Share

Bab 6

Author: Nawasena
last update publish date: 2026-08-12 21:05:40

Reva meraih dompetnya, memeriksa sisa uang tabungannya yang tidak seberapa. Cukup untuk membeli tiket kereta kelas ekonomi menuju kota tempat tinggal kakaknya, Keisha.

"Mbak Keisha," ucap Reva terisak lirih. Air mata kembali luruh membasahi pipinya yang pucat saat menggumamkan nama satu-satunya keluarga yang dimiliki. "Reva mau pulang, Mbak."

Malam itu juga, di bawah guyuran hujan deras yang akhirnya mengguyur Jakarta, Reva melangkah keluar dari indekost dengan membawa satu koper berukuran sedang dan tas ransel lusuhnya. Ia menyerahkan kunci kamar pada pemilik kos dengan alasan ada urusan keluarga darurat yang membuatnya harus pulang kampung dalam waktu lama.

***

Tiga minggu berlalu sejak malam yang menghancurkan itu.

Acara pertunangan megah antara Aldebaran Kusuma dan Elena Salsabila Pranoto telah sukses digelar di salah satu hotel bintang lima termewah di Jakarta. Foto-foto kemesraan palsu mereka menghiasi berbagai majalah bisnis dan infotainment selama berhari-hari. Di depan kamera, Al menjelma menjadi sosok tunangan yang sempurna, selalu menggandeng Elena dengan senyum menawan yang sudah dilatih di depan cermin setiap malam.

Namun malam itu, setelah mengantar Elena pulang ke rumahnya, Al tidak langsung kembali ke rumah bak istana milik ayahnya. Ia memutar kemudi mobil sport hitamnya menuju sebuah kawasan pinggiran kota yang sangat dihafal jalurnya.

Al memarkir mobilnya agak jauh dari gang indekost Reva. Hal itu sengaja dilakukannya agar tidak menarik perhatian warga sekitar. Pria itu melepas jas mahal yang sejak tadi dipakai dengan gerakan kasar sebelum melempar ke kursi belakang seperti barang tak berharga. Lalu, memakai topi hitam dan jaket hoodie longgar untuk menyembunyikan identitasnya. Ia berjalan cepat menembus gerimis tipis, melangkah menyusuri gang sempit menuju gerbang kayu yang sudah tiga minggu ini selalu membayangi mimpinya.

Al sudah tidak tahan. Selama tiga minggu belakangan, ia seperti mayat hidup yang digerakkan oleh kewajiban bisnis. Fokusnya hilang, nafsu makannya hilang entah ke mana dan tidurnya selalu dipenuhi rasa bersalah. Malam itu, ia hanya ingin melihat wajah Reva. Meskipun pada akhirnya nanti hanya penolakan yang akan diterimanya. Ia hanya ingin memastikan bahwa gadis itu makan dengan baik dan melanjutkan skripsinya dengan tenang setelah ia menjauh.

Al melangkah masuk ke pekarangan kosan yang tampak sepi. Ia berjalan menuju pintu kamar nomor empat—kamar milik Reva. Dengan jantung yang berdegup kencang karena gugup dan rindu yang membuncah, Al mengangkat tangannya, lalu mengetuk pintu kayu itu pelan sebanyak tiga kali.

"Reva," bisik Al lirih, suaranya sarat akan kerinduan yang teramat dalam. "Ini aku, Reva. Tolong buka pintunya sebentar saja."

Hening. Tidak ada jawaban dari dalam kamar.

Al mengerutkan kening. Ia mencoba mengetuk kembali, kali ini sedikit lebih keras. "Reva? Kamu di dalam, kan? Aku cuma mau mastiin kamu baik-baik aja. Tolong buka pintunya sebentar, Reva."

"Cari siapa, Mas?"

Sebuah suara ketus dari arah belakang membuat Al tersentak. Ia menoleh dan mendapati seorang wanita paruh baya berdaster batik—sang pemilik kos—sedang berdiri sambil membawa payung, menatap Al dengan pandangan penuh selidik.

Al buru-buru menurunkan letak topinya agar wajahnya tidak terlihat jelas. "Ah, malam, Bu. Sa-saya cari Reva. Penghuni kamar nomor empat. Apa Revanya sedang keluar?"

