Startseite / Romansa / Di Ranjang Majikanku / 28. Malam Penuh Kepuasan

Teilen

28. Malam Penuh Kepuasan

last update Veröffentlichungsdatum: 10.10.2025 20:51:49

“Ah, Tuan—!”

Binar memekik tertahan, tubuhnya menegang. Tangannya yang mendorong bahu Bhaga gemetar hebat. Bayangan Robert dan sentuhannya yang kasar masih membekas.

“Jangan... saya mohon,” isaknya, menahan Bhaga yang hendak mendekat.

Binar meringkuk. Menempel pada sofa dan ketakutan.

Bhaga berhenti, wajahnya berkerut penuh keprihatinan. "Binar, tenang. Kau bersamaku sekarang. Kau aman," katanya dengan suara yang menenangkan.

Dia tidak memaksa, hanya duduk di sampingnya, memberi ruang agar Bi
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel
Kommentare (2)
goodnovel comment avatar
Dewi Astuti
wah aku suka banget critanya, bgus
goodnovel comment avatar
Gadis Basah
alur cerita nya bagus gak ngebosenin
ALLE KOMMENTARE ANZEIGEN

Aktuellstes Kapitel

  • Di Ranjang Majikanku   345. Bhaga Tersadarkan

    Bhaga terus memikirkan Ardan yang baru enam tahun. Butuh lima belas tahun lagi untuk sampai di usia anaknya Hendra. Lima belas tahun yang isinya pasti penuh cemas, melihat anaknya tumbuh besar, melewati masa remaja yang penuh hal-hal yang tidak bisa dia kendalikan, kemudian menjadi dewasa dan mungkin pergi ke kota lain atau negara lain seperti anak Hendra.Lima belas tahun yang terasa panjang, tapi juga bisa terasa singkat jika dia terus menjalaninya dengan cara yang sama seperti sekarang. Bersama.Helaan napas berat, Bhaga hembuskan. Berusaha melegakan dada yang penuh sesak.Dia melirik sekilas ke arah Rudi "Kirim santunan dari saya pribadi ke Pak Hendra sekarang. Jangan tunggu besok," perintah Bhaga, suaranya agak berat. "Pastikan semua kerjaannya minggu ini dialihkan ke yang lain. Jangan ada yang ganggu soal urusan kantor.""Baik, Pak. Segera saya urus." Rudi mengangguk, mencatat di tabletnya dengan cepat, lalu keluar dari ruangan. Pintu ditutup pelan.Bhaga masih duduk di kursiny

  • Di Ranjang Majikanku   344. Tak Ingin Menyesal

    Binar tidak menjawab dengan kata-kata. Dia cuma tersenyum tipis, berdiri dari kursinya, dan berjalan duluan masuk ke dalam rumah tanpa menoleh lagi. Bibirnya tersenyum puas saat mendengar langkah kaki di belakangnya.Iya. Bhaga langsung berdiri menyusul langkah Binar, menutup pintu kaca teras belakang dengan cepat, dan menguncinya.Begitu sampai di kamar, belum sempat lampu utama dimatikan, Bhaga sudah menarik pinggang Binar dari belakang. Tangannya melingkar, menarik tubuh Binar menempel ke dadanya.Binar berbalik dan langsung mengalungkan lengannya ke leher Bhaga, menarik pria itu mendekat. Tidak ada kata-kata, hanya napas yang mulai memburu.Malam yang tadinya berat karena urusan Ardan mendadak berubah haluan. Tidak ada kata-kata manis atau romantis. Gerakan mereka buru-buru, agak kasar, dan berantakan—didorong oleh rasa stres dan lelah yang menumpuk seharian. Bhaga mencium Binar dalam, sementara tangan Binar mulai menarik baju Bhaga hingga beberapa kancingnya terlepas begitu saja,

  • Di Ranjang Majikanku   343. Mau Yang Lain

    Tak menyangka kalau putranya akan mengalami pembulian, pikiran Bhaga terus berisik, membuatnya tak tenang. Dia duduk sendirian di taman, berusaha untuk mengurai isi pikirannya, sebelum akhirnya Binar menyusul dan duduk di sebelahnya.Bhaga hanya melirik sekilas dan tetap diam menatap ke depan."Bhaga." Binar menunggu sampai Bhaga menatapnya. Di bawah lampu taman yang kuning redup, mata mereka bertemu. "Kamu enggak bisa mengontrol apa yang dibicarakan orang di rumah mereka masing-masing. Mereka bisa bicara apa saja. Bahkan gosip sekalipun dan tak peduli kalau anak-anaknya akan mendengar."Bhaga tidak menyela.Tangan Binar mengelus sekilas lengan Bhaga. "Yang bisa kamu lakukan adalah memastikan Ardan punya cukup bekal buat menghadapi itu." Binar tersenyum kecil. "Bukan melindungi dia dari semua kata-kata jahat. Tapi membuat dia cukup kuat untuk tidak hancur mendengarnya."Bhaga menatapnya lekat-lekat. “Aku akan membuat dia menjadi pribadi yang tak mudah goyah.”Binar mengangguk, "Malam

