Share

Bab 5

Penulis: Leona Valeska
last update Tanggal publikasi: 2026-01-19 20:44:46

Revana terbangun sebelum matahari benar-benar terbit. Dia menatap balutan kain kasa di punggung tangannya yang kini sedikit kaku akibat luka goresan kemarin.

Perihnya masih terasa, menusuk-nusuk hingga ke tulang, namun ada sesuatu yang lebih kuat tumbuh di dalam dadanya: tekad untuk tidak lagi menjadi mangsa yang mudah.

Seorang predator tidak akan berhenti menyerang jika mangsanya terus menunjukkan ketakutan.

“Aku harus bangkit dan bertahan di neraka ini.”

Dengan gerakan tenang, Revana mengenakan kembali seragam abu-abunya.

Dia merapikan rambutnya, mencuci wajahnya dengan air dingin, dan menatap pantulan dirinya di cermin kecil yang retak.

Matanya tidak lagi sembap. Tidak ada lagi sisa-sisa tangisan yang memohon belas kasihan. Dia menarik napas panjang, mengunci rasa sakitnya di kotak paling dalam di hatinya, lalu melangkah keluar menuju dapur.

Langkah kakinya tidak lagi menyeret. Dia berjalan dengan tegak, membawakan baki berisi kopi hitam pekat tanpa gula, persis seperti yang disukai pria monster itu.

Tok. Tok.

“Masuk.”

Suara Damian terdengar lebih dingin dari biasanya. Revana masuk ke ruang kerja yang luas itu.

Dia bisa mencium bau tembakau mahal dan aroma maskulin yang tajam. Damian duduk di sana, kemejanya terkancing rapi hingga ke leher, seolah kejadian emosional di kamarnya kemarin hanyalah halusinasi.

Tanpa suara, Revana meletakkan cangkir kopi itu di atas meja mahoni. Dia bergerak dengan presisi yang mengejutkan, sangat hati-hati agar tidak membuat kesalahan sekecil apa pun.

Setelah menaruh kopi, dia tidak langsung pergi. Dia berdiri diam, menunggu perintah selanjutnya dengan punggung tegak.

Damian melirik ke arah tangan Revana yang terbalut kasa. Dia terdiam sejenak, matanya menyipit melihat ketenangan yang tidak wajar dari gadis yang biasanya gemetar hanya dengan mendengar suaranya.

“Kau tampak sangat tenang pagi ini, Revana,” ucap Damian sambil meraih cangkir kopinya. 

Dia menyesapnya sedikit, sementara matanya terus mengawasi Revana dari balik pinggiran cangkir. “Apa kau pikir dengan membalut lukamu, kau juga bisa membalut dosa-dosa ayahmu?”

Revana tidak menjawab. Dia hanya mengangguk kecil sebagai tanda dia mendengarkan, namun tetap bungkam. Sesuai aturan: jangan bicara tanpa izin.

Damian merasa terusik. Ketenangan Revana terasa seperti penghinaan baginya. Dia ingin melihat gadis ini memohon, menangis, atau setidaknya memalingkan wajah karena takut.

Dengan gerakan yang disengaja dan sangat lambat, Damian memiringkan tangannya hingga cangkir porselen itu miring.

Byur.

Kopi panas itu tumpah, mengalir melewati tepi meja dan membasahi lantai marmer putih yang bersih. Cairan hitam itu merembes, menciptakan noda besar yang berantakan.

“Ah, tanganku licin,” ucap Damian datar. Dia lalu menjatuhkan cangkir kosong itu ke atas tumpahan kopi di lantai.

Trak.

“Bersihkan. Gunakan tanganmu. Aku tidak mau melihat alat pel di ruangan ini.”

Revana menatap tumpahan kopi itu, lalu menatap tangannya yang terluka.

Mengusap lantai dengan kain menggunakan luka yang masih basah adalah bentuk penyiksaan halus. Namun, alih-alih menunjukkan keberatan, Revana justru berlutut dengan anggun.

