分享

Bab 2

作者: Yina
Anjani samar-samar ingat jika dia sudah merampungkan prosedur pemindahan KK Jihan sebelum menjalani terapi.

Anjani membuka ponselnya. Percakapan terakhirnya dengan Jihan masih terhenti pada saat sebelum dia menemukan gadis itu berciuman dengan Nathan.

Lantaran menginginkan sepatu edisi terbatas, Jihan pun memanggilnya "Kakak".

Ketika berusia 18 tahun, Anjani hidup sangat pas-pasan. Dia bahkan tidak berani membeli pakaian yang harganya lebih dari 200 ribu.

Anjani tahu jika para gadis suka tampil cantik. Anjani juga tahu jika anak-anak di usia itu memiliki gengsi yang sangat tinggi.

Anjani pun mentransfer uang, tanpa mengatakan apa-apa.

Jihan hanya diam saja saat menerima uang itu dan tidak mengucapkan sepatah kata pun.

Anjani menghela napas. Dia lalu menutup jendela obrolannya dengan Jihan dan membuka jendela obrolannya dengan Nathan.

Percakapan mereka juga terhenti pada hari kedua setelah dia dirawat di rumah sakit.

Nathan berkata: [Aku sangat mengkhawatirkanmu.]

Hampir setengah bulan berlalu sejak Anjani diperbolehkan pulang dari rumah sakit, membuat janji untuk menjalani terapi MECT, menjalani pemeriksaan dan menyelesaikan rangkaian pengobatan pertamanya.

Anjani tidak tahu rasa khawatir Nathan terhadap siapa lagi.

Baru ketika dia tiba di rumah, membuka pintu dan melihat Nathan bersama teman-temannya sedang merayakan ulang tahun Jihan yang ke-21 ….

Anjani pun akhirnya menyadari sepenuhnya.

Anjani membawa obat-obatan yang diberikan dokter dan menyandang tasnya. Dengan sedikit kesulitan, dia membuka pintu dan mendengar suara ucapan selamat yang meriah.

"Selamat ulang tahun, Jihan!"

Saat Anjani melangkah masuk ke ruang tamu, tampak semua orang mengelilingi Jihan sambil menyanyikan lagu "Selamat Ulang Tahun".

Jihan dengan mata berkaca-kaca dan ekspresi terkejut, memeluk Nathan dengan erat.

Salah seorang teman tanpa sengaja menoleh dan melihat Anjani. Dia pun lalu berdeham pelan.

Ketika mereka menyadari jika Anjani sudah pulang, seluruh ruangan langsung menjadi hening.

Beberapa saat kemudian, Nathan bertanya dengan agak canggung.

"Anjani, kok kamu sudah keluar dari rumah sakit secepat ini? Kenapa nggak kasih tahu aku sebelumnya, biar aku bisa jemput kamu?"

Anjani menatap pria yang sudah bersamanya selama sepuluh tahun itu, tetapi sekarang terasa seperti orang asing baginya.

Hati Anjani hancur, saat pertama kali melihat Nathan berciuman dengan Jihan.

Dikhianati sekaligus oleh dua orang yang paling dekat dengannya dan yang paling banyak menerima pengorbanannya, membuat Anjani merasakan sakit yang begitu hebat, hingga membuatnya nyaris tidak sanggup berdiri.

Tepat di saat Anjani hendak membuka mulut untuk mencecar dan memaki, Anjani mendadak teringat pada ibunya yang dahulu sering mabuk-mabukan dan mengamuk secara histeris kepadanya.

Anjani tidak ingin mengikuti jejak ibunya. Oleh karena itu, dia pun memaksakan diri untuk tetap tenang.

Namun, kini ketika menatap Nathan, yang dirasakan Anjani hanyalah seperti ada yang mencengkeram jantungnya untuk sesaat dan rasa sakitnya hanya berlangsung sekejap.

Anjani menghindari tangan Nathan yang hendak membantu membawakan tasnya, lalu berkata dengan nada datar, "Di rumah sakit juga nggak tenang. Jadi, mendingan aku pulang saja."