  • Di Ranjang Majikanku   342. Papa Minta Maaf

    "Pah." Suara Ardan kecil, tapi cukup jelas di ruang makan yang tenangl.Bhaga mengangkat wajahnya. Memperhatikan Ardan yang tidak terlihat seperti biasanya. Anak itu duduk terlalu tegak di kursinya, seperti sedang mempersiapkan diri untuk sesuatu yang berat."Ardan mau cerita sesuatu,” cicit ArdanSendok di tangan Bhaga diletakkan pelan. Pria itu agak memiringkan tubuhnya agar bisa menatap putranya lebih lekat."Cerita aja," kata Bhaga.Ardan mulai bicara. "Jadi gini, Pah. Di sekolah, tuh, lagi ada tugas kelompok, Ibu Guru suruh pilih kelompok sendiri, tapi enggak ada yang mau pilih Ardan. Terus Ardan disuruh Bu Guru buat sekelompok ma Bagas, tapi Keanu bilang ke Rafi—" Dia berhenti, mengernyit. "Kalau mama itu gila makanya aku aneh, akhirnya Bagas dan teman lainnya jauhin aku."Kalimat itu keluar dari mulut Ardan seperti fakta, bukan seperti luka. Dia tidak menangis saat mengatakannya dengan jelas. Bhaga mendengarkan seluruh cerita itu tanpa memotong sekali pun.Ardan kembali bercer

  • Di Ranjang Majikanku   341. Ardan Dimusuhi

    Ketika Ardan pulang sambil merengut dan melakukan hal yang tak seperti biasanya, Binar tahu ada yang tidak beres.Ardan melangkah masuk sambil diam. Meletakkan tas yang biasanya dia lempar dengan pelan dan melepaskan sepatu dengan rapi di dekat pintu. Langkahnya gontai saat masuk ke ruang keluarga, tapi kemudian menengok ke kanan dan kiri, lalu berbalik ke ruang makan saat melihat ada Binar di sana.Binar memperhatikan setiap gerak gerik Ardan dari dapur dan tersenyum saat melihat anak itu menarik kursi meja makan, duduk di sana sambil menelungkup di atas meja, tapi wajahnya menghadap ke Binar.Tangan Binar dengan cekatan dan sedikit cepat langsung meneruskan memotong buah-buahan. Dia ingin segera menemani Ardan. Irisan apel ditata di piring bersama potongan melon dan semangka, lalu Binar membawa piring itu ke meja makan.Dia duduk di sebelah Ardan dan menggeser piring camilan buah ke tengah, hingga berada di antara mereka berdua."Makan dulu, Sayang."Ardan mengambil sepotong melon.

  • Di Ranjang Majikanku   340. Cerita Ardan

    Ardan bangun dengan rencana yang sudah dia susun dari sebelum tidur. Langkah kaki kecilnya terdengar cepat saat menuruni tangga, dan langsung menghilang di ruang keluarga.Maryam yang sudah berada di dapur sejak subuh mendengar langkah itu dari dapur dan mengintip ke depan. Dahinya mengernyit kecil, sedikit heran saat melihat tuan kecilnya tak minta sarapan atau ditemani main, justru langsung bermain sendiri.Dinosaurus kesukaannya sudah berderet rapi di atas karpet dan anak itu sudah asyik dengan dunianya sendiri. Di atas karpet tebal, tempat favoritnya bermain, dengan bantal-bantal yang dia biarkan berserakan seolah terkena amukan dinosaurus.Tangannya sibuk menggerakkan dinosaurus satu pwr satu bergantian dengan bibir yang serius mengolah cerita. Raut wajahnya berubah sesuai dengan adegan yang sedang dia mainkan.Bhaga dan Binar turun satu jam kemudian.Langkah keduanya masih berat, masih dengan piyama dan rambut yang belum disisir, wajah mereka masih sedikit sayu kelelahan. Begitu

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status