Home / Romansa / Di Ranjang Majikanku / 231. Pulang, Sayang!

Share

231. Pulang, Sayang!

Author: Keke Chris
last update publish date: 2026-03-03 22:51:52

Bhaga duduk di meja makan, menyendok bubur ayam yang sudah dingin, tapi matanya tak benar-benar fokus ke piringnya. Saat ini dia bahkan hanya terus memegang sendok di samping piring, tanpa berminat untuk kembali menyendokkan makanan.

Di seberangnya, Binar sibuk dengan Ardan. Wanita itu menyuapi, mengelap mulut kecil itu, tersenyum hangat pada bocah laki-laki yang cerewet. Senyum yang dirindukan Bhaga tiga hari belakangan. Dan lihatlah, begitu matanya bertemu dengan Bhaga, senyum itu lenyap. Waj
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Di Ranjang Majikanku   261. Kita Belum Pernah Coba Di sini

    Kelas selesai lebih cepat. Binar merapikan barang-barangnya dan keluar ruangan, berjalan menyusuri koridor. Sepatu flat-nya nyaris tak bersuara di lantai marmer. Tangannya merapikan tas selempang di bahu, sambil menahan senyuman saat mengingat hasil presentasinya tadi diberikan nilai yang baik.Koridor begitu sepi. Sebagian besar karyawan sedang sibuk di meja masing-masing. Binar ingin ke pantry, mengambil minuman dingin sebelum pulang.Dua wanita berdiri di dekat ruang rapat. Wajah mereka berganti ekspresi dengan cepat saat melihat Binar, hingga terlihat senyum yang terlalu dipaksakan. Salah satunya menyapa, "Bu Binar, apa kabar?"Binar menjawab singkat sambil tersenyum, tapi langkahnya tidak berhenti.Di ujung koridor, sekelompok karyawan sedang mengobrol dengan suara yang pelan. Binar yang melihat itu, melambatkan langkahnya dan mendekat perlahan. Ketika salah seorang melihatnya datang dan memberikan kode, semua langsung salah tingkah. Percakapan itu berhenti mendadak. Wajah-wajah

  • Di Ranjang Majikanku   260. Bungkam Suara Miring

    Suara ketukan di pintu membuat Bhaga menghentikan jemarinya sesaat di atas keyboard, dia belum sempat menjawab, tapi pintu sudah terbuka dan Rudi masuk dengan langkah cepat, lalu meletakkan tablet di meja Bhaga.Tidak bilang apa-apa. Hanya meletakkan dengan pelan dan menyodorkan ke arah Bhaga, lalu mundur selangkah. Tak ada yang terlihat aneh, Rudi dengan tenang menunggu, membuat Bhaga mendongak sebentar untuk memindai Rudi dan mengambil tablet itu dengan sedikit ragu.Bhaga kembali menoleh kepada Rudi, dan dengan acuh melihat halaman yang terbuka di tablet lalu mengernyit. Matanya memicing saat membaca laporan itu satu persatu. Rahangnya mengeras.Rekap monitoring internal. Seolah tak ada yang berbeda, format laporan seperti biasa. Tapi isinya berbeda. Bukan angka penjualan atau kinerja divisi. “Apa ini?!” tanyanya geram.Terlampir deretan nama, divisi, beserta link video juga keterangannya.Bhaga mulai membaca dari atas. Pada baris pertama, ada tangkap layar dari Grup Whatsapp karya

  • Di Ranjang Majikanku   259. Tiga Hari Sakit

    Bhaga benar-benar serius dengan ucapannya. Selama tiga hari berikutnya, keadaan rumah ada di bawah pengawasannya.Hari pertama dia tidak ke kantor. Rudi yang mengurus semua rapat dan komunikasi dengan klien. Bhaga hanya sesekali mengecek email, ponsel, dan membalas pesan-pesan yang benar-benar penting. Selebihnya, dia di kamar. Menemani Binar.Mengecek suhu tubuh, mengganti kompres, dan membangunkannya saat waktu makan juga minum obat tiba. Bersyukur, tak ada yang perlu dikuatirkan, karena Binar perlahan membaik.Beberapa kali Binar setengah sadar saat kompres diganti. Matanya terbuka sebentar, melihat Bhaga di sampingnya, lalu tertidur lagi.Jam delapan Bhaga turun ke dapur. Maryam sedang menyiapkan masakan untuk makan siang."Bi, Binar makan bubur saja dulu. Yang lembut.""Sudah, Tuan. Sudah saya siapkan.""Pisang juga. Kata dokter kalau tidak nafsu makan, pisang bisa jadi pengganti."Maryam mengangguk, tidak bisa menyembunyikan senyumnya. Dia merasakan sendiri bagaimana muramnya ru

