Home / Romansa / Di Ranjang Majikanku / 73. Serangan Cinta di Pagi Hari

Share

73. Serangan Cinta di Pagi Hari

Author: Keke Chris
last update Huling Na-update: 2025-11-14 13:05:02

“Tidak!” jerit Binar dan bangun terduduk dengan napas tersengal. Tubuhnya dibanjiri keringat dingin dan kegelisahan masih memeluknya erat.

Bhaga yang terkejut akan jeritan itu turut terbangun. “ Kenapa, Sayang?”

Binar masih mengatur napasnya. “ Aku mimpi buruk. Celia dan Kevin kembali menyiksaku.”

Tak menunggu diminta, Bhaga langsung memeluk Binar sambil melirik ke arah jam dan mengambil segelas air putih dari atas nakas. “Ini, minumlah dulu dan tidur lagi. Ini masih jam empat pagi.”

Pelukan mereka terlepas dan Binar meneguk dengan perlahan dan kembali merebahkan diri. “Tidurlah. Aku akan menunggumu terlelap.”

Binar memejamkan mata dan tak perlu waktu lama untuk napasnya kembali teratur. Bhaga mengelus rambut Binar dan mengecup keningnya. Baru saja dia berencana tidur, sebuah notifikasi pesan masuk datang dari nomor Djati.

[Papi sudah tak bisa menahan para pemegang saham lebih lama lagi. Cepat temukan pelakunya dan hentikan semuanya, atau kita hancur.]

Kantuk Bhaga langsung hil
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Di Ranjang Majikanku   154. Aku Di Sini Bersamamu

    Binar tak bisa berhenti tersenyum. Hatinya sedang berbunga-bunga saat mengingat kembali percintaannya dengan Bhaga semalam. Pipinya memerah meski sedang sendirian di kamar.Setiap kali bayangan sentuhan Bhaga, bisikan sayang, dan keintiman yang mereka bagi muncul di benaknya, sebuah kebahagiaan yang dalam dan hangat mengalir di dadanya.Belum lagi, tadi pagi dia terbangun dengan sarapan yang sudah disiapkan dan dibawakan ke kamar oleh pria itu. Di atas nampan kayu sederhana di atas nakas, terhampar sarapan lengkap. Sepiring bubur ayam hangat yang harum, jus jeruk segar, seporsi buah potong, dan secangkir teh lemon kesukaannya Dia tak pernah berani membayangkan akan mendapatkan perlakuan seperti apa yang dia dapatkan dari Bhaga. Dia terlalu tahu diri dengan asalnya. Namun, Bhaga menempatkan di tempat yang tinggi. Membuatnya terbuai keadaan. Tangannya terulur dan mengambil kertas kecil yang terselip di pinggiran nampan. "Makan yang baik. Aku sayang kamu. Bhaga." Binar membacanya sam

  • Di Ranjang Majikanku   153. Tubuhmu Membuatku Gila

    Bhaga tadinya hanya ingin menunjukkan kepemilikan akan dirinya pada Binar, ciuman itu hanya sebagai upaya meyakinkan Binar akan cintanya. Tapi dia salah. Gairahnya malah dengan cepat tersulut.Dia memang tak pernah bisa lepas dari pesona Binar. Wanita yang selalu pasrah bila dia melakukan apapun, namun selalu bisa memberikan umpan balik yang sesuai harapan, dan yang paling penting... Binar bisa bersikap nakal bila dibutuhkan. Membuat Bhaga tergila-gila akan dirinya. Seperti saat ini, meskipun sedang menangis, Binar tetap membalas ciuman Bhaga dengan tak kalah dalam. Tangannya bahkan sudah mengelus punggung telanjang Bhaga dan tangan lainnya berada di rahang pria itu. Binar selalu bisa menyenangkan hati Bhaga setiap kali mereka di atas ranjang. Darah keduanya berdesir hebat. Suara kecapan mereka terdengar memenuhi kamar dan kini napas mereka mulai terengah. Bhaga hanya melepaskan ciumannya sebentar, kemudian mencium Binar lagi dengan lebih panas dari sebelumnya. “Aku selalu

