LOGINMereka bertiga akhirnya tiba di kamar Permaisuri. Ibu Suri memilih meninggalkan ruangan terlebih dahulu, memberikan ruang bagi Isabella dan sang tabib untuk berbicara berdua.
“Perkenalkan dirimu,” ucap Isabella agak canggung. Ini pertama kalinya ia berada dalam satu ruangan dengan pria lain selain suaminya. “Nama saya Ethan,” jawab tabib itu singkat. Isabella mengernyit. Perkenalan yang terlalu singkat, pikirnya. “Sebelumnya, bisakah kau mendongak? Aku kesulitan melihat wajahmu yang terus menunduk sejak tadi,” ujarnya akhirnya. Ethan pun mengangkat wajahnya. Tatapan mereka bertemu. Seketika, udara di sekitar mereka berubah—seolah waktu berhenti. Isabella terpaku pada sepasang mata tenang itu. “Tampan…” bisik hatinya. Ia selalu mengira Kaisar adalah lelaki tertampan di kekaisaran ini, tapi ternyata ada seseorang dengan wajah yang jauh lebih lembut… dan menenangkan. “Permaisuri?” panggil Ethan, membuyarkan lamunannya. “Ah, maaf… aku hanya sedikit terkejut,” ucap Isabella tergagap. Ethan hanya tersenyum samar, seolah memahami kecanggungannya. Beberapa saat berlalu dalam diam. Keduanya tampak canggung hingga Isabella menyadari dayangnya, Lusi, menatap Ethan dengan mulut sedikit terbuka. “Lusi?” panggil Isabella sambil menepuk bahunya. “Ah! Permaisuri…” Lusi tersipu, buru-buru menegakkan tubuh sambil menampilkan deretan giginya yang rapi. Isabella menggeleng kecil lalu terkekeh. Tawa lembutnya membuat Ethan, yang duduk di seberang, tertegun sejenak. “Cantik…” gumamnya lirih. … Kini mereka benar-benar berdua. Lusi telah keluar dari kamar setelah Ethan meminta privasi, sebab proses penyembuhan harus dilakukan hanya antara tabib dan pasien. “Bisakah Anda menjelaskan penyakit Anda, Permaisuri?” tanya Ethan dengan nada tenang. Isabella menarik napas panjang sebelum berbicara. Ia menyesap sedikit teh di meja untuk menenangkan diri. “Itu sudah ada sejak lahir. Ayah bilang, aku tidak boleh disentuh oleh pria mana pun. Setiap kali bersentuhan, tubuhku akan membiru, dadaku terasa sesak, dan tenaga seakan tersedot habis. Aku biasanya pingsan tak lama setelahnya.” Ethan mengangguk memahami. “Kapan gejala itu hilang?” tanyanya lagi. “Sekitar tiga jam setelahnya.” Ethan berpikir sejenak, lalu mengeluarkan sebuah botol kecil dari tas selempang yang ia bawa. Cairannya berwarna hitam dengan aroma tajam. “Apakah itu kutukan, Tabib? Atau penyakit?” tanya Isabella pelan. “Panggil saya Ethan saja, Permaisuri. Itu akan membuat Anda lebih rileks,” jawabnya lembut, sebelum melanjutkan, “Minumlah ini. Kita akan tahu, apakah yang Anda alami adalah penyakit… atau kutukan.” Isabella menerima botol itu. Begitu tutupnya dibuka, aroma menyengat langsung menusuk hidungnya. “Uh, baunya…” gerutunya sambil menjauhkan botol. “Apakah Anda tidak ingin meminumnya?” tanya Ethan, matanya memerhatikan setiap reaksi Isabella. Isabella menatapnya sesaat, lalu menenggak cairan itu sekaligus. “Ugh… pahit sekali,” desisnya menahan rasa mual. Ethan tersenyum tipis. Isabella sempat memandanginya—senyuman itu begitu hangat, begitu berbeda dari wajah dingin Kaisar yang selama ini hanya memberinya jarak. “Minumlah teh Anda, itu bisa menetralisir rasa pahitnya,” ucap Ethan lembut. “Apakah itu tidak mengganggu efek obatnya?” Ethan menggeleng. Isabella pun menuruti sarannya. “Setelah ini… apa yang akan kau lakukan?” tanyanya hati-hati. Ethan mengenakan sepasang sarung tangan tipis berwarna menyerupai kulit. “Julurkan tangan Anda, Permaisuri.” “Kau mau apa?” Isabella memicingkan mata curiga. Ethan tak menjawab, hanya menatapnya dalam diam—tatapan yang lembut, nyaris menenangkan. Dengan ragu, Isabella menjulurkan tangannya. Ethan menyentuh telapak tangannya perlahan, dan sesuatu yang halus menjalari hati keduanya. Isabella menahan napas. Hanya sentuhan berlapis sarung tangan, namun sensasinya lebih mengguncang dari setiap sentuhan sang Kaisar. “Tenangkan diri Anda, Permaisuri. Katakan pada diri sendiri bahwa ini hanya sentuhan,” bisik Ethan lembut. “Ini hanya sentuhan, Isabella… hanya sentuhan,” gumamnya sambil memejamkan mata. Tak ada warna biru. Tak ada rasa sesak. Hanya detak jantungnya yang berdentum keras di dada. Ethan melepaskan