LOGINMaira mematung. Kata hukuman meluncur terlalu cepat dari mulut pria itu dan membuat Maira ketakutan. Sial sekali, hari pertama sudah mendapat hukuman saja yang bahkan Maira sendiri pun belum duduk.
Wisnutama bersandar ke kursinya, kedua tangan terlipat di atas meja, tatapannya tak bergeser sedikit pun dari wajah Maira. Sorot itu menunjukkan bahwa pria itu sedang mengukur, menimbang, dan memutuskan apakah dirinya layak berada di ruangan ini.
“Duduk.”
Perintah itu membuat kaki Maira otomatis bergerak dan menarik kursi di depan meja. Berusaha tidak menunjukkan kegugupannya. Begitu ia duduk, Wisnutama kembali berbicara.
“Sebelum saya menentukan hukuman apa yang pantas, saya ingin tahu sesuatu,” pria itu mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan, “ceritakan pada saya. Mengapa kamu terlambat?”
Maira membuka bibir, menutupnya, lalu membuka lagi. Suaranya hampir tenggelam.
“Saya... saya nyasar, Pak. Saya pikir ruangan Bapak berada di lantai yang sama seperti kemarin. Ditambah saya juga lupa bertanya ruangan Bapak dan kebetulan ada seorang staf yang memberitahu saya.”
Wisnutama mengangkat satu alis. “Kamu datang dari negara lain untuk penelitian budaya, tetapi menemukan ruangan di gedung tempat kamu tinggal saja sudah membuatmu tersesat?”
“A- ah,” Maira ingin tertawa kecil karena refleks, tapi cepat menahannya. “Saya kurang fokus, Pak.”
“Kurang fokus,” Wisnutama mengulang pelan, nada baritonnya menusuk, “kurang fokus di bawah pengawasan saya berarti membuang waktu. Dan saya tidak suka membuang waktu.”
Maira meremas ujung rok spannya di bawah meja. Wisnutama menggeser sesuatu dari samping meja- sebuah tablet hitam lalu membukanya dan meletakkannya tepat di depan Maira.
“Jadwal saya hari ini padat. Setiap menitnya berharga,” ia mengetuk layar dua kali dengan ujung jarinya yang panjang dan besar, “dan kamu membuat saya memulai hari dengan ketidakdisiplinan.”
Maira menelan ludah yang terasa sangat keras. Ketakutan akan kemungkinan hukuman yang diberikan oleh Wisnutama- pria mengerikan yang demi apapun Maira belum pernah bertemu yang seperti ini.
“Jadi, sekarang saya ingin melihat bagaimana kamu memperbaiki kesalahanmu,” lanjutnya.
“Bapak... maksudnya?” Tanya Maira lirih.
Wisnutama berdiri dan berjalan mengitari meja, langkahnya lambat dan penuh wibawa. Hingga akhirnya ia berdiri tepat di sampingnya Maira duduk hingga membuat jara itu terlalu dekat. Maira bisa merasakan bayangan tubuh pria itu menutupi separuh cahaya ruangan.
“Arahkan pandanganmu ke depan,” kalimat perintah Wisnutama langsung dipatuhi oleh Maira.
Wisnutama menyilangkan tangan di dada. “Sebagai hukuman, kamu akan menghabiskan hari ini mengikuti saya dalam setiap agenda tanpa keluhan. Tidak ada jeda, tidak ada istirahat yang tidak saya izinkan, dan tidak ada protes.”
“Se-seluruh agenda Bapak?” suaranya hampir hilang.
“Benar.”
Tangannya terulur perlahan, mengambil kartu identitas yang tergantung di leher Maira. Ia memeriksanya sekilas sebelum menatapnya lagi.
“Termasuk agenda yang tidak pernah diberikan pada mahasiswa riset mana pun. Anggap ini sebagai pelajaran agar kamu tidak terlambat lagi.”
“Apakah itu tidak terlalu berat untuk saya, Pak?” tanya Maira hati-hati.
“Berat atau tidak, kamu tidak memiliki pilihan untuk menolak. Tugas kamu hanya mengikuti.”
Ia melepaskan kartu itu, kali ini menunduk sedikit sehingga jarak mereka nyaris tidak wajar.
“Kalau kamu tidak sanggup,” ucapnya pelan, dingin, “kamu boleh keluar dari program ini sekarang juga.”
Napas Maira tercekat. Tangan mungil itu mengepal diam-diam dan mengangkat dagunya sedikit yang mana bentuk usaha kecil mempertahankan harga diri.
“Saya sanggup, Pak.”
Wisnutama tersenyum tipis, nyaris seperti ancaman yang dibungkus formalitas.
“Bagus. Kita mulai dari sekarang,” sambil berjalan menuju pintu, membuka, dan meliriknya sekali, “kamu punya waktu lima detik untuk berdiri dan menyusul.”
Jantung Maira melonjak. Lima detik? Sekarang?
Tubuhnya refleks bergerak.
“Baik, Pak!”
