LOGINRevana terbangun sebelum matahari benar-benar terbit. Dia menatap balutan kain kasa di punggung tangannya yang kini sedikit kaku akibat luka goresan kemarin.
Perihnya masih terasa, menusuk-nusuk hingga ke tulang, namun ada sesuatu yang lebih kuat tumbuh di dalam dadanya: tekad untuk tidak lagi menjadi mangsa yang mudah.
Seorang predator tidak akan berhenti menyerang jika mangsanya terus menunjukkan ketakutan.
“Aku harus bangkit dan bertahan di neraka ini.”
Dengan gerakan tenang, Revana mengenakan kembali seragam abu-abunya.
Dia merapikan rambutnya, mencuci wajahnya dengan air dingin, dan menatap pantulan dirinya di cermin kecil yang retak.
Matanya tidak lagi sembap. Tidak ada lagi sisa-sisa tangisan yang memohon belas kasihan. Dia menarik napas panjang, mengunci rasa sakitnya di kotak paling dalam di hatinya, lalu melangkah keluar menuju dapur.
Langkah kakinya tidak lagi menyeret. Dia berjalan dengan tegak, membawakan baki berisi kopi hitam pekat tanpa gula, persis seperti yang disukai pria monster itu.
Tok. Tok.
“Masuk.”
Suara Damian terdengar lebih dingin dari biasanya. Revana masuk ke ruang kerja yang luas itu.
Dia bisa mencium bau tembakau mahal dan aroma maskulin yang tajam. Damian duduk di sana, kemejanya terkancing rapi hingga ke leher, seolah kejadian emosional di kamarnya kemarin hanyalah halusinasi.
Tanpa suara, Revana meletakkan cangkir kopi itu di atas meja mahoni. Dia bergerak dengan presisi yang mengejutkan, sangat hati-hati agar tidak membuat kesalahan sekecil apa pun.
Setelah menaruh kopi, dia tidak langsung pergi. Dia berdiri diam, menunggu perintah selanjutnya dengan punggung tegak.
Damian melirik ke arah tangan Revana yang terbalut kasa. Dia terdiam sejenak, matanya menyipit melihat ketenangan yang tidak wajar dari gadis yang biasanya gemetar hanya dengan mendengar suaranya.
“Kau tampak sangat tenang pagi ini, Revana,” ucap Damian sambil meraih cangkir kopinya.
Dia menyesapnya sedikit, sementara matanya terus mengawasi Revana dari balik pinggiran cangkir. “Apa kau pikir dengan membalut lukamu, kau juga bisa membalut dosa-dosa ayahmu?”
Revana tidak menjawab. Dia hanya mengangguk kecil sebagai tanda dia mendengarkan, namun tetap bungkam. Sesuai aturan: jangan bicara tanpa izin.
Damian merasa terusik. Ketenangan Revana terasa seperti penghinaan baginya. Dia ingin melihat gadis ini memohon, menangis, atau setidaknya memalingkan wajah karena takut.
Dengan gerakan yang disengaja dan sangat lambat, Damian memiringkan tangannya hingga cangkir porselen itu miring.
Byur.
Kopi panas itu tumpah, mengalir melewati tepi meja dan membasahi lantai marmer putih yang bersih. Cairan hitam itu merembes, menciptakan noda besar yang berantakan.
“Ah, tanganku licin,” ucap Damian datar. Dia lalu menjatuhkan cangkir kosong itu ke atas tumpahan kopi di lantai.
Trak.
“Bersihkan. Gunakan tanganmu. Aku tidak mau melihat alat pel di ruangan ini.”
Revana menatap tumpahan kopi itu, lalu menatap tangannya yang terluka.
Mengusap lantai dengan kain menggunakan luka yang masih basah adalah bentuk penyiksaan halus. Namun, alih-alih menunjukkan keberatan, Revana justru berlutut dengan anggun.
Dia lalu mengambil sapu tangan pembersih dari sakunya. Tanpa sepatah kata pun keluhan, dia mulai mengusap cairan hitam itu.
Setiap kali tangannya menekan lantai, kasa di tangannya mulai berubah warna menjadi kecokelatan karena rembesan kopi, dan rasa perih yang luar biasa menusuk sarafnya.
Damian membungkuk di kursinya sembari mengamati setiap gerak-gerik Revana. Dia menunggu rintihan itu. Dia menunggu Revana mendongak dan memohon untuk berhenti.