Dia lalu mengambil sapu tangan pembersih dari sakunya. Tanpa sepatah kata pun keluhan, dia mulai mengusap cairan hitam itu.

Setiap kali tangannya menekan lantai, kasa di tangannya mulai berubah warna menjadi kecokelatan karena rembesan kopi, dan rasa perih yang luar biasa menusuk sarafnya.

Damian membungkuk di kursinya sembari mengamati setiap gerak-gerik Revana. Dia menunggu rintihan itu. Dia menunggu Revana mendongak dan memohon untuk berhenti.

Namun, Revana justru mendongak lebih dulu. Dia berhenti menggosok sejenak dan menatap tepat ke dalam mata Damian.

Tidak ada kebencian yang meledak-ledak, tidak ada ketakutan yang melumpuhkan. Hanya ada tatapan kosong namun tajam yang seolah berkata: Apakah hanya ini yang kau punya?

“Apa yang kau lihat?” bentak Damian dengan nada tinggi karena frustrasi.

“Aku hanya menjalankan perintah Anda, Tuan,” jawab Revana dengan tenang.

Damian sontak menggebrak meja dan berdiri dengan sentakan yang membuat kursinya terdorong ke belakang.

Dia merasa kalah. Untuk pertama kalinya, dominasi fisiknya tidak mampu menyentuh mental gadis di bawahnya.

“Selesaikan itu, lalu keluar!” Damian melangkah lebar keluar dari ruang kerja, meninggalkan Revana yang masih berlutut di tengah noda kopi.

Revana melangkah keluar dari ruang kerja Damian dengan punggung yang dipaksa tegak. Setiap langkahnya diatur sedemikian rupa agar tidak goyah di atas lantai marmer yang licin. 

Rasa perih dari luka di tangannya kini menjalar hebat hingga ke bahu, berdenyut seirama dengan detak jantungnya yang masih tak beraturan. 

Namun, dia menolak untuk merintih. Sedikit saja suara kesakitan keluar dari bibirnya, itu akan menjadi kemenangan bagi sang monster di dalam ruangan tadi.

Baru beberapa meter dia menjauh, Revana merasakan atmosfer di lorong panjang itu berubah. Bukan karena keberadaan Damian, melainkan karena tatapan-tatapan tajam yang menusuk dari arah koridor samping.

"Lihat itu," sebuah bisikan sinis terdengar dari arah ruang cuci, sengaja dikeraskan agar memantul di dinding lorong. 

"Si anak pengkhianat itu berlagak seperti ratu hanya karena dia memakai seragam yang lebih 'berani' daripada kita."

Revana menoleh sedikit dan mendapati dua pelayan senior, Martha dan Siska berdiri sambil memegang keranjang linen. Mereka menatapnya dengan kebencian murni yang tak ditutup-tutupi. 

Mata mereka menyapu tubuh Revana dengan jijik, mulai dari potongan leher baju yang rendah hingga rok pendek yang mengekspos paha mulusnya. 

Di mata mereka, Revana bukan sekadar pelayan baru, melainkan ancaman sekaligus sasaran empuk untuk dihina.

"Dasar jalang," desis Siska dengan nada penuh racun. 

"Dia pikir dia spesial hanya karena Tuan Damian menariknya ke kamar secara pribadi. Padahal dia tak lebih dari barang rongsokan yang digunakan untuk membalas dendam. Menjijikkan melihatnya berkeliaran di sini dengan pakaian seperti itu, seolah-olah sedang menjajakan diri."

Martha menimpali dengan senyum mengejek yang merendahkan. "Jangan dekat-dekat dengannya, Siska. Bau pengkhianat itu sulit hilang. Dia pasti menggunakan tubuhnya untuk merayu tuan-tuan di sini agar beban pekerjaannya diringankan. Lihat saja tangannya yang dibalut itu, mungkin hanya akting agar dikasihani oleh Tuan Raphael."

Hati Revana mencelos mendengar setiap kata yang terlontar. Di rumah ini, dia benar-benar tidak memiliki tempat untuk bersandar. Dia dianggap musuh oleh para majikan dan dianggap ancaman sekaligus sampah oleh sesama pelayan yang merasa iri padanya. 

