分享

Di Perbatasan Utara, Hatiku Berlabuh
Di Perbatasan Utara, Hatiku Berlabuh
作者: Yina

Bab 1

作者: Yina
Saat tubuh Anjani terguling menuruni anak tangga, Anjani merasakan sesuatu yang sudah dia duga sebelumnya.

Pada akhirnya, semua orang di sisi Anjani pasti akan direbut oleh Jihan.

Jihan sangat ramah dan supel, selalu menyebarkan energi positif dan keceriaan bagi orang-orang di sekitarnya.

Sebaliknya, Anjani yang pendiam dan jarang bicara, bagaikan bayangan yang hampir tidak terasa kehadirannya.

Anjani sudah merasakan firasat buruk sejak detik pertama Nathan melihat Jihan.

Saat itu, Anjani mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa hubungan mereka yang sudah terjalin selama sepuluh tahun tidak akan hancur begitu saja.

Namun, kenyataan yang terjadi justru bertolak belakang dengan yang diyakini oleh Anjani.

Nathan mengantar Anjani ke rumah sakit dan menjaga Anjani di samping tempat tidurnya. Khawatir cairan infus akan membuat tangan Anjani kedinginan, Nathan pun meminta kantong air panas kepada perawat untuk menghangatkannya.

"Ciuman itu cuma nggak sengaja," kata Nathan.

"Aku cuma melihat dia sebagai dirimu, dirimu yang lebih muda, ceria dan penuh semangat."

"Anjani, kamu terlalu keras kepala dan terlalu acuh nggak acuh. Aku selalu merasa kamu nggak butuh aku."

"Nggak akan ada lagi kejadian kayak gitu …. Soal Jihan, bagaimanapun, dia itu adikmu. Dia juga masih sangat kecil, jadi kamu jangan terlalu mempermasalahkan hal ini, oke?"

Anjani menundukkan pandangannya dan tiba-tiba tersenyum.

"Kamu mengatakan semua ini karena takut aku akan mengusir Jihan, ‘kan?"

Nathan tercekat, kemudian menggenggam erat tangan Anjani.

"Anjani, aku tahu kamu masih marah. Nggak apa-apa, aku akan tetap menemanimu sampai kamu nggak marah lagi."

Anjani menarik tangannya, lalu membalikkan badan membelakangi Nathan.

Dari belakang, terdengar suara desahan Nathan. Seakan-akan, Nathan menganggap Anjani sebagai anak kecil yang tidak paham situasi.

Tiba-tiba, ponsel Nathan berdering. Anjani mendengar suara Jihan dengan jelas dari ujung telepon.

"Kak Nathan, aku sendirian di rumah dan takut. Bisakah Kakak pulang dan menemaniku?"

"Aku nggak sengaja mendorong Kak Anjani. Hanya saja, dia memukulmu dan hatiku sangat sakit melihatnya."

"Setelah tenang, aku memikirkannya kembali. Waktu itu, aku benar-benar nggak pakai banyak tenaga. Aku juga nggak tahu kenapa Kak Anjani bisa jatuh."

Nathan menghibur Jihan dengan suara pelan, lalu berkata kepada Anjani.

"Ada urusan mendadak di kantor. Aku akan segera kembali."

Nathan pun bergegas meninggalkan rumah sakit.

Namun, hingga Anjani diperbolehkan pulang, Nathan tidak pernah sekali pun kembali ke rumah sakit.

Luka di kaki Anjani belum sepenuhnya pulih. Anjani memilih untuk keluar dari rumah sakit karena tidak ingin terus-menerus dikunjungi orang.

Selama beberapa hari ini, orang-orang yang menjenguknya datang silih berganti. Namun, isi pembicaraan mereka semua sama saja.

Mereka meminta Anjani untuk memaafkan Jihan.

Entah apa yang sudah dikatakan Jihan kepada mereka.

Teman-teman dan rekan kerja Anjani menatap Anjani dengan pandangan penuh kecaman.

"Jihan cuma anak kecil. Sejahat apa pun ibunya, kamu nggak seharusnya melampiaskan amarahmu pada anak kecil."