Mendengar kata-kata itu, semua teman yang hadir di sana langsung merasa canggung.

Lusy lalu melangkah ke depan, mencoba meredakan suasana.

"Anjani, kamu datang di waktu yang tepat. Hari ini ulang tahun Jihan."

"Nathan sengaja minta kami untuk nggak kasih tahu apa pun pada Jihan."

"Kami semua sudah patungan untuk beli kado. Karena kamu kakaknya, baiknya kamulah yang kasih kado ini pada Jihan."

Setelah berkata seperti itu, sebuah kotak kecil yang indah langsung diselipkan ke tangan Anjani.

Anjani terpaku di tempatnya. Beberapa saat kemudian, Anjani memutuskan untuk menerimanya dan menyerahkannya kepada Jihan.

Jihan sudah tinggal bersamanya sejak umur 13 tahun. Sekarang, Jihan sudah tumbuh menjadi seorang gadis dewasa.

Anjani sudah menjadi kakak Jihan selama bertahun-tahun. Dengan memberikan kado ini, Anjani menganggapnya sebagai tanda berakhirnya ikatan persaudaraan mereka yang sudah terjalin selama ini.

Saat kado itu diserahkan, Jihan mengulurkan tangan untuk menerimanya, tetapi kado itu justru jatuh ke lantai.

Kotak kado itu terbuka saat terjatuh dan memperlihatkan sebuah gelang kaca yang indah, yang kini sudah pecah menjadi beberapa bagian.

Melihat itu, Jihan tampak hampir menangis.

"Kak, Kakak masih nggak mau maafin aku, ya?"

"Waktu itu benar-benar nggak sengaja. Aku sungguh nggak bermaksud begitu!"

"Selama Kakak dirawat di rumah sakit, aku juga sangat mengkhawatirkan Kakak. Aku takut Kakak nggak mau maafin aku."

Melihat Jihan menangis, orang-orang di sekitarnya langsung menghiburnya. Sementara, mereka menatap Anjani dengan penuh dengan kecaman.

"Anjani, bukan maksudku untuk menyalahkanmu. Tapi, sebagai kakak, bagaimana bisa kamu masih marah pada adikmu?"

"Hari ini ulang tahun Jihan. Di hari yang begitu penting ini, apa kamu nggak bisa membiarkan dia bahagia sehari saja?"

Anjani menatap orang-orang yang menyalahkannya itu, sementara mulutnya membuka dan menutup tanpa suara.

Berdiri tepat di tengah dan menatapnya dengan wajah penuh kekecewaan, adalah tunangannya, pria yang sudah dicintainya selama sepuluh tahun.

Anjani mendengar dengungan yang keras, yang tiba-tiba bergema di telinganya.

Pandangan Anjani mulai kabur dan dia hampir tidak mampu berdiri tegak.

Anjani berpikir, apa pun yang terjadi, setidaknya dia harus membuat orang-orang ini pergi dari sini terlebih dahulu.

Pada saat itu, Nathan pun akhirnya angkat bicara.

"Sudahlah, jangan lagi menyalahkan Anjani. Dia baru saja keluar dari rumah sakit."

Nathan lalu berjalan mendekati Anjani, mengusap dahi Anjani dengan penuh perhatian dan berkata dengan lembut.

"Nggak usah mempermasalahkan kelakuan Jihan, dia masih anak-anak."

Nathan memungut kotak kecil yang jatuh di lantai itu, lalu menyerahkannya kembali kepada Anjani.

"Tadi dia cuma nggak sengaja, nggak bisa menangkapnya. Berikan lagi kepadanya."

"Kebetulan hari ini ulang tahun Jihan. Sebagai kakak beradik, kalian berdua bisa duduk dan makan bareng. Nggak ada masalah, yang nggak bisa diselesaikan."

"Ke depannya, kalian harus bisa rukun."

Suara Nathan terdengar lembut. Namun, tangannya yang bertumpu di bahu Anjani justru menekan secara diam-diam.

Anjani menghela napas dalam-dalam, mendesah pelan, lalu menghindari tangan Nathan.