Wanita paruh baya itu mendengkus pelan, lalu meletakkanntangan kirinya di pinggang. "Wah, Masnya telat. Reva sudah nggak tinggal di sini lagi sejak tiga minggu yang lalu. Dia buru-buru banget perginya. Kayaknya nggak bakalan balik lagi soalnya saya tungguin nggak datang-datang, makanya saya sewain saja kamar itu ke orang lain."

"Pergi? Maksud Ibu, Reva sudah tidak kos di sini lagi?"

Suara Al meninggi, memecah keheningan malam yang diguyur gerimis. Ia spontan mendongak kaget, menampilkan wajahnya yang luar biasa pucat karena panik.

Ibu kos berdecak, memandang Al dengan tatapan penuh selidik dari ujung kaki hingga ujung rambut. "Iya, Mas. Kupingnya nggak budeg, kan? Dia sudah bawa koper sama tas ransel malam-malam pas hujan lebat tiga minggu lalu. Nangis-nangis kayak orang frustrasi. Saya nanya ada masalah apa, dia cuma bilang ada urusan penting di kampung."

"Urusan penting di kampung? Ibu tahu kampung halamannya di mana? Dia naik apa waktu pergi?" tanya Al sambil mencengkeram ujung hoodie-nya sendiri, berusaha keras menahan diri agar tidak mengguncang bahu wanita tua di depannya demi mendapatkan jawaban.

"Ya, mana saya tahu, Mas. Urusan pribadi anak kos, ngapain saya kepo?" sahut Ibu kos dengan nada ketus, merasa terganggu dengan kedatangan Al yang tiba-tiba. "Lagian Mas ini siapanya Reva? Pacarnya? Kalau pacarnya, masa pas pindah malah nggak tahu sama sekali? Kemarin-kemarin ke mana aja pas dia nangis kayak orang frustasi? Anak orang dibikin nangis sampai kayak gitu. Kalau udah nggak cinta, minimal jangan nyakitin hatinya. Kasihan, Mas. Reva itu sendirian di Jakarta."

Kata-kata ibu kos telak menghantam ulu hati Al. Pemuda itu melangkah mundur dengan tubuh gemetar, kakinya mendadak terasa lemas untuk sekadar menapak bumi. Gerimis yang kian menderu membasahi wajahnya, menyamarkan air mata frustrasi yang kembali mendesak keluar dari pelupuk matanya. Reva pergi. Dunianya benar-benar runtuh malam itu.

"Terima kasih, Bu," bisik Al dengan suara tercekat.

Tanpa memedulikan tatapan heran ibu kos, Al membalikkan badan dan berlari kencang membelah gang sempit menuju mobilnya. Begitu masuk ke dalam kabin mobil sport-nya yang kedap suara, ia meluapkan seluruh kemarahan dan kegilaan yang selama tiga minggu ini ia bendung. Al memukul setir mobilnya berkali-kali hingga tangannya memerah, membuat klakson berbunyi nyaring bersahut-sahutan di tengah kegelapan malam.

"Sialan! Bodoh kamu, Aldebaran! Brengsek!" teriaknya histeris sambil menjambak rambutnya sendiri dengan frustrasi.

Napas Al memburu pendek-pendek. Di tengah kekalutan itu, matanya berkilat penuh obsesi. Ia tidak boleh kehilangan Reva. Apapun yang terjadi, ke mana pun Reva pergi, ia harus bisa menemukannya lagi. Al merogoh ponsel dari saku hoodie-nya dengan tangan gemetar, lalu menekan tombol panggilan cepat.

"Halo, Mas Al? Ada apa malam-malam begini?" tanya Dimas—asisten pribadi sekaligus orang kepercayaan Al yang tidak berpihak pada ayahnya—terdengar di seberang telepon.

"Dimas, kerahkan semua orangmu sekarang juga. Cari Reva!" perintah Al beruntun dengan suara rendah yang bergetar, tetapi sarat akan penekanan mutlak.

