Share

Bab 3

Penulis: Cupcake
Seminggu kemudian, jamuan makan malam Keluarga Kivandra tiap bulan, tiba sesuai jadwal.

Lantaran Arka tidak ada, Marissa terpaksa datang sendirian.

Begitu melihat Marissa, wajah Bu Erina Kivandra langsung menjadi masam. "Mana Arka?"

Marissa menunduk. "Dia ada urusan. Jadi, untuk sementara nggak bisa pulang."

Bu Erina mencibir. Baru saja dia hendak berbicara, tiba-tiba kepala pelayan datang dengan terburu-buru dan menyodorkan sebuah koran hiburan.

Berita utama di koran itu menampilkan foto Arka dan Shalia yang sedang berciuman di atas kapal pesiar.

Prak!

Bu Erina membanting sendoknya ke meja dengan keras, amarahnya langsung meledak "Marina! Ikut aku ke ruang kerja!"

Begitu masuk ruang kerja, Bu Erina langsung membentak dengan suara keras, "Berlutut!"

Marissa pun berlutut tanpa suara.

"Dasar nggak guna! Jagain suamimu sendiri saja nggak becus!" Bu Erina gemetar karena saking marahnya. "Sekarang, aku kasih kamu dua pilihan. Segera telepon Arka dan suruh dia pulang, atau … kamu harus menerima hukuman keluarga!"

Bulu mata Marissa bergetar.

Marissa tahu, meskipun dia menelepon, Arka tetap tidak akan kembali.

Dia tidak boleh mengganggu waktu berduaan pria itu dengan kekasihnya. Jika Arka sampai murka, kemungkinan besar kerja sama antara kedua keluarga akan terancam.

"Aku pilih hukuman keluarga," kata Marissa pelan.

Bu Erina langsung naik pitam. "Coba katakan sekali lagi!"

"Aku pilih hukuman keluarga." Marissa menengadah, tatapan matanya tampak tenang. "Silakan pukul aku."

Wajah Bu Erina menjadi pucat karena marah. Dia menyambar cambuk yang tergantung di dinding, lalu melayangkannya keras-keras ke punggung Marissa.

"Kamu mau meneleponnya atau nggak?"

Prak!

"Telepon dia atau nggak?"

Prak!

Marissa menggigit bibirnya kuat-kuat. Punggungnya terasa panas membara, tetapi dia tetap menggelengkan kepalanya.

Pada akhirnya, rasa sakit itu membuat pandangan Marissa menjadi gelap dan dia pun jatuh pingsan.

Saat kembali terbangun, Marissa dalam posisi telungkup di ranjang rumah sakit dengan punggung yang penuh balutan perban.

Di sana, Arka sedang duduk di samping tempat tidurnya sambil mengerutkan keningnya dalam-dalam.

"Ibu mempersulitmu. Kenapa kamu nggak menyuruhku pulang?" tanya pria itu dengan suara dingin.

Marissa tersenyum lemah. "Aku nggak mau mengganggu kencanmu dengan Bu Shalia."

Arka tertegun.

Dia menatap lekat-lekat wajah Marissa yang pucat itu. Lalu, tiba-tiba Arka teringat perkataan yang diucapkan perawat sebelumnya.

"Karena dia terlalu mencintai Pak Arka, sampai-sampai dia rela menjaga orang yang dicintai pria itu …."

Marina … sebegitu cintanya kepada dirinya?

Begitu mencintai si pria, sampai-sampai lebih memilih dirinya sendiri yang dihukum, daripada harus mengganggunya?

Perasaan aneh di dalam hati Arka menjadi makin kuat.

Beberapa hari berikutnya, untuk pertama kalinya, Arka tinggal di rumah sakit untuk merawat Marissa.

Marissa mengatakan hal itu tidak perlu, tetapi Arka tetap tidak mau pergi.

Sampai pada hari Marissa diperbolehkan pulang, Arka tiba-tiba menerima telepon yang mengabarkan ada urusan mendadak di kantor dan dia harus menghadiri rapat.

"Pulanglah sendiri," ucap pria itu singkat sebelum berbalik dan pergi.

Marissa mengangguk, lalu berjalan perlahan keluar dari rumah sakit.