tangannya perlahan. “Bagaimana perasaan Anda, Permaisuri?” Isabella membuka mata, menatap tangannya yang tetap normal. “Kenapa… tidak terjadi apa-apa?” tanyanya heran. “Mungkin karena sarung tangan ini. Sekarang kita coba tanpa penghalang,” ucap Ethan sambil tersenyum tipis dan menanggalkan sarung tangannya. “Tunggu!” seru Isabella cepat. Ia menatap Ethan tajam. Di satu sisi, jantungnya masih berdebar; di sisi lain, rasa jengkel tiba-tiba menyeruak. “Beraninya dia… hendak menyentuhku tanpa izin?", batinnya. “Kenapa Anda menatap saya seperti itu, Permaisuri?” tanya Ethan dengan alis berkerut. “Memangnya seperti apa tatapanku?” balas Isabella ketus. “Seolah Anda menganggap saya lelaki tak tahu sopan santun,” jawab Ethan datar. Isabella terdiam. Bagaimana mungkin pria ini bisa menebak isi hatinya? “Saya hanya akan menyentuh tangan Anda,” tekan Ethan lembut, tapi tegas. Isabella menunduk malu, menyesal telah berprasangka. Ia kembali menjulurkan tangannya. “Tenangkan diri Anda, Permaisuri,” ucap Ethan sambil mendekat. “Ingat… ini hanya sentuhan.” Kulit mereka akhirnya bersentuhan langsung—hangat, lembut, namun menyulut sesuatu yang tak bisa dijelaskan di dada keduanya. Beberapa detik berlalu, debar di dada Isabella kian menguat, tetapi rasanya tidak sesak seperti gejala yang biasa ia rasakan. Ethan menatap wajah Isabella yang terpejam, mengamati setiap reaksi tubuhnya. Namun, tak ada tanda-tanda seperti yang sebelumnya Isabella ceritakan. “Permaisuri?” panggil Ethan pelan. “Ya?” sahut Isabella tanpa membuka mata. “Bukalah mata Anda perlahan,” bimbing Ethan lembut. Isabella menarik napas dalam, lalu membuka matanya perlahan. Pandangannya langsung bertemu dengan tatapan Ethan yang lembut—tatapan yang membuatnya merasa dihargai. Tes. Setetes air mata tiba-tiba jatuh dari sudut mata Isabella, membuat Ethan terlonjak dan spontan menarik tangannya. “Permaisuri, maaf... apakah aku menyakitimu?” ucap Ethan dengan raut khawatir. Isabella segera menyeka air matanya, lalu berdiri dengan mata terbelalak. Kulitnya—tidak berubah warna sedikit pun. “Ethan... aku tidak berubah! Aku sembuh, Ethan!” pekiknya dengan suara bergetar antara haru dan bahagia.Lapangan militer Kekaisaran dipenuhi derap langkah para ksatria sejak fajar menyingsing. Debu beterbangan, bendera kekaisaran berkibar tinggi, dan sorak sorai prajurit yang berkumpul menciptakan atmosfer tegang namun membara. Hari ini bukan hari biasa—hari ini adalah seleksi jenderal.Sepuluh kandidat berdiri berjajar di tengah arena. Mereka adalah para ksatria terbaik dari berbagai wilayah, masing-masing membawa reputasi, luka pertempuran, dan ambisi yang tersembunyi di balik wajah dingin.Di antara mereka, Maxime Sun Astrum berdiri tegak, bahunya lurus, tatapannya lurus ke depan. Baju zirah peraknya sederhana, tanpa hiasan berlebihan—berbeda dengan beberapa kandidat lain yang sengaja menampilkan lambang kehormatan mereka.Namun justru kesederhanaan itulah yang membuatnya menonjol.“Semua kandidat harap bersiap!”Suara komandan arena menggema.Di tribun kehormatan, Julius duduk di singgasananya, mengenakan jubah kebesaran. Wajahnya tampak tenang, namun sorot matanya tajam saat menata
Maxime Sun Astrum, putra sulung dari Grand Duke William Astrum—kakak kandung Isabella—adalah seorang ksatria Kekaisaran yang kini bertugas di wilayah perbatasan. Usianya baru menginjak dua puluh lima tahun, namun pengalamannya di medan tempur telah membentuknya menjadi sosok yang disegani.Seharusnya, Maxime telah menggantikan posisi ayahnya sebagai Duke di wilayah Eve East. Namun takdir membawanya memilih jalan lain. Selama Isabella berada di istana sebagai permaisuri, Maxime merasa tanggung jawabnya belum selesai. Ia ingin meraih jabatan jenderal—jabatan yang akan menempatkannya di pusat kekuasaan, dekat dengan adiknya, sekaligus mengamankan posisi Isabella dari segala ancaman.Lagipula, Grand Duke William masih cukup muda dan mampu menangani urusan wilayah seorang diri. Terlebih lagi, putra bungsunya telah berusia lima belas tahun dan menempuh pendidikan di Academy. Kelak, dialah yang akan meneruskan kekuasaan keluarga Astrum di Eve East.Kesempatan kali ini tak boleh disia-siakan.
