari terhuyung-huyung dengan kaki kecilnya yang m
Al turun lebih dulu. Tanpa memedulikan tatapan puluhan stafnya, pria bertubuh atletis itu langsung membungkuk dan menggendong Reva dengan gaya bridal style keluar dari mobil, mengabaikan fakta bahwa Reva sudah bisa berjalan pelan. "Al, turunkan aku! Malu dilihat banyak orang!" protes Reva dengan pipi yang merona merah padam seraya memukul pelan dada bidang suaminya. "Biarkan saja mereka melihat. Aku sedang menggendong istriku sendiri, bukan menggendong patung," jawab Al santai tanpa merasa berdosa sedikit pun. Sementara itu, para pengasuh dengan sigap membantu Aletta dan Arkananta turun dari mobil. Kedua bocah itu langsung berlarian kecil dengan wajah ceria menuju pintu utama, tak sabar ingin melihat rumah mereka lagi. Begitu Al melangkah masuk membawa Reva ke dalam mansion, napas Reva seketika tercekat. Matanya melebar sempurna melihat perubahan luar biasa yang terjadi di dalam rumah raksasa tersebut. Warna-warna gelap, muram, dan perabotan bergaya gotik berlebihan yang dul
Satu minggu telah berlalu sejak malam panjang yang mempertaruhkan hidup dan mati di ruang operasi Rumah Sakit Medika Pusat. Udara pagi yang menyusup masuk melalui celah ventilasi kamar VVIP Presidential Suite terasa jauh lebih segar dan menenangkan. Ketegangan yang sebelumnya menggantung pekat bagai kabut beracun kini telah menguap tak bersisa, digantikan oleh aroma manis dari buket bunga lili putih yang tertata rapi di atas meja nakas. Atas perintah mutlak Aldebaran Kusuma, dinding pembatas antara dua kamar suite terbaik di rumah sakit itu telah dibongkar dalam waktu semalam. Pria itu mengubahnya menjadi satu ruangan perawatan raksasa yang mewah agar seluruh keluarganya bisa berkumpul dalam satu pandangan matanya. Di sisi kiri, Revalina berbaring di atas ranjang dengan raut wajah yang kian memancarkan rona kehidupan, ditemani oleh Aletta yang tengah duduk santai di sofa sembari mewarnai buku gambar. Di sisi kanan, Arkananta terbaring dengan senyum tipis yang tak pernah lepas dari w
"Papa akan menemanimu masuk. Papa tidak akan melepaskan tanganmu," ucap Al, mengusap pipi Aletta dengan ibu jarinya yang bergetar. "Papa jangan sedih lagi," ucap Aletta sambil mengulurkan tangannya yang mungil, membelai rahang ayahnya yang mengeras. "Aletta, kan, superhero. Setelah ini, Arkan pasti bisa lari-lari lagi di taman sama Aletta." Aldebaran memaksakan sebuah senyuman, meski hatinya hancur berkeping-keping. "Ya, Sayang. Kau adalah superhero terhebat yang pernah Papa kenal." Ruang operasi itu terang benderang, dipenuhi aroma antiseptik yang tajam dan bunyi dengungan pelan dari berbagai mesin penyokong kehidupan. Suhunya sengaja dibuat sangat dingin untuk menjaga kesterilan. Namun bagi Aldebaran, dinginnya ruangan itu tak sebanding dengan kebekuan di dalam hatinya. Aletta sudah berbaring telungkup di atas meja operasi yang dilapisi selimut pemanas. Tubuh kecilnya terlihat sangat rapuh di tengah kepungan peralatan medis berbahan logam yang mengilap. Aldebaran duduk di ku
"Aletta, prosedur itu bukan cuma suntik biasa, Sayang. Itu akan sangat menyakitkan. Tulang belakangmu nanti akan disuntik dengan jarum yang ... ah, Papa tidak akan sanggup melihatmu kesakitan, Nak," ucap Reva dengan tangis yang akhirnya pecah. Ia memeluk putrinya erat-erat, menciumi puncak kepalanya dengan penuh keputusasaan. "Ibu juga tidak sanggup. Kami sangat menyayangimu." "Tapi kalau Arkan mati, Papa bakal sedih terus! Ibu juga nangis terus!" bantah Aletta, suaranya melengking karena frustrasi yang kekanak-kanakan. "Aletta nggak mau sendirian, Ibu! Aletta mau main sama Arkan lagi! Aletta mau nahan sakit sebentar, asal kita semua bisa ketawa lagi!" Di tengah momen yang begitu memilukan itu, pintu kamar rawat tiba-tiba terbuka lebar dengan kasar. Aldebaran melangkah masuk. Pria itu baru saja berlari dari koridor bangsal steril setelah memerintahkan Dimas untuk mencari opsi ke seluruh benua. Niat awalnya adalah untuk memeriksa keadaan Reva, mencari sedikit ketenangan dari sa
Pintu bangsal steril terbuka, dan Dokter Bisma melangkah keluar dengan wajah yang dipenuhi peluh. Ia melepas masker medisnya, menatap Aldebaran dengan pandangan mata yang sarat akan rasa bersalah sekaligus keletihan yang luar biasa. "Tuan Besar Kusuma." Dokter Bisma menjeda kalimatnya, membungkuk sedalam mungkin di hadapan Al. "Maafkan kami. Kami berhasil mengembalikan ritme jantung Tuan Muda untuk sementara waktu. Tapi ini hanya solusi jangka pendek yang sangat rapuh. Perdarahan internalnya belum sepenuhnya berhenti karena faktor pembekuan darahnya sudah tidak berfungsi sama sekali akibat anemia aplastik tingkat akhir ini." "Aku tidak butuh permintaan maafmu, Dokter! Aku butuh solusi!" bentak Al, suaranya menggelegar di koridor yang sepi itu, membuat Dokter Bisma tersentak mundur. "Aku membayar kalian dengan fasilitas terbaik di negeri ini! Cari cara! Datangkan obat apa saja! Sialan, apa gunanya semua gelarmu jika menyelamatkan satu anak kecil saja kau tidak mampu?!" Dokter B