  • Di Ranjang Majikanku   258. Ambruk

    Jalanan begitu padat sore ini. Bhaga berulang kali menekan klakson dan menyalip mobil di depannya. Dia meninggalkan sopirnya di kantor, dan pulang dengan terburu-buru.Pikirannya terus berputar pada kalimat Maryam tadi saat meneleponnya. “Nona Binar pingsan, Tuan.”Tak pikir panjang, rapat yang baru berjalan sebentar langsung ditinggalkan. Membiarkan Rudi untuk mengurus sisa pekerjaan yang harus dia selesaikan hari ini.“Astaga, ini kenapa macet banget, sih,” gerutunya sendiri sejak tadi.Hatinya tak tenang. Binar jarang sakit, dan kalau sampai pingsan, itu artinya tubuhnya sudah sampai pada batasnya.“Sayang, kamu kenapa?” Dia mengusak rambutnya beberapa kali, sedang tangan satunya memegang setir dengan kuat. Frustrasi."Tuan, Nona Binar pingsan di dapur. Saya sudah memindahkan ke sofa. Tapi tidak mau dibawa ke dokter. Katanya cuma pusing."Dia menghela napas kasar. Membayangkan betapa keras kepalanya Binar bila sudah memutuskan.Di dalam mobil, dia mencoba menelepon Binar. Tidak dia

  • Di Ranjang Majikanku   257. Kelelahan

    Sudah sejak bangun tidur, kepala Binar rasanya berdenyut. Pusing hebat, tapi dia tak bilang pada siapa-siapa dan tetap melakoni rutinitasnya meski sesekali berhenti sejenak untuk meredakan nyeri yang kuat.Ini bukan pertama kalinya. Beberapa hari belakangan sejak jadwalnya mulai padat, dia tak bisa benar-benar istirahat. Dia bahkan bangun tidur dengan rasa pegal yang masih merayapi tubuhnya. Tidurnya kurang, makan tidak teratur, dan tak bisa lagi sekedar duduk santai untuk menjeda napas.Kopi tidak lagi membantu. Hanya menyisakan tambahan perih di perutnya.Dia bahkan masih menguap saat mengantarArdan ke mobil dan bersiap untuk kelas pertama pagi itu.Kesehariannya sudah berjalan dengan ritme yang sudah di luar kepala. Terlebih Ardan yang tiba-tiba rewel karena stegosaurusnya ketinggalan, hingga Binar harus mampir ke sekolahan anak itu untuk mengantar mainannya.Di dalam mobil, kepalanya masih berdenyut, tapi dia hanya memasang wajah datar. Tersenyum saat bertemu Ardan dan tetap bersi

  • Di Ranjang Majikanku   256. Terima Kasih, Sayang.

    Malam itu, setelah Ardan tidur, mereka duduk di teras. Bhaga memegang tangan Binar."Aku pasti tidak akan bisa jawab pertanyaan Ardan."Binar menoleh. "Kamu dengar?""Aku dengar." Bhaga menggenggam tangannya lebih erat. "Aku tidak akan bisa jawab sejelas kamu."Binar diam." Aku... aku tidak akan bisa melakukan itu."Binar memegang balik tangannya. "Kamu bisa. Hanya butuh sedikit kesabaran."Bhaga tersenyum getir. "Mungkin."Mereka diam sebentar. Angin malam berhembus, dingin."Aku sering marah pada Celia," kata Bhaga akhirnya. "Bahkan sampai sekarang. Marah karena dia meninggalkan Ardan. Marah karena dia menyakitimu. Marah karena dia... membuat semua ini jadi begitu rumit."Tak ada sahutan."Tapi kamu bilang dia sakit. Bukan jahat." Bhaga menatap langit. "Aku tidak pernah memikirkannya seperti itu. Aku selalu melihatnya sebagai pilihan.""Kadang sakit juga pilihan."Bhaga menoleh."Tapi bukan pilihan yang dia buat dengan sadar." Binar menatapnya. "Aku tidak membenarkan apa yang Celia

  • Di Ranjang Majikanku   99. Sentuh Aku Di Sini

    Binar mengangguk dan mulai menggambar pola abstrak di dada Bhaga dengan jarinya. Bhaga menangkap jari itu dan berbisik. “Menungginglah.” Binar menuruti perkataan Bhaga dan terkesiap saat Bhaga mengusap tubuh bagian belakangnya dengan sedikit meremas.Bhaga kembali menarik pinggangnya dan tangan

    last updateLast Updated : 2026-03-24
  • Di Ranjang Majikanku   94. Gerak-Gerik Mencurigakan

    Binar semakin tertekan. Setiap pagi dia akan mual muntah dan kehilangan tenaga. Lemas sampai siang, sedangkan otaknya masih harus terus dipakai untuk berfikir dari mana lagi uang untuk membiayai ayahnya. Uang tabungannya sudah terkuras habis, sedangkan uang dari Bhaga untuk keperluan hariannya tak

    last updateLast Updated : 2026-03-24
  • Di Ranjang Majikanku   97. Tidak Apa-Apa

    Binar terbangun dengan perasaan mual dan pusing. Beberapa hari terakhir, tubuhnya terasa tidak enak badan. Dia mencoba bangun dari tempat tidur, tapi kepalanya terasa berputar. Dengan lemah, dia kembali merebahkan diri. "Kak Bin?" suara kecil Ardan terdengar dari balik pintu yang terbuka. Bocah it

    last updateLast Updated : 2026-03-24
  • Di Ranjang Majikanku   98. Memanfaatkan Perempuan Lugu

    Bhaga baru saja sampai di perusahaan ketika Rudi menyusulnya ke ruangan. “Kenapa kau tergopoh-gopoh begitu?” tanya Bhaga yang merasa heran karena Rudi biasanya kelewat tenang. “Saya hanya takut terlambat.” Bhaga menghentikan aktivitasnya dan menoleh pada Rudi. “Maksudnya?” “Tentang Pak Raja,

    last updateLast Updated : 2026-03-24
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status