MasukPagi berikutnya, Revana sudah berada di kamar pribadi Damian tengah membersihkan kamar tersebut.
Revana bergerak dengan cekatan, jemarinya yang masih terbalut kasa tipis menyeka permukaan meja kerja Damian yang dingin. Dia berusaha fokus, mengabaikan fakta bahwa hanya beberapa meter darinya, di balik pintu kayu ek yang tebal, sang monster sedang membersihkan diri. Suara gemercik air dari shower terdengar konsisten, menciptakan ritme yang anehnya menenangkan sekaligus mencemaskan. Revana mempercepat gerakannya. Dia ingin segera keluar dari ruangan ini sebelum pria itu selesai. Namun, saat dia sedang merapikan tumpukan majalah bisnis di nakas, suara air itu tiba-tiba berhenti. Hening. Revana terkesiap. Dia pun melirik jam di dinding, lalu ke arah pintu kamar mandi yang masih tertutup rapat. ‘Masih ada waktu,’ pikirnya dengan nada panik. Dia segera beralih ke sisi tempat tidur untuk merapikan seprai sutra yang sedikit berantakan. Namun, belum sempat dia menarik ujung kain itu, bunyi pintu terbuka memecah kesunyian. Revana berdiri tegak, sementara tangannya terkepal di sisi tubuh. Dia mengira Damian akan keluar dengan setelan jas lengkap atau setidaknya jubah mandi yang menutupi tubuhnya. Namun, dugaannya salah besar. Damian melangkah keluar dengan uap air yang masih mengepul di sekitarnya. Pria itu hanya mengenakan selembar handuk putih yang melilit sangat rendah di pinggangnya, seolah-olah satu sentakan kecil saja bisa membuatnya jatuh. Air masih menetes dari ujung rambutnya yang hitam, jatuh melewati rahang tegasnya dan mengalir turun ke dada bidangnya yang atletis. Revana langsung terpaku melihat keadaan Damian saat ini. Dia tidak sengaja menelan ludah saat matanya tanpa sadar memindai otot-otot perut Damian yang padat dan terpahat sempurna. Abs itu tampak berkilau karena sisa air, menciptakan pemandangan yang begitu maskulin namun mengintimidasi. Damian menyadari tatapan itu. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum sinis yang mendinginkan suasana. Dia mulai melangkah mendekat, langkah kakinya yang telanjang tidak mengeluarkan suara di atas karpet bulu. “Jangan mendekat!” suara Revana keluar dengan nada tinggi yang tidak stabil. Dia langsung mundur, tangannya terangkat di depan dada seolah ingin membangun benteng tak kasat mata. Dia memalingkan wajah, menolak untuk melihat lebih banyak lagi dari tubuh pria yang seharusnya dia benci itu. Namun, Damian tidak memedulikan perintahnya. Langkah kaki itu terus mendekat hingga Revana merasakan punggungnya membentur tiang tempat tidur yang keras. Aroma sabun maskulin yang segar dan panas tubuh Damian mulai menyergap indra penciumannya. Wanginya begitu dekat dan begitu intim memenuhi paru-paru Revana hingga dia merasa pening. Damian berhenti tepat di depan Revana, hanya menyisakan jarak beberapa sentimeter di antara mereka. “Kau melihatku seolah-olah kau baru saja menemukan oase di tengah gurun, Revana,” suara Damian terdengar rendah dan berat, bergetar di dekat telinga Revana. “Aku tahu apa yang ada di otakmu. Kau pikir aku tidak tahu caramu menatapku dulu?” Revana menggelengkan kepalanya mencoba menghindar dari napas hangat Damian yang menyapu kulit lehernya itu. “Aku tidak tahu apa yang Anda bicarakan. Aku ... aku harus kembali bekerja.” “Bekerja? Atau melarikan diri?” Damian terkekeh gelap. Dia kemudian mengulurkan tangan, mencengkeram pergelangan tangan Revana dan menariknya ke atas. “Kau mengagumiku sejak kecil, bukan? Bahkan setelah sepuluh tahun berlalu, kau masih sama. Kau hanyalah anjing peliharaan yang merindukan