  • Di Ranjang Majikanku   152. Ciuman Penghapus Keraguan

    Binar terdiam. Dia kehilangan kata-kata. Saat kalimat itu meluncur dengan isak tangis dari Ardan, hatinya teriris. Baru saja dia dibilang sebagai wanita perebut kebahagiaan orang lain, kini anak yang katanya dirampas merasakan kehilangan ibu kandungnya.Dia tersenyum kecut. Terasa getir di sudut bibirnya,Air mata sudah terkumpul di sudut matanya, tapi dia menarik napas dalam, dan mendongak untuk menghalau air mata itu jatuh.Dengan perlahan, Binar kembali memeluk Ardan. Kali ini lebih erat sambil menepuk punggung kecilnya yang masih terisak. "Enggak apa-apa, Sayang. Kangen itu wajar. Makanya, Ardan jangan pernah putus buat selalu mendoakan Mama Celia, ya. Doa Ardan pasti akan sampai dan mama Celia akan bisa merasakannya juga."Sambil tersedu, Ardan menjawab dari dalam pelukan Binar. “Mama bisa rasain doa aku?”“Iya, dong. Karena hati kalian terpaut dan saling menyayangi.”Ardan mengangguk pelan di bahu Binar, lalu mendekatkan telinganya ke dada Binar. "Detak jantung Kak Bin enak. Bik

  • Di Ranjang Majikanku   151. Aku Kangen Mama

    Perjalanan pulang itu terasa sangat panjang. Rudi sesekali harus memanggil Bhaga untuk mengembalikan fokusnya. Sudah beberapa kali Rudi meminta agar dia yang menyetir, tapi Bhaga menolaknya.“Aku harus mengalihkan pikiranku,” jawab Bhaga.Biar bagaimanapun, dia sudah bersama dengan Celia beberapa tahun. Bahkan mereka memiliki Ardan. Meski tak mencintainya, hati Bhaga tetap tak tega melihat kondisi Celia sekarang, tapi ada hati yang mesti dia jaga.Dia merasa memiliki tanggung jawab untuk mengobati Celia. Bhaga menghela napas lagi, entah sudah untuk yang keberapa kalinya setelah keluar dari rumah itu.Rudi tak lagi berani menginterupsi, tapi matanya terus focus pada jalanan di depannya.Hingga tak terasa, mobil Bhaga sudah terparkir di halaman rumah utama dan Rudi sekalian berpamitan.Dengan langkah sedikit lunglai, Bhaga berjalan menuju paviliun, dan begitu pintunya terbuka, dia langsung memeluk Binar erat.“Aku merindukanmu, sangat merindukanmu,” ucap Bhaga.Binar terkesiap, tapi tet

  • Di Ranjang Majikanku   150. Mencoba Bunuh Diri

    Bhaga baru saja keluar dari gedung kantor milik Hans. Perasaannya campur aduk, tapi kelegaan lebih mendominasi.Dia baru saja berhenti di lampu merah saat teleponnya bordering. Dia menekan tombol pengeras suara dan suara seorang pengawal yang menjaga rumah pengasingan Celia terdengar."Tuan Bhaga, maaf mengganggu. Nona Celia… dia… dia mencoba bunuh diri. Kami baru saja berhasil mencegahnya. Sekarang kondisinya sangat histeris, tidak bisa ditenangkan. Kami sudah memanggil dokter, tapi… mungkin lebih baik Tuan datang sendiri."Dingin menyergap tulang punggung Bhaga. "Jaga dia! Aku segera ke sana!" teriaknya sebelum menutup telepon.Tanpa pikir panjang, dia memutar balik mobilnya dengan kasar, ban berdecit di aspal. Satu-satunya pikiran adalah dia tidak mau tanggung jawab atau rasa bersalah lebih besar jika sesuatu yang buruk benar-benar terjadi pada Celia.Dalam perjalanan, dia menelepon Rudi. "Rud, aku butuh teman ke rumah Celia. Ini darurat."Sekitar satu jam kemudian, mereka tiba di

  • Di Ranjang Majikanku   149. Keputusan Tegas

    Setelah bisa menenangkan Binar dan kini wanita itu sudah tertidur lelap, Bhaga keluar dari paviliun dan berjalan menuju rumah utama. Hatinya panas, tersayat, saat mendengarkan rintihan dan isak tangis Binar.Dia harus bicara dengan maminya.Sesaat setelah masuk ke dalam rumah, suara ribut terdengar dari depan kamar bawah yang sementara sedang ditempati oleh Djati. Orang tuanya sudah lama pisah ranjang, tapi Bhaga tak mau ikut campur dalam hal itu. Dia menghargai privasi orang tuanya.“Jangan terus membela perempuan itu, Papi. Dia hanya bermulut manis,” hardik Nurma,”atau Papi juga terpikat sama bujuk rayunya dan dibutakan seperti Bhaga?”Djati sudah akan mejawab, tapi melihat Bhaga mendekat, dia hanya menghela napas berat.“Mami yang terlalu dibutakan oleh ego mami sendiri hingga enggak bisa melihat kebaikan orang lain,” ucap Bhaga.“Kebaikan macam apa? Orang baik tidak akan menghancurkan rumah tangga orang lain.”Bhaga mengepalkan tangannya, berusaha agar tak kelepasan pada maminya.

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status