Share

Bab 3

Author: Ali
Saat makan siang, Kaitlyn mabuk laut. Matthew terus berada di sisinya.

Perutku sakit sampai tak bisa makan, sehingga aku ingin meminta pelayan mengganti makananku dengan semangkuk bubur yang lebih ringan.

Namun, Declan malah berkata sambil tersenyum, “Reine, kok kamu juga mulai nggak enak badan?”

“Jangan-jangan gara-gara lihat Kaitlyn mabuk laut, kamu sengaja ikut-ikutan, ya?”

Yang lain pun ikut tertawa. Matthew mendongak dan menatapku.

“Bukannya dulu kamu nggak pernah kenapa-kenapa kalau naik kapal?”

Aku menjelaskan, “Pagi tadi aku belum makan, jadi perutku agak sakit.”

Namun, dia justru menunduk dan menyodorkan air hangat kepada Kaitlyn.

“Kalau begitu, tahan dulu. Jangan malah bikin repot saat dia lagi benar-benar nggak enak badan.”

Tak lama kemudian, pelayan membawakan semangkuk bubur putih. Baru saja aku mengulurkan tangan, Matthew sudah lebih dulu mendorong bubur itu ke hadapan Kaitlyn.

“Makan dulu sedikit.”

Tanganku yang terhenti perlahan kutarik kembali.

Itu bubur yang kupesan.

Namun, tak seorang pun merasa ada yang salah.

Kaitlyn menyuapnya dua kali, lalu mengeluhkan rasa buburnya yang hambar.

“Aku nggak mau makan lagi.”

Dia mendorong sisa bubur itu ke hadapanku.

“Reine, bukannya perutmu sakit? Nih, buat kamu.”

Bubur itu sudah diaduk-aduk hingga berantakan.

Sendoknya bahkan masih menempel lipstiknya.

Dulu, mungkin aku masih akan memakannya.

Karena Kaitlyn akan berkata kepadaku, “Kita sahabat baik. Nggak ada istilah milikmu atau milikku.”

Matthew juga akan memujiku.

“Reine memang pengertian, nggak seperti orang lain yang begitu manja.”

Namun kali ini, aku memanggil pelayan.

“Tolong dibuang saja.”

Ekspresi Kaitlyn seketika berubah kaku.

“Aku cuma makan sedikit. Kamu jijik sama aku?”

Aku menjawab dengan tenang.

“Aku nggak makan makanan sisa orang lain.”

Wajah Matthew seketika berubah muram.

“Reine, dia lagi nggak enak badan seperti itu, tapi masih kepikiran buat menyisakan bubur itu buatmu.”

“Di saat seperti ini, kamu masih harus bikin dia malu juga?”

Aku memandang kelima orang di hadapanku dan tiba-tiba merasa sedikit linglung.

Selama bertahun-tahun, mereka selalu memberikan makanan sisa mereka kepadaku.

Saat meja sudah tidak cukup menampung semua orang, aku yang disuruh pindah ke meja lain.

Saat di dalam mobil kurang satu tempat duduk, aku yang disuruh naik taksi sendiri.

Saat foto perjalanan membutuhkan seseorang untuk memotret, barulah mereka teringat padaku.

Namun, begitu sekali saja aku tidak menerimanya, aku langsung dianggap tidak bisa berbaur, suka mempermasalahkan hal-hal kecil, dan tidak bisa diajak bercanda.

Aku menundukkan kepala.

“Maaf.”

Sesuai dugaanku, ekspresi mereka semua langsung melunak. Alvino pun tersenyum.

“Nah, begitu dong. Kita sudah keluar buat bersenang-senang, jadi harus lebih ceria.”

Aku pun ikut tersenyum.

Hanya saja, kali ini aku meminta maaf bukan karena merasa diriku yang salah.

Aku hanya sudah enggan berbicara lebih banyak dengan mereka.

Malam harinya, mereka kembali minum-minum di teras.

Aku kembali ke kamar seorang diri untuk membereskan barang bawaanku.

Perjalanan ini semula dijadwalkan berlangsung selama tujuh hari, tetapi sekarang baru tiga hari berlalu.

Namun, aku sudah tidak ingin terus menemani permainan mereka.

Aku memesan tiket pulang paling awal untuk keesokan harinya.

Setelah menyelesaikan semuanya, aku baru menyadari pengisi dayaku tidak ada.

