แชร์

Bab 7

ผู้เขียน: Nawasena
last update วันที่เผยแพร่: 2026-08-12 21:27:39

Keesokan paginya, Al mendatangi gedung administrasi pusat universitasnya. Ia mengabaikan semua mata mahasiswa yang menatapnya penuh gunjing terkait berita pertunangannya dengan Elena. Fokusnya hanya satu: melacak jejak akademis Reva.

"Maaf, Mas Aldebaran Kusuma," ucap petugas administrasi wanita paruh baya itu dengan raut wajah sungkan setelah memeriksa data di komputer. "Mahasiswi atas nama Revalina Putri Gunawan dari Fakultas Ekonomi sudah resmi mengajukan surat pengunduran diri dan pencabutan berkas beasiswa dua minggu yang lalu."

Al membelalak, dadanya mendadak terasa sesak seolah-olah dihantam benda tumpal. "Mengundurkan diri? Maksud Ibu, dia bukan ambil cuti akademik?"

"Bukan cuti, Mas. Berkasnya benar-benar dicabut secara permanen. Beliau menandatangani surat pernyataan keluar dari universitas ini," jelas petugas itu lagi sambil menunjukkan salinan dokumen di atas meja.

Al menatap tanda tangan Reva di atas meterai pada lembaran kertas itu. Goresan penanya tampak tegas, mencerminkan keputusan bulat tanpa keraguan sedikit pun. Reva sekadar ingin lari sejauh mungkin darinya, sampai-sampai rela membuang beasiswa, skripsi yang tinggal selangkah lagi selesai, dan semua impian masa depannya.

Rasa bersalah di dada Al kini menjelma menjadi gumpalan obsesi yang kian pekat dan berbahaya. Sisi manipulatif yang ia warisi dari ayahnya perlahan mulai bangkit mengambil alih akal sehatnya.

"Dia pikir dia bisa lepas dariku dengan cara seperti ini?" bisik Al pelan dengan tatapan mata yang mendadak dingin dan kosong, membuat petugas administrasi di depannya sedikit bergidik ngeri.

'Kamu bisa lari ke mana pun kamu mau, Reva. Tapi, aku akan menemukan dan membawamu kembali ke sisiku, apapun caranya!' batin Al sambil mengepalkan tangan erat-erat.

Tanpa mengucapkan terima kasih, Al memutar tumit dan bergegas meninggalkan tempat, memacu kendaraannya membelah jalanan ibu kota yang padat.

Malam harinya, sebuah jamuan makan malam formal diadakan di restoran mewah hotel bintang lima kediaman keluarga Pranoto. Al duduk di samping Elena, mengenakan setelan jas formal yang membuatnya tampak seperti boneka pajangan yang sempurna. Di seberang meja, Satria Kusuma dan Hadi Pranoto tertawa lebar sambil membahas pembagian keuntungan dari proyek merger terbaru mereka.

Al hanya menatap piring berisi steak di depannya tanpa minat. Pikirannya melayang jauh, mengitari setiap sudut kota mencari keberadaan Reva.

"Al, kenapa makanannya cuma dilihat saja? Apakah kamu sakit? Kamu kelihatan tidak berselera malam ini," tegur Elena dengan suara lembut yang terdengar begitu manis di depan orang tua mereka. Namun di bawah meja, tangan Elena bergerak mencengkeram paha Al dengan kuku-kukunya yang tajam, bermaksud memberi peringatan.

Al menjauhkan tangan Elena dari pahanya dengan gerakan kasar, lalu meletakkan garpu dan pisaunya hingga berdenting nyaring, mengundang perhatian kedua orang tua mereka. "Aku kenyang."

Satria Kusuma berdeham keras, raut wajahnya langsung berubah menegang dingin. "Jaga sopan santunmu di depan calon mertuamu, Aldebaran. Hapus wajah menyedihkanmu itu. Papa tidak pernah mendidikmu jadi pria lemah yang tidak tahu cara menghargai makanan mewah."

Hadi Pranoto tertawa palsu, berusaha mencairkan suasana yang mendadak beku. "Ah, tidak apa-apa, Satria. Namanya juga anak muda, mungkin Al sedang kelelahan karena mulai kau ajari memegang kendali beberapa proyek besar di Kusuma Group. Wajar kalau stres."