Ia bangkit hampir tersandung kursinya dan berlari kecil menyusul Wisnutama yang sudah melangkah pergi dengan langkah panjang dan tenang, seolah kejadian barusan hanya transaksi profesional biasa.
“Ya Tuhan,” bisiknya sambil mengejar, “aku bisa mati hari ini.”
Terik matahari membuat Maira menyipitkan mata, berusaha membiasakan diri dengan cahaya yang memantul kuat dari pasir dan bangunan rendah di depannya. Udara panas mengambang seperti gelombang tak terlihat, menusuk kulitnya setiap kali angin gurun lewat.
Maira melirik jam di pergelangan tangan.
12.46
Hampir empat jam sejak mereka tiba di lokasi. Napasnya berat, bukan hanya karena panas, tapi karena fakta bahwa dirinya harus ikut riset lapangan karena terlambat.
Pria itu- Wisnutama sedang berdiri beberapa langkah di depan, tubuhnya tegap, kemeja lengan panjangnya tetap rapi seperti tidak sedang berdiri di bawah suhu 40 derajat. Bahkan keringat pun seakan enggan muncul di wajahnya.
“Catat.”
“Jangan sampai terlewat.”
“Ikuti langkah saya.”
“Perhatikan semuanya.”
Perintah Wisnutama seolah mutlak yang harus diikuti olehnya atau oleh semua orang. Mengingat ada satu lagi pria yang baru saja Maira ketahui sebagai asisten Wisnutama yang bernama Rasyid. Suaranya terdengar serak, tenggorokannya kering membuat Maira berulang kali menggerutu dalam hati. Matahari benar-benar tidak sopan hari ini.
“Kamu tidak biasa panas gurun?” bisik Rasyid saat Wisnu sedang berbicara dengan salah satu peneliti lokal.
Rasyid sempat melirik Maira dan ada sedikit rasa iba yang berusaha ia sembunyikan.
Maira membalas bisikan, “Kalau biasa, saya sudah berubah jadi sate dari tadi, Pak.”
Rasyid mengulum bibir, menahan tawa yang ditakutkan akan terdengar oleh Wisnutama. Sudah bisa dipastikan, urusannya akan sangat panjang. Beberapa menit kemudian, Wisnu selesai berbicara dan melangkah keluar dari gang. Rasyid mengikut. Maira mengejar.
“Air,” ucap Wisnu tiba-tiba.
Maira hampir berteriak “YES!” tapi menahannya. Rasyid memberikan botol pada Wisnu. Kemudian Wisnu menatap Maira.
“Kamu mau minum?” tanya Wisnutama yang sedang memegang botol yang baru saja diberikan oleh Rasyid.
“Sa-saya, i-i, boleh minta sedikit tidak, Pak?”
"Pak!" Maira terpekik kecil, matanya membelalak saat menyadari celana dalam sutranya kini telah hancur, jatuh menyusul bra-nya ke lantai kamar yang gelap."Tatap saya," geram Wisnu.Kini, di bawah temaram lampu kota dan sorot lampu taman yang memantul di kaca, keduanya benar-benar tanpa penghalang. Punggung Maira benar-benar tereskpos dengan jendela terbuka pada siapa pun yang melewati di bawah jendela ini."Lihat ke bawah, Little Bird," perintah Wisnu, suaranya parau oleh gairah yang sudah di ujung tanduk. "Lihat mereka yang berjaga. Mereka adalah saksi bahwa malam ini, tidak ada lagi mahasiswi riset. Yang ada hanyalah wanita milik Wisnutama."Tanpa peringatan lebih lanjut, Wisnu mengangkat pinggul Maira dan menghujamkan miliknya masuk dalam satu dorongan yang dalam dan telak."AAHHH!"Maira mendongak, lehernya yang jenjang menegang saat ia merasakan sensasi penuh yang menyesakkan sekaligus meledakkan percikan listrik ke seluruh sarafnya. Kuku-kukunya menancap di kulit pria itu.Di b
UPDATE: UNIVERSITAS TELAH MERILIS PERNYATAAN RESMI. MAIRA PERMATA RASTANTI DINYATAKAN SEBAGAI KORBAN MANIPULASI DATA. SELURUH GELAR DAN STATUS AKADEMIK AKAN DIPULIHKAN SETELAH PROSES KLARIFIKASI FISIK."Proses klarifikasi fisik..." Maira membaca tulisan itu dengan suara terengah-engah saat Wisnu menjauhkan wajahnya sejenak untuk membiarkan gadis itu bernapas. "Artinya saya harus pulang, Pak? Saya harus melapor ke Jakarta?"Wisnu terkekeh sinis, sebuah tawa yang kering dan tanpa belas kasihan. Dengan tegas lengan kekar itu menarik Maira berdiri dan membiarkan miliknya menegang tegak.“Tentu saja, tapi... setelah masa pemulihanmu selesai,” jawab Wisnu yang jemarinya lihai mulai membuka abaya yang dikenakan Maira.“Masa pemulihan? Maksudnya, Pak?” Maira tak peduli saat Abaya itu terlepas dan jatuh ke lantai, fokusnya pada secercah harapan hidupnya.Wisnutama terdiam, pria itu mulai membuka kancing kemeja Maira yang sudah kusut dan tidak beraturan, lalu menjatuhkannya begitu saja, hanya m
