Share

Bab 6

Penulis: Leona Valeska
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-19 20:45:07

Pagi berikutnya, Revana sudah berada di kamar pribadi Damian tengah membersihkan kamar tersebut.

Revana bergerak dengan cekatan, jemarinya yang masih terbalut kasa tipis menyeka permukaan meja kerja Damian yang dingin. Dia berusaha fokus, mengabaikan fakta bahwa hanya beberapa meter darinya, di balik pintu kayu ek yang tebal, sang monster sedang membersihkan diri.

Suara gemercik air dari shower terdengar konsisten, menciptakan ritme yang anehnya menenangkan sekaligus mencemaskan. Revana mempercepat gerakannya.

Dia ingin segera keluar dari ruangan ini sebelum pria itu selesai. Namun, saat dia sedang merapikan tumpukan majalah bisnis di nakas, suara air itu tiba-tiba berhenti.

Hening.

Revana terkesiap. Dia pun melirik jam di dinding, lalu ke arah pintu kamar mandi yang masih tertutup rapat. ‘Masih ada waktu,’ pikirnya dengan nada panik.

Dia segera beralih ke sisi tempat tidur untuk merapikan seprai sutra yang sedikit berantakan. Namun, belum sempat dia menarik ujung kain itu, bunyi pintu terbuka memecah kesunyian.

Revana berdiri tegak, sementara tangannya terkepal di sisi tubuh. Dia mengira Damian akan keluar dengan setelan jas lengkap atau setidaknya jubah mandi yang menutupi tubuhnya. Namun, dugaannya salah besar.

Damian melangkah keluar dengan uap air yang masih mengepul di sekitarnya. Pria itu hanya mengenakan selembar handuk putih yang melilit sangat rendah di pinggangnya, seolah-olah satu sentakan kecil saja bisa membuatnya jatuh.

Air masih menetes dari ujung rambutnya yang hitam, jatuh melewati rahang tegasnya dan mengalir turun ke dada bidangnya yang atletis.

Revana langsung terpaku melihat keadaan Damian saat ini. Dia tidak sengaja menelan ludah saat matanya tanpa sadar memindai otot-otot perut Damian yang padat dan terpahat sempurna. Abs itu tampak berkilau karena sisa air, menciptakan pemandangan yang begitu maskulin namun mengintimidasi.

Damian menyadari tatapan itu. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum sinis yang mendinginkan suasana. Dia mulai melangkah mendekat, langkah kakinya yang telanjang tidak mengeluarkan suara di atas karpet bulu.

“Jangan mendekat!” suara Revana keluar dengan nada tinggi yang tidak stabil.

Dia langsung mundur, tangannya terangkat di depan dada seolah ingin membangun benteng tak kasat mata. Dia memalingkan wajah, menolak untuk melihat lebih banyak lagi dari tubuh pria yang seharusnya dia benci itu. Namun, Damian tidak memedulikan perintahnya.

Langkah kaki itu terus mendekat hingga Revana merasakan punggungnya membentur tiang tempat tidur yang keras. Aroma sabun maskulin yang segar dan panas tubuh Damian mulai menyergap indra penciumannya. Wanginya begitu dekat dan begitu intim memenuhi paru-paru Revana hingga dia merasa pening.

Damian berhenti tepat di depan Revana, hanya menyisakan jarak beberapa sentimeter di antara mereka.

“Kau melihatku seolah-olah kau baru saja menemukan oase di tengah gurun, Revana,” suara Damian terdengar rendah dan berat, bergetar di dekat telinga Revana. “Aku tahu apa yang ada di otakmu. Kau pikir aku tidak tahu caramu menatapku dulu?”

Revana menggelengkan kepalanya mencoba menghindar dari napas hangat Damian yang menyapu kulit lehernya itu. “Aku tidak tahu apa yang Anda bicarakan. Aku ... aku harus kembali bekerja.”

“Bekerja? Atau melarikan diri?” Damian terkekeh gelap.

Dia kemudian mengulurkan tangan, mencengkeram pergelangan tangan Revana dan menariknya ke atas.

“Kau mengagumiku sejak kecil, bukan? Bahkan setelah sepuluh tahun berlalu, kau masih sama. Kau hanyalah anjing peliharaan yang merindukan tuannya, menunggu aku memberikan perintah untuk kau patuhi.”

“Lepaskan!” Revana meronta, namun Damian justru menariknya lebih dekat.