Elena tersenyum anggun, merapatkan duduknya ke arah Al sebelum mendekatkan bibir ke telinga tunangannya itu. Ia berbisik dengan nada yang teramat pelan, tetapi sarat akan ancaman yang sanggup membekukan aliran darah Al.

"Kamu mencari gadis gembel itu lagi ke kosannya semalam, kan? Nggak usah bohong sama aku, Al. Orang-orang suruhanku melihat mobil sport milikmu parkir di area gang itu," bisik Elena sinis, matanya berkilat penuh kemenangan.

Al menoleh tajam, menatap Elena dari jarak dekat dengan sorot mata membunuh yang tak lagi ia sembunyikan. "Kalau kamu berani menyentuh atau menyakiti Reva seujung kuku saja, El. Aku bersumpah akan menghancurkan Pranoto Corp dengan tanganku sendiri."

Elena justru terkekeh pelan, sama sekali tidak gentar dengan ancaman Al. Ia mundur, kembali menegakkan punggungnya dengan anggun sebelum menyuap sepotong daging ke dalam mulutnya secara perlahan.

"Dia sudah pergi dari Jakarta atas kemauannya sendiri, Al. Sukarela, tanpa perlu kukotori tanganku untuk mengusirnya," balas Elena dengan volume suara yang tetap terjaga. "Tapi denger, ya, Sayang. Kalau kamu masih nekat mengerahkan orang-orangmu untuk mencari dia dan bikin malu nama baik keluarga kita di media, aku pastikan Reva akan menerima kejutan yang sangat tidak menyenangkan yang tidak akan pernah dia sangka sebelumnya. Akan aku pastikan dia sangat menderita hingga memohon untuk segera meninggalkan dunia ini."

Al mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat di bawah meja marmer hingga buku-buku jarinya memutih pasi dan urat-urat di lengannya menonjol tegang. Amarahnya bergejolak hebat, tetapi ia terpaksa menahannya demi keselamatan Reva yang saat ini entah ada di mana. Pernikahan bisnis itu, Elena, dan ayahnya terasa seperti neraka jahanam yang mengurungnya hidup-hidup.

***

Keesokan harinya, keheningan di dalam ruang kerja pribadi Aldebaran terasa begitu mencekam, kontras dengan kesibukan di luar dinding rumah mewah keluarga Kusuma yang sedang bersiap menyambut pesta pernikahan terbesar tahun ini. Pada sebuah gantungan dari kayu, sebuah jas pengantin pria berwarna hitam legam tergantung kaku, tampak seperti sarkofagus yang siap mengubur seluruh sisa kebebasan Al esok pagi.

Al menyandarkan kepalanya di punggung kursi, sepasang matanya terpejam rapat dengan gurat frustrasi yang amat dalam di dahinya. Sudah tiga minggu. Tiga minggu penuh siksaan sejak malam di mana ia memuntahkan kata-kata paling kejam untuk mengusir Revalina dari hidupnya di koridor kampus. Al sengaja melakukan kekejaman itu, membiarkan dirinya dicap sebagai bajingan egois demi mengelabui mata-mata Satria Kusuma dan Elena Salsabila yang siap menghancurkan Reva.

Namun, efek samping dari sandiwara itu ternyata jauh lebih menghancurkan kewarasan Al. Reva benar-benar menghilang. Gadis itu mengajukan surat pengunduran diri dari universitas, mengosongkan kamar kosnya dalam semalam, dan memutus semua jaringan komunikasi. Reva hilang bak ditelan bumi.

Tok. Tok. Tok.

Pintu ruang kerja diketuk pelan. Dimas melangkah masuk dengan kepala menunduk, guratan lelah di wajah asisten pribadinya itu sudah cukup memberikan jawaban sebelum Al sempat bertanya.

"Bagaimana, Dimas? Ada kabar?" tanya Al terdengar serak, sarat akan keputusasaan yang tertahan di tenggorokan.

Dimas menghela napas berat, menggelengkan kepalanya perlahan. "Mohon maaf, Mas Al. Tim lapangan kita sudah memeriksa stasiun, terminal, bahkan kampung halaman mendiang orang tua Mbak Reva. Semuanya nihil. Mbak Reva seolah-olah sengaja menghapus seluruh jejak digital dan fisiknya dari radar kita. Pelacakan rekeningnya juga berhenti di penarikan tunai terakhir tiga minggu lalu."