Namun, Revana justru mendongak lebih dulu. Dia berhenti menggosok sejenak dan menatap tepat ke dalam mata Damian.
Tidak ada kebencian yang meledak-ledak, tidak ada ketakutan yang melumpuhkan. Hanya ada tatapan kosong namun tajam yang seolah berkata: Apakah hanya ini yang kau punya?
“Apa yang kau lihat?” bentak Damian dengan nada tinggi karena frustrasi.
“Aku hanya menjalankan perintah Anda, Tuan,” jawab Revana dengan tenang.
Damian sontak menggebrak meja dan berdiri dengan sentakan yang membuat kursinya terdorong ke belakang.
Dia merasa kalah. Untuk pertama kalinya, dominasi fisiknya tidak mampu menyentuh mental gadis di bawahnya.
“Selesaikan itu, lalu keluar!” Damian melangkah lebar keluar dari ruang kerja, meninggalkan Revana yang masih berlutut di tengah noda kopi.
Revana melangkah keluar dari ruang kerja Damian dengan punggung yang dipaksa tegak. Setiap langkahnya diatur sedemikian rupa agar tidak goyah di atas lantai marmer yang licin.
Rasa perih dari luka di tangannya kini menjalar hebat hingga ke bahu, berdenyut seirama dengan detak jantungnya yang masih tak beraturan.
Namun, dia menolak untuk merintih. Sedikit saja suara kesakitan keluar dari bibirnya, itu akan menjadi kemenangan bagi sang monster di dalam ruangan tadi.
Baru beberapa meter dia menjauh, Revana merasakan atmosfer di lorong panjang itu berubah. Bukan karena keberadaan Damian, melainkan karena tatapan-tatapan tajam yang menusuk dari arah koridor samping.
"Lihat itu," sebuah bisikan sinis terdengar dari arah ruang cuci, sengaja dikeraskan agar memantul di dinding lorong.
"Si anak pengkhianat itu berlagak seperti ratu hanya karena dia memakai seragam yang lebih 'berani' daripada kita."
Revana menoleh sedikit dan mendapati dua pelayan senior, Martha dan Siska berdiri sambil memegang keranjang linen. Mereka menatapnya dengan kebencian murni yang tak ditutup-tutupi.
Mata mereka menyapu tubuh Revana dengan jijik, mulai dari potongan leher baju yang rendah hingga rok pendek yang mengekspos paha mulusnya.
Di mata mereka, Revana bukan sekadar pelayan baru, melainkan ancaman sekaligus sasaran empuk untuk dihina.
"Dasar jalang," desis Siska dengan nada penuh racun.
"Dia pikir dia spesial hanya karena Tuan Damian menariknya ke kamar secara pribadi. Padahal dia tak lebih dari barang rongsokan yang digunakan untuk membalas dendam. Menjijikkan melihatnya berkeliaran di sini dengan pakaian seperti itu, seolah-olah sedang menjajakan diri."
Martha menimpali dengan senyum mengejek yang merendahkan. "Jangan dekat-dekat dengannya, Siska. Bau pengkhianat itu sulit hilang. Dia pasti menggunakan tubuhnya untuk merayu tuan-tuan di sini agar beban pekerjaannya diringankan. Lihat saja tangannya yang dibalut itu, mungkin hanya akting agar dikasihani oleh Tuan Raphael."
Hati Revana mencelos mendengar setiap kata yang terlontar. Di rumah ini, dia benar-benar tidak memiliki tempat untuk bersandar. Dia dianggap musuh oleh para majikan dan dianggap ancaman sekaligus sampah oleh sesama pelayan yang merasa iri padanya.
**
Sore harinya, Revana sedang merapikan buku-buku di perpustakaan saat Damian masuk. Suasana di mansion terasa lebih mencekam setelah kejadian pagi tadi. Damian tampak seperti gunung berapi yang siap meletus kapan saja.
Revana mencoba untuk tetap tenang, namun saat dia berbalik untuk membawa tumpukan buku, Damian sudah berdiri tepat di hadapannya, memutus jalan keluarnya.
Tanpa peringatan, Damian menjulurkan tangannya yang besar dan mencengkeram wajah Revana. Ibu jarinya menekan pipi Revana dengan keras dan memaksa wajah gadis itu mendongak secara paksa hingga punggungnya membentur rak buku.
“Kau berubah, Revana,” desis Damian, wajahnya hanya berjarak beberapa inci dari wajah Revana.
