Share

Bab 2

Author: Ali
Aku tidak tumbuh besar bersama mereka.

Mereka berlima sudah bersama sejak taman kanak-kanak.

Sedangkan aku baru mengenal Matthew saat kuliah.

Setelah itu, dia yang membawaku masuk ke lingkaran pertemanan mereka.

Pada tahun-tahun awal, aku berusaha keras untuk bisa berbaur dengan mereka.

Mereka bercerita tentang masa kecil, saat diam-diam memetik buah mangga dari rumah guru.

Aku tidak mengerti, tetapi tetap ikut tertawa.

Mereka menyebut julukan yang hanya mereka sendiri yang mengerti.

Diam-diam, aku mencatatnya di aplikasi catatan di ponselku.

Aku mengingat ulang tahun, makanan yang tidak bisa mereka makan, dan kebiasaan setiap orang.

Setiap kali mereka berkumpul untuk makan bersama, aku selalu menjadi orang pertama yang datang.

Saat bepergian pun, akulah yang bertanggung jawab memesan kendaraan dan hotel, serta menyusun rencana perjalanan.

Namun, sebanyak apa pun yang kulakukan, setiap kali mereka mengenang masa lalu, selalu ada satu kalimat yang sama.

“Waktu itu kamu belum kenal kami. Kamu nggak akan mengerti.”

Lama-kelamaan, ‘tidak mengerti’ berubah menjadi ‘tidak perlu memberitahunya’.

Saat mereka tiba-tiba mengganti restoran, mereka tidak akan memberitahuku.

Saat mereka mengganti foto profil, tak seorang pun mengirimkannya kepadaku.

Bahkan untuk perjalanan kali ini.

Aku baru mengetahuinya dari riwayat percakapan Matthew dan Kaitlyn.

Mereka sudah merencanakannya selama setengah tahun.

Saat kutanyakan mengapa tak seorang pun memberitahuku, Matthew hanya tersenyum sambil mengusap kepalaku.

“Kami memang nunggu kamu yang atur, kan?”

Akhirnya, tiket pesawat, hotel, dan seluruh rencana perjalanan kuurus sendiri. Bahkan, aku juga yang menanggung semua biayanya lebih dulu.

Pada akhirnya, kelima orang itu tinggal datang dan menikmati perjalanan.

Sedangkan aku yang mengurus semuanya, kini bahkan kamar yang seharusnya menjadi milikku, juga harus kuserahkan kepada mereka.

Aku melepaskan genggamanku dari kartu kamar itu.

“Kalian saja yang pakai kamar itu. Aku akan ke lobi.”

Aku tidak memperdebatkannya lagi.

Keesokan paginya, saat aku terbangun, ruang tamu sudah kosong.

Di grup ada sebuah foto kelima orang itu yang sedang sarapan.

Di atas meja tersaji lima porsi sarapan.

Kaitlyn mengirim pesan,

[Reine, kami takut membangunkanmu, jadi kami turun duluan.]

[Kalau sudah bangun, kamu makan sendiri saja, ya.]

Setelah selesai bersiap, aku pergi ke restoran. Namun, pelayan memberitahuku bahwa waktu sarapan sudah berakhir. Tepat saat itu, Matthew menelepon.

“Kamu di mana?”

“Di restoran.”

“Kenapa masih di restoran?”

Nada suaranya terdengar tidak sabar.

“Kami sudah menunggumu di dermaga selama dua puluh menit.”

Aku melihat pesan-pesan di grup.

Tak seorang pun memberitahuku pukul berapa kami akan berangkat.

“Kalian nggak membangunkanku.”

“Kaitlyn bukannya sudah kirim pesan?”

“Dia cuma bilang kalian turun duluan untuk sarapan.”

Matthew terdiam sesaat, lalu malah menyalahkanku.

“Orang normal kalau lihat semua orang sudah pergi, nggak kepikiran buat tanya?”

“Semua orang sedang menunggumu.”

Saat aku tiba di dermaga, kapal pesiar itu sudah siap berangkat dengan mesinnya menyala.

Kelima orang itu berdiri di atas dek kapal, dan tak seorang pun menyisakan tempat untukku.

Kaitlyn mengenakan kemeja putih milik Matthew.

Kemeja itu menjuntai hingga menutupi pahanya.

Begitu melihatku, dia buru-buru menarik kerah kemejanya.

“Reine, jangan salah paham. Ritsleting rokku rusak, jadi Matthew meminjamiku kemejanya.”

Kemeja yang sudah dilepas Matthew, tak pernah sekalipun boleh kusentuh.

Suatu kali, saat mencuci pakaian, aku tak sengaja mencucinya bersama pakaian berwarna gelap hingga warnanya sedikit tercampur menjadi abu-abu muda.

Selama seminggu penuh, dia tidak mengajakku bicara.

Dia mengatakan bahwa dia tidak suka orang lain menyentuh pakaian pribadinya.

Sekarang, Kaitlyn justru mengenakannya.

Dia hanya meliriknya sekilas, lalu bahkan mengingatkannya dengan lembut.

