Home / Romansa / Di Balik Pintu Gelap Diplomat / Bagian 7 - Aksi Demontrasi

Share

Bagian 7 - Aksi Demontrasi

Author: Daisy
last update Last Updated: 2025-12-15 12:46:36

Maira menelan ludah. “Takut salah,” lanjutnya cepat sebelum keberaniannya runtuh. “Takut mengganggu pekerjaan Bapak. Takut dianggap tidak layak ada di sini.”

Itu bukan pembelaan, melainkan sebuah pengakuan yang sarat akan ketakutan. Maira menggenggam erat tangannya di pangkuan dan entah bagaimana mobil terasa semakin sempit.

“Maira, ketakutan akan membuat seseorang bekerja lebih lambat. Dan  kelambatan adalah musuh terbesar dalam pekerjaan saya.”

Maira mengangguk kecil. “Iya, Pak.”

“Cukup berikan saya rasa hormat, bukan ketakutan. Lihat saya sebagai mentor kamu selama riset di sini. Jangan sampai ketakutan itu merusak kinerja kamu yang saya ingin saksikan dari peserta riset.”

Pria itu membuka kembali catatan itu, membalik satu halaman, lalu halaman lain. Pensil mekanisnya berhenti di satu baris, mengetuk sekali, sebuah kebiasaan yang kini Maira kenali sebagai tanda ia sedang berpikir.

“Struktur catatanmu sebenarnya cukup baik,” ucap Wisnutama tanpa menoleh. “Kamu menangkap konteks sosialnya. Itu tidak mudah.”

Maira terkejut. Ia mendongak, nyaris refleks. “S-serius, Pak?”

“Masalahnya ada pada konsistensi dan keberanian mengambil keputusan saat mencatat. Kamu terlalu sering berhenti karena ragu.”

Maira menunduk lagi. “Saya takut salah.”

“Kesalahan bisa diperbaiki. Catatan kosong tidak,” balas Wisnutama.

Maira mengangguk pelan, mencatatnya dengan baik di kepalanya. Wisnutama menutup buku catatan itu lagi, kali ini lebih lembut. “Saya tidak membawa kamu ke lapangan untuk menghukum. Saya ingin melihat bagaimana kamu bekerja di bawah tekanan.”

Maira terdiam. “Dan, bagaimana menurut Bapak?”

Ada jeda. Wisnutama menatap lurus ke depan, ke jalan yang melaju di balik kaca mobil.

“Ya, setidaknya lebih dari ekspektasi saya pada mahasiswa riset. Cukup baik,” jawabnya akhirnya.

Jantung Maira berdetak lebih cepat. Pujian dari pria ini wajib untuk dibanggakan, mengingat betapa keras dan kaku nya dalam melakukan pengawasan saat di lapangan tadi.

“Tapi, kalau kamu terus bekerja dengan rasa takut, kamu akan habis sebelum riset ini selesai,” lanjut Wisnutama.

Maira menarik napas. “Apa yang harus saya lakukan, Pak?”

Wisnutama menoleh. Menatap pada wajah yang begitu ambisius dan penasaran akan nasehat yang diberikan mentornya. Wisnutama sudah sering melihat tatapan ambisius ini pada banyak orang termasuk mahasiswa riset dan Maira sama seperti yang lainnya.

“Percaya pada observasimu. Dan ingat satu hal bahwa kamu ada di sini karena kamu lolos seleksi. Bukan karena belas kasihan siapa pun termasuk saya. Itu artinya kamu memiliki kemampuan yang tidak dimiliki mahasiswa lain. Buat universitas kamu tidak menyesal telah mengirim kamu ke sini,” katanya.

Kata-kata itu terasa seperti beban yang perlahan dilepaskan dari bahu Maira.

“Baik, Pak,” ucapnya lebih mantap kali ini.

Wisnutama mengangguk tipis. Ia kembali membuka catatan, lalu menyodorkannya sedikit ke arah Maira. “Nanti malam, revisi bagian ini. Saya ingin melihat perbedaan cara kamu berpikir setelah hari ini.”