Satu sentakan kuat membuat dada Revana menabrak dada bidang Damian yang masih lembap. Kulit mereka bersentuhan, mengirimkan sengatan listrik yang membuat bulu kuduk Revana meremang. Cengkeraman Damian di tangannya begitu erat, mematikan segala celah untuk kabur.

Revana mendongak, matanya membola saat melihat wajah Damian merunduk. Pria itu memiringkan kepalanya, matanya yang tajam mengunci bibir Revana dengan intensitas yang menghancurkan.

Oksigen seolah menghilang dari ruangan itu. Revana bisa merasakan detak jantung Damian yang kuat menghantam dadanya, atau mungkin itu detak jantungnya sendiri yang sudah kehilangan kendali.

Saat jarak di antara bibir mereka hanya tersisa satu tarikan napas, sebuah suara keras memecah ketegangan itu.

BRAK!

Pintu kamar terbuka tanpa peringatan.

“Damian! Aku butuh kunci gudang senjata sekarang—”

Suara Raphael terputus di udara. Si bungsu Leonardo itu berdiri di ambang pintu dengan mata membelalak, menatap pemandangan intim di depannya.

"Apa yang kau lakukan, Damian?!"

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Di Bawah Kuasa Tiga Majikan Tampan   Bab 12

    Suasana di dalam kamar itu mendadak menjadi sangat tipis, seolah oksigen tersedot habis oleh kehadiran Julian Leonardo.Revana merasakan bulu kuduknya meremang saat mata tajam di balik kacamata itu terus menguliti setiap gerak-geriknya.Matanya perlahan menyisir dari sepatu pantofel hitam yang mengkilap, naik ke setelan jas abu-abu yang terpotong sempurna, hingga akhirnya dia menatap sepasang mata tajam yang sedang memperhatikannya dengan tatapan analitis yang tak terbaca.‘Itu bukan suara Damian!’ pikir Revana dengan jantung yang hampir melompat keluar dari rongga dadanya.Pria itu berdiri tegak, memancarkan aura wibawa yang berbeda dari Damian yang meledak-ledak.Julian lebih seperti pedang yang tersembunyi di dalam sarung sutra; indah dilihat, namun mematikan saat menyentuh kulit.Tangan kirinya memegang sebuah map hitam tipis, sementara tangan kanannya merapikan letak kacamatanya dengan gerakan yang sangat elegan namun terasa mengancam.“Kenapa kau terlihat seperti melihat hantu?”

  • Di Bawah Kuasa Tiga Majikan Tampan   Bab 11

    Langkah kaki Revana terasa seberat timah saat ia menyusuri lorong panjang menuju sayap utama mansion. Setiap jengkal karpet merah yang ia pijak seolah menariknya lebih dalam menuju jurang kehancuran.Tangannya yang gemetar meremas ujung gaun sutra hitam yang kini sudah kusut dan ternoda bercak darah kering milik pria yang dihajar Damian tadi.“Hanya Arkan ... aku hanya punya Arkan,” bisik Revana pada kesunyian, suaranya pecah oleh sisa isak tangis.Bayangan wajah adik laki-lakinya yang masih mengenakan seragam SMA melintas di benaknya.Arkan adalah satu-satunya alasan jantung Revana masih berdetak di tengah neraka ini.Ayah mereka telah tiada, dieksekusi tanpa ampun oleh pria yang memintanya menunggunya di kamar itu. Jika Revana menyerah sekarang, siapa yang akan melindungi Arkan dari taring keluarga Leonardo?Dia tiba di depan pintu kayu ek raksasa milik Damian. Dengan napas yang tertahan, ia mendorong pintu itu pelan.Pemandangan di dalamnya membuat Revana terkesiap. Kamar itu beran

