Home / Romansa / Di Ranjang Majikanku / 28. Malam Penuh Kepuasan

Share

28. Malam Penuh Kepuasan

Author: Keke Chris
last update publish date: 2025-10-10 20:51:49

“Ah, Tuan—!”

Binar memekik tertahan, tubuhnya menegang. Tangannya yang mendorong bahu Bhaga gemetar hebat. Bayangan Robert dan sentuhannya yang kasar masih membekas.

“Jangan... saya mohon,” isaknya, menahan Bhaga yang hendak mendekat.

Binar meringkuk. Menempel pada sofa dan ketakutan.

Bhaga berhenti, wajahnya berkerut penuh keprihatinan. "Binar, tenang. Kau bersamaku sekarang. Kau aman," katanya dengan suara yang menenangkan.

Dia tidak memaksa, hanya duduk di sampingnya, memberi ruang agar Bi
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Gadis Basah
alur cerita nya bagus gak ngebosenin
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Di Ranjang Majikanku   340. Cerita Ardan

    Ardan bangun dengan rencana yang sudah dia susun dari sebelum tidur. Langkah kaki kecilnya terdengar cepat saat menuruni tangga, dan langsung menghilang di ruang keluarga.Maryam yang sudah berada di dapur sejak subuh mendengar langkah itu dari dapur dan mengintip ke depan. Dahinya mengernyit kecil, sedikit heran saat melihat tuan kecilnya tak minta sarapan atau ditemani main, justru langsung bermain sendiri.Dinosaurus kesukaannya sudah berderet rapi di atas karpet dan anak itu sudah asyik dengan dunianya sendiri. Di atas karpet tebal, tempat favoritnya bermain, dengan bantal-bantal yang dia biarkan berserakan seolah terkena amukan dinosaurus.Tangannya sibuk menggerakkan dinosaurus satu pwr satu bergantian dengan bibir yang serius mengolah cerita. Raut wajahnya berubah sesuai dengan adegan yang sedang dia mainkan.Bhaga dan Binar turun satu jam kemudian.Langkah keduanya masih berat, masih dengan piyama dan rambut yang belum disisir, wajah mereka masih sedikit sayu kelelahan. Begitu

  • Di Ranjang Majikanku   339. Aku Milikmu.

    Suara hantaman itu terdengar nyaring di dalam kamar. Kulit Binar langsung terasa panas menyengat, membuat otot-otot tubuhnya menegang spontan. Napasnya tercekat di tenggorokan."Masih dingin?" tanya Bhaga datar.Belum sempat Binar merespons, tamparan kedua mendarat di sisi kiri, jauh lebih keras. Tubuh Binar tersentak ke depan. Jari-jarinya mencengkeram kain sofa semakin kuat. Lengkungan punggungnya menegang kaku, dan rasa sakit itu justru memicu kedutan instan di rahimnya yang kembali mulai basah.Binar melenguh pelan, napasnya memburu.Bhaga merapat, menekan kejantanannya ke bokong Binar. Dia menjambak rambut belakang Binar, menarik kepalanya ke atas hingga posisi tubuh wanita itu terkunci sepenuhnya."Diam," bisik Bhaga. Napas panasnya menerpa tengkuk Binar yang mulai berkeringat.Bhaga memposisikan dirinya di belakang celah Binar. Tanpa ancang-ancang, dia mendorong tubuhnya masuk dengan satu sentakan kuat, langsung menghantam bagian dalam."Ahhh!" Binar memekik, matanya memutar ke

  • Di Ranjang Majikanku   338. Merangkak Ke Arahku

    Binar tertegun, bingung dengan perubahan sikap Bhaga yang tiba-tiba.Bhaga mundur dan duduk di sofa. Dia menyilangkan kaki, menatap Binar sambil mengangkat dagunya."Kamu sudah mulai kurang ajar ya, berani memerintah dan mengaturku. Kamu rupanya mulai lupa tempatmu yang sebenarnya." Bhaga mengendurkan simpul dasinya, lalu menariknya lepas dari kerah. "Kalau kamu mau aku melakukan semua maumu barusan, maka kamu harus turuti semua perintahku saat ini."Lutut Binar seketika lemas. Tubuhnya merosot, jatuh berlutut di atas karpet."Merangkak ke arahku."Binar mengerjap, matanya membelalak kaget. “Apa?!” serunya, suara campur antara terkejut dan malu.Bhaga menyeringai kecil, sudut bibirnya terangkat nakal namun dingin. “Kamu dengar kataku, Sayang. Jangan buat aku ulangi.”Binar menuruti perintah itu.Dia menggigit bibir bawahnya. Wajahnya memerah, tapi ada api hasrat yang menyala di matanya. Dengan perlahan, dia menurunkan tubuh ke lantai, berlutut di atas karpet ruang kerja. Tangan keciln

