Home / Romansa / Di Ranjang Majikanku / 72. Puaskan Aku, Sayang

Share

72. Puaskan Aku, Sayang

Author: Keke Chris
last update Last Updated: 2025-11-13 08:19:36

Napas Bhaga terhenti sesaat, ketika dia menunduk dan melihat Binar mengecup ujung miliknya dan kemudian perlahan mengulum kejantanannya.

“Ugh, mmm… Binar…” desah Bhaga, tangannya reflek mencengkram rambut Binar dengan tertahan.

Seketika, miliknya langsung tegak dan berdenyut keras. Terlebih saat lidah Binar berputar di sana dengan sensual. Menyapu miliknya perlahan.

Binar mendongak, matanya menatap wajah Bhaga, memperhatikan ekspresi kenikmatan pria itu, uap desahan panas yang keluar dari bibirnya.

“Ahh, aku tak tahan lagi, Binar,” erang Bhaga, badannya menegang.

Dia segera menarik pundak Binar, mendorongnya pelan hingga membentur dinding.

Binar memekik pelan, terkejut saat Bhaga berlutut di bawahnya, sambil menaruh kaki Binar di pundaknya. Binar terpojok, dengan area sensitifnya sempurna terpampang di depan wajah Bhaga.

Malu dan panik, wajah Binar memerah. “B-Bhaga, itu—”

“Biar aku memuaskanmu lebih dulu,” ucap Bhaga.

Lidah dan bibir pria itu sudah tak perlu lagi diragukan, dia me
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Di Ranjang Majikanku   153. Tubuhmu Membuatku Gila

    Bhaga tadinya hanya ingin menunjukkan kepemilikan akan dirinya pada Binar, ciuman itu hanya sebagai upaya meyakinkan Binar akan cintanya. Tapi dia salah. Gairahnya malah dengan cepat tersulut.Dia memang tak pernah bisa lepas dari pesona Binar. Wanita yang selalu pasrah bila dia melakukan apapun, namun selalu bisa memberikan umpan balik yang sesuai harapan, dan yang paling penting... Binar bisa bersikap nakal bila dibutuhkan. Membuat Bhaga tergila-gila akan dirinya. Seperti saat ini, meskipun sedang menangis, Binar tetap membalas ciuman Bhaga dengan tak kalah dalam. Tangannya bahkan sudah mengelus punggung telanjang Bhaga dan tangan lainnya berada di rahang pria itu. Binar selalu bisa menyenangkan hati Bhaga setiap kali mereka di atas ranjang. Darah keduanya berdesir hebat. Suara kecapan mereka terdengar memenuhi kamar dan kini napas mereka mulai terengah. Bhaga hanya melepaskan ciumannya sebentar, kemudian mencium Binar lagi dengan lebih panas dari sebelumnya. “Aku selalu

  • Di Ranjang Majikanku   152. Ciuman Penghapus Keraguan

    Binar terdiam. Dia kehilangan kata-kata. Saat kalimat itu meluncur dengan isak tangis dari Ardan, hatinya teriris. Baru saja dia dibilang sebagai wanita perebut kebahagiaan orang lain, kini anak yang katanya dirampas merasakan kehilangan ibu kandungnya.Dia tersenyum kecut. Terasa getir di sudut bibirnya,Air mata sudah terkumpul di sudut matanya, tapi dia menarik napas dalam, dan mendongak untuk menghalau air mata itu jatuh.Dengan perlahan, Binar kembali memeluk Ardan. Kali ini lebih erat sambil menepuk punggung kecilnya yang masih terisak. "Enggak apa-apa, Sayang. Kangen itu wajar. Makanya, Ardan jangan pernah putus buat selalu mendoakan Mama Celia, ya. Doa Ardan pasti akan sampai dan mama Celia akan bisa merasakannya juga."Sambil tersedu, Ardan menjawab dari dalam pelukan Binar. “Mama bisa rasain doa aku?”“Iya, dong. Karena hati kalian terpaut dan saling menyayangi.”Ardan mengangguk pelan di bahu Binar, lalu mendekatkan telinganya ke dada Binar. "Detak jantung Kak Bin enak. Bik

