Mag-log inTak ada yang tahu Nurma akan datang ke rumah Bhaga malam itu. Nurma tidak menghubungi siapa pun sebelum datang, dia pergi secara impulsif karena terpicu oleh rasa penasaran.Mobilnya terparkir di halaman rumah Bhaga saat hari mulai malam. Sopirnya baru saja turun, berniat untuk membukakan pintu, tapi Nurma sudah berjalan duluan. Saking terburu-burunya, dia tak mengganti pakaiannya dan masih mengenakan sandal rumah. Tak ada barang lain yang dibawanya kecuali tas yang kini ada di genggamannya. Dia mengetuk pintu dan Maryam yang membukakannya dengan wajah yang sedikit terkejut, tapi kemudian tersenyum ramah. “Nyonya Besar,” sapanya. “Silakan masuk.” “Dimana semua orang?” Tanya Nurma saat dia melangkah masuk. “Sedang di ruang makan, Nyonya. Bersiap untuk makan malam. Mari saya antar, Nyonya.” Tangan Nurma terangkat. “Tidak perlu. Aku bisa sendiri.” Maka, Maryam pun sedikit membungkuk dan undur diri dari sana. Nurma melangkah dengan langkah cepat. Dari dalam terdengar suara tawa
Sore itu Nurma tiba-tiba saja menelepon ke rumah Bhaga. Semua sedang sibuk dengan urusannya masing-masing dan Maryam yang menerima panggilan itu.Seperti biasa, Ardan adalah hal pertama yang ditanyakan. Setelahnya keadaan rumah dan kesehatan Bhaga. Dan Maryam menjawab semua dengan jujur."Iya, Nyonya. Den Ardan sehat. Minggu lalu baru saja mengadakan piknik kecil di halaman belakang rumah dengan beberapa teman sekolahnya.""Piknik? Siapa yang urus?""Non Binar dengan Tuan Bhaga, Nyonya. "Nurma diam sebentar di ujung telepon. Maryam tidak menyadari keheningan itu sebagai sesuatu yang salah. Dia kembali melanjutkan ceritanya, karena Nurma bertanya lagi, "Apa-apa saja yang disiapkan?"Maryam bercerita dengan detil tentang acara kecil itu dan Nurma mendengarkan dengan suara yang masih terdengar ramah.Lalu Maryam menyebutkan sesuatu yang membuat Nurma terdiam lebih lama."Tuan besar juga beberapa kali datang dan bicara dengan Non Binar di ruang kerja, Nyonya. Dan belakangan Non Binar dis
Matahari masih cukup tinggi, saat Bhaga memarkirkan mobilnya di halaman rumah. Dia pulang dengan wajah tanpa beban, tak seperti hari-hari sebelumnya. Kakinya melangkah dengan ringan ketika masuk ke dalam rumah, dan menyaksikan kebersamaan yang selalu dia sukai.Binar dan Ardan sedang duduk di karpet ruang keluarga, tenggelam dalam potongan mainan puzzle bergambar dinosaurus. Potongan-potongan kecil tersebar di antara mereka, dan keduanya begitu antusias dalam merangkai gambar itu, sampai tidak menyadari kedatangan Bhaga.Ardan sangat serius, dia kadang sampai mengernyit, dan menggigit bibirnya. Sedangkan Binar di sampingnya, begitu sabar membantu menemukan potongan yang tepat.Bhaga melewati ruang keluarga sambil menyapa keduanya, membuat Binar mengangkat kepala. "Besok aku mau ke toko buku sama Ardan. Jam dua siang."Bhaga berhenti. Sejenak dia menatap Binar, lalu mengangguk. "Oke.""Aku akan hubungi Hendra."Sedetik. Mata Bhaga berkilat lega dan menahan senyuman. "Baiklah."Dia lanj
Dua hari terlewat tanpa ada yang lagi membahas tentang hari itu. Seolah semua sudah baik-baik saja, tapi ada yang berubah.Bhaga menghabiskan waktu lebih lama di meja makan. Dia makan dengan lebih lambat, membuka ponsel di sana, bahkan terkadang sembari membalas beberapa pekerjaan.Pria itu selalu teratur, dia melakukan semua sesuai tempat dan waktunya.Binar sempat melirik dan memperhatikan beberapa kali, tapi dia tak mengubris. Mungkin memang belum ada hal penting di kantor, atau pria itu hanya mau menghabiskan waktu lebih lama bersama Ardan.Namun, saat Ardan sudah berangkat ke sekolah, Bhaga masih di rumah. Hanya duduk sambil sibuk dengan ponselnya.Binar membereskan piring. Dari dapur, dia melihat Bhaga berdiri, mengambil jas, menyampirkannya di lengan, lalu duduk lagi. Dia mengernyit, apa yang dilakukan Bhaga sebenarnya?Jam delapan kurang lima, Bhaga berdiri. Menghampiri Binar, mencium kening dengan cepat dan pergi tanpa kata. Binar hanya diam sambil menatap punggung itu menjau