"Maksud Mas, Mbak Revalina? Tapi, bukankah Mas Al baru saja bertunangan dengan Mbak Elena? Kalau Tuan Satria sampai tahu Mas masih mencari Mbak Reva—"

"Aku nggak peduli sama Papa, Dim! Aku nggak peduli sama pertunangan sialan ini!" potong Al dengan nada membentak, urat di pelipisnya menonjol tegang. "Cek semua manifest penumpang stasiun kereta, terminal bus, sampai bandara atas nama Revalina Putri Gunawan dalam tiga minggu terakhir. Cari dia sampai dapat. Kalau kamu nggak bisa nemuin Reva dalam seminggu, kamu saya pecat!"

Pip.

Al mematikan sambungan telepon sepihak tanpa menunggu jawaban dari asistennya. Ia menyandarkan kepalanya di setir, memejamkan mata rapat-rapat sambil meremas ponselnya erat-erat. 'Kamu nggak bisa lari dari aku, Reva. Nggak akan pernah bisa,' batin Al egois, didorong oleh rasa takut kehilangan yang teramat sangat.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Di Balik Akad Rahasia   Bab 134

    Dengan gerakan gesit, Arkananta mendribel bola melewati Aletta, melompat tinggi, dan memasukkan bola ke dalam ring dengan sangat mulus. "Curang! Arkan, kan, badannya lebih tinggi!" protes Aletta sambil berkacak pinggang, bibirnya mengerucut sebal. Arkananta hanya tertawa terbahak-bahak. Ia berjalan menghampiri Aletta, mengacak-acak rambutnya dengan penuh kasih sayang. "Siapa suruh kau malas minum susu peninggi badan? Tapi tenang saja, meski kau pendek, kau tetap superhero terhebatku." Aletta mendengkus kesal, meski senyuman lebar akhirnya terbit di wajah cantiknya. Sampai detik ini, ikatan batin antara kedua saudara itu tidak pernah putus. Mereka saling melindungi, saling menggoda, dan tumbuh dalam kasih sayang yang setara. Tiba-tiba, sebuah suara cadel yang melengking memecah perdebatan kecil mereka. "Kakak Ale! Kakak Alka! Cini, main cama Aksa!" Dari arah pintu kaca paviliun, seorang balita laki-laki berusia tiga tahun berlari terhuyung-huyung dengan kaki kecilnya yang m

  • Di Balik Akad Rahasia   Bab 133

    Al turun lebih dulu. Tanpa memedulikan tatapan puluhan stafnya, pria bertubuh atletis itu langsung membungkuk dan menggendong Reva dengan gaya bridal style keluar dari mobil, mengabaikan fakta bahwa Reva sudah bisa berjalan pelan. "Al, turunkan aku! Malu dilihat banyak orang!" protes Reva dengan pipi yang merona merah padam seraya memukul pelan dada bidang suaminya. "Biarkan saja mereka melihat. Aku sedang menggendong istriku sendiri, bukan menggendong patung," jawab Al santai tanpa merasa berdosa sedikit pun. Sementara itu, para pengasuh dengan sigap membantu Aletta dan Arkananta turun dari mobil. Kedua bocah itu langsung berlarian kecil dengan wajah ceria menuju pintu utama, tak sabar ingin melihat rumah mereka lagi. Begitu Al melangkah masuk membawa Reva ke dalam mansion, napas Reva seketika tercekat. Matanya melebar sempurna melihat perubahan luar biasa yang terjadi di dalam rumah raksasa tersebut. Warna-warna gelap, muram, dan perabotan bergaya gotik berlebihan yang dul

  • Di Balik Akad Rahasia   Bab 132

    Satu minggu telah berlalu sejak malam panjang yang mempertaruhkan hidup dan mati di ruang operasi Rumah Sakit Medika Pusat. Udara pagi yang menyusup masuk melalui celah ventilasi kamar VVIP Presidential Suite terasa jauh lebih segar dan menenangkan. Ketegangan yang sebelumnya menggantung pekat bagai kabut beracun kini telah menguap tak bersisa, digantikan oleh aroma manis dari buket bunga lili putih yang tertata rapi di atas meja nakas. Atas perintah mutlak Aldebaran Kusuma, dinding pembatas antara dua kamar suite terbaik di rumah sakit itu telah dibongkar dalam waktu semalam. Pria itu mengubahnya menjadi satu ruangan perawatan raksasa yang mewah agar seluruh keluarganya bisa berkumpul dalam satu pandangan matanya. Di sisi kiri, Revalina berbaring di atas ranjang dengan raut wajah yang kian memancarkan rona kehidupan, ditemani oleh Aletta yang tengah duduk santai di sofa sembari mewarnai buku gambar. Di sisi kanan, Arkananta terbaring dengan senyum tipis yang tak pernah lepas dari w