  • Di Ranjang Majikanku   151. Aku Kangen Mama

    Perjalanan pulang itu terasa sangat panjang. Rudi sesekali harus memanggil Bhaga untuk mengembalikan fokusnya. Sudah beberapa kali Rudi meminta agar dia yang menyetir, tapi Bhaga menolaknya.“Aku harus mengalihkan pikiranku,” jawab Bhaga.Biar bagaimanapun, dia sudah bersama dengan Celia beberapa tahun. Bahkan mereka memiliki Ardan. Meski tak mencintainya, hati Bhaga tetap tak tega melihat kondisi Celia sekarang, tapi ada hati yang mesti dia jaga.Dia merasa memiliki tanggung jawab untuk mengobati Celia. Bhaga menghela napas lagi, entah sudah untuk yang keberapa kalinya setelah keluar dari rumah itu.Rudi tak lagi berani menginterupsi, tapi matanya terus focus pada jalanan di depannya.Hingga tak terasa, mobil Bhaga sudah terparkir di halaman rumah utama dan Rudi sekalian berpamitan.Dengan langkah sedikit lunglai, Bhaga berjalan menuju paviliun, dan begitu pintunya terbuka, dia langsung memeluk Binar erat.“Aku merindukanmu, sangat merindukanmu,” ucap Bhaga.Binar terkesiap, tapi tet

  • Di Ranjang Majikanku   150. Mencoba Bunuh Diri

    Bhaga baru saja keluar dari gedung kantor milik Hans. Perasaannya campur aduk, tapi kelegaan lebih mendominasi.Dia baru saja berhenti di lampu merah saat teleponnya bordering. Dia menekan tombol pengeras suara dan suara seorang pengawal yang menjaga rumah pengasingan Celia terdengar."Tuan Bhaga, maaf mengganggu. Nona Celia… dia… dia mencoba bunuh diri. Kami baru saja berhasil mencegahnya. Sekarang kondisinya sangat histeris, tidak bisa ditenangkan. Kami sudah memanggil dokter, tapi… mungkin lebih baik Tuan datang sendiri."Dingin menyergap tulang punggung Bhaga. "Jaga dia! Aku segera ke sana!" teriaknya sebelum menutup telepon.Tanpa pikir panjang, dia memutar balik mobilnya dengan kasar, ban berdecit di aspal. Satu-satunya pikiran adalah dia tidak mau tanggung jawab atau rasa bersalah lebih besar jika sesuatu yang buruk benar-benar terjadi pada Celia.Dalam perjalanan, dia menelepon Rudi. "Rud, aku butuh teman ke rumah Celia. Ini darurat."Sekitar satu jam kemudian, mereka tiba di

  • Di Ranjang Majikanku   149. Keputusan Tegas

    Setelah bisa menenangkan Binar dan kini wanita itu sudah tertidur lelap, Bhaga keluar dari paviliun dan berjalan menuju rumah utama. Hatinya panas, tersayat, saat mendengarkan rintihan dan isak tangis Binar.Dia harus bicara dengan maminya.Sesaat setelah masuk ke dalam rumah, suara ribut terdengar dari depan kamar bawah yang sementara sedang ditempati oleh Djati. Orang tuanya sudah lama pisah ranjang, tapi Bhaga tak mau ikut campur dalam hal itu. Dia menghargai privasi orang tuanya.“Jangan terus membela perempuan itu, Papi. Dia hanya bermulut manis,” hardik Nurma,”atau Papi juga terpikat sama bujuk rayunya dan dibutakan seperti Bhaga?”Djati sudah akan mejawab, tapi melihat Bhaga mendekat, dia hanya menghela napas berat.“Mami yang terlalu dibutakan oleh ego mami sendiri hingga enggak bisa melihat kebaikan orang lain,” ucap Bhaga.“Kebaikan macam apa? Orang baik tidak akan menghancurkan rumah tangga orang lain.”Bhaga mengepalkan tangannya, berusaha agar tak kelepasan pada maminya.

  • Di Ranjang Majikanku   148. Sentuhan Bagai Sengatan

    "Tapi… tapi kalian tertawa…" bantah Nurma, suaranya sudah tidak seyakin tadi.“Lalu kenapa? Ya, kami tertawa,” Djati mendesah sambil menggelengkan kepala seolah tuduhan Nurma tak masuk akal. “Karena bercerita tentang Ardan, tentang masa kecil Bhaga yang nakal! Dia membuatku lupa sejenak bahwa aku ini sedang sakit!”Nurma terdiam, tapi tatapannya masih tajam. Dan ada sedikit luka di ekspresinya.“Kau ini suamiku… tapi lebih senang bersama perempuan ini!” serunya, sebelum pergi dengan kesal dan menghentakkan kaki.Djati hanya bisa menghela napas, sedangkan Binar terdiam dengan rambut berantakan dan mata berkaca-kaca.**Binar duduk di lantai ruang tamu, bersandar pada kaki sofa, sambil memeluk lututnya. Dia menangis terisak.Rambutnya masih berantakan dengan beberapa helai menempel di pipinya yang basah, tapi dia tak peduli.Pintu depan terbuka dengan cepat. Bhaga yang baru saja tiba setelah mendapatkan telepon dari Djati, tiba-tiba berdiri kaku di ambang pintu. Matanya terbelalak saat

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status