  • Di Bawah Kuasa Tiga Majikan Tampan   Bab 10

    Gudang anggur itu terasa semakin sempit saat Damian menekan seluruh bobot tubuhnya pada Revana.Aroma wine yang tua dan debu kayu ek seolah tersedot habis oleh hawa panas yang menguar dari tubuh Damian.Tanpa aba-aba, Damian membungkam bibir Revana dengan ciuman yang jauh dari kata lembut. Itu adalah serangan, sebuah klaim teritorial yang kasar dan menuntut.Revana terkesiap, matanya membelalak kaget. Dia mencoba memalingkan wajah, namun tangan Damian yang masih berlumuran darah kering itu mencengkeram rahangnya, mengunci posisinya.Isakan tertahan keluar dari tenggorokan Revana saat lidah Damian memaksa masuk, merampas napasnya dan menghancurkan pertahanannya.“Lepas ... mmmph ... Tuan, tolong!” rintih Revana di sela-sela pergulatan mereka.Kedua tangan Revana memukul-mukul dada bidang Damian, namun pria itu tidak bergeming sedikit pun.Damian justru semakin membabi buta. Tangannya yang bebas mulai bergerak liar, merayap dari pinggang Revana menuju punggungnya yang terbuka, lalu turu

  • Di Bawah Kuasa Tiga Majikan Tampan   Bab 9

    Malam itu, Mansion Leonardo berubah menjadi sarang predator yang berselimut kemewahan.Lampu gantung kristal memantulkan cahaya keemasan pada gelas-gelas kristal berisi wiski mahal, sementara musik klasik mengalun rendah, mencoba menyamarkan aroma darah dan kekuasaan yang selalu mengintai di balik bisnis keluarga ini.Di sudut ruangan, Revana berdiri dengan tubuh yang kaku. Malam ini, Damian benar-benar ingin menghancurkan sisa harga dirinya.Alih-alih seragam pelayan abu-abu kusam, Revana dipaksa mengenakan gaun sutra hitam yang sangat provokatif.Potongan di punggungnya turun hingga ke pinggang, sementara belahan di bagian dadanya begitu rendah, memperlihatkan kulit putihnya yang kontras dengan warna gelap gaun itu.Roknya pun hanya mencapai tengah paha, membuat setiap langkah yang ia ambil terasa seperti undangan yang tidak diinginkan bagi para mata lapar di ruangan itu.Tugasnya sederhana namun menyiksa: membawa baki perak berisi minuman dan berkeliling di antara para pria berjas

  • Di Bawah Kuasa Tiga Majikan Tampan   Bab 8

    Di ruang kerja pribadi yang luas, Julian Leonardo, si anak kedua yang dikenal sebagai dokter jenius dengan tatapan sedingin es, sedang berdiri di depan meja kakaknya.Dia tidak memegang senjata seperti Raphael, namun yang dia pegang adalah map medis berwarna krem.“Kau memintaku memeriksa latar belakang kesehatan Revana,” ujar Julian datar sembari meletakkan map tersebut di depan Damian yang tengah menyesap kopinya.“Untuk apa? Untuk memastikan tubuhnya bersih sebelum kau sentuh?” sindirnya kemudian.Damian tidak mendongak. “Hanya untuk memastikan dia tidak membawa penyakit ke rumah ini.”“Dia bersih dari virus, Damian,” Julian menjeda, namun matanya yang tajam itu menatap kakaknya dengan penuh selidik.“Tapi ada sesuatu yang menarik. Di laporan rontgen lama dan pemeriksaan fisiknya, dia memiliki bekas luka jahitan di bahu kiri dan tulang rusuk. Polanya sangat spesifik.”Damian berhenti menyesap kopinya. Matanya yang gelap perlahan terangkat menatap Julian.Julian melanjutkan, “Luka i

  • Di Bawah Kuasa Tiga Majikan Tampan   Bab 7

    Dengan satu sentakan panik, dia mendorong dada bidang Damian. Tangannya yang terbalut kasa tipis mendarat tepat di atas otot dada yang keras dan basah. Kulit mereka bertemu yang beitu terasa panas, licin karena sisa air, dan berdenyut kuat.“Lepaskan!” desis Revana, suaranya pecah antara kemarahan dan rasa malu yang membakar.Damian terhuyung selangkah ke belakang, bukan karena tenaga Revana yang besar, melainkan karena ia membiarkannya. Senyum miring masih tersisa di wajah sang monster saat dia melirik ke arah adiknya di ambang pintu.Raphael mematung. Matanya bergerak cepat dari pemandangan kakaknya yang hampir telanjang, ke arah Revana yang berdiri gemetar dengan wajah merah padam dan rambut sedikit berantakan.“Apa yang kau lakukan, Damian?!” tanya Raphael yang masih terkejut. “Kau ingin bercinta dengan pelayan kita di pagi hari seperti ini?” ucapnya tak percaya, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.Damian tidak langsung menjawab. Dia justru sengaja mengusap setetes air yang men

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status