Maira menerima buku itu dengan kedua tangan. “Baik, Pak. Saya akan kerjakan.”

Tidak lama kemudian, laju mobil mendadak melambat. Di kejauhan, kerumunan manusia terlihat memenuhi sebagian jalan. Spanduk-spanduk terangkat, suara teriakan samar menembus kaca mobil yang tertutup rapat.

Rasyid langsung menegakkan tubuhnya.

“Itu... tidak seharusnya ada di sini,” gumamnya cepat, jemarinya bergerak lincah di ponsel. “Jalur ini seharusnya steril.”

Supir mengurangi kecepatan lebih jauh.

“Pak,” suara Rasyid naik satu oktaf, “ini jalur alternatif. Tidak ada izin demonstrasi di area ini.”

Wisnutama tidak langsung menjawab, lalu mencondongkan tubuh sedikit ke depan, menatap kerumunan dengan mata setenang permukaan danau. Tidak ada kepanikan di wajahnya yang ada justru perhitungan.

“Berapa jarak kita?” tanyanya.

“Kurang lebih seratus meter,” jawab supir cepat.

Rasyid menoleh ke belakang, “sepertinya kita harus putar balik sekarang, Pak. Massa mulai bergerak ke tengah jalan.”

Maira menelan ludah. Tangannya refleks menggenggam buku catatan di pangkuannya. Detak jantungnya naik drastis, tapi ia berusaha tidak menunjukkan apa pun. Wisnutama akhirnya berbicara, suaranya rendah dan tegas.

“Apakah ada pengamanan lokal di titik ini?” lanjutnya.

“Belum, Pak. Ini di luar perimeter.”

Jelas. Area ini memang seharusnya steril dan tidak ada dalam agenda lokasi demontrasi. Wisnutama bingung, mengapa ada yang mengizinkan mereka berada di sini, karena dalam aksi demontrasi akan selalu ada izin terlebih dahulu.

“Baik.” Wisnutama menoleh ke Maira untuk pertama kalinya sejak mobil melambat.

Tatapan itu membuat tubuh Maira menegang.

“Kamu dengarkan saya baik-baik,” ucapnya tanpa nada panik. “Apa pun yang terjadi, tetap duduk. Jangan membuka pintu. Jangan mendekat ke jendela. Paham?”

Maira mengangguk cepat. “Paham, Pak.”

Rasyid menoleh lagi ke depan. “Pak, mereka mulai menyadari kendaraan ini.”

Beberapa kepala di kerumunan menoleh. Ada yang menunjuk. Suara teriakan terdengar lebih jelas sekarang. Wisnutama menghela napas pelan, bukan tanda lelah, melainkan keputusan.

“Hubungi keamanan kedutaan. Minta pengawalan sekarang juga. Kirim lokasinya dan pastikan mereka tiba kurang dari 15 menit.”

“Baik, Pak.”

Mobil berhenti perlahan. Maira merasa telapak tangannya dingin. Untuk pertama kalinya hari itu, rasa takutnya tidak lagi absurd atau berlebihan, ini nyata. Wisnutama meliriknya sekilas.

“Kamu baik-baik saja?” tanyanya singkat.

“Sa-saya-“

Suara benturan pertama terdengar sebelum Maira menyelesaikan kalimatnya. Tubuh mungil itu berjengit dan menggeser duduk nya agak ke tengah, mendekat pada Wisnutama.

DUG.

Sesuatu menghantam sisi mobil. Maira tersentak, refleks menoleh ke arah suara sebelum sempat berpikir. Dari kaca depan, ia melihat salah satu botol plastik melayang, disusul teriakan yang kini jelas dan penuh amarah.

“Pak,” Rasyid menegang, “mereka mulai agresif.”

Belum sempat Wisnutama menjawab-

BRAK!