Aku teringat bahwa siang tadi Kaitlyn sempat meminjamnya, jadi aku pergi ke kamarnya untuk mengambilnya.

Pintunya tidak terkunci dan tidak ada seorang pun di dalam.

Namun, layar tablet di sampingnya masih menyala.

Tepat saat itu, sebuah pesan baru muncul.

Nama grupnya adalah, [Lima Sekawan Selamanya.]

Alvino mengirim sebuah video. Video itu memperlihatkan Matthew dan Kaitlyn yang berciuman kemarin.

Di bawahnya, penuh dengan emoji orang-orang yang ikut menggoda dan bersorak.

[Akhirnya mereka benar-benar berciuman juga.]

[Sudah kubilang cara ini berhasil, kan?]

[Wajah Reine sampai pucat, tapi dia masih bisa menahan diri.]

[Dia benar-benar jago berpura-pura.]
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Di grup Mereka Berlima, Tak Pernah Ada Aku   Bab 10

    Dulu, aku sudah terlalu lama menunggu kalimat itu.Kalau saja dia mengatakannya lebih awal, saat pertama kali aku ditinggalkan.Saat pertama kali aku melihat mereka berlima berfoto bersama.Saat pertama kali aku menyadari bahwa ulang tahunku sendiri ternyata tidak sepenting air mata Kaitlyn.Mungkin saat itu aku masih akan kembali.Namun sekarang, aku hanya berkata dengan tenang, “Aku nggak perlu kamu berubah lagi.”“Mulai sekarang, siapa yang kamu cintai, siapa yang kamu pilih, dan dengan siapa kamu berdiri, semuanya sudah nggak ada hubungannya denganku.”Matthew menggenggam cincin itu erat-erat hingga lingkarannya menekan telapak tangannya.Sama seperti dulu, saat cincin itu melukai tanganku.“Kamu benar-benar sudah nggak mencintaiku lagi?”Aku terdiam sejenak.“Pernah.”Matanya sedikit berbinar.Namun detik berikutnya, aku menambahkan, “Tapi semua itu sudah terkikis oleh tujuh kartu kosong itu.”“Sedikit demi sedikit, sampai akhirnya habis.”Matthew tidak langsung pergi. Dia tinggal

  • Di grup Mereka Berlima, Tak Pernah Ada Aku   Bab 9

    Tiga bulan kemudian, Matthew akhirnya mendapat kabar tentangku.Aku pergi ke sebuah kota kecil di pesisir yang terletak di tepi laut.Aku bergabung dengan sebuah tim dokumenter dan bertugas merekam para perajin perempuan di daerah terpencil.Dia langsung bergegas ke sana malam itu juga, hingga akhirnya menemukanku di dekat sebuah dermaga tua.Aku mengenakan jaket tahan dingin, dengan rambut yang berantakan diterpa angin laut.Saat itu aku sedang memegang kamera dan merekam seorang lansia yang sedang menenun jaring.Matthew berdiri dari kejauhan dan memandangiku cukup lama.Untuk pertama kalinya, dia melihat diriku saat kamera tidak sedang diarahkan kepada mereka berlima.Aku sedang tersenyum.Bukan untuk menyenangkan siapa pun, juga bukan karena ada seseorang yang menyuruhku untuk tidak merusak suasana.Sudah bertahun-tahun dia tidak pernah melihat senyum selepas itu dariku.Setelah selesai merekam, aku berbalik dan melihatnya. Senyum di wajahku perlahan memudar.“Kenapa kamu datang?”

  • Di grup Mereka Berlima, Tak Pernah Ada Aku   Bab 8

    Selama seminggu berikutnya, Matthew mencari ke semua tempat yang mungkin kudatangi.Namun, tidak ada yang tahu ke mana aku pergi.Pesan-pesan yang dikirimkannya kepadaku pun berubah, dari perintah menjadi penjelasan.[Reine, pulanglah.][Soal permainan itu, aku bisa minta maaf.][Pernikahannya bisa kita adakan lagi.][Cincin itu bukan aku berikan ke Kaitlyn.][Aku sudah suruh dia mengembalikannya.][Asalkan kamu pulang, mulai sekarang kamu akan selalu ikut dalam setiap pertemuan.]Dia menatap kalimat terakhir itu cukup lama, lalu tiba-tiba merasa semuanya terdengar begitu menggelikan.Padahal, selama ini aku selalu ada.Merekalah yang tidak pernah benar-benar membiarkanku menjadi bagian dari mereka.Sekarang setelah aku pergi, dia baru bersedia memberiku satu tempat.Semua pesannya tetap tidak mendapat balasan.Pada hari kedelapan, Kaitlyn datang. Dia meletakkan cincin itu di atas meja, dengan mata yang merah dan bengkak.“Matthew, bukannya kita yang seharusnya bersama?”“Sebelum Reine

