MasukTiga tahun kemudianLantai marmer kediaman Setjo Pratama yang biasanya sunyi dan dingin, kini menjadi medan tempur bagi sepasang kaki mungil yang berlarian tanpa lelah.Arkanza Zaydan Setjo Pratama, atau yang akrab dipanggil Arkan, telah tumbuh menjadi balita yang tidak hanya tampan dengan garis wajah tegas seperti ayahnya, tetapi juga memiliki tingkat kecerewetan yang luar biasa, warisan murni dari sisi ekspresif sang ibu."Papa! Papa! Lihat! Arkan punya mobil balap baru!" teriak Arkan sambil berlari menuju ruang kerja Sagara yang pintunya terbuka sedikit.Sagara, yang sedang melakukan video conference dengan kolega dari Singapura, seketika mengangkat tangannya ke arah kamera, memberi isyarat tunggu tanpa merasa bersalah sedikit pun. Ia langsung berlutut, menyambut tubuh mungil yang menubruk kakinya dengan tawa renyah."Pelan-pelan, jagoan. Kamu bisa jatuh," gumam Sagara.Tangannya yang besar kini terlihat begitu mahir mendekap tubuh anaknya."Nggak jatuh, Pa! Arkan kan kuat kayak Ir
Empat bulan kemudian, ketenangan di kediaman Setjo Pratama pecah pada pukul dua dini hari. Aruna merintih kesakitan, mencengkeram sprei hingga urat-urat di tangannya menonjol. Air ketubannya pecah, dan dalam sekejap, Sagara yang biasanya tenang dan terkendali berubah menjadi pria yang nyaris kehilangan akal sehatnya.Kini, di ruang persalinan Rumah Sakit Pondok Indah, suasana berubah menjadi medan perang. Sagara, si raja bisnis yang ditakuti ribuan karyawan tampak tak berdaya menghadapi istrinya yang sedang berjuang antara hidup dan mati demi melahirkan pewaris mereka."SAGARAAAA! INI SEMUA SALAH KAMU!" teriak Aruna saat kontraksi hebat kembali menghantam.Suaranya melengking memenuhi ruangan, membuat para perawat berjengit."Iya, Sayang, salah saya. Maafkan saya," Sagara mencoba menenangkan, tangannya mengusap keringat di dahi Aruna dengan gemetar."SAKIIITTT! KAMU NGGAK TAHU RASANYA PERUT MAU BELAH DUA!" Aruna tidak lagi melihat Sagara sebagai suaminya yang tampan, melainkan sebagai
Minggu pagi yang seharusnya tenang di rumah mewah keluarga Setjo Pratama mendadak berubah menjadi zona perang pakaian. Sagara, yang baru saja selesai melakukan sesi meditasi paginya, berdiri mematung di ambang pintu walk-in closet yang sangat luas.Pemandangan di hadapannya cukup mengerikan. Berbagai koleksi dress dari desainer ternama, mulai dari bahan sutra hingga kasmir berserakan di lantai marmer seperti tumpukan kain perca.Di tengah kekacauan itu, Aruna berdiri di depan cermin besar dengan wajah yang sudah memerah dan mata yang berkaca-kaca karena frustrasi."Nggak ada yang muat! Semuanya sempit!" teriak Aruna sambil melempar sebuah bodycon dress hitam ke arah Sagara.Sagara dengan tangkas menangkap gaun itu dengan satu tangan. Pria itu memperhatikan istrinya yang kini hanya mengenakan pakaian dalam. Perut Aruna yang sudah memasuki usia lima bulan kini mulai membuncit cantik, memperlihatkan lengkungan kehidupan yang nyata.Bagi Sagara, itu adalah pemandangan paling indah di duni
Sejak garis biru itu muncul, kehidupan Aruna berubah total. Jika dulu Sagara adalah sosok yang posesif, maka sekarang pria itu telah berevolusi menjadi sesuatu yang jauh lebih ekstrem. Aruna merasa dirinya bukan lagi seorang istri, melainkan sebuah artefak langka yang harus disimpan dalam kotak kaca antipeluru.Pagi ini, Aruna baru saja hendak melangkah menuju dapur untuk mengambil segelas air, namun baru tiga langkah keluar dari kamar, sebuah suara bariton yang berat menghentikannya."Mau ke mana, Sayang?"Aruna menghela napas, menoleh ke arah ruang kerja yang pintunya terbuka. Di sana, Sagara berdiri dengan kemeja yang lengannya digulung, menatapnya dengan mata tajam yang tidak pernah lepas mengawasi."Ambil minum, Suamiku. Aku haus," jawab Aruna jengah."Duduk kembali di sofa. Biar saya yang ambilkan," perintah Sagara mutlak.Pria itu segera berjalan melewati Aruna, namun sebelum menjauh, ia sempat mendaratkan kecupan singkat di kening istrinya dan satu usapan lembut di perut Aruna