Begitu menuruni anak tangga, Marissa tidak sengaja menabrak seseorang.

"Kamu buta ya?" Orang itu memaki dengan keras. "Apa kamu tahu seberapa mahal bajuku ini? Penampilanmu miskin begitu, apa kamu sanggup menggantinya?"

Baru saja Marissa hendak meminta maaf, terdengar suara dingin dan tajam dari arah belakangnya.

"Pergi!"

Entah sejak kapan Arka turun dari mobil. Dia langsung melemparkan segepok uang tunai ke wajah orang itu. "Cukup nggak?"

Orang itu awalnya berniat meluapkan amarahnya. Namun, begitu melihat penampilan dan aura Arka, dia langsung kabur dengan perasaan malu.

Arka menatap Marissa dengan dingin. "Marina, apa Keluarga Pranaya dan Keluarga Kivandra nggak kasih kamu uang? Kenapa kamu berpakaian seperti ini?"

Marissa terdiam.

Keluarga Pranaya memang tidak pernah memberinya uang. Meski Keluarga Kivandra memberinya kartu kredit eksklusif, Marissa sadar bahwa dia bukanlah istri Arka yang sebenarnya, sehingga dia tidak pernah sekalipun menggunakannya.

Melihat Marissa tidak menjawab, Arka tiba-tiba merasa marah tanpa alasan. Dia langsung menyeret Marissa masuk ke mobil.

"Pergi beli baju."

Di dalam mal, Arka memilihkan beberapa pakaian yang dibuat khusus untuk Marissa. Masing-masing dari baju itu harganya sangat fantastis.

Marissa menurut dan tenang sepanjang waktu, layaknya boneka tali yang tidak memiliki emosi.

Namun, tepat di saat mereka baru saja keluar dari mal ….

"Arka?"

Terdengar suara yang gemetar.

Marissa menengadah dan melihat Shalia sedang berdiri tidak jauh dari sana. Shalia masih mengenakan seragam pelayan paruh waktu.

Dengan mata yang memerah, Shalia menatap mereka dengan tidak percaya. "Bukankah kamu bilang, kamu lagi rapat di kantor?"

"Shalia …." Ekspresi Arka sedikit berubah.

"Kamu boleh saja nggak mencintaiku …." Air mata Shalia mulai menetes. "Tapi, bagaimana bisa kamu membohongiku? Harusnya aku nggak kembali. Akulah yang sudah mengganggu kalian …."

Setelah berkata seperti itu, Shalia berbalik dan berlari.

"Shalia!" Arka segera mengejar Shalia.

Marissa berdiri mematung di tempatnya. Dia menatap punggung Arka yang menjauh pergi dengan perasaan yang sangat tenang.

Namun, tepat di detik berikutnya ….

Brak!

Terdengar suara benturan yang keras.

Kaca dari lantai atas mal tiba-tiba pecah dan jatuh menghujam tepat di atas kepala Shalia.

Tanpa sempat mengerang sedikit pun, Shalia langsung terkapar di tengah genangan darah ….

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Di Ujung Kabut Itu, Dia Tak Kembali   Bab 24

    Salju di Kota Nolam turun dengan tiba-tiba.Arka berdiri di depan pintu penginapan milik Marissa. Lapisan tipis salju menempel pada jaket hitamnya. Ujung jarinya memerah karena kedinginan, tetapi dia tetap menggenggam erat amplop dokumen itu.Arka menatap nanar ke arah pintu yang tertutup rapat itu. Jakunnya bergerak naik turun, sebelum akhirnya dia mengangkat tangan dan mengetuk pintu itu.Pintu pun terbuka.Marissa berdiri di depan pintu. Saat melihat pria itu, ekspresinya tidak menunjukkan emosi sedikit pun. "Ada apa?"Napas Arka tertahan sejenak.Arka mengira, saat kembali bertemu dengan Marissa, akan ada banyak hal yang ingin disampaikan. Namun, ketika momen itu benar-benar tiba, Arka justru merasa tenggorokannya seperti tersumbat. Tidak ada satu kata pun yang mampu dia ucapkan."Aku …." Suara Arka terdengar serak. Dia menyodorkan amplop dokumen di tangannya. "Ingin kamu mau melihatnya sebentar."Pandangan Marissa tertuju pada dokumen itu. Namun, dia tidak menerimanya. "Apa ini?"