  • Di grup Mereka Berlima, Tak Pernah Ada Aku   Bab 7

    Setelah pesawat mendarat, Matthew tidak pulang ke rumah, melainkan langsung menuju apartemenku.Kode pintunya sudah tidak berlaku.Dia mengetuk pintu cukup lama sebelum pemilik apartemen akhirnya naik dari bawah.“Cari Nona Reine? Dia sudah mengakhiri masa sewanya dari kemarin.”Wajah Matthew seketika membeku.“Dia pindah ke mana?”“Itu saya nggak tahu.”Pemilik apartemen itu menyerahkan sebuah kardus kepadanya.“Dia bilang, kalau kamu datang, kasih kardus ini.”Matthew segera menerimanya. Kardus itu terasa sangat ringan.Di dalamnya tersimpan semua barang yang selama ini pernah dia berikan kepadaku.Sebuah jam tangan yang sudah tidak lagi diproduksi, beberapa buku, dan sebuah sweter lama.Kamera yang pernah dia hadiahkan kepadaku juga ada di dalamnya.Kamera itu dibelinya pada tahun kedua hubungan kami. Saat itu, dia berkata, “Foto-fotomu bagus. Mulai sekarang, semua foto kami berlima serahkan saja ke kamu.”Saat itu, aku tidak menangkap ada yang aneh. Padahal, jumlah kami jelas enam

  • Di grup Mereka Berlima, Tak Pernah Ada Aku   Bab 6

    Matthew membuka pintu kamar. Tempat tidur sofa di ruang tamu itu sudah kosong.Koperku juga sudah tidak ada.Dia tertegun sejenak, lalu tanpa sadar meraih kunci mobil.Namun, Kaitlyn memeluknya dari belakang.“Matthew, kamu mau ke mana? Reine cuma mau kamu kejar.”“Kalau kamu benar-benar pergi kejar dia, nanti setiap kali marah, dia akan mengancammu dengan pergi.”Gerakan Matthew seketika terhenti.Dulu, setiap kali aku menangis, Kaitlyn selalu mengatakan bahwa aku hanya berpura-pura mengasihani diri sendiri.Setiap kali aku marah, dia akan mengingatkan Matthew agar tidak memanjakanku.Oleh karena itu, setiap kali kami bertengkar, dia selalu menunggu sampai aku yang lebih dulu mengalah.Kali ini pun sama.Dia berdiri lama di ambang pintu sebelum akhirnya meletakkan kembali kunci mobil itu.“Benar juga. Biar dia tenang sendiri semalaman.”“Besok dia akan pulang sendiri.”Keesokan paginya, aku tidak kembali.Setelah melihat undangan digital yang sudah dihapus, akhirnya dia menelepon pere

  • Di grup Mereka Berlima, Tak Pernah Ada Aku   Bab 5

    Saat aku menyeret koper meninggalkan hotel, tawa dari teras masih belum berhenti.Matthew mungkin mengira aku hanya seperti yang sudah-sudah, bersembunyi dan menunggu dia membujukku.Ponselku bergetar. Ada pesan darinya.[Kalau sudah puas marahnya, pulanglah.]Beberapa menit kemudian, masuk satu pesan lagi.[Kaitlyn mabuk.][Obat pereda mabuk yang kamu beli ditaruh di mana?]Aku menatap kedua pesan itu cukup lama sebelum akhirnya mematikan ponsel.Ternyata, bahkan setelah aku pergi, hal pertama yang dipikirkannya bukanlah ke mana aku pergi.Melainkan apakah aku sudah menyiapkan obat untuk pereda mabuk bagi Kaitlyn.Saat tiba di bandara, masih tersisa empat puluh menit sebelum pesawat lepas landas.Aku menyelesaikan proses check-in dan menyerahkan koper terakhirku untuk dimasukkan ke bagasi.Selama tujuh tahun, entah sudah berapa kali aku membayangkan pernikahanku dengan Matthew.Seperti apa gaun pengantin yang kuinginkan, kata-kata apa yang akan kutulis di undangan, hingga warna apa ya

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status