Se connecterRasanya ada hawa mengerikan saat menyebut dan mendengar nama pria itu. Wisnutama, Maira tidak menyangka bahwa pria itu begitu besar dengan sorot mata cokelatnya. Maira perkirakan tinggi pria itu 190 an, mengingat ia merasa begitu kecil di hadapannya yang hanya memiliki tinggi 155 cm ini.
“Jika Anda membutuhkan apa pun, tekan tombol ini. Staf akan datang dalam waktu kurang dari lima menit. Dan ini kartu ID ruangan Anda.”
Maira kembali mengingat ucapan Nadra yang memberinya informasi penting. Benar-benar luar biasa dan Maira tidak berhenti mengagumi lantai tiga selama melangkah ke kamarnya yang terasa berbeda dari lantai bawah. Lebih hangat, lampu kuning lembut, interior modern dengan sentuhan beige dan cokelat pasir. Karpet tebal meredam langkah kaki mereka.
“Wah, ini sih setara hotel bintang lima,” gumam Maira yang mulai melangkah mengelilingi kamarnya yang baru.
Kasur queen dengan linen putih bersih, meja kerja minimalis, TV besar yang terpasang di dinding, jendela lebar yang memperlihatkan sebagian skyline Abu Dhabi. Ada pantry kecil, kamar mandi marmer dengan shower kaca, dan aroma ruangan seperti campuran kayu cedar dan bunga gurun.
“Ya Tuhan,” bisik Maira tanpa sadar, “itu pintu apa ya?” tanyanya pada dirinya sendiri.
Lalu, melangkah kecil dengan keraguan membuka pintu kaca dan sekali lagi Maira menganga dengan tempat ini. Sebuah kolam renang dengan ukuran lumayan besar tengah ada di hadapannya dan menghadap kota Abu Dhabi.
Air di kolam itu berkilau lembut, memantulkan cahaya kota Abu Dhabi yang mulai menyala satu per satu. Maira berdiri terpaku, jemarinya masih menggenggam gagang pintu kaca yang terbuka setengah. Angin gurun yang hangat menerpa wajahnya, membawa aroma malam yang menenangkan.
“Ini... serius?” gumamnya pelan, nyaris tidak percaya pada apa yang dilihatnya.
Kolam renang pribadi.
Untuk dirinya?
Ia melangkah mendekat, memegang railing kaca bening yang membingkai area kolam. Airnya begitu jernih, tenang, dan biru kehijauan yang menyegarkan dan mengundangnya untuk masuk. Maira menarik napas panjang.
“Ini sih bukan riset, tapi liburan,” setelahnya Maira berlompat kesenegan dengan apa yang di rasakannya.
Maira berlari masuk ke dalam kamar dan langsung lpncat ke kasur besar itu. Tubuh mungil itu tenggelam dalam tumpukan linen putih bersih yang terasa seperti awan mahal. Tubuhnya terpental sedikit karena kasurnya begitu bouncy, membuatnya tertawa lepas untuk pertama kalinya sejak menjejakkan kaki di Abu Dhabi.
“Aaaaaaa,” ia menutup mulut sendiri dengan kedua tangan saat sadar suaranya hampir menggema di seluruh lantai.
Tapi siapa peduli?
Hatinya berdebar bahagia.
“Ini beneran?” gumamnya sambil memeluk satu bantal besar, wajahnya tenggelam di tengah bantal itu.
Ia menggeser tubuh, berbalik telentang, menatap langit-langit yang dihiasi lampu gantung minimalis. Dalam momen itu, Maira benar-benar lupa pada segala tekanan, rasa gugup, dan tatapan berbahaya seorang diplomat bernama Wisnutama. Yang ada hanya perasaan berbunga-bunga, campuran antara mimpi dan kenyataan.
Ia bangkit duduk sambil menarik napas panjang.
“Maiiiraaa, hidup lo keren banget,” ucapnya pada diri sendiri sambil mengibas rambut panjangnya dramatis. “Riset budaya, dapet kamar begini pasti Mela iri banget sih.”
Ia kembali menjatuhkan diri ke kasur dengan tertawa, tapi beberapa detik kemudian, ia membeku. Teringat bahwa besok dirinya sudah harus bertemu dengan pria mengerikan bertubuh besar itu dan mengikuti arahannya.
“Oke, malam ini gue harus tidur nyenyak biar besok seger, aaaaaaaaaaa.”
Tidak lupa Maira masih berteriak dengan bahagia dan melangkah ke kamar mandi. Membersihkan diri, lalu tertidur dan esoknya gadis itu kelimpungan sendiri takut terlambat.
“Syukur deh, nggak telat. Bisa mampus gue,” gumamnya sambil merapikan blouse dan rok span pendeknya menuju ruangan Wisnutama yang membuat Maira berhenti melangkah dan sadar.
“Eh, ruangannya di mana ya. Kan kemarin gue ketemu di ruang pertemuan bukan ruangan beliau. Aduhhh, Maira kenapa bego banget sih, harusnya kan tanya dulu,” gumamnya sambil memukul kepalanya kecil.