“Ganti celana panjang. Jangan sampai kedinginan.”

Kaitlyn menjulurkan lidah ke arahku.

“Tuh, kan? Dia memang suka mengatur.”

Aku berpegangan pada pagar saat naik ke kapal.

Declan menyodorkan setumpuk barang ke dalam pelukanku.

“Pas banget, tabir surya, kamera, dan air minum semuanya ada di sini. Tolong jaga sebentar, ya.”

Aku memeluk barang-barang mereka.

Kemudian, duduk di tempat yang paling dekat dengan mesin.

Angin laut menerpa tubuhku. Karena belum sarapan, perutku terasa mulas dan nyeri berulang kali.

Demi kegiatan menyelam hari ini, aku sudah mulai belajar berenang sejak setengah tahun yang lalu.

Matthew sangat menyukai laut, sedangkan aku takut air.

Namun, aku tetap diam-diam mendaftar kursus menyelam tanpa sepengetahuannya.

Awalnya, aku ingin memberinya kejutan dalam perjalanan kali ini.

Namun, begitu tiba di lokasi penyelaman, instruktur mengatakan bahwa sekali turun, hanya lima orang yang bisa ikut.

Alvino menoleh kepadaku sambil tersenyum.

“Reine memang takut air, kan? Kamu di kapal saja, jagain tas.”

Aku membuka mulut dan ingin mengatakan bahwa aku sudah memiliki sertifikat selam.

Namun, Kaitlyn tiba-tiba memeluk lengan Matthew.

“Matthew, aku agak gugup. Nanti setelah turun, kamu harus pegang tanganku.”

Matthew memeriksa tabung oksigennya.

“Jangan takut, aku akan tetap di sampingmu.”

Aku menelan kembali kata-kata yang hendak kuucapkan.

Kelima orang itu melompat ke laut, sementara aku duduk sendirian di atas dek kapal, menjaga pakaian dan ponsel mereka.

Beberapa saat kemudian, instruktur bertanya kepadaku,

“Kamu nggak mau ikut turun?”

Aku mengeluarkan sertifikat selam yang masih baru dari dalam tas.

Kemudian, menatapnya lama, lalu akhirnya menggeleng.

“Nggak mau lagi.”

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Di grup Mereka Berlima, Tak Pernah Ada Aku   Bab 10

    Dulu, aku sudah terlalu lama menunggu kalimat itu.Kalau saja dia mengatakannya lebih awal, saat pertama kali aku ditinggalkan.Saat pertama kali aku melihat mereka berlima berfoto bersama.Saat pertama kali aku menyadari bahwa ulang tahunku sendiri ternyata tidak sepenting air mata Kaitlyn.Mungkin saat itu aku masih akan kembali.Namun sekarang, aku hanya berkata dengan tenang, “Aku nggak perlu kamu berubah lagi.”“Mulai sekarang, siapa yang kamu cintai, siapa yang kamu pilih, dan dengan siapa kamu berdiri, semuanya sudah nggak ada hubungannya denganku.”Matthew menggenggam cincin itu erat-erat hingga lingkarannya menekan telapak tangannya.Sama seperti dulu, saat cincin itu melukai tanganku.“Kamu benar-benar sudah nggak mencintaiku lagi?”Aku terdiam sejenak.“Pernah.”Matanya sedikit berbinar.Namun detik berikutnya, aku menambahkan, “Tapi semua itu sudah terkikis oleh tujuh kartu kosong itu.”“Sedikit demi sedikit, sampai akhirnya habis.”Matthew tidak langsung pergi. Dia tinggal

  • Di grup Mereka Berlima, Tak Pernah Ada Aku   Bab 9

    Tiga bulan kemudian, Matthew akhirnya mendapat kabar tentangku.Aku pergi ke sebuah kota kecil di pesisir yang terletak di tepi laut.Aku bergabung dengan sebuah tim dokumenter dan bertugas merekam para perajin perempuan di daerah terpencil.Dia langsung bergegas ke sana malam itu juga, hingga akhirnya menemukanku di dekat sebuah dermaga tua.Aku mengenakan jaket tahan dingin, dengan rambut yang berantakan diterpa angin laut.Saat itu aku sedang memegang kamera dan merekam seorang lansia yang sedang menenun jaring.Matthew berdiri dari kejauhan dan memandangiku cukup lama.Untuk pertama kalinya, dia melihat diriku saat kamera tidak sedang diarahkan kepada mereka berlima.Aku sedang tersenyum.Bukan untuk menyenangkan siapa pun, juga bukan karena ada seseorang yang menyuruhku untuk tidak merusak suasana.Sudah bertahun-tahun dia tidak pernah melihat senyum selepas itu dariku.Setelah selesai merekam, aku berbalik dan melihatnya. Senyum di wajahku perlahan memudar.“Kenapa kamu datang?”