  • Di Ujung Kabut Itu, Dia Tak Kembali   Bab 23

    Arka berdiri di halaman. Tetesan darah dari buku jarinya menetes ke tanah. Namun, dia sama sekali tidak merasakan sakit.Tatapannya tertuju ke arah perginya Marissa, sementara dadanya dipenuhi amarah dan penyesalan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya."Pak Arka!" Asisten Arka buru-buru mendekat sambil memegang sebuah map dokumen dengan ekspresi wajah yang serius. "Sudah ketemu."Arka perlahan menarik kembali pandangannya. Suaranya terdengar sedingin es. "Apa itu?"Asisten itu sempat ragu untuk sesaat, tetapi tetap menyerahkan map itu. "Ini … semua hal yang sudah dilakukan Bu Shalia kepada Bu Marissa selama bertahun-tahun ini."Arka menyambar map dokumen itu dan membukanya dengan kasar.Di dalamnya terdapat setumpuk foto, tangkapan layar kamera pengawas dan berkas rekaman suara. Arka membolak-balik beberapa lembar secara acak dan seketika itu juga matanya langsung terbelalak.Di foto-foto itu, Shalia berdiri di ujung tangga. Saat tidak ada orang di sekitar, dia dengan sengaja menum

  • Di Ujung Kabut Itu, Dia Tak Kembali   Bab 22

    Arka tidak siap dan terhuyung mundur beberapa langkah hingga sudut bibirnya mengeluarkan sedikit darah."Jauh-jauh darinya!" Yoga berdiri menghalang di depan Marissa. Tatapannya tajam bagaikan pisau. Suaranya mengandung peringatan yang tidak dia sembunyikan, "Sentuh dia sekali lagi, aku akan langsung lapor polisi."Arka mengangkat tangan untuk menyeka darah di sudut bibirnya. Dia menatap Yoga dengan pandangan muram, sebelum kemudian beralih menatap Marissa.Ekspresi wanita itu tetap tenang, seakan semua yang baru saja terjadi sama sekali tidak ada hubungannya dengan dirinya."Jadi begitu rupanya …." Arka tertawa dingin, matanya dipenuhi gejolak emosi yang rumit. "Kamu meninggalkanku karena dia?"Marissa berdiri, menepuk-nepuk debu yang sebenarnya tidak ada di gaunnya, lalu berkata dengan acuh tak acuh, "Arka, apa kamu nggak ngerasa terlalu percaya diri?""Aku pergi darimu, sama sekali bukan karena siapa pun."Mata Arka langsung terbelalak. Dadanya terasa seperti dihantam palu godam, ba

  • Di Ujung Kabut Itu, Dia Tak Kembali   Bab 21

    Sore itu, badai tiba-tiba datang.Marissa sedang menyeduh kopi di dapur. Guntur menggelegar di luar jendela dan tetesan hujan menghantam kaca dengan keras.Baru saja Marissa selesai menutup jendela, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu yang terburu-buru."Siapa?" Marissa membuka pintu. Yoga berdiri di sana dalam keadaan basah kuyup, sementara tangannya mendekap sesuatu dengan erat di pelukannya."Cepat masuk!" Marissa segera bergeser ke samping untuk membiarkan Yoga masuk ke rumah.Yoga buru-buru melangkah masuk dan membuka jaketnya dengan hati-hati. Seekor anak kucing putih yang kurus tampak meringkuk di dalam pelukannya, gemetar kedinginan."Aku menemukannya di persimpangan gang, hampir saja hanyut terbawa air," kata Yoga dengan suara rendah, tersirat rasa iba yang mendalam.Marissa segera mengambil handuk dan membungkus anak kucing itu dengan lembut. "Keringkan dulu, aku akan ambil pengering rambut."Baru saja Marissa hendak berbalik, pergelangan tangannya mendadak ditarik oleh Y

