เข้าสู่ระบบReva meraih dompetnya, memeriksa sisa uang tabungannya yang tidak seberapa. Cukup untuk membeli tiket kereta kelas ekonomi menuju kota tempat tinggal kakaknya, Keisha.
"Mbak Keisha," ucap Reva terisak lirih. Air mata kembali luruh membasahi pipinya yang pucat saat menggumamkan nama satu-satunya keluarga yang dimiliki. "Reva mau pulang, Mbak." Malam itu juga, di bawah guyuran hujan deras yang akhirnya mengguyur Jakarta, Reva melangkah keluar dari indekost dengan membawa satu koper berukuran sedang dan tas ransel lusuhnya. Ia menyerahkan kunci kamar pada pemilik kos dengan alasan ada urusan keluarga darurat yang membuatnya harus pulang kampung dalam waktu lama. *** Tiga minggu berlalu sejak malam yang menghancurkan itu. Acara pertunangan megah antara Aldebaran Kusuma dan Elena Salsabila Pranoto telah sukses digelar di salah satu hotel bintang lima termewah di Jakarta. Foto-foto kemesraan palsu mereka menghiasi berbagai majalah bisnis dan infotainment selama berhari-hari. Di depan kamera, Al menjelma menjadi sosok tunangan yang sempurna, selalu menggandeng Elena dengan senyum menawan yang sudah dilatih di depan cermin setiap malam. Namun malam itu, setelah mengantar Elena pulang ke rumahnya, Al tidak langsung kembali ke rumah bak istana milik ayahnya. Ia memutar kemudi mobil sport hitamnya menuju sebuah kawasan pinggiran kota yang sangat dihafal jalurnya. Al memarkir mobilnya agak jauh dari gang indekost Reva. Hal itu sengaja dilakukannya agar tidak menarik perhatian warga sekitar. Pria itu melepas jas mahal yang sejak tadi dipakai dengan gerakan kasar sebelum melempar ke kursi belakang seperti barang tak berharga. Lalu, memakai topi hitam dan jaket hoodie longgar untuk menyembunyikan identitasnya. Ia berjalan cepat menembus gerimis tipis, melangkah menyusuri gang sempit menuju gerbang kayu yang sudah tiga minggu ini selalu membayangi mimpinya. Al sudah tidak tahan. Selama tiga minggu belakangan, ia seperti mayat hidup yang digerakkan oleh kewajiban bisnis. Fokusnya hilang, nafsu makannya hilang entah ke mana dan tidurnya selalu dipenuhi rasa bersalah. Malam itu, ia hanya ingin melihat wajah Reva. Meskipun pada akhirnya nanti hanya penolakan yang akan diterimanya. Ia hanya ingin memastikan bahwa gadis itu makan dengan baik dan melanjutkan skripsinya dengan tenang setelah ia menjauh. Al melangkah masuk ke pekarangan kosan yang tampak sepi. Ia berjalan menuju pintu kamar nomor empat—kamar milik Reva. Dengan jantung yang berdegup kencang karena gugup dan rindu yang membuncah, Al mengangkat tangannya, lalu mengetuk pintu kayu itu pelan sebanyak tiga kali. "Reva," bisik Al lirih, suaranya sarat akan kerinduan yang teramat dalam. "Ini aku, Reva. Tolong buka pintunya sebentar saja." Hening. Tidak ada jawaban dari dalam kamar. Al mengerutkan kening. Ia mencoba mengetuk kembali, kali ini sedikit lebih keras. "Reva? Kamu di dalam, kan? Aku cuma mau mastiin kamu baik-baik aja. Tolong buka pintunya sebentar, Reva." "Cari siapa, Mas?" Sebuah suara ketus dari arah belakang membuat Al tersentak. Ia menoleh dan mendapati seorang wanita paruh baya berdaster batik—sang pemilik kos—sedang berdiri sambil membawa payung, menatap Al dengan pandangan penuh selidik. Al buru-buru menurunkan letak topinya agar wajahnya tidak terlihat jelas. "Ah, malam, Bu. Sa-saya cari Reva. Penghuni kamar