Vena kembali ke Paviliun Senja dengan tubuh gemetar. Setiap langkahnya terasa berat, seolah lantai marmer yang dingin ikut menekan jantungnya. Ia tahu, Ivony pasti akan murka jika mengetahui kaisar lebih memilih menetap bersama Selir Imelda daripada menemuinya.Begitu pintu paviliun terbuka, Ivony sudah berdiri menunggu, wajahnya dihiasi senyum penuh harap yang rapuh.“Mana kaisar?” tanya Ivony, suaranya dibuat selembut mungkin, meski sorot matanya tak bisa menyembunyikan kegelisahan.Vena menunduk, jemarinya saling menggenggam kuat. Ia tak berani berucap sepatah kata pun. Sikap itu justru membuat ekspresi Ivony perlahan mengeras, senyumnya memudar, digantikan tatapan tajam yang menusuk.“Cepat katakan, di mana kaisar!” bentak Ivony, nada suaranya meninggi.Vena spontan bersujud, dahinya menyentuh lantai.“Ampun, Selir Agung. Yang Mulia Kaisar memerintahkan tabib untuk memeriksa Anda. Beliau tidak mau meninggalkan Paviliun Bulan,” papar Vena dengan suara bergetar, rasa takut jelas ter
“Yang Mulia Kaisar tiba….”Suara pengumuman terdengar lirih namun jelas.Julius melangkah memasuki kamar Selir Imelda di Paviliun Bulan. Ruangan itu diterangi cahaya lampu temaram, tirai tipis bergoyang perlahan tertiup angin malam. Aroma wangi yang lembut namun hangat segera menyergap indra penciumannya.Imelda telah menunggu.Ia berdiri anggun di dekat ranjang, mengenakan gaun tidur tipis berwarna gading yang jatuh mengikuti lekuk tubuhnya. Rambutnya terurai rapi, bibirnya dihias senyum lembut yang sengaja dibuat menggoda. Para pelayan yang sebelumnya mendampingi segera menunduk dan keluar, menutup pintu rapat, meninggalkan Imelda dan Julius berdua.“Kaisar…” panggil Imelda lirih.Ia melangkah mendekat, tangannya terulur membuka jubah kebesaran yang dikenakan Julius. Dengan gerakan halus, Imelda memapahnya ke tepi ranjang. Kehangatan tubuhnya dan aroma wewangian yang dipakainya menciptakan sensasi aneh—menenangkan sekaligus membakar.Imelda tersenyum samar.Ia memang sengaja memilih
Desa Kraven diliputi kabut tipis sejak pagi.Bangunan-bangunan kayu yang rusak tampak muram. Atap-atap roboh, papan-papan patah berserakan, menyisakan rangka-rangka rapuh sebagai saksi bisu longsor yang belum lama terjadi. Tanah berlumpur, jerami basah menempel di telapak kaki, dan bau lembap bercampur getir penderitaan menyelimuti udara.Para penduduk berdiri berjejer di sisi jalan utama.Wajah-wajah mereka letih, mata cekung, pakaian lusuh menempel di tubuh kurus. Anak-anak digendong erat, para lansia bersandar pada tongkat rapuh yang nyaris tak mampu menopang tubuh renta mereka. Tak ada sorak. Tak ada sambutan meriah.Tak ada harapan besar.Mereka sudah terlalu sering berharap—dan terlalu sering kecewa.Namun pagi itu terasa berbeda.Derap kaki kuda menggema dari kejauhan, memecah kesunyian desa. Perlahan, barisan prajurit bersenjata lengkap memasuki Kraven dengan langkah tertib dan teratur. Bendera Eve East berkibar anggun di udara, biru keperakan, bersih, dan tegas—kontras dengan
Aula Paviliun Mentari pagi itu dipenuhi cahaya keemasan. Tirai tipis bergoyang pelan, membiaskan sinar matahari ke lantai marmer yang berkilau. Para selir telah berkumpul, duduk anggun sesuai kedudukan masing-masing.Sejak awal, Selir Agung Ivony tak melepaskan pandangannya dari Isabella.Tatapan itu tajam, dingin, dan sarat kecemburuan.Meski tak terang-terangan, Isabella merasakannya jelas. Dari ekor matanya, ia menangkap kilat amarah yang berusaha disembunyikan Ivony di balik senyum bangsawan. Diam-diam, Isabella mengulas seringai tipis—halus, nyaris tak terlihat.“Bagaimana malammu, Selir Imelda?” tanya Isabella ringan, seolah tak terjadi apa-apa.Selir Imelda tersentak kecil, lalu tersenyum tersipu. Wajahnya merona, matanya berbinar.“Terima kasih atas bantuan Anda, Yang Mulia,” ucapnya dengan nada hormat.Ivony langsung menoleh. Ada sesuatu dalam sorot matanya—tajam, menguji. Seolah ia ingin menguliti setiap kata yang keluar dari mulut Imelda.D