  • Di Ranjang Majikanku   337. Sekarang Giliranmu

    Binar terperangah, tak percaya akan mendengar kalimat itu keluar dari mulut Bhaga. Bagaimana seorang yang memiliki kepercayaan diri tinggi, berkuasa, justru merasa sangat tak berharga. Padahal semua orang mengelukan dia.“Bhaga, apa maksudmu?’Bhaga yang sempat terdiam karena pikirannya sendiri, sedikit tersentak dan melirik Binar. “Aku hanya mengungkapkan apa yang ada di pikiranku.”“Tapi ini semua bukan salahmu.”“Aku tahu ini bukan salahku, tapi aku tetap gagal. Tak ada seorang pun yang bisa kupercaya.”Binar melongo, membelalak tak percaya. “Termasuk aku?”Pria itu berdeham kecil. “Bukan itu maksudku.”Mata Binar memperhatikan Bhaga yang sejak tadi terlihat tak tenang. Tak ingin memperpanjang masalah yang lain, dia kembali membahas Ardan.“Oke. Aku tak akan bahas itu sekarang, karena aku sangat mengkuatirkan Ardan.”“Dia akan baik-baik saja. Tenanglah. Jangan berlebihan.”"Tapi apa kamu mau Ardan tumbuh jadi orang yang enggak tahu cara minta tolong? Yang enggak bisa percaya pada o

  • Di Ranjang Majikanku   336. Kekuatiran Binar

    Melihat tak ada perubahan pada perilaku Bhaga, maka Binar memutuskan untuk mengajaknya bicara lagi. Dia kuatir bila dibiarkan akan semakin jauh. Hari itu, seharian hujan turun tidak begitu deras, tapi juga tidak kunjung berhenti. Rintiknya membuat jendela-jendela rumah sedikit berkabut dan suara di luar menjadi teredam. Membuat semua orang enggan keluar dan menghabiskan waktu di dalam rumah.Bila biasanya Bhaga dan Ardan akan sangat menunggu dan menyukai momen ini, tapi tidak dengan hari ini.Ardan sudah tidur sejak tadi, setelah Binar bacakan dua buku cerita karena yang pertama belum cukup untuk membuatnya mengantuk. Malam ini anak itu tak banyak meminta, tapi terus memeluk Binar hingga akhirnya tertidur. Binar mencium kening Ardan, merapikan selimutnya, dan keluar dari kamar setelah memastikan semua telah pada tempatnya. Sedangkan Bhaga, tak usah ditanya. Sudah pasti ada di ruang kerja, entah mengerjakan sesuatu atau mengurung diri, karena pria itu betah sekali menghabiskan waktu

  • Di Ranjang Majikanku   335. Trauma Dan Ardan

    Pagi itu di meja makan, Binar duduk dengan posisi yang tidak nyaman. Berulang kali dia merubah posisi duduknya dengan sangat perlahan sambil meringis dalam hati.Dia berusaha duduk tegak seperti biasa, tapi punggungnya bahkan tidak bisa menyentuh sandaran kursi dengan bahu yang rileks. Tangannya di atas meja, tapi setiap kali dia bergerak, ada saja bagian tubuhnya yang terasa perih.Binar tidak bisa protes, karena toh dia juga menikmatinya. Ada kepuasan di sana, di sela-sela rasa sakit yang membuatnya merasa malu jika harus mengakuinya. Tapi malam tadi berbeda. Bhaga semalam bukan seperti Bhaga yang biasanya.Biasanya, Bhaga sangat pengertian. Dia membaca bahasa tubuh Binar, tahu kapan harus melambat, mengencang, atau berhenti. Semalam tidak. Justru sangat kasar. Tangannya di mana-mana dengan cara yang meninggalkan bekas karena terlalu kuat, dalam, dan penuh emosi. Ada kemarahan di setiap sentuhan. Kekecewaan di setiap gerakan.Binar membiarkannya. Tidak melawan atau memintanya berhen

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status