nomor empat. Apa Revanya sedang keluar?" Wanita paruh baya itu mendengkus pelan, lalu meletakkanntangan kirinya di pinggang. "Wah, Masnya telat. Reva sudah nggak tinggal di sini lagi sejak tiga minggu yang lalu. Dia buru-buru banget perginya. Kayaknya nggak bakalan balik lagi soalnya saya tungguin nggak datang-datang, makanya saya sewain saja kamar itu ke orang lain." "Pergi? Maksud Ibu, Reva sudah tidak kos di sini lagi?" Suara Al meninggi, memecah keheningan malam yang diguyur gerimis. Ia spontan mendongak kaget, menampilkan wajahnya yang luar biasa pucat karena panik. Ibu kos berdecak, memandang Al dengan tatapan penuh selidik dari ujung kaki hingga ujung rambut. "Iya, Mas. Kupingnya nggak budeg, kan? Dia sudah bawa koper sama tas ransel malam-malam pas hujan lebat tiga minggu lalu. Nangis-nangis kayak orang frustrasi. Saya nanya ada masalah apa, dia cuma bilang ada urusan penting di kampung." "Urusan penting di kampung? Ibu tahu kampung halamannya di mana? Dia naik apa waktu pergi?" tanya Al sambil mencengkeram ujung hoodie-nya sendiri, berusaha keras menahan diri agar tidak mengguncang bahu wanita tua di depannya demi mendapatkan jawaban. "Ya, mana saya tahu, Mas. Urusan pribadi anak kos, ngapain saya kepo?" sahut Ibu kos dengan nada ketus, merasa terganggu dengan kedatangan Al yang tiba-tiba. "Lagian Mas ini siapanya Reva? Pacarnya? Kalau pacarnya, masa pas pindah malah nggak tahu sama sekali? Kemarin-kemarin ke mana aja pas dia nangis kayak orang frustasi? Anak orang dibikin nangis sampai kayak gitu. Kalau udah nggak cinta, minimal jangan nyakitin hatinya. Kasihan, Mas. Reva itu sendirian di Jakarta." Kata-kata ibu kos telak menghantam ulu hati Al. Pemuda itu melangkah mundur dengan tubuh gemetar, kakinya mendadak terasa lemas untuk sekadar menapak bumi. Gerimis yang kian menderu membasahi wajahnya, menyamarkan air mata frustrasi yang kembali mendesak keluar dari pelupuk matanya. Reva pergi. Dunianya benar-benar runtuh malam itu. "Terima kasih, Bu," bisik Al dengan suara tercekat. Tanpa memedulikan tatapan heran ibu kos, Al membalikkan badan dan berlari kencang membelah gang sempit menuju mobilnya. Begitu masuk ke dalam kabin mobil sport-nya yang kedap suara, ia meluapkan seluruh kemarahan dan kegilaan yang selama tiga minggu ini ia bendung. Al memukul setir mobilnya berkali-kali hingga tangannya memerah, membuat klakson berbunyi nyaring bersahut-sahutan di tengah kegelapan malam. "Sialan! Bodoh kamu, Aldebaran! Brengsek!" teriaknya histeris sambil menjambak rambutnya sendiri dengan frustrasi. Napas Al memburu pendek-pendek. Di tengah kekalutan itu, matanya berkilat penuh obsesi. Ia tidak boleh kehilangan Reva. Apapun yang terjadi, ke mana pun Reva pergi, ia harus bisa menemukannya lagi. Al merogoh ponsel dari saku hoodie-nya dengan tangan gemetar, lalu menekan tombol panggilan cepat. "Halo, Mas Al? Ada apa malam-malam begini?" tanya Dimas—asisten pribadi sekaligus orang kepercayaan Al yang tidak berpihak pada ayahnya—terdengar di seberang telepon. "Dimas, kerahkan semua orangmu sekarang juga. Cari Reva!" perintah Al beruntun dengan suara rendah yang bergetar, tetapi sarat akan penekanan mutlak. "Maksud Mas, Mbak Revalina? Tapi, bukankah Mas Al baru saja bertunangan dengan Mbak Elena? Kalau Tuan Satria sampai tahu Mas masih mencari Mbak Reva—" "Aku nggak peduli