Home / Romansa / Di Ranjang Cinta Lamaku / Bab 8. Aku Mandul

Share

Bab 8. Aku Mandul

Author: Dian Wahyu
last update publish date: 2026-09-26 23:51:10

Setelah pembicaraan itu, kini Celia bersama Ethan tampak memasuki mobil dan menunggu asisten pria itu mengantar keduanya kembali.

Memikirkan apa yang dikatakan Gracia membuat Celia menjadi tidak tenang sampai akhirnya ia membuka pembicaraan pada pria di sampingnya.

"Ada yang ingin kukatakan."

Ethan masih biasa saja. Pria itu tetap datar tanpa ekspresi penasaran saat Celia membuka obrolan.

"Katakan," balas Ethan.

Celia menarik napas dalam.

Ada banyak hal yang wanita itu pikirkan. Wajah marah Rigel kala itu tiba-tiba menghampirinya dan jujur saja sebenarnya Celia tidak ingin memikirkannya.

Perkataan dari nenek Ethan membuatnya takut.

Namun Celia tetap berusaha untuk tenang. Ia tidak boleh terlihat rapuh di depan pria ini meskipun keadaannya benar-benar memilukan.

"Aku tidak bisa memiliki anak denganmu."

Ethan tersenyum miring mendengarnya.

Pria itu menghela napas dan kemudian membalas, "Kalau kau butuh uang lebih banyak, tak masalah jika kau melahirkan anakku."

Celia melotot mendengarnya. Cukup keterlaluan ketika pria ini hanya memandangnya karena butuh uang, apalagi sampai membuatnya melahirkan hanya demi kepentingan perjanjian mereka.

Namun, ia tidak bisa langsung menunjukkan amarah karena bagaimanapun juga pria ini telah membantunya.

Celia kemudian berusaha menjelaskannya perlahan.

Ia ingin Ethan mengerti juga tentang posisinya, meskipun ia tidak mengharapkan anak dari pria ini.

Perasaannya yang dulu telah berhasil ia buang. Lagi pula, semuanya sudah berjalan bertahun-tahun yang lalu sehingga tak ada alasan baginya untuk menengok kembali masa lalunya.

"Aku mandul. Tidak akan bisa punya anak."

Mengatakannya secara langsung dan berharap Ethan paham.

Penyebab utama perceraiannya adalah keturunan.

Jika ia bisa mengandung, tak mungkin ada perceraian di pernikahan pertamanya kemarin.

Ethan pun menghela napas dan memberikan reaksi lebih serius dibandingkan sebelumnya, "Aku tidak masalah, yang terpenting kita bisa mengelabui nenekku terlebih dahulu. Setelah semuanya beres, kau bisa membatalkan perjanjian kita kapan pun kau mau. Ditambah lagi, aku akan tetap membayarmu. Impas, bukan?"

Celia lantas terdiam mendengarnya.

Ethan adalah pria yang terstruktur dan segala hal yang dilakukan telah dipikirkan dengan matang.

Mengajaknya menikah rasanya masih tak membuatnya percaya, bahkan pria ini berkata seolah-olah bisa mengendalikan cara dunia bekerja.

Ketika Celia memikirkan lagi hal ini, jelas Ethan bisa mengendalikan segalanya karena pria itu punya banyak uang yang bisa bicara.

Sementara dirinya hanyalah orang miskin yang melakukan segalanya demi uang, termasuk mengulangi lagi pernikahan yang tidak didasari perasaan ini.

Demi uang, demi keluarganya juga. Setidaknya pria ini menawarkan sebuah pernikahan padanya, bukan hanya tawaran untuk satu malam atau sebagai pemuas.

Itulah yang membuatnya sedikit bersyukur karena kehormatannya masih terjaga dalam balutan status pernikahan.

"Aku akan mengantarmu pulang," ujar pria itu ketika Celia hanya diam.

"Aku akan menginap di hotel dan antar saja aku ke sana," balas Celia cepat.

Mobil lantas melaju meninggalkan kediaman besar sang nenek saat sang asisten bergerak untuk mengantarkan keduanya.

***

Sampai di sebuah pekarangan villa yang nampak tenang malam ini, Celia menatap Ethan yang keluar dari mobil.

Wanita itu ikut turun dan memandang sekelilingnya.