“Ke mana perginya gadis yang merangkak di kakiku kemarin? Ke mana ketakutan yang sangat kusukai itu?”
Revana tidak berkedip. Dia merasakan napas Damian yang memburu di kulit wajahnya.
Cengkeraman itu sakit, sangat sakit, tapi dia menolak untuk memberikan reaksi yang diinginkan Damian.
“Apa yang sedang kau rencanakan, huh?” Damian mempererat cengkeramannya, dan matanya menatap liar ke dalam bola mata Revana yang bening.
“Siapa yang memberimu keberanian ini? Julian? Atau si bodoh Raphael? Kau pikir dengan bersikap tenang, aku akan luluh dan membiarkanmu pergi?”
Revana tetap diam, namun dia memberanikan diri untuk membalas tatapan itu dengan intensitas yang sama.
“Jawab aku!” gertak Damian, suaranya bergetar karena frustrasi yang memuncak. “Apa yang sedang kau rencanakan di balik mata beranimu ini?!”
Revana akhirnya membuka suara, pelan namun menusuk. “Aku tidak merencanakan apa pun, Tuan. Aku hanya berhenti berharap bahwa Anda masih memiliki hati seperti sepuluh tahun yang lalu.”
Mata Damian membelalak. Cengkeramannya mengendur sesaat karena terkejut dengan jawaban jujur itu, namun dia tidak melepaskannya.
Sebaliknya, dia justru mendekatkan bibirnya ke telinga Revana dan membisikkan sesuatu yang membuat bulu kuduk gadis itu meremang.
“Kalau begitu, aku akan memberitahu padamu, bahwa Damian sepuluh tahun yang lalu itu telah mati!”
“Darah ... Damian, kau penuh darah.” Revana membisikkan kata-kata itu dengan bibir yang biru.Dia menutup mulutnya dengan tangan, berusaha menahan mual yang muncul bukan karena luka fisik, melainkan karena kengerian melihat suaminya berubah menjadi mesin pembantai.Damian segera melempar dua pistol Tactical miliknya ke atas sofa hingga menimbulkan dentuman kecil.Dia menjatuhkan diri berlutut, dan mengabaikan serpihan kaca yang mungkin menusuk kakinya. Dia merangkak mendekat, namun tetap menjaga jarak sekitar satu meter agar Revana tidak semakin histeris.“Ini bukan darahku, Sayang. Aku tidak terluka. Aku bersumpah,” ucap Damian.“Kenapa kau harus melakukannya seperti itu? Aku mendengar suara mereka ... mereka berteriak, Damian,” isak Revana.“Karena mereka ingin mengambilmu dariku!” Damian membentak tanpa sengaja, suaranya menggelegar sebelum dia segera melembutkannya kembali.“Maafkan aku. Aku tidak punya pilihan. Jika aku tidak menghabisi mereka, mereka akan melewati pintu itu dan
Lantai VVIP itu kini menjadi lorong maut. Debu sisa ledakan pintu masih menggantung di udara, bercampur dengan bau tajam mesiu dan aroma amis yang mulai menyengat.Tiga mayat pasukan Regious tergeletak tumpang tindih di ambang pintu kamar 901, namun sisa pasukan mereka di luar masih terus menghujani ruangan dengan peluru.“Mundur! Dia punya senapan mesin di dalam!” teriak salah satu tentara bayaran dari balik meja perawat.“Bodoh! Damian tidak ada di sini! Cepat masuk dan selesaikan wanita itu sebelum bantuan datang!” balas pemimpin mereka, seorang pria bertubuh besar dengan codet di pipi.Mereka tidak menyadari bahwa di atas kepala mereka, di balik deretan plafon gipsum yang tampak tenang, sebuah bayangan sedang bergerak tanpa suara.Damian tidak pernah pergi ke tangga darurat. Dia sudah berada di atas mereka sejak listrik dipadamkan, merayap di celah sempit antara beton dan plafon seperti predator yang menunggu mangsa masuk ke dalam jaring.BRAK!Satu panel plafon pecah tepat di ata