sama Papa, Dim! Aku nggak peduli sama pertunangan sialan ini!" potong Al dengan nada membentak, urat di pelipisnya menonjol tegang. "Cek semua manifest penumpang stasiun kereta, terminal bus, sampai bandara atas nama Revalina Putri Gunawan dalam tiga minggu terakhir. Cari dia sampai dapat. Kalau kamu nggak bisa nemuin Reva dalam seminggu, kamu saya pecat!" Pip. Al mematikan sambungan telepon sepihak tanpa menunggu jawaban dari asistennya. Ia menyandarkan kepalanya di setir, memejamkan mata rapat-rapat sambil meremas ponselnya erat-erat. 'Kamu nggak bisa lari dari aku, Reva. Nggak akan pernah bisa,' batin Al egois, didorong oleh rasa takut kehilangan yang teramat sangat.Lampu kristal raksasa yang menggantung di langit-langit grand ballroom sebuah hotel mewah di Jakarta memancarkan cahaya yang angkuh, memayungi pesta pernikahan yang disebut-sebut sebagai merger terbesar dekade ini. Aliansi strategis antara Kusuma Group dan Pranoto Corp resmi dikunci di atas pelaminan hari itu. Di atas pelaminan yang didekorasi dengan ribuan mawar putih impor kelas premium, Aldebaran Kusuma berdiri tegap. Ia tampak gagah, tetapi tubuhnya kaku bagai patung lilin di dalam setelan tuxedo hitam klasik rancangan desainer Eropa.Di sampingnya, Elena Salsabila Pranoto tersenyum anggun ke arah puluhan kamera wartawan bisnis yang tak henti-hentinya memancarkan lampu kilat. Elena tampil memukau dengan gaun pengantin bertabur kristal Swarovski yang menyapu lantai marmer, memancarkan aura kemenangan seorang putri mahkota konglomerat yang baru saja mengamankan aset terbaiknya. Pernikahan itu, bagi Elena adalah kemenangan mutlak atas egonya dan validasi kekuasaannya di mata dewan di
Keesokan paginya, Al mendatangi gedung administrasi pusat universitasnya. Ia mengabaikan semua mata mahasiswa yang menatapnya penuh gunjing terkait berita pertunangannya dengan Elena. Fokusnya hanya satu: melacak jejak akademis Reva."Maaf, Mas Aldebaran Kusuma," ucap petugas administrasi wanita paruh baya itu dengan raut wajah sungkan setelah memeriksa data di komputer. "Mahasiswi atas nama Revalina Putri Gunawan dari Fakultas Ekonomi sudah resmi mengajukan surat pengunduran diri dan pencabutan berkas beasiswa dua minggu yang lalu."Al membelalak, dadanya mendadak terasa sesak seolah-olah dihantam benda tumpal. "Mengundurkan diri? Maksud Ibu, dia bukan ambil cuti akademik?""Bukan cuti, Mas. Berkasnya benar-benar dicabut secara permanen. Beliau menandatangani surat pernyataan keluar dari universitas ini," jelas petugas itu lagi sambil menunjukkan salinan dokumen di atas meja.Al menatap tanda tangan Reva di atas meterai pada lembaran kertas itu. Goresan penanya tampak tegas, mencermi
Reva meraih dompetnya, memeriksa sisa uang tabungannya yang tidak seberapa. Cukup untuk membeli tiket kereta kelas ekonomi menuju kota tempat tinggal kakaknya, Keisha."Mbak Keisha," ucap Reva terisak lirih. Air mata kembali luruh membasahi pipinya yang pucat saat menggumamkan nama satu-satunya keluarga yang dimiliki. "Reva mau pulang, Mbak."Malam itu juga, di bawah guyuran hujan deras yang akhirnya mengguyur Jakarta, Reva melangkah keluar dari indekost dengan membawa satu koper berukuran sedang dan tas ransel lusuhnya. Ia menyerahkan kunci kamar pada pemilik kos dengan alasan ada urusan keluarga darurat yang membuatnya harus pulang kampung dalam waktu lama.***Tiga minggu berlalu sejak malam yang menghancurkan itu.Acara pertunangan megah antara Aldebaran Kusuma dan Elena Salsabila Pranoto telah sukses digelar di salah satu hotel bintang lima termewah di Jakarta. Foto-foto kemesraan palsu mereka menghiasi berbagai majalah bisnis dan infotainment selama berhari-hari. Di depan kamer