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Di Balik Pintu Gelap Diplomat   Bagian 33 - Sisakan Bagian Paling Menyenangkan

    “Lakukan, Maira,” kata wisnutama tenang, tapi nada itu penuh perintah yang tak bisa ditolak.“Kamu yang memulai tadi. Kamu yang bilang ingin melihat saya. Jangan berhenti sekarang. lepaskan pakaian saya dengan tanganmu sendiri."Maira mendekat dengan langkah pelan dan menyentuh kancing tuxedo wisnutama. Satu per satu dengan gerakan yang gemetar Maira membuka kancing itu.Pertama... kedua... hingga jas tuxedo terbuka lebar memperlihatkan kemeja putih di baliknya yang membentuk garis tubuh tegas Wisnutama. Ia tak berani menatap wajah pria itu langsung, matanya fokus pada tangannya sendiri, tapi ia bisa merasakan tatapan panas yang tak lepas darinya.“Kamu belum melakukan apa pun, Maira. Jadi, berhenti gemetar,” ucapan itu membuat Maira semakin gemetar.Napas pria itu terasa begitu berat di kepalanya bersamaan dengan jas itu terbuka dan Maira menjatuhkannya. Kini tinggal kemeja putih dan dasi kupu-kupu hitam yang masih terpasang rapi.Tangan Maira naik lagi, kali ini ke dasi. Jari-jariny

  • Di Balik Pintu Gelap Diplomat   Bagian 32 - Kamar Asrama Maira

    Maira menggigit bibir bawahnya, jantungnya berdegup kencang saat tangannya masih bertumpu di dada Wisnutama. Kata-kata pria itu barusan membuatnya sadar bahwa taman ini bukan tempat yang tepat untuk melanjutkan apa yang baru saja dimulai.“Iya, Pak,” bisiknya pelan, suara hampir hilang ditelan angin malam.Ia menarik napas dalam, mencoba menenangkan getaran di kakinya yang masih terasa lemas. “Kita... ke kamar saya saja.”Wisnutama mengangguk singkat, matanya tak lepas dari wajah Maira yang memerah. Tangan kanannya meraih tangan Maira, menggenggamnya erat tapi lembut, sambil menuntunnya untuk berjalan.Mereka berjalan menyusuri koridor panjang di lantai atas gedung pesta itu, melewati beberapa pintu kamar tamu yang disediakan panitia untuk peserta yang menginap. Asrama sementara Maira ada di ujung koridor, paling jauh dari keramaian, hunian sementara selama Maira melakukan riset di sini.Sesampainya di depan pintu kamar, Maira mencari-cari kunci kartu di tas kecilnya dengan tangan gem

  • Di Balik Pintu Gelap Diplomat   Bagian 31 - Dress Biru Gelap

    “Untuk saya?” ulangnya, suara rendah seperti bisikan.Wisnutama semakin mendekat, jarak bibir mereka kini tinggal beberapa senti. Napasnya hangat menyapu wajah Maira, membuat bulu kuduk gadis itu berdiri.“Kamu ingin saya melihat lekuk tubuhmu seperti ini, Maira?”Maira mengangguk kecil, tak mampu berbicara. Tubuhnya bereaksi sendiri dengan pinggulnya sedikit bergeser mendekat, mencari lebih banyak sentuhan. Tangan Wisnutama kini memeluk pinggangnya sepenuhnya, menariknya pelan hingga tubuh mereka hampir menempel.“Iya,” desah Maira akhirnya, mata menutup setengah.Wisnutama menghela napas pelan, menahan gejolak gairah yang semakin besar pada tubuh mungil yang sedang dibungkus dress ketat itu.“Kamu tahu saya selalu menginginkan kamu, Maira. Apa jadinya kalau kamu bertingkah seperti ini? Kamu ingin membuat saya lepas kendali sepenuhnya? Hm?”Maira mengerang kecil saat jempol Wisnutama mengusap pinggangnya dalam lingkaran lambat.“Pak, kita di koridor.”“Tidak ada yang akan lewat. Pest

