LOGINRuang pertemuan utama benar-benar sesuai ekspektasinya dengan luasnya yang Maira perkirakan seperti dua rumah studionya. Lampu gantung modern memantulkan cahaya ke dinding marmer gading. Sebuah meja panjang dari kayu gelap memisahkan ruangan, ditemani satu set kursi kulit hitam yang tampak lebih cocok untuk negosiasi tingkat tinggi daripada penyambutan mahasiswa riset.
Pria yang mengantarnya berhenti di depan pintu, mengetuk sekali, kemudian membukanya perlahan.
“Silakan masuk.”
Maira menarik napas, yang tidak memberi efek menenangkan sama sekali, lalu melangkah. Dan di sanalah, seseorang berdiri di sisi meja, membelakanginya, menatap jendela besar yang memperlihatkan bentangan kota Abu Dhabi. Siluetnya tegap, bahunya lebar, tubuhnya menunjukkan kedisiplinan yang tidak pernah membiarkan detail kecil terlewat. Saat ia menoleh, cahaya ruangan membingkai tatapannya yang cokelat gelap yang tenang, tajam, dan tatapan itu mendarat pada Maira.
“Selamat datang di Abu Dhabi, Maira Permata Rastanti,” suara baritonnya terkontrol, seperti seseorang yang terbiasa memerintah orang lain tanpa perlu mengangkat suara.
Maira menahan diri agar tidak memindahkan berat badannya gelisah. “T-terima kasih, Sir.”
Pria yang mengantarnya menunduk dan keluar, meninggalkan mereka berdua dalam ruangan yang seolah semakin mengecil. Wisnutama tidak menyuruh Maira duduk dan hanya menatap seakan memeriksa setiap simpul saraf yang membangun dirinya.
“Perjalanan Anda melelahkan?” tanyanya dengan nada suara datar.
“Saya baik-baik saja,” jawab Maira cepat.
“Itu bukan jawaban yang saya tanyakan,” balasnya pelan.
Maira membeku sepersekian detik. Ada sesuatu dalam cara pria itu mengucapkan kata-kata yang membuatnya merasa seperti sedang diuji tanpa diberi tahu aturan mainnya. Wisnutama akhirnya berjalan mendekat, langkahnya pelan, seperti seseorang yang tidak pernah terburu-buru karena dunia cenderung menyesuaikan diri pada ritmenya.
Pria itu berhenti hanya beberapa langkah di depan Maira. Tidak terlalu dekat untuk dianggap tidak sopan, tapi cukup dekat untuk membuat jantung Maira menegang.
“Kedatanganmu hari ini bukan hal kecil. Banyak mahasiswa datang ke sini untuk riset budaya. Namun hanya sedikit yang,” ia berhenti, menatapnya dari ujung kaki hingga ujung rambut tanpa menyembunyikan bahwa itu adalah evaluasi, “yang dipanggil langsung oleh pihak internal.”
Nada suaranya membuat Maira merinding ringan.
“Maksudnya?” suara Maira sedikit serak, bukan karena takut, tapi karena atmosfer ruangan membuatnya sulit bernapas dengan ritme normal.
Wisnutama tidak menjawab pertanyaan itu, tapi justru mendekat setengah langkah untuk membuat Maira sadar bahwa pria itu bukan sekadar petinggi. Ia adalah seseorang yang terbiasa bekerja di ruang-ruang di mana kata rahasia memiliki bobot.
“Apa yang kamu kejar dari penelitianmu di sini?”
Tidak ada nada ramah. Tidak ada opsi untuk mengelak. Pertanyaan itu bukan permintaan, melainkan tuntutan.
Maira menegakkan bahu. “Saya ingin-”
Wisnutama memotongnya lembut, tanpa nada kasar. “Jujur saja. Bukan jawaban yang kamu siapkan untuk presentasi akademik.”
Maira sekali lagi terdiam. Laki-laki ini seperti bisa mencium kebohongan sebelum seseorang sempat berpikir untuk berbohong.
“Saya... ingin belajar langsung dari pusatnya. Dari tempat yang benar-benar memegang kekuatan budaya dan diplomasi. Saya ingin melihat bagaimana diplomasi bekerja dari dekat.”
Wisnutama tidak mengangguk, pula tidak tersenyum. Meski tidak bereaksi tapi tatapan itu mampu melumpukan Maira dan membawa ketegangan yang jelas tidak ada yang pernah membuatnya seperti ini.
“Bagus. Setidaknya kamu tidak datang ke sini untuk hal-hal yang dangkal,” Wisnutama berbalik sebentar, mengambil sebuah map tipis dari meja. Lalu kembali menatap Maira.
“Kamu akan bekerja di bawah pengawasan saya langsung. Semua kegiatanmu akan berada dalam protokol. Semua gerakanmu akan dicatat.”
Maira tercekat.
“Langsung di bawah pengawasan Anda? Saya- saya tidak diberi tahu.”
“Kamu tidak perlu diberi tahu,” tatapannya kembali menusuk, “cukup ikuti arahan yang saya berikan.”