  • Di Balik Akad Rahasia   Bab 131

    "Papa akan menemanimu masuk. Papa tidak akan melepaskan tanganmu," ucap Al, mengusap pipi Aletta dengan ibu jarinya yang bergetar. "Papa jangan sedih lagi," ucap Aletta sambil mengulurkan tangannya yang mungil, membelai rahang ayahnya yang mengeras. "Aletta, kan, superhero. Setelah ini, Arkan pasti bisa lari-lari lagi di taman sama Aletta." Aldebaran memaksakan sebuah senyuman, meski hatinya hancur berkeping-keping. "Ya, Sayang. Kau adalah superhero terhebat yang pernah Papa kenal." Ruang operasi itu terang benderang, dipenuhi aroma antiseptik yang tajam dan bunyi dengungan pelan dari berbagai mesin penyokong kehidupan. Suhunya sengaja dibuat sangat dingin untuk menjaga kesterilan. Namun bagi Aldebaran, dinginnya ruangan itu tak sebanding dengan kebekuan di dalam hatinya. Aletta sudah berbaring telungkup di atas meja operasi yang dilapisi selimut pemanas. Tubuh kecilnya terlihat sangat rapuh di tengah kepungan peralatan medis berbahan logam yang mengilap. Aldebaran duduk di ku

  • Di Balik Akad Rahasia   Bab 130

    "Aletta, prosedur itu bukan cuma suntik biasa, Sayang. Itu akan sangat menyakitkan. Tulang belakangmu nanti akan disuntik dengan jarum yang ... ah, Papa tidak akan sanggup melihatmu kesakitan, Nak," ucap Reva dengan tangis yang akhirnya pecah. Ia memeluk putrinya erat-erat, menciumi puncak kepalanya dengan penuh keputusasaan. "Ibu juga tidak sanggup. Kami sangat menyayangimu." "Tapi kalau Arkan mati, Papa bakal sedih terus! Ibu juga nangis terus!" bantah Aletta, suaranya melengking karena frustrasi yang kekanak-kanakan. "Aletta nggak mau sendirian, Ibu! Aletta mau main sama Arkan lagi! Aletta mau nahan sakit sebentar, asal kita semua bisa ketawa lagi!" Di tengah momen yang begitu memilukan itu, pintu kamar rawat tiba-tiba terbuka lebar dengan kasar. Aldebaran melangkah masuk. Pria itu baru saja berlari dari koridor bangsal steril setelah memerintahkan Dimas untuk mencari opsi ke seluruh benua. Niat awalnya adalah untuk memeriksa keadaan Reva, mencari sedikit ketenangan dari sa

  • Di Balik Akad Rahasia   Bab 129

    Pintu bangsal steril terbuka, dan Dokter Bisma melangkah keluar dengan wajah yang dipenuhi peluh. Ia melepas masker medisnya, menatap Aldebaran dengan pandangan mata yang sarat akan rasa bersalah sekaligus keletihan yang luar biasa. "Tuan Besar Kusuma." Dokter Bisma menjeda kalimatnya, membungkuk sedalam mungkin di hadapan Al. "Maafkan kami. Kami berhasil mengembalikan ritme jantung Tuan Muda untuk sementara waktu. Tapi ini hanya solusi jangka pendek yang sangat rapuh. Perdarahan internalnya belum sepenuhnya berhenti karena faktor pembekuan darahnya sudah tidak berfungsi sama sekali akibat anemia aplastik tingkat akhir ini." "Aku tidak butuh permintaan maafmu, Dokter! Aku butuh solusi!" bentak Al, suaranya menggelegar di koridor yang sepi itu, membuat Dokter Bisma tersentak mundur. "Aku membayar kalian dengan fasilitas terbaik di negeri ini! Cari cara! Datangkan obat apa saja! Sialan, apa gunanya semua gelarmu jika menyelamatkan satu anak kecil saja kau tidak mampu?!" Dokter B

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status