Al mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Rasa bersalah dan kecemasan yang ekstrem bergolak hebat di dalam dadanya, menciptakan rasa sesak yang tak tertahankan. Ia telah berhasil menjauhkan Reva dari ancaman Elena, tetapi di saat yang sama, ia telah kehilangan satu-satunya alasan untuk tetap hidup dengan benar.

"Tetap cari, Dimas. Kerahkan dua kali lipat personel. Jangan gunakan aset Kusuma Group, pakai dana dari perusahaan kita di Singapura," perintah Al, suaranya terdengar bergetar rendah.

"Baik, Mas Al. Lalu, untuk besok pagi? Mobil jemputan akan datang jam enam," ucap Dimas hati-hati.

Al membuka matanya, menatap lurus ke arah jas pengantin di depannya dengan tatapan kosong dan mati rasa. Jiwanya sudah runtuh, menyisakan cangkang kosong yang siap digiring ke altar sandiwara demi ambisi korporat ayahnya. "Biarkan saja. Aku akan datang. Toh, tidak ada lagi yang perlu kuselamatkan besok."

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Di Balik Akad Rahasia   Bab 8

    Lampu kristal raksasa yang menggantung di langit-langit grand ballroom sebuah hotel mewah di Jakarta memancarkan cahaya yang angkuh, memayungi pesta pernikahan yang disebut-sebut sebagai merger terbesar dekade ini. Aliansi strategis antara Kusuma Group dan Pranoto Corp resmi dikunci di atas pelaminan hari itu. Di atas pelaminan yang didekorasi dengan ribuan mawar putih impor kelas premium, Aldebaran Kusuma berdiri tegap. Ia tampak gagah, tetapi tubuhnya kaku bagai patung lilin di dalam setelan tuxedo hitam klasik rancangan desainer Eropa.Di sampingnya, Elena Salsabila Pranoto tersenyum anggun ke arah puluhan kamera wartawan bisnis yang tak henti-hentinya memancarkan lampu kilat. Elena tampil memukau dengan gaun pengantin bertabur kristal Swarovski yang menyapu lantai marmer, memancarkan aura kemenangan seorang putri mahkota konglomerat yang baru saja mengamankan aset terbaiknya. Pernikahan itu, bagi Elena adalah kemenangan mutlak atas egonya dan validasi kekuasaannya di mata dewan di

  • Di Balik Akad Rahasia   Bab 7

    Keesokan paginya, Al mendatangi gedung administrasi pusat universitasnya. Ia mengabaikan semua mata mahasiswa yang menatapnya penuh gunjing terkait berita pertunangannya dengan Elena. Fokusnya hanya satu: melacak jejak akademis Reva."Maaf, Mas Aldebaran Kusuma," ucap petugas administrasi wanita paruh baya itu dengan raut wajah sungkan setelah memeriksa data di komputer. "Mahasiswi atas nama Revalina Putri Gunawan dari Fakultas Ekonomi sudah resmi mengajukan surat pengunduran diri dan pencabutan berkas beasiswa dua minggu yang lalu."Al membelalak, dadanya mendadak terasa sesak seolah-olah dihantam benda tumpal. "Mengundurkan diri? Maksud Ibu, dia bukan ambil cuti akademik?""Bukan cuti, Mas. Berkasnya benar-benar dicabut secara permanen. Beliau menandatangani surat pernyataan keluar dari universitas ini," jelas petugas itu lagi sambil menunjukkan salinan dokumen di atas meja.Al menatap tanda tangan Reva di atas meterai pada lembaran kertas itu. Goresan penanya tampak tegas, mencermi

  • Di Balik Akad Rahasia   Bab 6

    Reva meraih dompetnya, memeriksa sisa uang tabungannya yang tidak seberapa. Cukup untuk membeli tiket kereta kelas ekonomi menuju kota tempat tinggal kakaknya, Keisha."Mbak Keisha," ucap Reva terisak lirih. Air mata kembali luruh membasahi pipinya yang pucat saat menggumamkan nama satu-satunya keluarga yang dimiliki. "Reva mau pulang, Mbak."Malam itu juga, di bawah guyuran hujan deras yang akhirnya mengguyur Jakarta, Reva melangkah keluar dari indekost dengan membawa satu koper berukuran sedang dan tas ransel lusuhnya. Ia menyerahkan kunci kamar pada pemilik kos dengan alasan ada urusan keluarga darurat yang membuatnya harus pulang kampung dalam waktu lama.***Tiga minggu berlalu sejak malam yang menghancurkan itu.Acara pertunangan megah antara Aldebaran Kusuma dan Elena Salsabila Pranoto telah sukses digelar di salah satu hotel bintang lima termewah di Jakarta. Foto-foto kemesraan palsu mereka menghiasi berbagai majalah bisnis dan infotainment selama berhari-hari. Di depan kamer