  • Di Balik Pintu Gelap Diplomat   Bagian 30 - Di Antara Lampu dan Bayangan

    Aula utama kedutaan malam itu berkilau seperti panggung yang dipersiapkan dengan sempurna. Lampu gantung kristal memantulkan cahaya keemasan ke segala arah, beradu dengan kilap jas hitam para pejabat dan gaun-gaun elegan yang bergerak perlahan mengikuti alur percakapan. Musik orkestra lembut mengalun, cukup hadir untuk mengisi ruang tanpa mencuri perhatian dari pembicaraan penting yang berlangsung di setiap sudut.Maira berdiri di sisi Wisnutama.“Apa sebaiknya saya duduk saja, Pak?” bisik Maira yang cukup tidak nyaman dengan pandangan orang.“Tetap di sisi saya,” mutlak dan tidak bisa dibantah.Posisi itu saja sudah cukup membuat beberapa pasang mata melirik dua kali. Wisnutama, dengan sikapnya yang tenang dan dominan, tampak seperti pusat gravitasi ruangan. Dan Maira, dengan dress biru gelap yang membingkai tubuhnya menjadi kontras yang tidak bisa diabaikan.Tangannya memegang gelas kecil, isinya hampir tidak tersentuh. Ia tersenyum saat perlu, mengangguk ketika diperkenalkan, menye

  • Di Balik Pintu Gelap Diplomat   Bagian 29 - Pesta yang Membawa Kegelisahan

    Jam makan siang tiba tanpa terasa.Maira masih duduk di mejanya, menatap layar laptop dengan fokus yang sengaja ia pertahankan. Sejak keluar dari ruangan Wisnutama pagi tadi, ada perasaan tidak nyaman yang terus menempel di hatinya. Bukan takut, melainkan kesadaran bahwa dirinya sedang berada dalam radius perhatian yang tidak biasa.Ia baru saja hendak menyimpan file ketika bayangan seseorang jatuh di sisi mejanya.“Nona Maira.”Ia mendongak. Rasyid berdiri di sana, rapi seperti biasa, tablet di tangan, ekspresinya netral namun matanya tajam mengamati.“Pak Wisnutama memanggil Anda. Sekarang.”Maira berkedip pelan. “Sekarang, Pak?”“Iya. Untuk makan siang.”Kalimat itu membuat Maira terdiam sepersekian detik.“Makan siang?” ulangnya, refleks.Rasyid mengangguk. “Di ruangan beliau.”Tidak ada pilihan tersirat. Tidak ada pertanyaan. Itu perintah yang dibungkus dengan nada sopan.“Baik, Pak,” jawab Maira akhirnya.Ia berdiri, merapikan bajunya secara refleks, lalu Rasyid pergi begitu saj

  • Di Balik Pintu Gelap Diplomat   Bagian 28 - Di Bawah Permukaan Panas

    Besoknya, Maira berangkat riset seperti tidak terjadi apa pun. Bahkan, gadis itu merahasiakan penemuannya dari Wisnutama.Langkahnya tetap tenang, raut wajahnya profesional, bahkan nyaris terlalu terkendali untuk seseorang yang semalam baru saja membuka pintu ke dokumen yang seharusnya tidak ia sentuh. Tidak ada gelagat gugup, tidak ada gerakan mencurigakan. Dari luar, Maira tetap mahasiswi riset yang sama yaitu diam, fokus, dan sedikit terlalu serius untuk usianya.“Relax, Maura. Semuanya aman selama kamu tenang,” ucapnya pada dirinya sendiri.Ia duduk di mejanya, menyalakan laptop, dan membuka file riset utama. Lembar-lembar analisis yang kemarin terasa buntu kini seperti memiliki jalur baru. Kalimat-kalimat yang dulu ia ragu tuliskan, sekarang mengalir dengan lebih yakin dan lebih tajam.Namun Maira berhati-hati. Ia tidak menyalin apa pun secara mentah. Tidak ada kutipan langsung, karena semua ia olah ulang, ia sembunyikan dalam kerangka analisis yang tampak wajar, seolah kesimpula

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status