Beranda / Romansa / Di Ranjang Majikanku / 64. Mulai Nakal Kamu Ya

Share

64. Mulai Nakal Kamu Ya

Penulis: Keke Chris
last update Terakhir Diperbarui: 2025-11-07 09:04:02

Beberapa pelayan sibuk wara-wiri dari paviliun, rumah utama dan halaman depan. Mereka membereskan paviliun, mengambil sebagian barang Bhaga dan memasukkannya ke dalam mobil angkut.

Celia melihat semua itu dengan penasaran melalui jendela di kamarnya.

“Apa yang semua orang lakukan di bawah sana?”

Seorang pelayan yang sedang mengantarkan sarapan terlihat bingung. Dia takut untuk menjawab. “Sa-saya kurang tahu, Nyonya.”

“Jangan berani bohong padaku,” geram Celia, “atau kau akan tahu akibatnya!”

“I-Itu, kabarnya Nona Binar dibelikan rumah oleh Tuan Bhaga,” jawabnya terbata.

Celia mendengus. “Oh, jadi mereka pindahan rumah?”

Pandangannya melayang jauh dengan senyum yang merekah. “Justru lebih baik. Aku jadi lebih leluasa menerornya,” gumamnya tanpa sadar.

Pelayan yang mendengar itu segera bangkit dan pamit keluar, tapi langkahnya tertahan.

“Tunggu.”

“Iya, Nyonya. Ada lagi yang kurang?”

“Perawat itu.” Dia mengedikkan dagunya. “Dia ikut, kan?”

Pelayan itu menggeleng. “Tidak, Nyo
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (1)
goodnovel comment avatar
C SweetScar
setuju sih bhaga menemukan wanita yang baik . baik tapi tidak tangguh dan tidak pintar . buat apa tidak cocok untuk seorang penguasa kejam
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Di Ranjang Majikanku   148. Sentuhan Bagai Sengatan

    "Tapi… tapi kalian tertawa…" bantah Nurma, suaranya sudah tidak seyakin tadi.“Lalu kenapa? Ya, kami tertawa,” Djati mendesah sambil menggelengkan kepala seolah tuduhan Nurma tak masuk akal. “Karena bercerita tentang Ardan, tentang masa kecil Bhaga yang nakal! Dia membuatku lupa sejenak bahwa aku ini sedang sakit!”Nurma terdiam, tapi tatapannya masih tajam. Dan ada sedikit luka di ekspresinya.“Kau ini suamiku… tapi lebih senang bersama perempuan ini!” serunya, sebelum pergi dengan kesal dan menghentakkan kaki.Djati hanya bisa menghela napas, sedangkan Binar terdiam dengan rambut berantakan dan mata berkaca-kaca.**Binar duduk di lantai ruang tamu, bersandar pada kaki sofa, sambil memeluk lututnya. Dia menangis terisak.Rambutnya masih berantakan dengan beberapa helai menempel di pipinya yang basah, tapi dia tak peduli.Pintu depan terbuka dengan cepat. Bhaga yang baru saja tiba setelah mendapatkan telepon dari Djati, tiba-tiba berdiri kaku di ambang pintu. Matanya terbelalak saat

  • Di Ranjang Majikanku   147. Permainan Wanita Licik

    Tiga hari berlalu sejak Binar pulang dari rumah sakit. Atas perintah Bhaga, dua orang pelayan ditugaskan membantu Binar di paviliun untuk sementara waktu dan Nurma hanya bisa menahan kekesalannya.Jika Bhaga sudah turun tangan, dia tak ingin mengganggu gugat hal itu karena hanya akan membuat dirinya bertengkar lagi dengan Bhaga dan dia tak mau itu.Lagi pula, ucapan Binar di rumah sakit masih terus bergema di telinganya dan itu membuatnya tak bisa berhenti memikirkan itu.Dia menggelengkan kepalanya dengan kuat."Tidak," bisiknya pada diri sendiri. "Aku tidak boleh luluh dengan begitu mudah. Itu semua hanya taktiknya. Permainan wanita licik yang tahu cara mengambil hati."Dari jendela kamarnya yang menghadap ke taman samping rumah, dia melihat Djati sedang duduk di bangku taman, ditemani Binar yang membawakan selimut untuk kakinya.Mereka sedang berbincang. Awalnya Nurma hanya mengamati dengan tatapan sinis, namun seiring menit berjalan, ekspresi di wajah Djati mulai berubah. Dia ters