"Kamu itu satu-satunya kakak Jihan, juga satu-satunya keluarga yang dimiliki Jihan di dunia ini. Kalau kamu punya prasangka buruk kepadanya, dia benar-benar akan sebatang kara dan nggak punya tempat bergantung!"

Mendengar Lusy Rahardja, sahabat terbaiknya, bicara dengan penuh keyakinan seakan dirinya benar, Anjani pun merasa sangat kecewa.

Anjani memang menyimpan rasa kesal.

Akan tetapi, Anjani tidak pernah sekalipun memperlakukan Jihan dengan buruk. Bahkan, ketika Jihan ingin belajar ke luar negeri, Anjani mengumpulkan biaya sekolah yang cukup untuk masuk ke sekolah tertentu dan mengirim Jihan ke luar negeri sejak SMA.

Semua orang seakan-akan sepakat untuk melupakan fakta bahwa Tony Adyatama, ayah Anjani dan Jihan, kabur bersama ibu Jihan saat Anjani belum genap berusia tiga tahun dan membawa pergi seluruh harta keluarga.

Yang tersisa bagi Anjani dan ibunya hanyalah tumpukan utang yang begitu besar, yang begitu membebani mereka, hingga mereka hampir tidak sanggup menanggungnya.

Bu Sekar melampiaskan kebenciannya terhadap suaminya kepada Anjani. Di satu sisi, dia bekerja keras untuk menghidupi anaknya, tetapi di sisi lain, Bu Sekar terus-menerus memarahi Anjani.

Anjani pun belajar dengan giat. Dia berhasil diterima di universitas ternama, lalu bekerja di perusahaan besar dan bertemu dengan Nathan. Tepat ketika hidup Anjani mulai tampak membaik ….

Keluarga Adyatama datang menemui Anjani dengan membawa Jihan.

"Tony dan istrinya kecelakaan mobil dan meninggalkan anak ini sebatang kara dan nggak punya tempat bergantung."

"Dia baru 13 tahun. Menurut hubungan darah, kamu kakaknya, jadi wajib membesarkan dia sampai dewasa."

Sebagai ayah, Tony tidak pernah sekalipun menelepon atau mengirimkan uang sepeser pun selama bertahun-tahun.

Namun, sekarang, karena alasan hukum, Anjani diharuskan untuk menafkahi anak dari wanita yang menjadi sumber utama penderitaan mereka.

Anjani tidak punya pilihan lain, sehingga dia pun membawa Jihan pulang ke rumahnya.

Usia Anjani sendiri baru 20 tahun. Namun, Anjani harus merawat adiknya yang masih berumur 13 tahun, layaknya seorang ibu.

Kadang-kadang, ketika pekerjaannya sangat sibuk, Anjani terpaksa membawa Jihan ke kantor.

Lantaran Tony dan istrinya hanya memiliki satu anak, tentu saja mereka memanjakan Jihan habis-habisan, sehingga Jihan tumbuh menjadi pribadi yang ceria dan supel.

Akhirnya, teman-teman dan rekan kerja Anjani yang awalnya menolak kehadiran Jihan, perlahan-lahan mulai menyukai gadis itu.

"Adikmu jauh lebih menyenangkan dibanding kamu."

Anjani tidak hanya sekali mendengar orang-orang di sekitarnya berkata seperti itu..

Kini, bahkan kekasih yang sudah bersamanya selama sepuluh tahun juga berpikir demikian.

"Anjani … bangun …."

Dalam keadaan setengah sadar, terdengar ada orang yang memanggil nama Anjani dengan lembut.

Lamunan Anjani pun menjadi buyar dan dia membuka matanya. Ternyata, sesi terapi sudah selesai.

Anjani bangun, sementara seorang perawat melepaskan alat-alat yang terpasang di kepalanya.

Perawat itu memperingatkan Anjani, "Daya ingatmu akan sedikit menurun untuk sementara waktu. Itu wajar. Pastikan kamu menjaga pola tidur dengan teratur."

"Jangan lupa tanggal kunjungan berikutnya."

Anjani mengangguk, lalu mencatat semua yang dikatakan perawat tersebut ke dalam buku catatannya.

Seiring bertambahnya frekuensi terapi MECT, Anjani perlahan-lahan akan melupakan banyak hal.