**

Sore harinya, Revana sedang merapikan buku-buku di perpustakaan saat Damian masuk. Suasana di mansion terasa lebih mencekam setelah kejadian pagi tadi. Damian tampak seperti gunung berapi yang siap meletus kapan saja.

Revana mencoba untuk tetap tenang, namun saat dia berbalik untuk membawa tumpukan buku, Damian sudah berdiri tepat di hadapannya, memutus jalan keluarnya.

Tanpa peringatan, Damian menjulurkan tangannya yang besar dan mencengkeram wajah Revana. Ibu jarinya menekan pipi Revana dengan keras dan memaksa wajah gadis itu mendongak secara paksa hingga punggungnya membentur rak buku.

“Kau berubah, Revana,” desis Damian, wajahnya hanya berjarak beberapa inci dari wajah Revana.

“Ke mana perginya gadis yang merangkak di kakiku kemarin? Ke mana ketakutan yang sangat kusukai itu?”

Revana tidak berkedip. Dia merasakan napas Damian yang memburu di kulit wajahnya.

Cengkeraman itu sakit, sangat sakit, tapi dia menolak untuk memberikan reaksi yang diinginkan Damian.

“Apa yang sedang kau rencanakan, huh?” Damian mempererat cengkeramannya, dan matanya menatap liar ke dalam bola mata Revana yang bening.

“Siapa yang memberimu keberanian ini? Julian? Atau si bodoh Raphael? Kau pikir dengan bersikap tenang, aku akan luluh dan membiarkanmu pergi?”

Revana tetap diam, namun dia memberanikan diri untuk membalas tatapan itu dengan intensitas yang sama.

“Jawab aku!” gertak Damian, suaranya bergetar karena frustrasi yang memuncak. “Apa yang sedang kau rencanakan di balik mata beranimu ini?!”

Revana akhirnya membuka suara, pelan namun menusuk. “Aku tidak merencanakan apa pun, Tuan. Aku hanya berhenti berharap bahwa Anda masih memiliki hati seperti sepuluh tahun yang lalu.”

Mata Damian membelalak. Cengkeramannya mengendur sesaat karena terkejut dengan jawaban jujur itu, namun dia tidak melepaskannya.

Sebaliknya, dia justru mendekatkan bibirnya ke telinga Revana dan membisikkan sesuatu yang membuat bulu kuduk gadis itu meremang.

“Kalau begitu, aku akan memberitahu padamu, bahwa Damian sepuluh tahun yang lalu itu telah mati!” 

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Di Bawah Kuasa Tiga Majikan Tampan   Bab 217

    “Dia sempurna, Damian. Seorang laki-laki yang sangat sehat dan sangat tampan,” ucap Stella sambil membersihkan sang bayi dengan gerakan tangkas.Damian Leonardo, pria yang tak pernah gemetar di depan moncong senapan kaliber tinggi, kini merasakan lututnya benar-benar lemas.Matanya yang tajam dan dingin kini berkaca-kaca, memantulkan kehidupan baru yang baru saja keluar dari rahim istrinya. Ia menatap jemari mungil itu yang bergerak di udara, seolah sedang mencoba meraih takdirnya sendiri.“Dia... dia kecil sekali, Stella,” bisik Damian, suaranya parau dan pecah oleh emosi yang tak terbendung. “Apakah dia benar-benar anakku? Bagaimana sesuatu yang begitu suci bisa berasal dariku?”“Dia memiliki garis rahangmu, Damian. Dan syukurlah, dia sepertinya mewarisi ketenangan ibunya,” goda Stella sambil perlahan membawa bayi itu menuju Revana.Revana terengah-engah, peluh membasahi seluruh wajah dan lehernya. Tubuhnya terasa seperti baru saja dihantam badai besar, namun begitu Stella meletakka