Binar tidak bisa tidur tenang. Beberapa kali dia terbangun dan berusaha untuk tidur lagi.Pintu kamar terbuka. Binar tidak bergerak. Matanya terbuka, menatap ke arah jendela yang tertutup. Pikirannya ke mana-mana. Memikirkan apa yang harus dia lakukan sekarang.Dia tidak menoleh, dan mendengar langkah Bhaga masuk. Pria itu berhenti sebentar. Binar merasakan tatapan di punggungnya. Lalu langkah itu bergerak ke kamar mandi.Pintu kamar mandi tertutup. Suara air menyala.Menit terlewati, dan sekarang, suara air berhenti. Pintu kamar mandi terbuka.Langkah Bhaga keluar kembali terdengar, kini suara pintu lemari. Ada benda ringan yang terjatuh, lalu langkah itu menjauh dari ranjang.Binar menahan napas.Langkah itu berhenti. Sofa.Binar mendengar tangan Bhaga menepuk pelan bantal di sofa. Lalu suara tubuh besarnya duduk, berbaring. Binar menahan sejenak, merasakan sesak, tapi dia tetap diam.Dia berbaring menatap gelap, mendengarkan suara detak jam dinding di kamar yang sunyi. Binar menutu
Suasana terasa begitu canggung. Meja makan yang biasa berisi obrolan ringan dan ramai dengan celotehan Ardan, malam ini begitu sepi. Hanya ada denting piring dan sendok, juga helaan napas Ardan yang makan dengan malas.Mata Ardan berulang kali menatap ke arah Bhaga dna Binar, dan mukanya sedikit merengut.“Papa sama Bunda lagi berantem ya? Kok pada diem aja, sih, dari tadi?”Binar tersentak kecil, dia melirik Bhaga sesaat yang tetap datar dan fokus pada makanannya, lalu menoleh pada Ardan. “Enggak kok, Sayang. Papa cuma lagi kecapean aja.”Ardan mengangguk, lalu menatap Bhaga dengan serius. “Tadi aku jatuh, Pah, pas kejar burung merpati.”Bhaga melirik tajam ke arah Binar, mendengkus kecil, dan berdeham pelan. “Burung sudah pasti akan terbang saat merasa terancam, Nak. Otak punya sistem sendiri, saat merasa akan sesuatu yang berbahaya dia akan memerintahkan tubuh untuk berlindung.”Binar tersedak kecil dan tangannya dengan cepat meraih gelas minumnya dan meminumnya rakus.Ardan turun
“Binar!” Bhaga terbangun dengan dada menghantam udara kosong.Tangannya meraba sisi ranjang. Sprei dingin. Tidak ada tubuh. Tidak ada napas lain selain miliknya sendiri.“Binar!” suaranya meninggi. Dia bangkit terlalu cepat. Kaki menyentuh lantai tanpa sempat mencari sandal.Pandangannya menyapu r
Napas Binar masih sedikit terengah, pelepasannya masih menyisakan kenikmatan yang belum benar-benar usai.Namun, Bhaga enggan menunggu lebih lama lagi. Dia membalik tubuh Binar perlahan, mengangkat pinggulnya dan menekan punggungnya turun. Binar menoleh dan Bhaga dengan cepat menangkap bibirnya lal
“Aku mau pulang, Bhaga” Kalimat itu keluar pelan dari bibir Binar, hampir tak bersuara, tapi Bhaga mendengarnya jelas.Tangannya yang sedang membersihkan luka di lengan Binar berhenti di udara. Kapas basah menggantung di antara jari-jari mereka.Mereka sedang bermalam di hotel. Bahag sengaja membaw
“Kau baik-baik saja?” Suara Bhaga terdengar begitu kuatir.Mereka sedang berada di dalam mobil, setelah beberapa jam lalu Bhaga memutuskan untuk membawa Binar pulang lebih cepat dari rumah sakit. Dia tahu ada yang terjadi, tapi juga tak mau memaksa Binar untuk bicara jika wanitanya itu belum mau bi