  • Di Ranjang Majikanku   146. Pintar Berkata Manis

    Embun pagi masih menempel pada dedaunan di taman saat suara ketukan terdengar di pintu paviliun. Binar sempat terkejut saat pagi-pagi sekali sudah ada yang datang.Dia menoleh, Bhaga masih tertidur lelap dengan tangan yang melingkar di perutnya.Dengan sangat hati-hati, dia memindahkan tangan Bhaga dan mengambil baju tidurnya dari lantai, mengenakannya dengan cepat, dan merapikan rambut sambil berjalan ke pintu depan.Ketika pintu terbuka, Binar tak bisa menghilangkan kernyitan di keningnya. Bagaimana tidak, ini masih pagi buta tapi ada seorang pelayan yang datang hanya untuk mengantar air minum untuknya.Paviliun bahkan memiliki fasilitas yang lebih lengkap dari rumahnya.“Maaf, Nona. Tapi ini dari Nyonya besar dan saya diperintah untuk menunggu Nona meminumnya.”Binar sempat menoleh ke rumah utama yang tentu yang terlihat hanya bangunannya saja. “Tapi di sini juga ada banyak air minum.”“Saya hanya menjalankan perintah, Nona. Tolong jangan dipersulit,” ucap pelayan itu dengan lirih

  • Di Ranjang Majikanku   145. Manis Dan Perih

    Dengan langkah berat dan hati yang masih sakit hati, Nurma kembali ke dalam kamarnya.Kamar mewah itu kini terasa seperti kotak yang menyimpan berbagai emosinya. Dia mengunci pintu, benar-benar sudah tak punya tenaga untuk berinteraksi lagi dengan orang lain.Dia berjalan menuju sofa dan duduk di sana sambil menerawang jauh. Sesekali dia mendesah lelah dan memejamkan mata, berusaha menenangkan dirinya sendiri.Dalam diam, tiba-tiba matanya tertuju pada lemari kayu antik di sudut ruang. Dengan langkah lunglai, dia beranjak dan membuka laci paling bawah, mengeluarkan album foto lama yang sudah tak pernah dia buka lagi.Album yang menyimpan terlalu banyak kenangan, sekaligus manis dan perihnya kehidupan yang dia lalui selama mendampingi Djati.Dia membukanya. Halaman pertama adalah foto Djati muda dengan dirinya yang masih terlihat begitu bersinar. Muda dan cantik, tanpa beban dan air mata.Mereka terlihat begitu bahagia karena baru saja memiliki penerus yang diidamkan kedua keluarga yan

  • Di Ranjang Majikanku   144. Menikmati Tubuhmu

    Binar melangkah masuk dengan canggung ke paviliun. Tadi dia sedikit ragu saat sudah sampai di depan pintu. Kenangan akan perginya dia dulu dari sini karena teror dari Celia sempat terbesit sesaat. Bhaga mengikuti langkahnya dalam diam, tapi hatinya membuncah bahagia. Dia dan Ardan tak perlu berjauhan lagi dengan Binar. Langkah Binar berhenti sesaat setelah Bhaga memutar kunci dan memeluknya dari belakang. Perlahan tubuhnya dibalik dan kembali dipeluk oleh Bhaga. “Aku senang banget kamu kembali ke sini,” ujar Bhaga sambil mengecup kening Binar. “Aku enggak,” jawab Binar singkat. Dengan pelan Bhaga mengangkat kepalanya untuk melihat Binar, tanpa melepaskan pelukannya. “Kenapa? Kamu enggak suka ada di dekat keluargaku.” Binar menggelengkan kepala. Bhaga mencelos. “Kenapa, Sayang?” tanyanya dengan lembut. “Soalnya aku takut dimodusin kamu terus. Bisa remuk badan aku.” Bhaga tertawa keras karena mendengar jawaban itu.“Oh, tentu saja. Itu tak bisa ku tahan,” katanya dengan riang.

  • Di Ranjang Majikanku   143. Ego Terlalu Besar

    Nurma menatap wajah cucunya yang sedang tidur dengan damai, pertahanan terakhir egonya muncul. Baik, pikirnya, sambil mengelus lembut rambut Ardan. Mungkin untuk Ardan, dia baik. Mungkin Bhaga memang mencintainya. Tapi wanita selalu punya topeng. Dia meletakkan Ardan dengan lembut di atas bantal, kemudian menatapnya lama. Tapi itu tidak cukup. Dia mendengus. Nurma berdiri, mendekati jendela, memandang ke arah paviliun di mana Binar mungkin sedang berada. Hatinya mungkin sudah sedikit luluh, mungkin sudah mulai memahami. Tapi untuk mengakui itu? Untuk menunjukkan kelemahan itu di depan Binar? Untuk menyerah dan menyambutnya dengan tangan terbuka? Tidak. Belum. Dia masih seorang Nurma. Perempuan yang membangun segalanya dari nol, yang menjaga martabat keluarga dengan ketat. Binar harus membuktikan lebih dari sekadar kata-kata manis dan pelukan pada seorang anak. Binar harus layak. Dan menurut ukuran Nurma, dia masih sangat, sangat jauh dari pantas. Dia akan diam. Tidak akan lag

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status