LOGINPagi itu, langit masih gelap ketika Aruna membuka mata. Jam di samping ranjang menunjukkan pukul lima lewat lima belas. Tubuhnya terasa berat, bukan karena lelah fisik, tapi karena beban pikiran yang menumpuk sejak malam tadi.Aruna bangkit pelan, menarik cardigan tipis dari kursi. Kakinya membawa dia ke dapur tanpa perlu menyalakan lampu utama. Hanya lampu kecil di atas kompor yang menyala kuning lembut.“Ngh, dingin banget,” gumamnya sambil mengambil dua butir telur dari kulkas, memecahkannya ke wajan anti lengket.Bau mentega meleleh segera memenuhi udara, diikuti aroma bawang bombay yang ditumis pelan. Nasi sisa semalam dipanaskan di microwave, lalu ia tambahkan potongan smoked beef dan sedikit kecap manis, sarapan favorit Sagara dulu, saat mereka masih remaja dan Sagara sering mampir pagi-pagi sebelum sekolah.Sambil mengaduk, pikiran Aruna melayang ke mana-mana. Setelah semuanya selesai, Aruna menyusun makanan itu ke dalam kotak bekal dengan sebuah post-it kuning ditempel di ata
Suara pintu kamar mandi terbuka pelan, disusul langkah kaki basah yang menapak lantai keramik. Aruna langsung menarik selimut hingga menutupi separuh wajahnya, berbaring miring menghadap dinding, mata terpejam rapat. Jantungnya berdegup kencang, seperti drum perang yang tak mau diam.Ia pura-pura tidur, harus pura-pura tidur, karena tak tahu harus menghadapi Sagara dengan wajah apa setelah mendengar semua itu.“Na?” panggil Sagara pelan dari ambang pintu kamar.Suaranya masih agak serak, tapi sudah kembali normal, seperti pria yang baru mandi dingin untuk menenangkan diri.“Kamu sudah bangun?”Aruna tak bergerak. Napasnya ia atur pelan dan teratur, seolah benar-benar masih terlelap. Tubuhnya kaku di bawah selimut, kaus besar Sagara yang ia pakai terasa semakin panas di kulitnya. Ia bisa mendengar langkah Sagara mendekat, merasakan kasur turun sedikit saat pria itu duduk di pinggir ranjang.“Aruna,” Sagara memanggil lagi, kali ini lebih lembut, hampir seperti bisikan.Jari-jarinya meny
Aruna terdiam, menatap wajah Sagara yang kini terlelap dengan damai. Kepala pria itu masih bersandar di dadanya, bibirnya mengulum lembut puncak payudara kirinya, napasnya teratur dan hangat menyapu kulit Aruna yang masih sensitif. Gerakan kecil saat Sagara menelan dalam tidurnya membuat Aruna tersentak pelan, getaran kecil menyebar ke seluruh tubuhnya.“Ngh.”Ia menggeleng tadi, saat Sagara dengan suara serak meminta izin membuka celananya. Pria itu tak memaksa, hanya mencium keningnya pelan, lalu kembali ke posisi semula, seperti anak kecil yang mencari kenyamanan, hingga akhirnya tertidur dalam pelukannya.“Aku nggak ngerti sebenarnya kita apa, Sa,” bisik Aruna.Setiap hembusan napas Sagara di kulitnya seperti sentuhan api yang pelan tapi tak pernah padam. Ia mengusap rambut pria itu perlahan, jari-jarinya menyusuri helai-helai rambut yang sedikit basah karena keringat tadi.“Sa,” bisik Aruna hampir tak bersuara, seolah takut membangunkannya.Sagara bergumam kecil dalam tidur, bibi
“Sa,” gumam Aruna lagi, suaranya hampir hilang, seperti doa yang tak ingin dijawab.Sagara tidak menjawab dengan kata. Matanya masih di bibir Aruna, lalu perlahan naik kembali ke mata perempuan itu, seolah ada pertanyaan di sana.‘Boleh?’Aruna tahu. Ia tahu persis apa yang Sagara minta tanpa kata. Tubuhnya menegang dan bukannya mundur, Aruna justru memejamkan matany, seperti menyerah pada sesuatu yang sudah terlalu lama ia tahan.Sagara merasakan itu.Dengan gerakan yang sangat pelan, Sagara mencondongkan wajahnya. Bibirnya menyentuh bibir Aruna pelan. Bibir Sagara menggerakkan bibir Aruna dengan hati-hati, seperti takut merusak momen itu.“Nghh,” Aruna mengerang kecil, tak sengaja lolos dari tenggorokannya.Tangan yang tadi bertumpu di dada Sagara naik ke leher pria itu, jari-jarinya menyentuh kulit hangat di sana, menarik Sagara lebih dekat. Sagara merespons dengan mengencangkan pelukannya, lengannya di pinggang Aruna menarik perempuan itu lebih erat, tubuh mereka menempel sepenuhn
Setelah berdebat lumayan lama akan posisi, akhirnya Sagara mengalah dengan melepaskan Aruna.“Sekarang tidur lagi. Nanti aku bangunin pas makan siang,” ucap Aruna sambil merapikan selimut Sagara.Keduanya sudah berada di kamar dengan Sagara kembali terbaring di ranjang. Jari besar itu mencari jemari Aruna dan menggenggamnya.“Jangan kemana-mana,” lirihnya.Tidak tega melihat kelemasan pria itu, Aruna bergerak duduk mendekat dan mengelus rambut pria itu agar terlelap.“Tidur aja,” bisik Aruna, suaranya lembut tanpa ia sadari.Sagara mengangguk kecil, mata akhirnya terpejam sepenuhnya. Napasnya pelan dan teratur mulai terdengar lagi, tapi genggaman tangannya tak kendur, malah jari-jarinya saling terkait dengan jemari Aruna, seperti anak kecil yang takut ditinggal.Aruna menatap wajah Sagara yang kini tenang. Garis-garis di dahinya sudah hilang, janggut milik pria itu membuatnya terlihat lebih dewasa dari yang ia ingat dulu, tapi ekspresi tidurnya masih sama, polos, rentan, seperti Sagar
Aruna menghabiskan piringnya lebih cepat dari biasanya, karena ingin segera menyibukkan diri agar tidak harus menatap Sagara terlalu lama. Ia bangkit, mengumpulkan piring kosong mereka berdua, lalu berjalan menuju wastafel.Baru dua langkah, tangannya ditahan.Jari Sagara melingkari pergelangan Aruna dengan lembut membuat Aruna menoleh, alisnya terangkat bingung.“Sa, apa-”Belum selesai bicara, Sagara menariknya pelan membuat Aruna kehilangan keseimbangan sesaat, tubuhnya jatuh ke belakang langsung mendarat di pangkuan Sagara yang sudah siap menangkapnya.“Duduk di sini dulu,” gumam Sagara, suaranya rendah dan serak, tapi ada nada memerintah lembut di dalamnya.Lengannya langsung melingkar di pinggang Aruna, menahannya agar tidak bangkit lagi. Aruna membeku di pangkuan pria itu, tangannya refleks bertumpu di dada Sagara untuk menjaga keseimbangan.“Sagara!” protes Aruna pelan, suaranya campur antara kesal dan panik.Perempuan itu mencoba bangkit, tapi lengan Sagara di pinggangnya tak







