เข้าสู่ระบบJawaban Darren yang menggantung itu tak lagi Aruna pertanyakan. Sebuah senyum tipis terulas di bibirnya, menyerahkan seluruh arah perjalanan pada pria di balik kemudi. Aruna memiringkan tubuhnya sedikit, menyandarkan pelipis pada dinginnya kaca jendela, memperhatikan pendar lampu jalanan Jakarta yang perlahan berganti menjadi deretan pepohonan gelap yang sepi. Malam telah menyeberang sangat jauh menuju dini hari. Tubuh Aruna, yang sebenarnya belum pulih seratus persen dari kelelahan fisik beberapa pekan terakhir, tak lagi sanggup menahan beratnya kelopak mata. Kesadaran Aruna perlahan memudar, terseret oleh ritme deru mesin mobil yang halus dan stabil. Darren melirik ke samping. Begitu menyadari napas Aruna mulai teratur dan dadanya naik turun dengan tenang, ia memelankan laju kendaraannya, lalu menepikan mobil sejenak di bahu jalan yang aman dan sepi. Dengan gerakan amat perlahan agar tak menimbulkan guncangan, Darren meraih sebuah selimut wol tebal berwarna abu-abu gelap da
Jawaban Darren yang menggantung itu tak lagi Aruna pertanyakan. Sebuah senyum tipis terulas di bibirnya, menyerahkan seluruh arah perjalanan pada pria di balik kemudi. Aruna memiringkan tubuhnya sedikit, menyandarkan pelipis pada dinginnya kaca jendela, memperhatikan pendar lampu jalanan Jakarta yang perlahan berganti menjadi deretan pepohonan gelap yang sepi. Malam telah menyeberang sangat jauh menuju dini hari. Tubuh Aruna, yang sebenarnya belum pulih seratus persen dari kelelahan fisik beberapa pekan terakhir, tak lagi sanggup menahan beratnya kelopak mata. Kesadaran Aruna perlahan memudar, terseret oleh ritme deru mesin mobil yang halus dan stabil. Darren melirik ke samping. Begitu menyadari napas Aruna mulai teratur dan dadanya naik turun dengan tenang, ia memelankan laju kendaraannya, lalu menepikan mobil sejenak di bahu jalan yang aman dan sepi. Dengan gerakan amat perlahan agar tak menimbulkan guncangan, Darren meraih sebuah selimut wol tebal berwarna abu-abu gelap da
Semua orang di meja tersebut mendadak menghentikan aktivitas mereka, mengarahkan perhatian penuh pada Helena. "Saya ingin menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya atas sikap dan prasangka buruk saya kepada Aruna di masa lalu," tutur Helena tanpa ragu sedikit pun. Ia menatap Aruna dengan mata berbinar penyesalan. "Dulu saya terlalu picik dan terbawa desas-desus yang tidak benar. Saya telah menilai Aruna dengan cara yang salah, padahal putri kalian adalah wanita yang luar biasa hebat, mandiri, dan dewasa." Kejujuran dan kerendahan hati Helena membuat suasana meja makan itu seketika diliputi keharuan yang mendalam. Hermawan menatap Helena, lalu tersenyum bijak. "Nyonya Helena, tidak perlu dipikirkan lagi. Semua yang sudah berlalu biarlah menjadi pelajaran masa lalu. Kami sebagai orang tua tidak pernah menyimpan dendam." Sofia menambahkan dengan anggukan lembut, "Betul, Bu Helena. Yang paling penting bagi kami saat ini bukanlah masa lalu, melainkan melihat Aruna dan Darr
Usai pembahasan mengenai tim properti yang akan mengurus rumah lama Aruna selesai, Darren tak langsung mengalihkan pandangan. Pria itu mengelus jemari Aruna menatap mata kekasihnya itu. "Runa, ada satu hal lagi yang ingin kusampaikan," ujar Darren pelan. "Mamaku... ingin bertemu kamu lagi." Mendengar perkataan Darren, Aruna menaikkan sedikit alisnya, ia mendengarkan dengan saksama. "Waktu Mama mendengar berita kalau kamu sempat mengalami kecelakaan di Labuan Bajo, dia sangat panik," lanjut Darren dengan kekeh tipis yang tertahan. "Mama terus-menerus menanyakannya padaku setiap hari, memastikan kondisimu, bahkan hampir menyusul ke rumah sakit kalau tidak kutahan. Mama benar-benar khawatir padamu." Mendengar penuturan itu, sudut hati Aruna berdesir hangat, disusul rasa tidak enak yang terbit perlahan. Ia teringat bagaimana ibunda Darren yang dulu sempat bersikap dingin, kini justru memikirkannya sejauh itu. "Aku jadi merasa bersalah," bisik Aruna tulus. "Seharusnya aku tid
Senyum tipis di bibir Hermawan menjadi penanda kesepakatan tak tertulis di antara dua pria itu. Ayah Aruna tersebut mengangguk pelan, lalu menepuk bahu tegap Darren dua kali dengan kehangatan yang jauh berbeda dari ketegangan sebelumnya. "Terima kasih, Darren. Saya menghargai keteguhan dan kejujuranmu," ujar Hermawan dengan suara yang lebih ringan. "Mari kembali ke kamar. Aruna mungkin sebentar sudah terbangun." Siang harinya, proses kepulangan Aruna dari rumah sakit berjalan lancar tanpa kendala. Dokter memberikan izin rawat jalan dengan catatan Aruna harus beristirahat total di rumah selama beberapa hari ke depan. Hermawan dan Sofia memboyong putri mereka kembali ke kediaman utama Pradipta, sementara Darren mendampingi dengan iring-iringan pengawalan hingga rombongan tiba dengan selamat di pelataran rumah. Masa pemulihan Aruna pun dimulai, dan di sinilah Darren membuktikan setiap kata yang diucapkannya di rumah sakit. Di tengah tumpukan berkas dan jadwal kepemimpinanny
Tanpa mengulur waktu, Darren merengkuh ponselnya yang anti itu, lalu menginstruksikan sekretaris pribadinya di Jakarta untuk menyiapkan penerbangan jet medis pribadi dan tim dokter spesialis terbaik di rumah sakit pusat sore itu juga. Tak berhenti di situ, ia juga memerintahkan tim hukum Vantageon Group untuk mengajukan tuntutan pidana atas kelalaian sarana publik yang membahayakan nyawa Aruna. Hermawan dan Sofia berdiri beberapa langkah di belakang ranjang Aruna. Mata Hermawan tak pernah lepas mengamati setiap gerak-gerik Darren. Sofia menyentuh lengan suaminya lembut. Kedua orang tua Aruna saling berpandangan dalam diam. Sebagai orang tua, Hermawan dan Sofia bukanlah sosok yang buta. Kepanikan gila Darren saat melompat ke laut, raut ketakutannya hingga otoritas penuh yang ia ambil detik ini bukanlah cerminan dari seorang rekan bisnis atau sekadar teman biasa. Darren Utama mencintai putri mereka dengan amat dalam, itu adalah sebuah perasaan mendalam yang tak lagi mampu ia