Ada jeda.
“Mulai hari ini, Maira. Kamu berada di wilayah saya.”
Maira hanya sanggup mengangguk, karena entah bagaimana suaranya seolah menghilang dan enggan muncul untuk menjawab pria dengan pesona mengerikan ini.
“Sekarang,” lanjut Wisnutama sambil menggeser map itu kepadanya, “kamu bisa beristirahat di wilayah yang sudah di khususkan untuk setiap mahasiswa riset. Begitu keluar dari ruangan ini akan ada seseorang yang memandumu ke sana.”
“Te-terima kasih, Sir.”
Maria menundukkan kepalanya sedikit untuk memberi penghormatan pada pria itu. lalu berbalik menuju pintu dan benar saja begitu pintu terbuka, sudah seorang wanita yang mengenakan setelan jas hitam dan langsung mengarahkannya untuk mengikutinya.
“Nama saya Nadra,” ucapnya singkat tanpa menoleh, “saya akan mengantar Anda ke area tempat tinggal mahasiswa riset.”
Maira hanya mengangguk. Waktu sepertinya masih membutuhkan beberapa detik lagi untuk membuat suaranya kembali normal. Tenggorokannya kering, karena pria yang baru saja ia tinggalkan di belakang pintu itu.
Mereka melalui koridor panjang dengan dinding marmer, lampu-lampu gantung minimalis, dan aroma ruangan yang entah bagaimana bisa tercium mahal. Setiap sudut terasa seperti ruang yang hanya boleh dimasuki oleh orang-orang pilihan dan kini Maira di dalamnya.
“Wah,” gumam Maira.
Sebuah kekaguman yang tiada hentinya ia berikan untuk bangunan dan semua hal yang berada di Abu Dhabi. Tidak heran jika kota ini menyandang kota paling megah di dunia, terlihat dari bagaimana cantiknya semua hal di sini.
“Wilayah mahasiswa riset ada di lantai tiga,” jelas Nadra sambil menekan tombol lift. “Area ini privat dan terpisah dari staf diplomatik. Tetapi protokol keamanan tetap ketat.”
Lift terbuka dengan bunyi halus. Maira masuk. Dindingnya kaca gelap dan ia bisa melihat bayangannya sendiri dengan mata sedikit melebar, wajah lelah karena perjalanan panjang.
“Ada aturan tertentu yang perlu Anda ketahui,” lanjut Nadra ketika pintu lift tertutup. “Beberapa area tidak boleh dimasuki tanpa izin langsung dari atasan Anda.”
Atasan? Itu artinya...
“Dan atasan saya adalah Pak Wisnutama?” tanyanya pelan.
“Benar,” jawaban Nadra sangat cepat.
"Pak!" Maira terpekik kecil, matanya membelalak saat menyadari celana dalam sutranya kini telah hancur, jatuh menyusul bra-nya ke lantai kamar yang gelap."Tatap saya," geram Wisnu.Kini, di bawah temaram lampu kota dan sorot lampu taman yang memantul di kaca, keduanya benar-benar tanpa penghalang. Punggung Maira benar-benar tereskpos dengan jendela terbuka pada siapa pun yang melewati di bawah jendela ini."Lihat ke bawah, Little Bird," perintah Wisnu, suaranya parau oleh gairah yang sudah di ujung tanduk. "Lihat mereka yang berjaga. Mereka adalah saksi bahwa malam ini, tidak ada lagi mahasiswi riset. Yang ada hanyalah wanita milik Wisnutama."Tanpa peringatan lebih lanjut, Wisnu mengangkat pinggul Maira dan menghujamkan miliknya masuk dalam satu dorongan yang dalam dan telak."AAHHH!"Maira mendongak, lehernya yang jenjang menegang saat ia merasakan sensasi penuh yang menyesakkan sekaligus meledakkan percikan listrik ke seluruh sarafnya. Kuku-kukunya menancap di kulit pria itu.Di b
UPDATE: UNIVERSITAS TELAH MERILIS PERNYATAAN RESMI. MAIRA PERMATA RASTANTI DINYATAKAN SEBAGAI KORBAN MANIPULASI DATA. SELURUH GELAR DAN STATUS AKADEMIK AKAN DIPULIHKAN SETELAH PROSES KLARIFIKASI FISIK."Proses klarifikasi fisik..." Maira membaca tulisan itu dengan suara terengah-engah saat Wisnu menjauhkan wajahnya sejenak untuk membiarkan gadis itu bernapas. "Artinya saya harus pulang, Pak? Saya harus melapor ke Jakarta?"Wisnu terkekeh sinis, sebuah tawa yang kering dan tanpa belas kasihan. Dengan tegas lengan kekar itu menarik Maira berdiri dan membiarkan miliknya menegang tegak.“Tentu saja, tapi... setelah masa pemulihanmu selesai,” jawab Wisnu yang jemarinya lihai mulai membuka abaya yang dikenakan Maira.“Masa pemulihan? Maksudnya, Pak?” Maira tak peduli saat Abaya itu terlepas dan jatuh ke lantai, fokusnya pada secercah harapan hidupnya.Wisnutama terdiam, pria itu mulai membuka kancing kemeja Maira yang sudah kusut dan tidak beraturan, lalu menjatuhkannya begitu saja, hanya m