  • Di grup Mereka Berlima, Tak Pernah Ada Aku   Bab 8

    Selama seminggu berikutnya, Matthew mencari ke semua tempat yang mungkin kudatangi.Namun, tidak ada yang tahu ke mana aku pergi.Pesan-pesan yang dikirimkannya kepadaku pun berubah, dari perintah menjadi penjelasan.[Reine, pulanglah.][Soal permainan itu, aku bisa minta maaf.][Pernikahannya bisa kita adakan lagi.][Cincin itu bukan aku berikan ke Kaitlyn.][Aku sudah suruh dia mengembalikannya.][Asalkan kamu pulang, mulai sekarang kamu akan selalu ikut dalam setiap pertemuan.]Dia menatap kalimat terakhir itu cukup lama, lalu tiba-tiba merasa semuanya terdengar begitu menggelikan.Padahal, selama ini aku selalu ada.Merekalah yang tidak pernah benar-benar membiarkanku menjadi bagian dari mereka.Sekarang setelah aku pergi, dia baru bersedia memberiku satu tempat.Semua pesannya tetap tidak mendapat balasan.Pada hari kedelapan, Kaitlyn datang. Dia meletakkan cincin itu di atas meja, dengan mata yang merah dan bengkak.“Matthew, bukannya kita yang seharusnya bersama?”“Sebelum Reine

  • Di grup Mereka Berlima, Tak Pernah Ada Aku   Bab 7

    Setelah pesawat mendarat, Matthew tidak pulang ke rumah, melainkan langsung menuju apartemenku.Kode pintunya sudah tidak berlaku.Dia mengetuk pintu cukup lama sebelum pemilik apartemen akhirnya naik dari bawah.“Cari Nona Reine? Dia sudah mengakhiri masa sewanya dari kemarin.”Wajah Matthew seketika membeku.“Dia pindah ke mana?”“Itu saya nggak tahu.”Pemilik apartemen itu menyerahkan sebuah kardus kepadanya.“Dia bilang, kalau kamu datang, kasih kardus ini.”Matthew segera menerimanya. Kardus itu terasa sangat ringan.Di dalamnya tersimpan semua barang yang selama ini pernah dia berikan kepadaku.Sebuah jam tangan yang sudah tidak lagi diproduksi, beberapa buku, dan sebuah sweter lama.Kamera yang pernah dia hadiahkan kepadaku juga ada di dalamnya.Kamera itu dibelinya pada tahun kedua hubungan kami. Saat itu, dia berkata, “Foto-fotomu bagus. Mulai sekarang, semua foto kami berlima serahkan saja ke kamu.”Saat itu, aku tidak menangkap ada yang aneh. Padahal, jumlah kami jelas enam

  • Di grup Mereka Berlima, Tak Pernah Ada Aku   Bab 6

    Matthew membuka pintu kamar. Tempat tidur sofa di ruang tamu itu sudah kosong.Koperku juga sudah tidak ada.Dia tertegun sejenak, lalu tanpa sadar meraih kunci mobil.Namun, Kaitlyn memeluknya dari belakang.“Matthew, kamu mau ke mana? Reine cuma mau kamu kejar.”“Kalau kamu benar-benar pergi kejar dia, nanti setiap kali marah, dia akan mengancammu dengan pergi.”Gerakan Matthew seketika terhenti.Dulu, setiap kali aku menangis, Kaitlyn selalu mengatakan bahwa aku hanya berpura-pura mengasihani diri sendiri.Setiap kali aku marah, dia akan mengingatkan Matthew agar tidak memanjakanku.Oleh karena itu, setiap kali kami bertengkar, dia selalu menunggu sampai aku yang lebih dulu mengalah.Kali ini pun sama.Dia berdiri lama di ambang pintu sebelum akhirnya meletakkan kembali kunci mobil itu.“Benar juga. Biar dia tenang sendiri semalaman.”“Besok dia akan pulang sendiri.”Keesokan paginya, aku tidak kembali.Setelah melihat undangan digital yang sudah dihapus, akhirnya dia menelepon pere

  • Di grup Mereka Berlima, Tak Pernah Ada Aku   Bab 5

    Saat aku menyeret koper meninggalkan hotel, tawa dari teras masih belum berhenti.Matthew mungkin mengira aku hanya seperti yang sudah-sudah, bersembunyi dan menunggu dia membujukku.Ponselku bergetar. Ada pesan darinya.[Kalau sudah puas marahnya, pulanglah.]Beberapa menit kemudian, masuk satu pesan lagi.[Kaitlyn mabuk.][Obat pereda mabuk yang kamu beli ditaruh di mana?]Aku menatap kedua pesan itu cukup lama sebelum akhirnya mematikan ponsel.Ternyata, bahkan setelah aku pergi, hal pertama yang dipikirkannya bukanlah ke mana aku pergi.Melainkan apakah aku sudah menyiapkan obat untuk pereda mabuk bagi Kaitlyn.Saat tiba di bandara, masih tersisa empat puluh menit sebelum pesawat lepas landas.Aku menyelesaikan proses check-in dan menyerahkan koper terakhirku untuk dimasukkan ke bagasi.Selama tujuh tahun, entah sudah berapa kali aku membayangkan pernikahanku dengan Matthew.Seperti apa gaun pengantin yang kuinginkan, kata-kata apa yang akan kutulis di undangan, hingga warna apa ya

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status