Satu bulan telah berlalu sejak perjalanan ke Santorini yang melelahkan itu. Kehidupan di Jakarta kembali ke ritme semula, namun dengan satu perbedaan besar, Sagara Setjo Pratama kini menjadi suami yang jauh lebih protektif, jika itu memungkinkan.Pagi ini, sinar matahari Jakarta yang terik mulai menyelinap melalui celah gorden kamar mereka di penthouse. Sagara, yang sudah terbiasa bangun lebih awal, berdiri di dapur bersih dekat area makan dengan hanya mengenakan celana lari hitam.Pria itu sedang menyeduh kopi hitam tanpa gula, aroma robusta yang kuat menguar ke seluruh ruangan. Di benaknya, ia sedang menyusun jadwal rapat direksi siang nanti, namun pikirannya masih tertinggal pada Aruna yang tadi ia tinggalkan masih bergelung nyaman di bawah selimut.Klik.Suara mesin kopi berhenti. Baru saja Sagara hendak menyesap kopinya, suara lain terdengar dari arah kamar utama mereka.Hueekk... ughh...Sagara mematung. Cangkir kopinya hampir saja terlepas. Pria itu segera meletakkan minumannya
Sagara menggendong Aruna dengan mudah menuju kamar utama vila, lalu membaringkan Aruna telungkup di atas ranjang king-size yang empuk, kepala wanita itu menghadap ke samping dengan pipi menempel bantal.Aruna menghela napas panjang, tubuhnya yang lelah langsung rileks saat merasakan kasur yang dingin.“Pijat ya, beneran pijat,” gumam Aruna dengan suara setengah memperingatkan, meski matanya sudah setengah terpejam.Sagara tersenyum tipis, lalu naik ke ranjang, berlutut di samping tubuh istrinya. Tangan besarnya mulai bekerja dari bahu Aruna, menekan otot-otot yang tegang dengan tekanan yang pas dengan kuat tapi tidak menyakitkan.“Tenang saja, Nyonya Pratama. Saya kan sudah janji,” katanya dengan suara bariton yang rendah, sementara jempolnya memutar di bahu Aruna, melemaskan simpul-simpul ketegangan.“Enak, terus, Sayang di situ,” Aruna mendesah lega.Sagara melanjutkan pijatannya ke punggung dengan gerakan lambat dan teratur, tapi semakin ke bawah, semakin nakal tangannya. Saat menc
Sagara menggeleng pelan, sudut bibirnya terangkat dalam senyum yang setengah nakal, setengah menantang.“No,” jawabnya rendah, suara yang sudah serak karena hasrat.Aruna membelalak sejenak, tapi sebelum ia sempat protes atau bertanya, Sagara sudah menarik pinggulnya lebih dalam ke pangkuannya. Ger
Sagara menatap wajah Aruna yang sudah berkabut karena kenikmatan, mata perempuan itu setengah terpejam, bibirnya sedikit terbuka, napas tersengal-sengal.Ia menggeser tubuhnya sedikit, memposisikan dirinya tepat di depan pintu masuk Aruna yang sudah sangat basah dan siap. Ujungnya menyentuh, mengge
Malam sudah larut ketika Sagara akhirnya memastikan Aruna benar-benar tertidur lelap. Perempuan itu meringkuk di sisi ranjang, napasnya teratur dan wajahnya damai setelah seharian penuh tawa dan adrenalin di Dufan. Sagara menarik selimut hingga menutupi bahu Aruna, lalu mencium keningnya pelan sebe
Pagi-pagi mereka sudah mendengar keributan dari luar rumah. Hari ini hari minggu dan seharusnya hari tenang untuk mereka semua, tetapi Sagara dan Aruna terbangun karena perdebatan kecil.“Tidak bisa dong, Pak. Semuanya itu harus konsisten. Saya sudah terlanjur suka dengan rumah ini,” ucap seseorang