  • Di Balik Akad Rahasia   Bab 5

    Al tidak membalas. Ia tetap bergeming sambil membuang muka, tidak berani menatap mata Reva karena tahu pertahanannya akan runtuh jika melihat air mata perempuan yang teramat dicintainya itu. "Mulai sekarang, jangan pernah cari aku lagi. Anggap kita nggak pernah kenal," ucap Al final. Ia berbalik dan melangkah pergi meninggalkan Reva sendirian yang langsung merosot, menangis histeris sambil memeluk lututnya sendiri. Al berjalan cepat menjauhi area pohon rindang itu. Air matanya yang sejak tadi ditahan akhirnya lolos begitu saja, mengalir deras membasahi pipinya. Dadanya terasa begitu sesak hingga kesulitan bernapas. 'Maafkan aku, Reva. Maafkan aku harus melakukan ini demi melindungi kamu,' jerit Al dalam hati. Namun, langkah kaki Al mendadak terhenti ketika mendengar suara bisik-bisik yang tiba-tiba berdengung di sepanjang koridor kampus. Beberapa mahasiswa tampak berkumpul, menatap layar ponsel mereka dengan heboh, lalu menatap ke arah Al dengan pandangan penuh selidik dan keter

  • Di Balik Akad Rahasia   Bab 4

    Elena meringis pelan saat cengkeraman tangan Al mengencang di lengannya. Namun, senyum sinisnya sama sekali tidak pudar. Ia menatap tangan Al yang mencengkeramnya, lalu beralih menatap langsung ke mata pemuda itu."Lepaskan tanganmu, Al. Sakit," ucap Elena dingin. Begitu Al mengempaskan tangannya dengan gusar, Elena merapikan lengan gaunnya yang sedikit kusut. "Mauku sederhana. Aku cuma mau memastikan calon suamiku tidak bertingkah bodoh dan merusak acara penting kita minggu depan."Elena menunjuk amplop cokelat di atas kasur dengan ujung kuku telunjuknya yang dicat merah. "Kamu tahu apa isi di dalam ini? Ini adalah salinan kartu hasil studi milik kekasih gembelmu itu. Revalina. IPK tiga koma sembilan puluh delapan. Luar biasa pintar untuk ukuran anak yatim piatu. Sayang banget, ya, kalau riwayat akademis sebersih ini harus ternoda di semester akhir."Darah Al seolah-olah berhenti mengalir. Wajahnya memucat, berganti dengan rasa ngeri yang menjalar di sekujur tubuhnya. "Jangan berani-

  • Di Balik Akad Rahasia   Bab 3

    "Kamu pikir kamu bisa menyembunyikan sesuatu dari pengawasan Papa, Al? Anak perempuan yatim piatu, mahasiswi beasiswa kelas bawah yang hidupnya mengandalkan belas kasihan rektorat kampus untuk makan sehari-hari." Satria tersenyum meremehkan, seakan menyebut nama Reva saja sudah mengotori lidahnya. "Kamu pikir Papa akan diam saja dan membiarkan pewaris tunggal Kusuma Group membawa gembel ke dalam silsilah keluarga kita?""Jaga mulut Papa!" Al maju selangkah, amarahnya benar-benar terpancing hingga ke ubun-ubun. "Reva perempuan baik-baik! Dia punya harga diri dan dia jauh lebih berharga dari semua kolega bisnis Papa yang bermuka dua!""Baik-baik atau tidak, dia tetap hama di mata bisnis kita!" sentak Satria dengan suara menggelegar, memantul di dinding ruang kerja yang kedap suara. "Dengar baik-baik, Aldebaran. Papa sudah menyuruh orang menyelidiki semuanya tentang gadis itu sampai ke akar-akarnya. Kakak perempuannya yang tinggal di luar kota itu, Keisha, saat ini sedang terlilit utang

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status