LOGIN"Selamat atas pernikahan Anda, Tuan dan Nyonya Oldheron. Semoga selalu diberkati!"
Ucapan selamat penuh harapan itu membuat Celia lantas menanggapinya dengan senyuman tipis. Pagi ini di kantor catatan sipil, Ethan benar-benar memberikan akta pernikahan padanya dan dalam hitungan menit saja status keduanya sudah berubah. Pria itu terlihat rapi dengan setelan kantornya seperti biasa, sementara Celia dengan gaun putih selutut pemberian Ethan hanya berada di sisinya tanpa banyak bersuara. Menyelesaikan langkah terakhir, mereka berdua keluar dari kantor ini dan berjalan beriringan. "Publikasikan pernikahanku hari ini," ujarnya datar pada sang asisten yang lantas menghubungi pihak media terpercaya. "Baik, Tuan Muda." Semudah itu, rasanya Celia masih tidak percaya dengan apa yang terjadi. Lelaki yang dirinya puja sebenarnya tidak berubah dari segi karakter. Ethan tetaplah orang yang dingin dan tanpa perasaan. Apa pun yang dilakukan pria ini tidak bisa Celia tebak, termasuk mendaftarkan pernikahan secara tiba-tiba. "Kalau kau butuh uang, katakan saja padaku tanpa sungkan." Celia mengangguk paham. Sekali lagi, pernikahan ini ada karena ia butuh uang dan Ethan membutuhkan posisi di perusahaan. "Apa rencanamu setelah ini?" Tak biasanya Ethan ingin tahu urusan seseorang. Namun untuk Celia, kini hal itu telah terkecualikan. "Aku akan menyewa apartemen baru untuk orang tuaku. Apartemen sewa kami dindingnya sudah bocor dan berjamur, tidak cocok untuk kesehatan orang tuaku." Penjelasan Celia lantas diterima oleh Ethan, pria itu berkata, "Aku bisa memberikanmu rumah sebagai bayaran atas pernikahan ini." Celia yang mendengarnya lantas menggeleng, "Tidak perlu. Kau sudah memberikan uang padaku." Sementara pria itu lantas menghentikan langkahnya dan membuat Celia ikut berhenti. "Kau menolakku, Celia?" Pria itu merasa jika Celia terlalu jual mahal, padahal ia sudah berbaik hati menawarkan rumah untuk tinggal. Melihat wajah Ethan yang berubah tidak senang, Celia lantas menggeleng lalu menjelaskan. "Ethan, aku tidak bermaksud. Pertolongan darimu sudah cukup." Pria itu masih memandangnya dengan perasaan yang kembali gusar. Selain Celia yang berubah menjadi canggung terhadapnya, wanita ini juga tidak serakah seperti dulu. "Aku tidak menolongmu. Aku hanya menolong orang tuamu." Kalimat jawaban tersebut rasanya sudah cukup. "Tidak perlu bersikap jual mahal, Celia." Sebenarnya bukan maksud Celia bersikap buruk seperti ini. Wanita itu kembali memikirkan pernikahannya yang kandas dan tidak menyisakan harta sedikitpun padanya. Jelas ia takut jika Ethan memiliki sifat yang manis di awal seperti Rigel. Ia hanya wanita dengan modal tampang dan tubuh, tidak pantas bersikap serakah menginginkan segalanya. Kemudian, Ethan menghela napasnya lagi karena Celia benar-benar hanya diam dan menunduk. Ke mana sikap manja nan berani itu? Semuanya hilang. Tidak ada sisa sikap manja di mata Celia, yang ada hanya tatapan menyedihkan. "Satu peraturan untukmu setelah menikah. Kita harus -" Perkataan Ethan terpotong ketika ponselnya bergetar dan akhirnya Ethan melihat siapa yang menghubunginya kali ini. Sementara Liam yang sedari tadi menyimak obrolan keduanya lantas berkata pada Celia, "Nyonya, mari saya antar ke mobil. Tuan Muda ada keperluan." Menganggukkan kepala, Celia lebih dulu meninggalkan