共有

196. Itu Cucu Saya

作者: Keke Chris
last update 公開日: 2026-01-31 10:28:50

“Celia, dimana Arumi?”

Suara Sarah bergetar bingung ketika dia berdiri di ambang pintu kamar putrinya. Napasnya terengah, dadanya naik turun tidak beraturan. Sudah beberapa menit dia memutari rumah dan tak menemukan Arumi dimanapun.

Matanya menyapu seluruh sudut ruangan seolah berharap menemukan cucunya tergeletak di salah satu sudut, terbungkus selimut, tertidur pulas seperti biasa.

Celia tidak menoleh. Dia duduk di tepi ranjang, headset menutup telinga, jari-jarinya sibuk mengetuk layar pon
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター

最新チャプター

  • Di Ranjang Majikanku   277. Aku Takut Ardan Terpukul

    Binar sedang membaca buku di kamar dengan jendela yang terbuka, mengantarkan semilir angin malam yang membawa udara dingin tipis. Dia begitu fokus hingga sedikit tersentak saat pintu terbuka dengan sedikit kasar.Dia mengernyit.Bhaga masuk dengan langkah sedikit cepat, meletakkan tas asal, dan gegas masuk ke kamar mandi. Dia bahkan tak menyapa Binar yang membuat semakin yakin kalau ada sesuatu yang terjadi.Binar menunggu. Selang beberapa menit, Bhaga keluar dengan handuk melilit di pinggang, dan lagi … dia tak menoleh ke Binar tapi langsung masuk ke ruang ganti. Melihat itu, Binar menghela napas pelan dan berdiri, berjalan menghampiri.Tangannya memasangkan kancing piyama, mengantikan tangan Bhaga. "Ada apa?" tanyanya pelan. Dia mengelus dada Bhaga pelan dan memberikan waktu.Bhaga menatap Binar, lalu mengandengnya keluar dari ruang ganti dan mengajak duduk di tepi kasur. Tapi dia tak langsung bicara. Matanya menatap Binar dengan dalam, dan jemarinya mengelus pipi Binar dengan sanga

  • Di Ranjang Majikanku   276. Bagi Ardan, Binar Adalah Ibunya

    “Aku kira dia masih membutuhkan waktu,” ucap Bhaga. Dia melirik ke arah Rudi sekilas, lalu ke amplop coklat yang baru saja diletakkan di mejanya.“Sepertinya Bu Celia sudah tidak sabar.”Bhaga memijat pangkal hidungnya. “Kita harus satu langkah di depannya. Persiapkan segalanya, Rud.”Dia mengangkat kepala dan mengangguk saat Rudi undur diri dari sana.Matahari bahkan baru saja naik, tapi kepalanya sudah seperti kepanasan. Amplop itu masih tergeletak di sana, Bhaga enggan menyentuhnya, terlebih nama firma hukum tertera di pojok kiri atas. Tanpa membukanya, dia sudah bisa mengira apa yang ada di dalam sana.Decakan kecil keluar dari bibir Bhaga. “Wanita licik itu bahkan menggunakan pengacara mahal.” Dalam benaknya, Bhaga terus bertanya, dari mana Celia mendapatkan uang sebanyak itu. Tinggal di apartemen yang lumayan mewah, tak kembali ke rumah, bahkan kini menggunakan jasa pengacara mahal.“Apa sebenarnya rencanamu, Celia?”Tangan Bhaga mengulur, mengambil amplop dan membukanya dengan

  • Di Ranjang Majikanku   275.Celia Keluar

    Langit Jakarta tertutup awan gelap yang mengantung rendah. Angin bertiup kencang, membuat bulu kuduk sedikit merinding karena dingin yang menusuk. Suasana di depan rumah sakit jiwa terlihat mencekam, karena sekitarnya gelap. Lampu-lampu jalan tak bisa menyinari secara maksimal, membuat cahaya hanya berpendar seadanya.Celia berdiri di depan pintu keluar utama. Wajahnya datar tanpa ekspresi, dingin, dan tangannya mencengkeram tas selempang kecil yang dia bawa delapan bulan lalu. Tubuhnya kelihatan kurus, rambutnya diikat asal dan tak ada riasan, membuat tulang pipinya lebih menonjol.Dia menajamkan mata ke luar, tak ada sedikit pun ketakutan. Seolah dirinya menyatu dengan kegelapan di sekitarnya. Seringai tipisnya hadir, sangat tipis, hingga tak ada yang menyadari.Tak ada yang menjemput. Karena keluarganya sudah tak lagi pernah mencarinya sejak dia masuk ke rumah sakit jiwa. Memalukan, kata itu yang menempel padanya sejak itu.Kepalanya menunduk, menatap pakaian sederhana yang menempe

