LOGINGudang penyimpanan padi itu jarang sekali disambangi orang setelah musim panen usai. Dinding kayunya lembap, atap sengnya menyimpan hawa panas yang bercampur dengan bau gabah, karung beras, dan terpal biru yang sudah bertahun-tahun dipakai menutup tumpukan padi.Bu Marni mendorong pintunya sambil mengomel pelan. Sejak tadi dia mencari kain lap yang tak pernah lepas dari badannya, tapi seharian ini tak ditemukan dimana-mana hingga dia ingat kalau meninggalkan di gudang saat membersihkan terakhir kali.Namun, baru dua langkah masuk, dia mengernyit. Kakinya berhenti dan matanya memicing memastikan.Di sela-sela karung beras, ada tubuh kecil yang meringkuk memeluk kedua lututnya. Tas bergambar dinosaurus tergeletak begitu saja tak jauh dari kakinya.Bajunya kini penuh bercak tanah. Kaus kakinya sudah turun sebelah. Betis mungilnya dipenuhi bentol merah bekas gigitan nyamuk."Ya Allah ..." Bu Marni spontan menutup mulut saat mengenali bocah itu. "Ardan?"Anak itu mengangkat wajah perlahan.
"Kalau nanti Papa sama Bunda Binar punya bayi, Ardan sama siapa?"Pertanyaan polos itu membuat dua ibu yang sedang menyiapkan bunga melati saling berpandangan."Ya tetap sama Papa dan Bunda," jawab salah seorang tetangga sambil tersenyum."Nanti kalau sudah punya adik, Ardan harus jadi kakak yang baik.""Iya, harus mengalah sama adik."Ardan yang sejak tadi berdiri sambil memeluk dinosaurus kesayangannya hanya mengangguk pelan. Wajah cerianya perlahan berubah muram. Dia melangkah menjauh tanpa disadari siapa pun.Kalimat-kalimat itu terus berputar di kepalanya. Harus mengalah ... punya adik ... jadi kakak.Sesampainya di kamar, Ardan menutup pintu perlahan. Dia duduk di tepi ranjang sambil menerawang jauh, mengingat kembali kebersamaan mereka selama ini.Jari kecilnya meremas kaki dinosaurus, sambil membayangkan bila dirinya sudah punya adik. “Papa dan Bunda nanti sibuk sama adik,” gumamnya.Bibir mungilnya bergetar. "Aku akan sendirian."Detik berikutnya, dia meloncat turun dari ranj
Suara Nuri memenuhi ruang tamu. Tangannya memegang selembar kain batik sogan yang baru saja dibentangkan di atas meja. “Kebaya memang tetap nomor satu.”Nurma tidak mau kalah. Dia menggeser sebuah buku katalog berisi rancangan gaun pengantin dari desainer ternama. "Kalau resepsi malam, gaun lebih elegan tidak ada tandingannya."Nuri menggeleng pelan. "Pengantin Jawa ya tetap kebaya. Kebaya pengantin juga paling bagus tiada tara.""Resepsinya modern, Bu Nuri.""Tapi akadnya itu mengikuti adat, Bu Nurma""Resepsinya itu konsepnya pesta malam."Binar yang duduk di tengah hanya mampu mengembuskan napas. Sejak matahari terbit dia sudah diminta berganti-ganti busana. Mulai dari kebaya beludru, kebaya kutu baru, gaun putih, sampai gaun berhiaskan payet yang berkilau.Dan meski berapa hari lalu sudah ada kesepakatan antar mereka, tapi perdebatan tak pernah benar-benar berhenti."Mi..."Nurma langsung menoleh. "Iya?""Aku pusing."Nuri tersenyum iba. "Istirahat dulu, Nduk."Belum sempat Binar
“Pokoknya pesta pernikahannya harus megah!” Nurma meletakkan cangkir tehnya dengan wajah serius, tapi semua orang tahu dia hanya sedang bersemangat.Nuri yang menuang sayur lodeh menoleh. “Megah boleh, Bu. Asal adat tetap ada.”“Adat tetap ada.”“Tapi jangan sampai tamunya lebih sibuk foto daripada memperhatikan jalannya acara,” kata Djati.Makan malam di rumah sederhana itu memang selalu menyenangkan. Meja panjang dipenuhi lodeh, ayam ingkung, urap, tempe bacem, ikan wader goreng, dan sambal terasi. Semua hasil panen warga.Melihat semua masih asyik diskusi, Nuri akhirnya memilih ikut bergabung di ruang keluarga.Nurma mulai membayangkan pelaminan. “Bunga putih, lampu kristal, langit-langit penuh rangkaian bunga.”Nuri mengangguk-angguk.“Lalu tamunya sekitar seribu orang,” lanjut Nurma masih sambil membayangkan.Tangan Nuri berhenti menata meja di ruang keluarga setelah meletakan kopi. Dia mengernyit sambil menoleh pada Nurma. “Seribu?”Nurma meliriknya sekilas lalu mengangguk antus
Binar mendekat, dadanya hampir menyentuh dada Bhaga. Udara kopi dingin naik di antara mereka, tapi tidak ada yang peduli. Jarak semakin tipis, dan detak jantung Binar semakin cepat."Kau tahu apa yang kau lakukan?" bisik Bhaga, suaranya serak. "Kau sengaja, hm.""Memang." Binar mengangkat dagu, menantang. "Kau mau apa?"Kalimat itu adalah pemicunya.Bhaga meletakkan gelas kopi di atas meja terdekat, lalu dalam satu gerakan cepat, tangan kirinya meraih pinggang Binar, menariknya mendekat, dan tangan satunya menangkup wajah Binar. "Ini," katanya di sela ciuman, "adalah yang bisa kulakukan."Mereka berciuman di ruang tamu yang sunyi. Dengan lidah yang saling menggoda dan merayu sampai akhirnya Bhaga tak tahan lagi dan menarik Binar keluar rumah.“Masuk. Cepat!”Pintu mobil ditutup kasar. Mesin mobil menyala dan Bhaga menyetir dengan terburu-buru menuju hotel terdekat.Binar duduk di kursi penumpang dengan pipi yang masih merona, sesekali melirik Bhaga yang memegang setir dengan satu tang
Semburan lumpur membuat semua orang berlari menyingkir. Dengan sigap Bhaga menghentikan laju mesin dan menit berikutnya, mesin combi berhenti meraung. Lumpur yang begitu banyak hampir menutupi seluruh badan Ardan, dan itu membuat bocah itu membeku beberapa saat. Semua orang menunggu reaksinya.Ardan justru tertawa keras. “Hore ... aku jadi petani.”Bhaga menepuk dahinya. “Maaf, Nak. Papa masih belum lancar. ““Enggak apa-apa, Pah.” Ardan mengangkat kedua tangannya. “Sekali lagi, Pah. Lumpur yang kayak tadi.”“Jangan. Badanmu akan sakit, Ardan.” Seru Binar sambil kuatir.Pak Ridwan sampai harus memegang topinya karena tertawa terlalu keras. “Belum pernah aku lihat anak minta disiram lumpur.”“Lumpurnya dingin,” jawab Ardan.Suasana sawah berubah semakin ramai.Bhaga menggeleng menolak permintaan Itu. Dia kembali melanjutkan pekerjaannya. Kali ini dia berhasil menyelesaikan satu lintasan tanpa kesalahan sedikit pun. Suara pujian dari warga terdengar membuat bibirnya berkedut karena men