Ethan di tempat mereka berdiri. Melihat Celia yang menjauh, Ethan membuka obrolan di telepon, "Ada apa?" "Kau benar-benar menikah?" Baru beberapa menit ia menyuruh Liam untuk mempublikasikan hubungannya, ternyata asistennya itu memang gesit sehingga kabar pernikahannya langsung dimasukkan ke media pemberitaan. "Ya." "Dengan siapa? Bukanya kau bertengkar dengan wanita bernama Marie itu?" Ethan tak menjawabnya. Pria itu sengaja menyembunyikan nama Celia. Bukan karena malu, ia hanya ingin melindungi identitas istrinya kali ini. Biasanya orang akan langsung mencari tahu, makanya lebih baik Celia tidak menampakkan diri di depan umum dulu. "Sudah dulu. Aku sibuk," ujarnya. "Jawab dulu pertanyaanku!" Daniel berteriak karena tahuu jika Ethan akan menutup sambungan telepon mereka. Detik berikutnya, Ethan benar-benar menyudahi panggilan itu. Beritanya sudah sampai ke Daniel, sebentar lagi neneknya pasti akan menghubunginya. Baru memasukkan ponsel ke saku jasnya, ponselnya bergetar lagi dan nama neneknya terpampang nyata sehingga Ethan tersenyum tipis melihatnya. "Halo, Nek." "Anak nakal! Kenapa tiba-tiba mempublikasikan pernikahan?" "Kami sudah resmi menikah." "Ya Tuhan, kenapa buru-buru sekali? Apa Celia hamil?" Mendengar itu, Ethan menghela napasnya. "Belum." "Benarkah? Lalu kenapa tiba-tiba?" "Bukankah lebih cepat lebih baik? Nenek sendiri yang ingin segera menimang cicit," balas Ethan kini. "Kau ini membuat Nenek jantungan saja. Baiklah kalau begitu, ambil cuti dan segera laksanakan bulan madu!" tukas wanita tua itu tanpa banyak protes. Tak menjawabnya, Ethan menutup teleponnya. Satu hal yang ia pahami adalah keluarganya membutuhkan keturunan. Sementara Ethan sendiri tidak peduli, ada atau tidaknya keturunan, yang terpenting adalah posisinya di perusahaan. Ethan juga tahu bahwa sang nenek membayar orang untuk mengawasinya. Makanya ia perlu bicara dengan Celia untuk masalah ini. *** Malam harinya di kediaman pribadi milik Ethan. Celia memandang kolam renang dari lantai dua tempat kamar pria itu berada. Gaun tidur selutut berbahan satin nampak nyaman di tubuhnya. Wanita itu melamun sebentar dan ia benar-benar tidak ingin pulang untuk sekadar bicara dengan orang tuanya. "Ayah dan Ibu tidak mencariku sama sekali," sedihnya. Masih mencari apartemen sewa untuk ditinggali orang tuanya, Celia belum menemukan bangunan yang pas. Ia berdiri dengan tangan bersedekap. Matanya memandang ke arah air kolam di lantai bawah yang terlihat sangat jernih. Suara pintu terbuka membuatnya menoleh. Muncul sosok Ethan yang memakai bathrobe warna hitam. Pria itu baru saja membersihkan diri. Celia alihkan lagi pandangannya ke depan. Perasaannya kembali canggung, kini kegugupan lebih mendominasi. Dulu ia membayangkan bagaimana rasanya menjadi pasangan Ethan. Kini semuanya terkabul dan status mereka telah berubah menjadi sepasang suami istri. Aroma sabun dan sampo menguar khas, sangat menenangkan namun kali ini Celia justru tegang. Pria itu berjalan ke arah Celia dengan tatapan yang selalu datar. "Sedang apa?" "Tidak sedang apa-apa," balasnya. Hati Celia kembali berdesir. Perasaannya meluap dan sulit dijelaskan. Kemudian, Ethan mendekatkan dirinya dan berusaha memeluk Celia dari belakang. Wanita itu sontak terkejut dan menghindar, membuat Ethan merasa ditolak. Pria tersebut menghela