  • Di Ranjang Majikanku   274. Mimpi Buruk

    Entah angin apa yang merasuki Binar malam ini. Dia tiba-tiba begitu berhasrat pada Bhaga padahal pria itu tak melakukan apa pun. Darahnya berdesir saat Bhaga berbisik. Dia bahkan tak mendengarkan dengan baik, tapi napas hangat Bhaga seolah menggelitiki kulitnya, menyusup ke dalam pakaiannya dan membuat puncak dadanya menegang sempurna.Bhaga terkejut.Binar tahu itu, dia merasakan ketegangan tubuh Bhaga yang mendadak kaku. Tapi dia tak berhenti. Bibirnya terus merayu, memanjakan bibir Bhaga dengan lidahnya, dan lumatan itu akhirnya terbalas dengan gairah yang sama.Binar mendongak.Tanga Bhaga melingkar lebih erat, menarik tubuh Binar agar semakin menempel padanya dan tangannya menjelajahi kulit Binar seolah tak ada lagi hari esok. Dia terbakar oleh panas tubuh Binar.Bibir keduanya bergerak semakin liar, basah, dan sedikit membengkak.Tubuh keduanya mulai bergerak. Gerakan yang jelas bukan untuk bersiap tidur. Tapi saling menggoda dan memuaskan. Memancing semakin dalam gairah yang ki

  • Di Ranjang Majikanku   273. Tidak Pernah Sebaik Ini

    Bhaga menuruni tangga dengan santai. Dia baru menyelesaikan sisa pekerjaannya dan sekarang ingin makan malam. Tapi saat tiba di bawah, dia mengernyit.Kenapa sepi sekali? Tanyanya dalam hati. Rasanya tadi Binar sedang bermain bersama Ardan, tapi kemana semua orang sekarang.Kepalanya menoleh, menyisir seluruh ruangan dan benar-benar hening. Dia kemudian melangkah ke meja makan dan duduk di sana, menunggu."Selamat sore, Tuan.""Bi." Bhaga menumpukan tangan di atas meja. "Ardan?""Di kamarnya. Sebentar lagi mungkin akan turun juga." Maryam menjeda. Tangannya meremas ujung apron. "Em, Tuan … Nyonya Nurma, beliau tadi datang dan baru saja pulang."Bhaga menegakkan tubuhnya.“Nona Binar sepertinya masih di depan, mengantar beliau pulang.”Dia mendongak dengan cepat, menatap wajah Maryam yang pias."Mengapa tak ada yang memberitahukanku?!"Maryam menunduk sedikit. “Nyonya Nurma yang melarang, karena kedatangannya memang untuk berbicara dengan Nona Binar.” Dia terdiam sesaat. “Mohon maaf, T

  • Di Ranjang Majikanku   272. Terima Kasih, Papi.

    Hanya tinggal mereka berdua di ruangan itu.Ardan sudah naik ke kamarnya, ditemani oleh Sari. Langkah kecilnya yang semakin tak terdengar, membuat ketegangan semakin meningkat di tengah keheningan itu.Tak ada yang membuka suara lebih dulu. Beberapa kali mereka beradu tatap dengan beragam emosi, tapi keduanya msih tetap diam.Binar duduk di kursi seberang. Tidak terlalu jauh, masih bisa mendengar bahkan bila Nurma berbisik sekalipun. Jarinya sesekali saling meremat di atas meja, dia gugup, tapi bisa menguasai diri.Nurma menatapnya. Mendengus dan matanya menyisir tiap inci dari Binar. “Kamu terlihat lebih terawat.” Nadanya penuh dengan cibiran. “Ya, Baguslah. Setidaknya enggak terlalu memalukan.”Binar menatap balik. Tidak tersenyum berlebihan. Tapi tak ada kalimat pembelaan atas sekedar jawaban basa basi. Dia masih setia menunggu, inti dari apa yang ingin Nurma sampaikan.Nurma menarik napas panjang dan melepaskannya dengan cepat. Seolah membuang segala apa yang dia rasakan sejak tad

  • Di Ranjang Majikanku   25. Menjual Tubuh

    Peringatan Maryam dan tatapan Bhaga yang tak terbaca kemarin mengingatkan Binar pada satu hal, bahwa dia hanya seorang pembantu. Bisa diganti kapan saja. Perasaan "spesial" yang sempat terpancar dari Bhaga sirna sudah, digantikan kenyataan pahit bahwa posisinya di rumah ini sangat rapuh. "Aku haru

    last update最終更新日 : 2026-03-18
  • Di Ranjang Majikanku   27. Siasat Celia

    Celia punya rencana. Dia sengaja mendandani Binar secara khusus malam ini, memolesnya seperti wanita penggoda di bar yang menjerumuskan tamu untuk bayaran servis lebih, sebagai bentuk bayaran kepada Robert.Robert, adalah seorang kenalan dari seorang teman, merupakan pengacara sekaligus pemilik fir

    last update最終更新日 : 2026-03-18
  • Di Ranjang Majikanku   31. Memperbaiki Hubungan Dengan Mudah

    Nurma dengan bingung dan kaget, bergantian memandangi Bhaga, Celia, dan pembantu yang masih berdiri dengan gemetar dan menundukkan kepala di antara mereka.“Apa yang sebenarnya terjadi? Bhaga, jelaskan, Nak!” desak wanita paruh baya itu kepada putranya.Bhaga menarik napas dalam, dan mengeluarkanny

    last update最終更新日 : 2026-03-18
  • Di Ranjang Majikanku   28. Malam Penuh Kepuasan

    “Ah, Tuan—!”Binar memekik tertahan, tubuhnya menegang. Tangannya yang mendorong bahu Bhaga gemetar hebat. Bayangan Robert dan sentuhannya yang kasar masih membekas.“Jangan... saya mohon,” isaknya, menahan Bhaga yang hendak mendekat. Binar meringkuk. Menempel pada sofa dan ketakutan. Bhaga berhe

    last update最終更新日 : 2026-03-18
続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status