Maira menengok ke kanan dan kiri, mencoba mencari seseorang untuk bisa ditanyai. Maira akhirnya menemukan seorang staf yang baru keluar dari lift, pria muda yang membawa tumpukan berkas.
“Maaf, saya mau bertanya... ruangan Pak Wisnutama di mana, ya?” suaranya serak kecil karena gugup, membuat staf itu menatapnya sebentar sebelum tersenyum ramah.
“Oh, beliau di lantai 18, ujung koridor sisi barat. Ada pintu kaca gelap dengan plakat nama beliau.”
“Ah terima kasih,” Maira membungkuk sedikit, terlalu cepat, lalu berbalik sebelum malu dirinya menampar lebih keras dari tadi.
Perjalanan menuju lantai 18 terasa jauh lebih menegangkan daripada seharusnya. Ada denyut halus di dasar tenggorokannya ketika mengingat bagaimana aura dan pesona pria itu. Sembari dalam perjalanan, Maira sebenarnya bingung mengapa dosennya tidak membalas emailnya.
Padahal, Maira ingin mengonfirmasi, apa setiap mahasiswi riset langsung berada di bawah pengawasan diplomat, karena setahunya mahasiswi riset akan dibiarkan untuk bertanya pada siapa pun dan hanya akan di awasi oleh staff saja, bukan diplomat yang apalagi seperti Wisnutama Adnan Bin Malik.
Pintu kaca gelap yang dimaksud terlihat jelas. Maira menghentikan langkahnya, menarik napas, merapikan blouse sekali lagi yang padahal sudah rapi. Lalu mengetuk.
“Masuk.”
Suara itu dalam, tenang dan entah kenapa membuat jantungnya melonjak seperti ditekan tombol.
Maira membuka pintu sedikit, mengintip. Wisnutama duduk di balik meja, menutup sebuah map, kemudian menatapnya. Tatapannya sangat tajam, seolah ingin mengulitinya yang sudah berdiri kaku.
“Jam berapa sekarang?” tanyanya datar, tidak ada nada bersahabat di sana.
Maira menelan ludah. “Maaf, Pak. Saya sempat em nyasar sedikit.”
“Perlu kamu ketahui, Maira bahwa berada di bawah pengawasan saya itu artinya juga turut serta mengikuti cara kerja saya. Dan, saya adalah pribadi yang disiplin, tidak memberikan toleransi pada keterlambatan sekalipun hanya 1 detik. Kamu baru saja melakukan pelanggaran itu dan hukuman apa yang harus saya berikan pada mahasiswi riset yang baru saja datang ini?”
“Lakukan, Maira,” kata wisnutama tenang, tapi nada itu penuh perintah yang tak bisa ditolak.“Kamu yang memulai tadi. Kamu yang bilang ingin melihat saya. Jangan berhenti sekarang. lepaskan pakaian saya dengan tanganmu sendiri."Maira mendekat dengan langkah pelan dan menyentuh kancing tuxedo wisnutama. Satu per satu dengan gerakan yang gemetar Maira membuka kancing itu.Pertama... kedua... hingga jas tuxedo terbuka lebar memperlihatkan kemeja putih di baliknya yang membentuk garis tubuh tegas Wisnutama. Ia tak berani menatap wajah pria itu langsung, matanya fokus pada tangannya sendiri, tapi ia bisa merasakan tatapan panas yang tak lepas darinya.“Kamu belum melakukan apa pun, Maira. Jadi, berhenti gemetar,” ucapan itu membuat Maira semakin gemetar.Napas pria itu terasa begitu berat di kepalanya bersamaan dengan jas itu terbuka dan Maira menjatuhkannya. Kini tinggal kemeja putih dan dasi kupu-kupu hitam yang masih terpasang rapi.Tangan Maira naik lagi, kali ini ke dasi. Jari-jariny
Maira menggigit bibir bawahnya, jantungnya berdegup kencang saat tangannya masih bertumpu di dada Wisnutama. Kata-kata pria itu barusan membuatnya sadar bahwa taman ini bukan tempat yang tepat untuk melanjutkan apa yang baru saja dimulai.“Iya, Pak,” bisiknya pelan, suara hampir hilang ditelan angin malam.Ia menarik napas dalam, mencoba menenangkan getaran di kakinya yang masih terasa lemas. “Kita... ke kamar saya saja.”Wisnutama mengangguk singkat, matanya tak lepas dari wajah Maira yang memerah. Tangan kanannya meraih tangan Maira, menggenggamnya erat tapi lembut, sambil menuntunnya untuk berjalan.Mereka berjalan menyusuri koridor panjang di lantai atas gedung pesta itu, melewati beberapa pintu kamar tamu yang disediakan panitia untuk peserta yang menginap. Asrama sementara Maira ada di ujung koridor, paling jauh dari keramaian, hunian sementara selama Maira melakukan riset di sini.Sesampainya di depan pintu kamar, Maira mencari-cari kunci kartu di tas kecilnya dengan tangan gem