Keheningan di kamar itu terasa mendenyut, hanya dipecahkan oleh suara napas Maira yang pendek-pendek dan deru mesin AC yang halus. Tatapan Wisnutama yang gelap seolah menelanjangi setiap rasa takut dan gairah yang berusaha Maira sembunyikan."Kenapa diam, Maira?" bisik Wisnu, suaranya serak, mengirimkan getaran listrik ke seluruh saraf Maira.Wisnu meraih pergelangan tangan Maira yang gemetar. Dengan gerakan yang sengaja diperlambat, ia menuntun telapak tangan halus gadis itu turun dari bahu kokohnya, melewati dadanya yang bidang dan keras, hingga berhenti tepat di atas simpul handuk putih yang melilit pinggangnya.Maira bisa merasakan panas kulit Wisnu di balik kain tipis itu, sebuah kontak fisik yang membuatnya hampir kehilangan kesadaran."Jika kamu masih penasaran dengan milik saya... buka saja, Maira," perintah Wisnu, nada suaranya tidak lagi sekadar menggoda, melainkan sebuah instruksi yang menuntut kepatuhan mutlak.Maira menelan ludah dengan susah payah. Matanya yang basah men
"Kamu tidak perlu melakukan apa-apa selain tetap berada di bawah pengawasan saya," Wisnu berdiri, tarikan handuk di pinggangnya sedikit bergeser, namun ia tampak abai.Pria itu mencengkeram kedua bahu Maira, memaksa gadis itu untuk duduk tegak dan menatapnya."Dunia luar mungkin menganggapmu hilang, tapi di ruangan ini, kamu adalah kartu as saya. Hamdani mengira dia bisa bermain catur dengan nyawamu, tapi dia lupa bahwa saya adalah pemilik papan caturnya."Wisnu mendekatkan wajahnya, memangkas jarak hingga Maira bisa mencium aroma cendana yang kini bercampur dengan hawa panas tubuh pria itu."Kamu takut, Maira? Takut pada saya atau pada kenyataan bahwa tidak ada tempat pulang untukmu selain di sini?""Bapak... Bapak mengancam saya juga?" bisik Maira dengan mata berkaca-kaca.Wisnu terkekeh rendah, suara yang lebih mirip geraman puas. "Saya tidak mengancam. Saya sedang memberi tahu faktanya. Kamu adalah bagian dari skandal internasional sekarang. Jika kamu melangkah keluar dari gerbang
"Diam, Maira. Saya tidak punya waktu untuk menunggu langkahmu yang lambat itu," desis Wisnu sambil terus melangkah masuk menuju lift pribadi.Pria itu segera membawa Maira langsung ke lantai teratas, ke dalam sebuah kamar utama yang luasnya bahkan lebih besar dari seluruh luas apartemen Maira di Indonesia. Wisnu meletakkan Maira di atas tempat tidur king size yang dilapisi sprei sutra abu-abu."Walid akan mengirimkan tim medis untuk mengobati kakimu dan memastikan tidak ada luka dalam akibat ledakan tadi," ucap Wisnu sambil mulai membuka kancing kemejanya yang kotor, menampakkan otot dada yang keras dan beberapa memar biru yang mengerikan di tulang rusuknya.Maira segera memalingkan wajah, merasa sangat tidak nyaman berada di ruang pribadi pria ini dalam kondisi seperti ini. Ya, meskipun keduanya juga sudah beberapa kali melakukan hubungan yang lebih intim dan terbuka."Bapak sendiri... luka Bapak perlu diobati,” cicit Maira.Wisnutama berhenti bergerak, menatap punggung Maira dengan
"Profesor... universitas memilih saya," rintih Maira, bingung dengan sikap Wisnu yang tiba-tiba begitu menyeramkan.Wisnu terkekeh gelap, sebuah suara yang membuat bulu kuduk Maira berdiri."Universitasmu tidak pernah mengirimkan mahasiswi secara resmi pada negara untuk riset di kedutaan. Yang mereka kirimkan hanya mahasiswi kunjungan sehari,” penjelasan Wisnutama membuat Maira tergugu.Wajah Maira kian pucat. "Apa maksud Bapak?”Wisnutama melepaskan cengkeramannya di tengkuk Maira, namun ia tidak menjauh. Jemari besar itu justru merogoh saku blazernya dan melemparkan selembar dokumen digital yang baru saja ia terima dari jaringan intelijen keluarganya ke hadapan Maira."Lihat sendiri," perintah Wisnu dingin.Maira membaca dengan mata yang bergetar. Surat tugas risetnya, dokumen yang selama ini ia peluk erat sebagai tiket masa depannya, tidak memiliki nomor registrasi resmi di pangkalan data kementerian. Di sana hanya tertera namanya sebagai 'pengunjung independen' untuk observasi bud