Tempat ini tenang, bangunannya besar dan mewah sehingga Celia pun heran dibuatnya.

"Aku akan mencari taksi. Terima kasih tumpangannya," ucap Celia dengan pemikiran berbeda dari pria di depannya.

Awalnya sang asisten ingin menjelaskan, namun Ethan lebih dulu bicara.

"Tinggal di sini saja. Ini villa milikku, besok pagi aku akan mengajakmu untuk mendaftarkan pernikahan."

Pria itu berucap dengan tatapan dinginnya seolah perkataan yang keluar dari bibirnya hanyalah candaan semata.

"Besok?"

Kaget, tentu saja.

Ia baru diperkenalkan pada nenek pria itu beberapa menit yang lalu, mana mungkin besok langsung mendaftarkan pernikahan.

"Semakin cepat maka semakin baik. Aku ingin segera memegang kendali perusahaan dan pernikahan ini harus segera dilakukan," lanjut Ethan masih dengan tatapan dinginnya.

Celia tahu bahwa kekuatan uang bisa melakukan segalanya, bahkan untuk membuat sebuah pernikahan juga semudah itu.

Tidak ada yang sulit bagi Ethan, sementara dirinya yang bukan siapa-siapa ini hanya bisa mengikuti ke mana Ethan mengarahkan kemudinya.

"Nenekmu tidak mempermasalahkan asal-usulku?"

Celia bertanya untuk memastikan karena sepanjang obrolan tadi tak ada pembahasan yang menyentil harga dirinya.

Ethan memasukkan kedua tangannya ke saku celana dan berkata, "Pilihanku tidak akan ditolak oleh nenekku. Jadi, kau hanya boleh mengikuti perintahku. Mengerti?"

Celia mengangguk meski masih tidak bisa mempercayai ini dan tidak banyak bicara lagi.

Kali ini hatinya merasa sedikit lega, tidak ada hal gila yang membuatnya sakit kepala. Satu-satunya hal gila yang masih tersisa hanyalah Ethan.

***

Meninggalkan Celia di villa, Ethan kembali ke kediaman pribadinya dan akan menemui wanita itu besok pagi.

Teleponnya bergetar dan ia segera menerima panggilan tersebut lalu menempelkan ponselnya ke telinga.

"Halo?"

"Ethan, kau ada waktu besok?"

"Aku sibuk," balasnya sembari menaiki tangga menuju kamarnya untuk istirahat malam ini.

"Kau selalu sibuk. Kalau begini terus, nenekmu bisa pusing jika kau tidak segera menikah," tukas Daniel, sahabat baiknya yang kemarin membantunya melakukan reservasi di restoran tempat Celia bekerja.

Memasuki kamarnya, Ethan menutup pintu pelan dan berkata, "Aku akan menikah."

"Hah? Hahaha ... "

Tawa sahabat baiknya tak membuat Ethan berusaha ingin menjelaskan. Ia hanya memberitahu hal ini karena Celia sudah ada dalam genggamannya.

"Kapan kau akan menikah?" Daniel masih tertawa kali ini.

"Besok pagi."

"Hahahaha ... "

Diejek dengan tawa tak membuat Ethan gentar. Pria itu selalu tenang, reaksinya tidak pernah berlebihan.

Terbiasa menyembunyikan perasaannya, Ethan kemudian bergerak menutup telepon, "Sudah dulu, aku mau tidur."

"Huh, baiklah."

Telepon tertutup dan Ethan membuka jasnya lalu meletakkannya di sofa. Kakinya melepaskan sepatunya dan mengganti dengan sandal rumahan seperti biasa.

Pikirannya menerawang jauh tentang Celia.

Wanita itu berubah. Sikapnya yang dulu hangat dan ramah padanya nyatanya tidak lagi sama.

Celia yang sekarang terlihat menjaga jarak dengannya. Wanita itu juga tidak banyak bertanya tentangnya atau mencoba untuk membuat obrolan penting dengannya.

"Aku mandul. Tidak bisa punya anak."

Kalimat Celia terngiang-ngiang di kepalanya.

Ethan bertanya-tanya dalam hati. Apakah itu penyebab Celia bercerai dengan mantan suaminya?