tuannya, menunggu aku memberikan perintah untuk kau patuhi.” “Lepaskan!” Revana meronta, namun Damian justru menariknya lebih dekat. Satu sentakan kuat membuat dada Revana menabrak dada bidang Damian yang masih lembap. Kulit mereka bersentuhan, mengirimkan sengatan listrik yang membuat bulu kuduk Revana meremang. Cengkeraman Damian di tangannya begitu erat, mematikan segala celah untuk kabur. Revana mendongak, matanya membola saat melihat wajah Damian merunduk. Pria itu memiringkan kepalanya, matanya yang tajam mengunci bibir Revana dengan intensitas yang menghancurkan. Oksigen seolah menghilang dari ruangan itu. Revana bisa merasakan detak jantung Damian yang kuat menghantam dadanya, atau mungkin itu detak jantungnya sendiri yang sudah kehilangan kendali. Saat jarak di antara bibir mereka hanya tersisa satu tarikan napas, sebuah suara keras memecah ketegangan itu. BRAK! Pintu kamar terbuka tanpa peringatan. “Damian! Aku butuh kunci gudang senjata sekarang—” Suara Raphael terputus di udara. Si bungsu Leonardo itu berdiri di ambang pintu dengan mata membelalak, menatap pemandangan intim di depannya. "Apa yang kau lakukan, Damian?!"“Darah ... Damian, kau penuh darah.” Revana membisikkan kata-kata itu dengan bibir yang biru.Dia menutup mulutnya dengan tangan, berusaha menahan mual yang muncul bukan karena luka fisik, melainkan karena kengerian melihat suaminya berubah menjadi mesin pembantai.Damian segera melempar dua pistol Tactical miliknya ke atas sofa hingga menimbulkan dentuman kecil.Dia menjatuhkan diri berlutut, dan mengabaikan serpihan kaca yang mungkin menusuk kakinya. Dia merangkak mendekat, namun tetap menjaga jarak sekitar satu meter agar Revana tidak semakin histeris.“Ini bukan darahku, Sayang. Aku tidak terluka. Aku bersumpah,” ucap Damian.“Kenapa kau harus melakukannya seperti itu? Aku mendengar suara mereka ... mereka berteriak, Damian,” isak Revana.“Karena mereka ingin mengambilmu dariku!” Damian membentak tanpa sengaja, suaranya menggelegar sebelum dia segera melembutkannya kembali.“Maafkan aku. Aku tidak punya pilihan. Jika aku tidak menghabisi mereka, mereka akan melewati pintu itu dan
Lantai VVIP itu kini menjadi lorong maut. Debu sisa ledakan pintu masih menggantung di udara, bercampur dengan bau tajam mesiu dan aroma amis yang mulai menyengat.Tiga mayat pasukan Regious tergeletak tumpang tindih di ambang pintu kamar 901, namun sisa pasukan mereka di luar masih terus menghujani ruangan dengan peluru.“Mundur! Dia punya senapan mesin di dalam!” teriak salah satu tentara bayaran dari balik meja perawat.“Bodoh! Damian tidak ada di sini! Cepat masuk dan selesaikan wanita itu sebelum bantuan datang!” balas pemimpin mereka, seorang pria bertubuh besar dengan codet di pipi.Mereka tidak menyadari bahwa di atas kepala mereka, di balik deretan plafon gipsum yang tampak tenang, sebuah bayangan sedang bergerak tanpa suara.Damian tidak pernah pergi ke tangga darurat. Dia sudah berada di atas mereka sejak listrik dipadamkan, merayap di celah sempit antara beton dan plafon seperti predator yang menunggu mangsa masuk ke dalam jaring.BRAK!Satu panel plafon pecah tepat di ata