napas dan berkata pelan, "Nenekku membayar orang untuk mengawasi kita setiap malam." Celia berbalik dan menatap Ethan kaget, "Apa?" Pria itu kemudian mendekat dan membuat Celia terpojok di depan dinding kaca kamar ini. Sebuah bisikan berasal dari bibir Ethan. "Jangan menghindar. Ini adalah malam pertama kita." Mata Celia melebar mendengarnya. Sedetik kemudian Ethan mengangkat tubuhnya dalam sekali hentakan dan membawa Celia ke ranjang lalu menindihnya. "Ethan, aku ... " Pria itu mendekatkan bibirnya ke telinga kiri Celia, "Tidak perlu sampai punya anak, tapi setidaknya, kita harus tunjukkan setiap malam jika kita sedang berusaha memberikan keluargaku keturunan.""Selamat atas pernikahan Anda, Tuan dan Nyonya Oldheron. Semoga selalu diberkati!"Ucapan selamat penuh harapan itu membuat Celia lantas menanggapinya dengan senyuman tipis.Pagi ini di kantor catatan sipil, Ethan benar-benar memberikan akta pernikahan padanya dan dalam hitungan menit saja status keduanya sudah berubah.Pria itu terlihat rapi dengan setelan kantornya seperti biasa, sementara Celia dengan gaun putih selutut pemberian Ethan hanya berada di sisinya tanpa banyak bersuara.Menyelesaikan langkah terakhir, mereka berdua keluar dari kantor ini dan berjalan beriringan."Publikasikan pernikahanku hari ini," ujarnya datar pada sang asisten yang lantas menghubungi pihak media terpercaya."Baik, Tuan Muda."Semudah itu, rasanya Celia masih tidak percaya dengan apa yang terjadi.Lelaki yang dirinya puja sebenarnya tidak berubah dari segi karakter.Ethan tetaplah orang yang dingin dan tanpa perasaan. Apa pun yang dilakukan pria ini tidak bisa Celia tebak, termasuk mendaftarkan perni
Setelah pembicaraan itu, kini Celia bersama Ethan tampak memasuki mobil dan menunggu asisten pria itu mengantar keduanya kembali.Memikirkan apa yang dikatakan Gracia membuat Celia menjadi tidak tenang sampai akhirnya ia membuka pembicaraan pada pria di sampingnya."Ada yang ingin kukatakan."Ethan masih biasa saja. Pria itu tetap datar tanpa ekspresi penasaran saat Celia membuka obrolan."Katakan," balas Ethan.Celia menarik napas dalam. Ada banyak hal yang wanita itu pikirkan. Wajah marah Rigel kala itu tiba-tiba menghampirinya dan jujur saja sebenarnya Celia tidak ingin memikirkannya.Perkataan dari nenek Ethan membuatnya takut.Namun Celia tetap berusaha untuk tenang. Ia tidak boleh terlihat rapuh di depan pria ini meskipun keadaannya benar-benar memilukan."Aku tidak bisa memiliki anak denganmu." Ethan tersenyum miring mendengarnya.Pria itu menghela napas dan kemudian membalas, "Kalau kau butuh uang lebih banyak, tak masalah jika kau melahirkan anakku."Celia melotot mendengar
"Tentang apa?"Terdengar jika Gracia tidak sabar mendengarnya, apalagi cucunya itu seperti sengaja membuatnya penasaran."Jangan bertanya soal keluarganya, Nek. Keluarganya sudah lama bangkrut," jelas Ethan kemudian."Bangkrut? Dia dari keluarga perusahaan mana?"Ethan tahu bahwa pertanyaan seperti ini akan tetap neneknya tanyakan. Namun, ia tidak ingin menjawabnya dan jujur saja sudah cukup baginya jika Celia hidup bersamanya."Sudah dulu, aku mau kerja.""Anak nakal, jawab dulu pertanyaan nenekmu!" tukas wanita tua itu dengan nada tegas serta memaksa.Namun Ethan segera mematikan sambungan karena tidak mau menjelaskan. Lagi pula, ia hanya ingin membuat Celia nyaman saat pergi dengannya nanti.***Baru selesai dengan rangkaian perawatan, Celia merenggangkan otot pinggangnya karena terlalu lama duduk.Satu-satunya hal yang amat menyenangkan baginya adalah pergi ke salon dan mempercantik diri. Sudah lama sekali ia tidak melakukannya dan jujur saja menikmati seluruh treatment ini.Dari