Dengan suara pelan, Anjani pun berkata, "Nggak perlu. Aku dan dia … kemungkinan besar nggak akan tinggal bersama lagi."

Saat semua orang terkesiap, Anjani melanjutkan kata-katanya.

"Sebenarnya, aku pulang hari ini, karena aku berniat pindah rumah."

在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP

最新章節

  • Di Perbatasan Utara, Hatiku Berlabuh   Bab 24

    Nathan mengangkat kepalanya. Matanya tampak memerah dan menyiratkan sedikit harapan terakhir.Mereka berada di halaman kecil penginapan itu dan duduk di atas bangku batu yang dingin.Anjani tidak berbelit-belit dan langsung angkat bicara."Pak Nathan, saya pernah menjalani terapi MECT, demi melupakan beberapa hal yang terlalu menyakitkan.""Meski ada beberapa catatan di buku catatan itu, bagi saya, itu seperti kisah orang lain di kehidupan masa lalu. Saya nggak bisa merasakan cinta yang Anda bicarakan, juga nggak bisa merasakan kebencian yang Anda sebutkan."Anjani terdiam sejenak, lalu menatap ke arah cahaya lampu penginapan yang hangat di kejauhan. Kemudian, nada bicaranya berubah menjadi lembut, tetapi tegas."Saya sangat bahagia sekarang. Theo sangat baik pada saya dan kehidupan di sini membuat saya merasa tenang, juga puas. Inilah segala sesuatu yang saya inginkan.""Jadi, saya mohon ... lepaskan saja."Anjani menoleh dan menatap Nathan dengan pandangan yang jernih."Jangan coba-c

  • Di Perbatasan Utara, Hatiku Berlabuh   Bab 23

    Anjani menatap Nathan dengan tatapan mata yang jernih, tetapi jelas menjaga jarak.Dia menggelengkan kepalanya pelan, lalu berkata dengan nada yang begitu tenang, hingga terasa kejam."Pak, Anda salah orang, ya? Saya nggak kenal Anda."Anjani terdiam sejenak, lalu menambahkan."Lagi pula, ini rumah saya. Saya nggak akan pergi ke mana pun."Kata "Pak" itu, bagaikan jarum-jarum dingin yang menusuk ke dalam hati Nathan.Anjani tidak mengenalnya …. Dia bilang, di sinilah rumahnya ….Rasa putus asa dan panik yang luar biasa melanda Nathan bagaikan air pasang. Dia sudah mencari Anjani dengan susah payah, menanggung penderitaan yang menyiksa dan setelah akhirnya berhasil menemukannya, yang dia dapatkan malah kalimat yang tidak berarti, yaitu "tidak kenal".Theo mengulurkan tangan dan merangkul bahu Anjani dengan lembut, lalu mengusir Nathan."Pak, kalau Anda bukan tamu yang mau menginap, tolong jangan ganggu tamu saya dan … tunangan saya."Tunangan ….Nathan tiba-tiba terhuyung dan wajahnya l

  • Di Perbatasan Utara, Hatiku Berlabuh   Bab 22

    Hubungan antara Anjani dan Theo bagaikan musim semi di Kota Loman. Salju dan es mulai mencair, semuanya kembali hidup dan semuanya terjadi dengan alami, juga hangat.Tidak ada pengakuan cinta yang menggemparkan. Hanya di suatu senja, ketika matahari terbenam, saat keduanya berjalan berdampingan untuk pulang, setelah memeriksa jalur pendakian yang baru saja dibuka, Theo menggenggam tangan Anjani begitu saja. Anjani tertegun untuk sesaat. Kemudian, dia menjadi rileks dan balas menggenggam tangan Theo.Kehangatan yang mengalir di antara jemari mereka menggantikan semua kata-kata.Sejak saat itu, hari-hari mereka terasa manis.Mereka mengelola penginapan bersama, merencanakan rute wisata dan menyambut tamu dari berbagai penjuru negeri.Di waktu luang, Theo akan mengendarai motornya untuk mengantar Anjani ke pedalaman padang rumput, menikmati keindahan bunga-bunga liar yang bermekaran.Atau, di saat Anjani sedang sibuk bekerja di meja, Theo diam-diam akan menyodorkan secangkir teh melati ke