Oleh karena itu, Anjani perlu mencatat semua hal yang harus dia selesaikan, di buku catatannya.

Anjani mencoba mengingat-ingat kembali. Akan tetapi, Anjani mendapati jika masa lalunya seakan diselimuti oleh kabut tebal dan dia seperti seorang pengamat yang tenang dan rasional.

Di bagian depan daftar catatan penting itu, terdapat dua hal yang ditulis dengan huruf tebal berwarna merah.

Pertama, memindahkan KK Jihan.

Kedua, putus hubungan dengan Nathan.

在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP

最新章節

  • Di Perbatasan Utara, Hatiku Berlabuh   Bab 24

    Nathan mengangkat kepalanya. Matanya tampak memerah dan menyiratkan sedikit harapan terakhir.Mereka berada di halaman kecil penginapan itu dan duduk di atas bangku batu yang dingin.Anjani tidak berbelit-belit dan langsung angkat bicara."Pak Nathan, saya pernah menjalani terapi MECT, demi melupakan beberapa hal yang terlalu menyakitkan.""Meski ada beberapa catatan di buku catatan itu, bagi saya, itu seperti kisah orang lain di kehidupan masa lalu. Saya nggak bisa merasakan cinta yang Anda bicarakan, juga nggak bisa merasakan kebencian yang Anda sebutkan."Anjani terdiam sejenak, lalu menatap ke arah cahaya lampu penginapan yang hangat di kejauhan. Kemudian, nada bicaranya berubah menjadi lembut, tetapi tegas."Saya sangat bahagia sekarang. Theo sangat baik pada saya dan kehidupan di sini membuat saya merasa tenang, juga puas. Inilah segala sesuatu yang saya inginkan.""Jadi, saya mohon ... lepaskan saja."Anjani menoleh dan menatap Nathan dengan pandangan yang jernih."Jangan coba-c

  • Di Perbatasan Utara, Hatiku Berlabuh   Bab 23

    Anjani menatap Nathan dengan tatapan mata yang jernih, tetapi jelas menjaga jarak.Dia menggelengkan kepalanya pelan, lalu berkata dengan nada yang begitu tenang, hingga terasa kejam."Pak, Anda salah orang, ya? Saya nggak kenal Anda."Anjani terdiam sejenak, lalu menambahkan."Lagi pula, ini rumah saya. Saya nggak akan pergi ke mana pun."Kata "Pak" itu, bagaikan jarum-jarum dingin yang menusuk ke dalam hati Nathan.Anjani tidak mengenalnya …. Dia bilang, di sinilah rumahnya ….Rasa putus asa dan panik yang luar biasa melanda Nathan bagaikan air pasang. Dia sudah mencari Anjani dengan susah payah, menanggung penderitaan yang menyiksa dan setelah akhirnya berhasil menemukannya, yang dia dapatkan malah kalimat yang tidak berarti, yaitu "tidak kenal".Theo mengulurkan tangan dan merangkul bahu Anjani dengan lembut, lalu mengusir Nathan."Pak, kalau Anda bukan tamu yang mau menginap, tolong jangan ganggu tamu saya dan … tunangan saya."Tunangan ….Nathan tiba-tiba terhuyung dan wajahnya l

  • Di Perbatasan Utara, Hatiku Berlabuh   Bab 22

    Hubungan antara Anjani dan Theo bagaikan musim semi di Kota Loman. Salju dan es mulai mencair, semuanya kembali hidup dan semuanya terjadi dengan alami, juga hangat.Tidak ada pengakuan cinta yang menggemparkan. Hanya di suatu senja, ketika matahari terbenam, saat keduanya berjalan berdampingan untuk pulang, setelah memeriksa jalur pendakian yang baru saja dibuka, Theo menggenggam tangan Anjani begitu saja. Anjani tertegun untuk sesaat. Kemudian, dia menjadi rileks dan balas menggenggam tangan Theo.Kehangatan yang mengalir di antara jemari mereka menggantikan semua kata-kata.Sejak saat itu, hari-hari mereka terasa manis.Mereka mengelola penginapan bersama, merencanakan rute wisata dan menyambut tamu dari berbagai penjuru negeri.Di waktu luang, Theo akan mengendarai motornya untuk mengantar Anjani ke pedalaman padang rumput, menikmati keindahan bunga-bunga liar yang bermekaran.Atau, di saat Anjani sedang sibuk bekerja di meja, Theo diam-diam akan menyodorkan secangkir teh melati ke