  • Di Ujung Kabut Itu, Dia Tak Kembali   Bab 20

    Arka berdiri di sudut jalan Kota Nolam. Embusan angin laut yang membawa aroma asin dan lembap menerpa wajahnya.Arka menatap kota yang asing, tetapi makmur di hadapannya itu dengan tatapan muram dan lelah.Sudah satu bulan berlalu. Dia sudah hampir menyisir setiap sudut Kota Nolam, tetapi tetap saja tidak menemukan jejak Marissa sedikit pun.Petunjuk yang dikirimkan asistennya hanya menyebutkan bahwa wanita itu membeli tiket pesawat menuju Kota Nolam. Namun, kota ini begitu luas, di manakah sebenarnya Marissa bersembunyi?Arka memijat pelipisnya. Kelelahan akibat mencari selama berhari-hari membuat matanya tampak merah.Arka mengangkat tangan untuk melirik jam tangannya. Sudah pukul sembilan malam dan pejalan kaki di jalanan mulai berangsur sepi.Arka berjalan tanpa tujuan. Tatapannya menyapu setiap sosok yang melintas, takut jika melewatkan kemungkinan sekecil apa pun.Tiba-tiba, langkah kaki Arka terhenti.Tidak jauh di depan, seorang wanita yang mengenakan gaun putih sedang berdiri

  • Di Ujung Kabut Itu, Dia Tak Kembali   Bab 19

    Di sisi lain, Marissa berdiri di tepi laut. Angin laut yang lembap dan asin membelai pipinya, membuat helai rambutnya berkibar lembut.Di kejauhan, matahari terbenam mewarnai permukaan laut dengan warna oranye kemerahan. Deburan ombak menggulung ke pantai lapis demi lapis, lalu perlahan kembali menyurut.Marissa menarik napas dalam-dalam, memejamkan mata dan merasakan ketenangan yang sudah lama tidak dia rasakan."Bu Marissa?"Terdengar suara pria yang lembut dari arah belakang.Marissa menoleh dan melihat seorang pria bertubuh tinggi dan tegap, berdiri tidak jauh darinya, sambil menjinjing sekantong makanan laut segar.Pria itu mengenakan kemeja putih sederhana dan celana santai. Wajahnya tampak bersih dan tampan, dengan senyum tipis tersungging di bibirnya."Aku Yoga Diratama, tinggal di sebelah rumahmu." Yoga melangkah mendekat. Suaranya terdengar hangat. "Kudengar kamu baru pindah hari ini. Jadi, aku bawakan sedikit hasil laut sebagai salam kenal antar tetangga."Marissa agak terte

  • Di Ujung Kabut Itu, Dia Tak Kembali   Bab 8

    Setelah berkata seperti itu dengan wajah dingin, Arka lalu berbalik dan meninggalkan ruang bawah tanah.Marissa mendengarkan langkah kaki Arka yang perlahan menjauh, lalu baru berani berdiri perlahan sambil berpegangan pada dinding.Selama tiga hari berikutnya, Marissa mengurung diri di dalam kamar

  • Di Ujung Kabut Itu, Dia Tak Kembali   Bab 7

    Pandangan Arka menyapu sekujur tubuh Marissa, seolah ingin memastikan apakah Marissa terluka atau tidak. Akhirnya, Arka pun menghela napas lega. "Apa yang terjadi selama tiga hari ini?"Marissa tersenyum tipis, membuat bibirnya yang pecah-pecah merembeskan darah. "Nggak ada apa-apa."Marissa langsun

  • Di Ujung Kabut Itu, Dia Tak Kembali   Bab 6

    Saat Marissa kembali terbangun, yang terlihat di depan matanya adalah langit-langit rumah sakit yang berwarna putih pucat."Akhirnya kamu sadar juga!" Perawat itu menghela napas lega. "Luka-lukamu begitu parah. Kami harus segera menghubungi keluargamu."Perawat itu terdiam sejenak, lalu tidak tahan

  • Di Ujung Kabut Itu, Dia Tak Kembali   Bab 5

    Marissa membuka matanya karena kesakitan dan mendapati dirinya sudah kembali ke kediaman Keluarga Kivandra.Arka tengah duduk di tepi tempat tidur. Dia menatap Marissa dengan muram. "Apa yang barusan kamu katakan soal pergi?"Jantung Marissa berdegap kencang. Dengan suara serak, dia mencoba berpura-

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status