Koridor lantai VVIP Rumah Sakit Pusat Leonardo kembali tenggelam dalam keheningan yang menyesakkan. Cahaya lampu neon yang terlalu putih memantul di atas lantai marmer, menciptakan suasana steril yang dingin.Damian berdiri di depan lift, mengenakan jas hitamnya yang kaku. Dia memeriksa jam tangannya, lalu menoleh ke arah Julian yang berdiri di sampingnya.“Semua kamera sudah diatur?” tanya Damian.Julian mengangguk pelan sembari menatap layar tablet di tangannya. “Sesuai rencana. Rekaman CCTV di lobi utama akan memperlihatkan konvoi mobilmu meninggalkan rumah sakit menuju bandara pribadi. Siapa pun yang menyadap ruangan ini akan mengira kau sedang mengejar pengiriman senjata Regious di perbatasan.”“Bagus,” desis Damian. Dia melirik ke arah pintu kamar 901 yang tertutup rapat.“Pastikan umpan ini ditelan mentah-mentah oleh mereka. Aku ingin tikus-tikus itu keluar dari lubangnya malam ini.”“Kau yakin meninggalkan Revana hanya dengan Raphael?” Julian tampak ragu. “Regious mungkin akan
Lampu-lampu di langit-langit koridor berkedip dua kali sebelum akhirnya menyala serentak, membanjiri kamar 901 dengan cahaya putih yang menyilaukan.Suara dengung mesin medis kembali terdengar, menandakan listrik cadangan telah mengambil alih. Ketegangan yang tadinya membeku di udara perlahan mencair.Damian menarik napas panjang, paru-parunya seolah baru saja mendapatkan pasokan oksigen setelah tercekik kegelapan masa lalu.Dia mengusap wajahnya dengan telapak tangan yang masih sedikit gemetar, lalu menoleh ke arah Revana. Ketakutan di matanya menghilang dalam sekejap, digantikan oleh senyuman tipis yang sangat tenang, senyum yang hanya ia simpan untuk satu orang.“Aku di sini, Revana. Aku baik-baik saja,” ucap Damian. Suaranya kembali berat dan stabil.“Damian, tadi kau ... kau tampak sangat kesakitan,” bisik Revana, jemarinya masih mencengkeram lengan kemeja Damian.“Hanya mimpi buruk yang tidak tahu tempat,” sahut Damian singkat dan mencoba berdiri, lalu dengan gerakan luwes, ia m
Lantai VVIP itu seolah kehilangan detak jantungnya. Hanya ada bunyi teratur dari mesin monitor yang menemani kesunyian di dalam kamar 901.Damian masih di sana, duduk di kursi kulit yang kini terasa seperti singgasana sekaligus penjaranya.Lampu meja yang temaram menyinari wajahnya yang kuyu, namun tatapannya tetap tajam menghadap ke arah pintu, sebelum beralih ke sosok di atas ranjang.Revana menggerakkan jemarinya. Ia menoleh perlahan, menatap Damian dengan mata yang tidak lagi sekosong sebelumnya.“Damian?” bisik Revana dengan suara serak, nyaris tenggelam oleh suara pendingin ruangan.Damian segera menegakkan punggungnya. Ia meraih tangan Revana, menggenggamnya dengan kedua tangan seolah sedang menjaga nyawa yang paling berharga.“Aku di sini. Jangan banyak bicara dulu, tenggorokanmu pasti sakit.”“Jangan pergi,” kata Revana, dan kali ini lebih jelas. Cengkeramannya pada tangan Damian menguat secara mengejutkan.“Tolong, jangan tinggalkan aku sedetik pun. Di luar sana ... aku tahu
Lampu gantung kristal di langit-langit kasino bawah tanah “The Vault” bergetar halus setiap kali musik jazz bertempo rendah bergema di ruangan yang dipenuhi asap cerutu itu.Di meja bundar paling sudut, Julian Leonardo duduk dengan tenang, menyesap wiski tanpa es.Di hadapannya, tiga pria berjas rapi, utusan dari klan Moretti dan seorang mediator internasional beraksen Rusia menatapnya dengan pandangan yang tidak bersahabat.“Kau datang tanpa pengawal, Julian? Itu keberanian yang bodoh atau sekadar sombong?” tanya Moretti, pria paruh baya dengan bekas luka di pelipisnya.Julian meletakkan gelasnya di atas meja marmer dengan dentingan pelan. “Aku datang untuk bicara bisnis, bukan untuk berperang. Lagi pula, pengawalku hanya akan membuat kalian gugup.”“Bisnis?” Mediator Rusia itu, Ivanov, tertawa serak. “Bisnis kalian sedang sekarat. Aliansi Regious-Moretti sudah mengunci semua jalur logistikmu. Damian sedang sibuk bermain perawat di rumah sakit, dan kau di sini mencoba menawar nyawa?”