  • Di Bawah Kuasa Tiga Majikan Tampan   Bab 216

    Lampu operasi yang terang benderang memantul di ubin putih ruang bersalin, menciptakan atmosfer yang steril namun mencekam bagi seseorang yang biasanya terbiasa dengan bau tanah dan mesiu.Damian berdiri di samping kepala ranjang Revana, mengenakan jubah medis hijau yang tampak kekecilan di bahu lebarnya. Wajahnya yang biasa kaku kini pucat pasi, matanya bergerak gelisah menatap deretan monitor yang menampilkan garis-garis jantung yang berdenyut cepat.“Stella, kenapa monitor itu berbunyi 'pip-pip' begitu cepat? Apakah itu normal? Apakah jantungnya akan meledak?” Damian bertanya dengan suara yang bergetar, jarinya menunjuk ke arah mesin EKG seolah-olah itu adalah bom waktu.Stella tidak mendongak, tangannya tetap fokus pada posisinya. “Itu suara detak jantung putra Anda, Damian. Dan ya, itu normal untuk proses persalinan. Sekarang, diamlah dan bantu istri Anda bernapas.”“Aku sedang membantunya! Revana, ayo, tarik napas! Satu, dua... apakah aku harus memanggil oksigen tambahan? Stella

  • Di Bawah Kuasa Tiga Majikan Tampan   Bab 215

    Malam itu, aspal jalanan Milan seolah terbakar oleh gesekan karet ban dari empat SUV hitam yang melesat dalam formasi V-VIP.Sirine darurat yang tersembunyi di balik panggangan mesin menyalak, memberikan sinyal bagi kendaraan lain untuk menepi jika tidak ingin berakhir di pinggir jalan.Di kursi belakang mobil utama, Damian duduk dengan kaku, membiarkan kepala Revana bersandar di bahunya, sementara tangannya menggenggam jemari istrinya begitu kuat hingga buku jarinya memutih.“Julian! Kenapa mobil ini terasa seperti siput tua? Tambah kecepatannya!” bentak Damian, matanya melotot menatap speedometer yang sebenarnya sudah menyentuh angka seratus empat puluh kilometer per jam.Julian, yang duduk di balik kemudi dengan dahi berkerut, mengumpat pelan sambil memutar setir dengan tajam untuk menyalip sebuah truk logistik.“Ini mobil lapis baja seberat tiga ton, Kak, bukan jet tempur! Jika aku melaju lebih cepat, kita akan terbang melompati katedral! Tenangkan dirimu, demi Tuhan!”“Aku tenang

  • Di Bawah Kuasa Tiga Majikan Tampan   Bab 214

    Keheningan malam di kamar utama Leonardo pecah seketika, bukan oleh ledakan granat atau tembakan peringatan, melainkan oleh kepanikan murni dari seorang pria yang baru saja menyadari bahwa kekuasaannya tidak berarti apa-apa di hadapan hukum alam.Damian Leonardo, sang Iblis Milan yang pernah menghadapi moncong senapan tanpa berkedip, kini berdiri di samping tempat tidur dengan mata yang membelalak lebar dan tangan yang gemetar hebat.“Basah... Kenapa bisa basah? Revana, kau... apakah kau menumpahkan air?” tanya Damian dengan suara yang naik satu oktav. Logikanya yang biasanya setajam silet kini tumpul sepenuhnya.Revana meringis, mencengkeram pinggiran tempat tidur saat kontraksi kedua menghantam rahimnya. “Damian! Ketubanku pecah! Itu bukan air minum, itu anakmu yang ingin keluar! Cepat ambil tas rumah sakit!”“Tas! Ya, tas! Di mana tasnya? Siapa yang mencuri tasnya?!” Damian berputar-putar di tempat seperti gasing yang kehilangan poros. Ia berlari ke arah lemari, menarik laci dengan