Al tidak membalas. Ia tetap bergeming sambil membuang muka, tidak berani menatap mata Reva karena tahu pertahanannya akan runtuh jika melihat air mata perempuan yang teramat dicintainya itu. "Mulai sekarang, jangan pernah cari aku lagi. Anggap kita nggak pernah kenal," ucap Al final. Ia berbalik dan melangkah pergi meninggalkan Reva sendirian yang langsung merosot, menangis histeris sambil memeluk lututnya sendiri. Al berjalan cepat menjauhi area pohon rindang itu. Air matanya yang sejak tadi ditahan akhirnya lolos begitu saja, mengalir deras membasahi pipinya. Dadanya terasa begitu sesak hingga kesulitan bernapas. 'Maafkan aku, Reva. Maafkan aku harus melakukan ini demi melindungi kamu,' jerit Al dalam hati. Namun, langkah kaki Al mendadak terhenti ketika mendengar suara bisik-bisik yang tiba-tiba berdengung di sepanjang koridor kampus. Beberapa mahasiswa tampak berkumpul, menatap layar ponsel mereka dengan heboh, lalu menatap ke arah Al dengan pandangan penuh selidik dan keter
Elena meringis pelan saat cengkeraman tangan Al mengencang di lengannya. Namun, senyum sinisnya sama sekali tidak pudar. Ia menatap tangan Al yang mencengkeramnya, lalu beralih menatap langsung ke mata pemuda itu."Lepaskan tanganmu, Al. Sakit," ucap Elena dingin. Begitu Al mengempaskan tangannya dengan gusar, Elena merapikan lengan gaunnya yang sedikit kusut. "Mauku sederhana. Aku cuma mau memastikan calon suamiku tidak bertingkah bodoh dan merusak acara penting kita minggu depan."Elena menunjuk amplop cokelat di atas kasur dengan ujung kuku telunjuknya yang dicat merah. "Kamu tahu apa isi di dalam ini? Ini adalah salinan kartu hasil studi milik kekasih gembelmu itu. Revalina. IPK tiga koma sembilan puluh delapan. Luar biasa pintar untuk ukuran anak yatim piatu. Sayang banget, ya, kalau riwayat akademis sebersih ini harus ternoda di semester akhir."Darah Al seolah-olah berhenti mengalir. Wajahnya memucat, berganti dengan rasa ngeri yang menjalar di sekujur tubuhnya. "Jangan berani-
"Kamu pikir kamu bisa menyembunyikan sesuatu dari pengawasan Papa, Al? Anak perempuan yatim piatu, mahasiswi beasiswa kelas bawah yang hidupnya mengandalkan belas kasihan rektorat kampus untuk makan sehari-hari." Satria tersenyum meremehkan, seakan menyebut nama Reva saja sudah mengotori lidahnya. "Kamu pikir Papa akan diam saja dan membiarkan pewaris tunggal Kusuma Group membawa gembel ke dalam silsilah keluarga kita?""Jaga mulut Papa!" Al maju selangkah, amarahnya benar-benar terpancing hingga ke ubun-ubun. "Reva perempuan baik-baik! Dia punya harga diri dan dia jauh lebih berharga dari semua kolega bisnis Papa yang bermuka dua!""Baik-baik atau tidak, dia tetap hama di mata bisnis kita!" sentak Satria dengan suara menggelegar, memantul di dinding ruang kerja yang kedap suara. "Dengar baik-baik, Aldebaran. Papa sudah menyuruh orang menyelidiki semuanya tentang gadis itu sampai ke akar-akarnya. Kakak perempuannya yang tinggal di luar kota itu, Keisha, saat ini sedang terlilit utang