Bukti transfer masuk pagi ini, Celia menarik napas dalam dan kemudian ia berdiri seraya mengambil tasnya untuk bekerja sesuai kesehariannya.Baru keluar dari kamar, pemandangan orang tuanya yang masih bertengkar karena kedatangan rentenir semalam lantas membuat Celia menarik napas pelan."Pergilah ke kantor pinjaman itu, Celia. Hanya melayani Pak Bondy dua kali dan setelah itu utang keluarga kita lunas," ucap Julian pada putrinya tanpa belas kasih.Sebenarnya Celia marah mendengarnya.Sebisa mungkin wanita itu bersikap biasa dan berjalan melewati orang tuanya sembari berkata, "Ayah dan Ibu tak perlu khawatir, aku akan membayarnya pagi ini."Mendengar itu, Lidia hanya diam.Tak ada yang menanggapi perkataan Celia kali ini, bahkan Julian mengalihkan pandangnya karena mereka telah berkali-kali mengorbankan putri mereka.Membuka pintu apartemen itu, Celia menutupnya pelan dan wajahnya menatap ke depan.Ethan belum mengabarkan kapan mereka akan bertemu lagi, namun pria itu sudah memberikan
Celia membeku, teringat apa yang dikatakan ayahnya kemarin. Ternyata memang benar jika dirinya akan dijadikan jaminan jika sampai utang itu belum lunas juga.Ia pikir hal itu hanyalah gertakan semata agar dirinya mau menghasilkan uang lebih banyak.Dua rentenir tersebut tertawa-tawa dan menatap Celia dari atas hingga bawah. Hal itu membuat Celia jijik seketika, lagi dan lagi dirinya hanya dipandang sebagai objek nafsu."Bos kalian gila, ya?"Celia marah. Ia seperti hanya dijadikan mainan yang bisa dilempar ke sana kemari demi uang, meski saat ini marah pada ayahnya pun percuma."Hanya itu tawarannya. Kalau tidak mau, makanya cepat bayar!"Celia menelan ludahnya. Ia hanya wanita miskin dan utang ayahnya terus berbunga, sementara gajinya masih bulan depan. Jika ia menyerahkan sisa uangnya, lantas sampai akhir bulan dirinya mau makan apa?Ketika memikirkan semua ini, Celia teringat apa yang terjadi siang tadi. Tawaran Ethan cukup menarik. Pria itu juga kaya raya dan jika ia mempertimbang
Celia menebak jika pria itu akan membahas kondisi keluarganya atau mungkin malah mengejeknya. Orang-orang yang berasal dari kampusnya dulu selalu bersikap seperti itu saat menemuinya."Maaf, saya harus kembali bekerja," balasnya sembari membalikkan tubuhnya dan ingin keluar.Merasa ditolak, pria itu pun berkata, "Aku bisa ajukan komplain agar kau dipecat dari pekerjaan ini jika menolak bicara denganku."Tidak bisa. Tak boleh terjadi.Celia butuh pekerjaan ini dan bayaran yang ia terima selama bekerja cukup untuk memenuhi biaya hidupnya. Ditambah dengan utang orang tuanya yang terus berbunga membuatnya harus menahan segala gejolak yang ada.Terpaksa menyetujuinya, Celia akhirnya duduk tepat di depan pria itu.Ethan masih melanjutkan makan siangnya tanpa hambatan, pria itu melihat ke arah Celia yang diam tak bicara apa pun."Ambil garpumu. Makanlah. Sekarang waktunya istirahat makan siang," ucapnya, dengan gestur tubuhnya menunjuk ke piring di sisi meja tempat Celia duduk. Pria itu meme