Namun memikirkan tentang permasalahan Celia lantas menumbuhkan perasaan gelisah di dadanya.

Apakah wanita itu benar-benar telah melupakan perasaan yang dulu ada?

Gusar ketika kembali memikirkan setiap hal yang ada di kepalanya.

Dulu ia tidak peduli dengan kisah cinta karena menurutnya menjadi seorang pewaris harus fokus pada dirinya sendiri.

Hal itulah yang membuatnya tidak memandang Celia sama sekali. Segala hal yang dilakukan Celia sangat tidak menarik di matanya.

Namun, kini Ethan malah tidak terima dengan sikap wanita itu setelah bertahun-tahun terlewati.

"Kau berubah, Celia."

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Di Ranjang Cinta Lamaku   Bab 9. Jangan Menghindar

    "Selamat atas pernikahan Anda, Tuan dan Nyonya Oldheron. Semoga selalu diberkati!"Ucapan selamat penuh harapan itu membuat Celia lantas menanggapinya dengan senyuman tipis.Pagi ini di kantor catatan sipil, Ethan benar-benar memberikan akta pernikahan padanya dan dalam hitungan menit saja status keduanya sudah berubah.Pria itu terlihat rapi dengan setelan kantornya seperti biasa, sementara Celia dengan gaun putih selutut pemberian Ethan hanya berada di sisinya tanpa banyak bersuara.Menyelesaikan langkah terakhir, mereka berdua keluar dari kantor ini dan berjalan beriringan."Publikasikan pernikahanku hari ini," ujarnya datar pada sang asisten yang lantas menghubungi pihak media terpercaya."Baik, Tuan Muda."Semudah itu, rasanya Celia masih tidak percaya dengan apa yang terjadi.Lelaki yang dirinya puja sebenarnya tidak berubah dari segi karakter.Ethan tetaplah orang yang dingin dan tanpa perasaan. Apa pun yang dilakukan pria ini tidak bisa Celia tebak, termasuk mendaftarkan perni

  • Di Ranjang Cinta Lamaku   Bab 8. Aku Mandul

    Setelah pembicaraan itu, kini Celia bersama Ethan tampak memasuki mobil dan menunggu asisten pria itu mengantar keduanya kembali.Memikirkan apa yang dikatakan Gracia membuat Celia menjadi tidak tenang sampai akhirnya ia membuka pembicaraan pada pria di sampingnya."Ada yang ingin kukatakan."Ethan masih biasa saja. Pria itu tetap datar tanpa ekspresi penasaran saat Celia membuka obrolan."Katakan," balas Ethan.Celia menarik napas dalam. Ada banyak hal yang wanita itu pikirkan. Wajah marah Rigel kala itu tiba-tiba menghampirinya dan jujur saja sebenarnya Celia tidak ingin memikirkannya.Perkataan dari nenek Ethan membuatnya takut.Namun Celia tetap berusaha untuk tenang. Ia tidak boleh terlihat rapuh di depan pria ini meskipun keadaannya benar-benar memilukan."Aku tidak bisa memiliki anak denganmu." Ethan tersenyum miring mendengarnya.Pria itu menghela napas dan kemudian membalas, "Kalau kau butuh uang lebih banyak, tak masalah jika kau melahirkan anakku."Celia melotot mendengar

  • Di Ranjang Cinta Lamaku   Bab 7. Demi Cicit

    "Tentang apa?"Terdengar jika Gracia tidak sabar mendengarnya, apalagi cucunya itu seperti sengaja membuatnya penasaran."Jangan bertanya soal keluarganya, Nek. Keluarganya sudah lama bangkrut," jelas Ethan kemudian."Bangkrut? Dia dari keluarga perusahaan mana?"Ethan tahu bahwa pertanyaan seperti ini akan tetap neneknya tanyakan. Namun, ia tidak ingin menjawabnya dan jujur saja sudah cukup baginya jika Celia hidup bersamanya."Sudah dulu, aku mau kerja.""Anak nakal, jawab dulu pertanyaan nenekmu!" tukas wanita tua itu dengan nada tegas serta memaksa.Namun Ethan segera mematikan sambungan karena tidak mau menjelaskan. Lagi pula, ia hanya ingin membuat Celia nyaman saat pergi dengannya nanti.***Baru selesai dengan rangkaian perawatan, Celia merenggangkan otot pinggangnya karena terlalu lama duduk.Satu-satunya hal yang amat menyenangkan baginya adalah pergi ke salon dan mempercantik diri. Sudah lama sekali ia tidak melakukannya dan jujur saja menikmati seluruh treatment ini.Dari