  • Di Bawah Kuasa Tiga Majikan Tampan   Bab 213

    Aroma cat ramah lingkungan dan wangi kayu cendana yang baru dipelitur memenuhi sayap kanan mansion Leonardo yang baru saja selesai direnovasi.Kamar itu kini bertransformasi menjadi sebuah tempat perlindungan yang megah dengan tema kerajaan modern; dindingnya dihiasi panel kayu putih gading dengan aksen emas minimalis, sementara karpet sutra tebal berwarna biru navy melapisi lantainya, memberikan kesan hangat sekaligus kokoh.Di tengah ruangan, Damian Leonardo, pria yang biasanya memegang kendali atas ribuan nyawa, kini terlihat sedang berlutut di atas lantai. Alih-alih memegang senjata, tangannya yang kekar kini memegang obeng kecil dan instruksi perakitan.“Damian, kau sudah melakukannya selama dua jam. Biarkan Raphael atau pengawal yang menyelesaikannya,” ucap Revana lembut sambil duduk di kursi goyang beludru di sudut ruangan.Damian menggeleng tanpa menoleh, fokusnya tetap pada baut perak di kerangka boks bayi berbahan kayu jati tersebut.“Tidak. Tanganku sendiri yang harus memas

  • Di Bawah Kuasa Tiga Majikan Tampan   Bab 212

    Pagi di pusat kota Milan biasanya dipenuhi dengan hiruk-pikuk kaum sosialita dan deru mesin mobil mewah, namun hari ini, di depan gerbang boutique perlengkapan bayi paling eksklusif di Italia, suasananya mendadak sunyi.Empat unit SUV hitam antipeluru terparkir rapi di depan pintu masuk, sementara beberapa pria berjas gelap dengan earpiece berjaga di setiap sudut trotoar.“Damian, kau benar-benar berlebihan,” ucap Revana sambil keluar dari mobil, menatap papan tulisan 'Closed for Private Event' yang tergantung di pintu kaca toko tersebut.Damian turun dari sisi lain, merapikan kemeja linennya yang santai namun tetap elegan.“Aku hanya ingin kau tidak perlu berdesakan dengan orang asing saat memilihkan baju untuk putra kita, Revana. Keamanan dan kenyamananmu adalah prioritas di atas segalanya.”“Tapi mengosongkan satu toko hanya untuk membeli beberapa pasang kaus kaki?” Revana tertawa kecil, menggelengkan kepalanya saat manajer toko membungkuk hormat menyambut mereka masuk.“Kaus kaki

  • Di Bawah Kuasa Tiga Majikan Tampan   Bab 96

    Pikirannya sudah tertutup oleh satu gambaran mengerikan: Damian bersimbah darah karena kebodohannya sendiri.Dia memutar arah, berlari melewati lorong dapur yang temaram, lalu menyelinap melalui pintu servis yang biasanya digunakan untuk membuang limbah.Jalur itu tidak dijaga ketat karena semua fo

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-28
  • Di Bawah Kuasa Tiga Majikan Tampan   Bab 93

    Sudah tepat tiga hari berlalu sejak komunikasi terakhirnya dengan Robert, dan meja kerjanya kini dipenuhi oleh peta digital yang tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan.Damian meraih ponsel enkripsinya, jemarinya bergerak cepat menekan tombol panggil ulang untuk yang ke sekian kalinya.Hening. Tid

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-27
  • Di Bawah Kuasa Tiga Majikan Tampan   Bab 91

    Dua minggu di Aethelgard terasa seperti keabadian yang menyiksa. Begitu kakinya menginjak lantai mansion, ia mengabaikan sapaan Julian maupun Raphael, dan langsung menuju pintu baja yang mengurung dunianya selama empat belas hari terakhir.Di dalam kamar, Revana sedang duduk di tepi ranjang, menata

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-27
  • Di Bawah Kuasa Tiga Majikan Tampan   Bab 79

    Gudang logistik di pinggiran dermaga itu terasa pengap oleh bau oli, kayu palet, dan mesiu. Damian berdiri di tengah ruangan, memegang papan klip sambil mencatat stok peti kemas yang baru saja tiba.Di sekelilingnya, para anak buah klan Leonardo berjaga dengan senjata laras panjang, menciptakan sua

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-26
Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status