  • Di Perbatasan Utara, Hatiku Berlabuh   Bab 21

    Menghadapi lonjakan jumlah tamu dan perhatian publik yang tiba-tiba, Anjani dan Theo mau tidak mau harus meningkatkan kerja sama mereka.Mereka berdiskusi bersama tentang cara mengoptimalkan layanan, cara menghadapi wawancara media, serta cara memenuhi kebutuhan banyak wisatawan tanpa menghilangkan ciri khas penginapan mereka.Lantaran menghabiskan waktu bersama setiap hari, Anjani bisa merasakan dengan jelas jika Theo makin terbuka dalam menunjukkan perasaannya kepadanya.Theo tahu jika lambung Anjani kurang baik. Oleh karena itu, setiap pagi dia diam-diam menghangatkan segelas susu untuk Anjani.Saat Anjani bergadang untuk menyusun data, Theo diam-diam akan meletakkan lampu pelindung mata dan potongan buah di dekat tangan Anjani.Telinga Theo akan memerah ketika para wisatawan bersorak dan bergurau dengan mengatakan bahwa, "pemilik penginapan dan istrinya sangat serasi". Theo tidak membantahnya, melainkan hanya mencuri pandang ke arah Anjani.Perasaan seperti ini benar-benar hangat,

  • Di Perbatasan Utara, Hatiku Berlabuh   Bab 20

    Titik balik terjadi di penghujung musim gugur.Di tahun itu, Kota Loman menyambut fenomena aurora yang sangat aktif. Kejadian ini sangat langka dan hanya terjadi sekali dalam beberapa dekade.Pita cahaya berwarna hijau dan ungu yang memukau, menari-nari di langit malam, begitu indah bagaikan mimpi.Anjani dengan sigap memanfaatkan peluang emas ini.Dia segera bekerja lembur untuk merancang naskah promosi dan video bertema "Mengejar Aurora Utara", serta menghubungi para pembuat konten wisata yang pernah bekerja sama dengannya sebelumnya. Anjani mengubah penginapan "Gemintang" menjadi titik pengamatan aurora yang paling sempurna.“Datanglah ke Gemintang, rebahan di tempat tidur sambil menyaksikan aurora!” Slogan tersebut benar-benar sangat menggoda.Dalam sekejap, kota kecil yang semula sepi itu diserbu oleh banyak wisatawan yang ingin menyaksikan aurora.Penginapan "Gemintang" yang sudah mempersiapkan semuanya dengan matang juga kebanjiran tamu hampir setiap hari. Bahkan, pemesanan kama

  • Di Perbatasan Utara, Hatiku Berlabuh   Bab 19

    Langit Kota Loman berwarna biru jernih dan luas. Hal ini belum pernah dilihat oleh Anjani sebelumnya.Udara di sana dipenuhi kesegaran pohon pinus dan aroma tanah yang harum, sangat bertolak belakang dengan bau asap knalpot serta besi dan beton di kota besar.Anjani menyewa sebuah rumah tua dengan halaman kecil di pinggiran kota. Di halaman tersebut, tumbuh sebatang pohon sengon yang sudah tua.Tiap pagi, Anjani terbangun oleh kicauan burung. Hanya dengan membuka jendela, dia sudah bisa menyaksikan pegunungan di kejauhan yang bentuknya seperti alis.Anjani belajar hidup seperti warga kota itu. Dia pergi ke pasar untuk membeli sayuran segar, memasak makanannya sendiri dan sesekali belajar cara membuat asinan sayur, serta menjahit kasur kapuk yang tebal dari bibi tetangga.Sesekali, Anjani masih membolak-balik tulisan di buku catatannya. Namun, masa lalu tentang "Nathan" dan "Jihan" itu kini ketika membacanya, rasanya seperti membaca kisah orang asing dan Anjani tidak merasakan apa pun d

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status