  • Di Perbatasan Utara, Hatiku Berlabuh   Bab 21

    Menghadapi lonjakan jumlah tamu dan perhatian publik yang tiba-tiba, Anjani dan Theo mau tidak mau harus meningkatkan kerja sama mereka.Mereka berdiskusi bersama tentang cara mengoptimalkan layanan, cara menghadapi wawancara media, serta cara memenuhi kebutuhan banyak wisatawan tanpa menghilangkan ciri khas penginapan mereka.Lantaran menghabiskan waktu bersama setiap hari, Anjani bisa merasakan dengan jelas jika Theo makin terbuka dalam menunjukkan perasaannya kepadanya.Theo tahu jika lambung Anjani kurang baik. Oleh karena itu, setiap pagi dia diam-diam menghangatkan segelas susu untuk Anjani.Saat Anjani bergadang untuk menyusun data, Theo diam-diam akan meletakkan lampu pelindung mata dan potongan buah di dekat tangan Anjani.Telinga Theo akan memerah ketika para wisatawan bersorak dan bergurau dengan mengatakan bahwa, "pemilik penginapan dan istrinya sangat serasi". Theo tidak membantahnya, melainkan hanya mencuri pandang ke arah Anjani.Perasaan seperti ini benar-benar hangat,

  • Di Perbatasan Utara, Hatiku Berlabuh   Bab 20

    Titik balik terjadi di penghujung musim gugur.Di tahun itu, Kota Loman menyambut fenomena aurora yang sangat aktif. Kejadian ini sangat langka dan hanya terjadi sekali dalam beberapa dekade.Pita cahaya berwarna hijau dan ungu yang memukau, menari-nari di langit malam, begitu indah bagaikan mimpi.Anjani dengan sigap memanfaatkan peluang emas ini.Dia segera bekerja lembur untuk merancang naskah promosi dan video bertema "Mengejar Aurora Utara", serta menghubungi para pembuat konten wisata yang pernah bekerja sama dengannya sebelumnya. Anjani mengubah penginapan "Gemintang" menjadi titik pengamatan aurora yang paling sempurna.“Datanglah ke Gemintang, rebahan di tempat tidur sambil menyaksikan aurora!” Slogan tersebut benar-benar sangat menggoda.Dalam sekejap, kota kecil yang semula sepi itu diserbu oleh banyak wisatawan yang ingin menyaksikan aurora.Penginapan "Gemintang" yang sudah mempersiapkan semuanya dengan matang juga kebanjiran tamu hampir setiap hari. Bahkan, pemesanan kama

  • Di Perbatasan Utara, Hatiku Berlabuh   Bab 19

    Langit Kota Loman berwarna biru jernih dan luas. Hal ini belum pernah dilihat oleh Anjani sebelumnya.Udara di sana dipenuhi kesegaran pohon pinus dan aroma tanah yang harum, sangat bertolak belakang dengan bau asap knalpot serta besi dan beton di kota besar.Anjani menyewa sebuah rumah tua dengan halaman kecil di pinggiran kota. Di halaman tersebut, tumbuh sebatang pohon sengon yang sudah tua.Tiap pagi, Anjani terbangun oleh kicauan burung. Hanya dengan membuka jendela, dia sudah bisa menyaksikan pegunungan di kejauhan yang bentuknya seperti alis.Anjani belajar hidup seperti warga kota itu. Dia pergi ke pasar untuk membeli sayuran segar, memasak makanannya sendiri dan sesekali belajar cara membuat asinan sayur, serta menjahit kasur kapuk yang tebal dari bibi tetangga.Sesekali, Anjani masih membolak-balik tulisan di buku catatannya. Namun, masa lalu tentang "Nathan" dan "Jihan" itu kini ketika membacanya, rasanya seperti membaca kisah orang asing dan Anjani tidak merasakan apa pun d

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status