Keheningan di kamar itu terasa mendenyut, hanya dipecahkan oleh suara napas Maira yang pendek-pendek dan deru mesin AC yang halus. Tatapan Wisnutama yang gelap seolah menelanjangi setiap rasa takut dan gairah yang berusaha Maira sembunyikan."Kenapa diam, Maira?" bisik Wisnu, suaranya serak, mengirimkan getaran listrik ke seluruh saraf Maira.Wisnu meraih pergelangan tangan Maira yang gemetar. Dengan gerakan yang sengaja diperlambat, ia menuntun telapak tangan halus gadis itu turun dari bahu kokohnya, melewati dadanya yang bidang dan keras, hingga berhenti tepat di atas simpul handuk putih yang melilit pinggangnya.Maira bisa merasakan panas kulit Wisnu di balik kain tipis itu, sebuah kontak fisik yang membuatnya hampir kehilangan kesadaran."Jika kamu masih penasaran dengan milik saya... buka saja, Maira," perintah Wisnu, nada suaranya tidak lagi sekadar menggoda, melainkan sebuah instruksi yang menuntut kepatuhan mutlak.Maira menelan ludah dengan susah payah. Matanya yang basah men
"Kamu tidak perlu melakukan apa-apa selain tetap berada di bawah pengawasan saya," Wisnu berdiri, tarikan handuk di pinggangnya sedikit bergeser, namun ia tampak abai.Pria itu mencengkeram kedua bahu Maira, memaksa gadis itu untuk duduk tegak dan menatapnya."Dunia luar mungkin menganggapmu hilang, tapi di ruangan ini, kamu adalah kartu as saya. Hamdani mengira dia bisa bermain catur dengan nyawamu, tapi dia lupa bahwa saya adalah pemilik papan caturnya."Wisnu mendekatkan wajahnya, memangkas jarak hingga Maira bisa mencium aroma cendana yang kini bercampur dengan hawa panas tubuh pria itu."Kamu takut, Maira? Takut pada saya atau pada kenyataan bahwa tidak ada tempat pulang untukmu selain di sini?""Bapak... Bapak mengancam saya juga?" bisik Maira dengan mata berkaca-kaca.Wisnu terkekeh rendah, suara yang lebih mirip geraman puas. "Saya tidak mengancam. Saya sedang memberi tahu faktanya. Kamu adalah bagian dari skandal internasional sekarang. Jika kamu melangkah keluar dari gerbang
"Diam, Maira. Saya tidak punya waktu untuk menunggu langkahmu yang lambat itu," desis Wisnu sambil terus melangkah masuk menuju lift pribadi.Pria itu segera membawa Maira langsung ke lantai teratas, ke dalam sebuah kamar utama yang luasnya bahkan lebih besar dari seluruh luas apartemen Maira di Indonesia. Wisnu meletakkan Maira di atas tempat tidur king size yang dilapisi sprei sutra abu-abu."Walid akan mengirimkan tim medis untuk mengobati kakimu dan memastikan tidak ada luka dalam akibat ledakan tadi," ucap Wisnu sambil mulai membuka kancing kemejanya yang kotor, menampakkan otot dada yang keras dan beberapa memar biru yang mengerikan di tulang rusuknya.Maira segera memalingkan wajah, merasa sangat tidak nyaman berada di ruang pribadi pria ini dalam kondisi seperti ini. Ya, meskipun keduanya juga sudah beberapa kali melakukan hubungan yang lebih intim dan terbuka."Bapak sendiri... luka Bapak perlu diobati,” cicit Maira.Wisnutama berhenti bergerak, menatap punggung Maira dengan
"Profesor... universitas memilih saya," rintih Maira, bingung dengan sikap Wisnu yang tiba-tiba begitu menyeramkan.Wisnu terkekeh gelap, sebuah suara yang membuat bulu kuduk Maira berdiri."Universitasmu tidak pernah mengirimkan mahasiswi secara resmi pada negara untuk riset di kedutaan. Yang mereka kirimkan hanya mahasiswi kunjungan sehari,” penjelasan Wisnutama membuat Maira tergugu.Wajah Maira kian pucat. "Apa maksud Bapak?”Wisnutama melepaskan cengkeramannya di tengkuk Maira, namun ia tidak menjauh. Jemari besar itu justru merogoh saku blazernya dan melemparkan selembar dokumen digital yang baru saja ia terima dari jaringan intelijen keluarganya ke hadapan Maira."Lihat sendiri," perintah Wisnu dingin.Maira membaca dengan mata yang bergetar. Surat tugas risetnya, dokumen yang selama ini ia peluk erat sebagai tiket masa depannya, tidak memiliki nomor registrasi resmi di pangkalan data kementerian. Di sana hanya tertera namanya sebagai 'pengunjung independen' untuk observasi bud