“Untuk saya?” ulangnya, suara rendah seperti bisikan.Wisnutama semakin mendekat, jarak bibir mereka kini tinggal beberapa senti. Napasnya hangat menyapu wajah Maira, membuat bulu kuduk gadis itu berdiri.“Kamu ingin saya melihat lekuk tubuhmu seperti ini, Maira?”Maira mengangguk kecil, tak mampu berbicara. Tubuhnya bereaksi sendiri dengan pinggulnya sedikit bergeser mendekat, mencari lebih banyak sentuhan. Tangan Wisnutama kini memeluk pinggangnya sepenuhnya, menariknya pelan hingga tubuh mereka hampir menempel.“Iya,” desah Maira akhirnya, mata menutup setengah.Wisnutama menghela napas pelan, menahan gejolak gairah yang semakin besar pada tubuh mungil yang sedang dibungkus dress ketat itu.“Kamu tahu saya selalu menginginkan kamu, Maira. Apa jadinya kalau kamu bertingkah seperti ini? Kamu ingin membuat saya lepas kendali sepenuhnya? Hm?”Maira mengerang kecil saat jempol Wisnutama mengusap pinggangnya dalam lingkaran lambat.“Pak, kita di koridor.”“Tidak ada yang akan lewat. Pest
Aula utama kedutaan malam itu berkilau seperti panggung yang dipersiapkan dengan sempurna. Lampu gantung kristal memantulkan cahaya keemasan ke segala arah, beradu dengan kilap jas hitam para pejabat dan gaun-gaun elegan yang bergerak perlahan mengikuti alur percakapan. Musik orkestra lembut mengalun, cukup hadir untuk mengisi ruang tanpa mencuri perhatian dari pembicaraan penting yang berlangsung di setiap sudut.Maira berdiri di sisi Wisnutama.“Apa sebaiknya saya duduk saja, Pak?” bisik Maira yang cukup tidak nyaman dengan pandangan orang.“Tetap di sisi saya,” mutlak dan tidak bisa dibantah.Posisi itu saja sudah cukup membuat beberapa pasang mata melirik dua kali. Wisnutama, dengan sikapnya yang tenang dan dominan, tampak seperti pusat gravitasi ruangan. Dan Maira, dengan dress biru gelap yang membingkai tubuhnya menjadi kontras yang tidak bisa diabaikan.Tangannya memegang gelas kecil, isinya hampir tidak tersentuh. Ia tersenyum saat perlu, mengangguk ketika diperkenalkan, menye
Jam makan siang tiba tanpa terasa.Maira masih duduk di mejanya, menatap layar laptop dengan fokus yang sengaja ia pertahankan. Sejak keluar dari ruangan Wisnutama pagi tadi, ada perasaan tidak nyaman yang terus menempel di hatinya. Bukan takut, melainkan kesadaran bahwa dirinya sedang berada dalam radius perhatian yang tidak biasa.Ia baru saja hendak menyimpan file ketika bayangan seseorang jatuh di sisi mejanya.“Nona Maira.”Ia mendongak. Rasyid berdiri di sana, rapi seperti biasa, tablet di tangan, ekspresinya netral namun matanya tajam mengamati.“Pak Wisnutama memanggil Anda. Sekarang.”Maira berkedip pelan. “Sekarang, Pak?”“Iya. Untuk makan siang.”Kalimat itu membuat Maira terdiam sepersekian detik.“Makan siang?” ulangnya, refleks.Rasyid mengangguk. “Di ruangan beliau.”Tidak ada pilihan tersirat. Tidak ada pertanyaan. Itu perintah yang dibungkus dengan nada sopan.“Baik, Pak,” jawab Maira akhirnya.Ia berdiri, merapikan bajunya secara refleks, lalu Rasyid pergi begitu saj
Besoknya, Maira berangkat riset seperti tidak terjadi apa pun. Bahkan, gadis itu merahasiakan penemuannya dari Wisnutama.Langkahnya tetap tenang, raut wajahnya profesional, bahkan nyaris terlalu terkendali untuk seseorang yang semalam baru saja membuka pintu ke dokumen yang seharusnya tidak ia sentuh. Tidak ada gelagat gugup, tidak ada gerakan mencurigakan. Dari luar, Maira tetap mahasiswi riset yang sama yaitu diam, fokus, dan sedikit terlalu serius untuk usianya.“Relax, Maura. Semuanya aman selama kamu tenang,” ucapnya pada dirinya sendiri.Ia duduk di mejanya, menyalakan laptop, dan membuka file riset utama. Lembar-lembar analisis yang kemarin terasa buntu kini seperti memiliki jalur baru. Kalimat-kalimat yang dulu ia ragu tuliskan, sekarang mengalir dengan lebih yakin dan lebih tajam.Namun Maira berhati-hati. Ia tidak menyalin apa pun secara mentah. Tidak ada kutipan langsung, karena semua ia olah ulang, ia sembunyikan dalam kerangka analisis yang tampak wajar, seolah kesimpula