  • Di Ranjang Cinta Lamaku   Bab 6. Perkara Bayar Utang

    Bukti transfer masuk pagi ini, Celia menarik napas dalam dan kemudian ia berdiri seraya mengambil tasnya untuk bekerja sesuai kesehariannya.Baru keluar dari kamar, pemandangan orang tuanya yang masih bertengkar karena kedatangan rentenir semalam lantas membuat Celia menarik napas pelan."Pergilah ke kantor pinjaman itu, Celia. Hanya melayani Pak Bondy dua kali dan setelah itu utang keluarga kita lunas," ucap Julian pada putrinya tanpa belas kasih.Sebenarnya Celia marah mendengarnya.Sebisa mungkin wanita itu bersikap biasa dan berjalan melewati orang tuanya sembari berkata, "Ayah dan Ibu tak perlu khawatir, aku akan membayarnya pagi ini."Mendengar itu, Lidia hanya diam.Tak ada yang menanggapi perkataan Celia kali ini, bahkan Julian mengalihkan pandangnya karena mereka telah berkali-kali mengorbankan putri mereka.Membuka pintu apartemen itu, Celia menutupnya pelan dan wajahnya menatap ke depan.Ethan belum mengabarkan kapan mereka akan bertemu lagi, namun pria itu sudah memberikan

  • Di Ranjang Cinta Lamaku   Bab 5. Hanya Menikah, Bukan?

    Celia membeku, teringat apa yang dikatakan ayahnya kemarin. Ternyata memang benar jika dirinya akan dijadikan jaminan jika sampai utang itu belum lunas juga.Ia pikir hal itu hanyalah gertakan semata agar dirinya mau menghasilkan uang lebih banyak.Dua rentenir tersebut tertawa-tawa dan menatap Celia dari atas hingga bawah. Hal itu membuat Celia jijik seketika, lagi dan lagi dirinya hanya dipandang sebagai objek nafsu."Bos kalian gila, ya?"Celia marah. Ia seperti hanya dijadikan mainan yang bisa dilempar ke sana kemari demi uang, meski saat ini marah pada ayahnya pun percuma."Hanya itu tawarannya. Kalau tidak mau, makanya cepat bayar!"Celia menelan ludahnya. Ia hanya wanita miskin dan utang ayahnya terus berbunga, sementara gajinya masih bulan depan. Jika ia menyerahkan sisa uangnya, lantas sampai akhir bulan dirinya mau makan apa?Ketika memikirkan semua ini, Celia teringat apa yang terjadi siang tadi. Tawaran Ethan cukup menarik. Pria itu juga kaya raya dan jika ia mempertimbang

  • Di Ranjang Cinta Lamaku   Bab 4. Gara-gara Rentenir

    Celia menebak jika pria itu akan membahas kondisi keluarganya atau mungkin malah mengejeknya. Orang-orang yang berasal dari kampusnya dulu selalu bersikap seperti itu saat menemuinya."Maaf, saya harus kembali bekerja," balasnya sembari membalikkan tubuhnya dan ingin keluar.Merasa ditolak, pria itu pun berkata, "Aku bisa ajukan komplain agar kau dipecat dari pekerjaan ini jika menolak bicara denganku."Tidak bisa. Tak boleh terjadi.Celia butuh pekerjaan ini dan bayaran yang ia terima selama bekerja cukup untuk memenuhi biaya hidupnya. Ditambah dengan utang orang tuanya yang terus berbunga membuatnya harus menahan segala gejolak yang ada.Terpaksa menyetujuinya, Celia akhirnya duduk tepat di depan pria itu.Ethan masih melanjutkan makan siangnya tanpa hambatan, pria itu melihat ke arah Celia yang diam tak bicara apa pun."Ambil garpumu. Makanlah. Sekarang waktunya istirahat makan siang," ucapnya, dengan gestur tubuhnya menunjuk ke piring di sisi meja tempat Celia duduk. Pria itu meme

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status