Koridor lantai VVIP Rumah Sakit Pusat Leonardo kembali tenggelam dalam keheningan yang menyesakkan. Cahaya lampu neon yang terlalu putih memantul di atas lantai marmer, menciptakan suasana steril yang dingin.Damian berdiri di depan lift, mengenakan jas hitamnya yang kaku. Dia memeriksa jam tangannya, lalu menoleh ke arah Julian yang berdiri di sampingnya.“Semua kamera sudah diatur?” tanya Damian.Julian mengangguk pelan sembari menatap layar tablet di tangannya. “Sesuai rencana. Rekaman CCTV di lobi utama akan memperlihatkan konvoi mobilmu meninggalkan rumah sakit menuju bandara pribadi. Siapa pun yang menyadap ruangan ini akan mengira kau sedang mengejar pengiriman senjata Regious di perbatasan.”“Bagus,” desis Damian. Dia melirik ke arah pintu kamar 901 yang tertutup rapat.“Pastikan umpan ini ditelan mentah-mentah oleh mereka. Aku ingin tikus-tikus itu keluar dari lubangnya malam ini.”“Kau yakin meninggalkan Revana hanya dengan Raphael?” Julian tampak ragu. “Regious mungkin akan
Lampu-lampu di langit-langit koridor berkedip dua kali sebelum akhirnya menyala serentak, membanjiri kamar 901 dengan cahaya putih yang menyilaukan.Suara dengung mesin medis kembali terdengar, menandakan listrik cadangan telah mengambil alih. Ketegangan yang tadinya membeku di udara perlahan mencair.Damian menarik napas panjang, paru-parunya seolah baru saja mendapatkan pasokan oksigen setelah tercekik kegelapan masa lalu.Dia mengusap wajahnya dengan telapak tangan yang masih sedikit gemetar, lalu menoleh ke arah Revana. Ketakutan di matanya menghilang dalam sekejap, digantikan oleh senyuman tipis yang sangat tenang, senyum yang hanya ia simpan untuk satu orang.“Aku di sini, Revana. Aku baik-baik saja,” ucap Damian. Suaranya kembali berat dan stabil.“Damian, tadi kau ... kau tampak sangat kesakitan,” bisik Revana, jemarinya masih mencengkeram lengan kemeja Damian.“Hanya mimpi buruk yang tidak tahu tempat,” sahut Damian singkat dan mencoba berdiri, lalu dengan gerakan luwes, ia m
Lantai VVIP itu seolah kehilangan detak jantungnya. Hanya ada bunyi teratur dari mesin monitor yang menemani kesunyian di dalam kamar 901.Damian masih di sana, duduk di kursi kulit yang kini terasa seperti singgasana sekaligus penjaranya.Lampu meja yang temaram menyinari wajahnya yang kuyu, namun tatapannya tetap tajam menghadap ke arah pintu, sebelum beralih ke sosok di atas ranjang.Revana menggerakkan jemarinya. Ia menoleh perlahan, menatap Damian dengan mata yang tidak lagi sekosong sebelumnya.“Damian?” bisik Revana dengan suara serak, nyaris tenggelam oleh suara pendingin ruangan.Damian segera menegakkan punggungnya. Ia meraih tangan Revana, menggenggamnya dengan kedua tangan seolah sedang menjaga nyawa yang paling berharga.“Aku di sini. Jangan banyak bicara dulu, tenggorokanmu pasti sakit.”“Jangan pergi,” kata Revana, dan kali ini lebih jelas. Cengkeramannya pada tangan Damian menguat secara mengejutkan.“Tolong, jangan tinggalkan aku sedetik pun. Di luar sana ... aku tahu
Lampu gantung kristal di langit-langit kasino bawah tanah “The Vault” bergetar halus setiap kali musik jazz bertempo rendah bergema di ruangan yang dipenuhi asap cerutu itu.Di meja bundar paling sudut, Julian Leonardo duduk dengan tenang, menyesap wiski tanpa es.Di hadapannya, tiga pria berjas rapi, utusan dari klan Moretti dan seorang mediator internasional beraksen Rusia menatapnya dengan pandangan yang tidak bersahabat.“Kau datang tanpa pengawal, Julian? Itu keberanian yang bodoh atau sekadar sombong?” tanya Moretti, pria paruh baya dengan bekas luka di pelipisnya.Julian meletakkan gelasnya di atas meja marmer dengan dentingan pelan. “Aku datang untuk bicara bisnis, bukan untuk berperang. Lagi pula, pengawalku hanya akan membuat kalian gugup.”“Bisnis?” Mediator Rusia itu, Ivanov, tertawa serak. “Bisnis kalian sedang sekarat. Aliansi Regious-Moretti sudah mengunci semua jalur logistikmu. Damian sedang sibuk bermain perawat di rumah sakit, dan kau di sini mencoba menawar nyawa?”