Compartilhar

Bab 3

Autor: Makjos
Hatiku terasa sakit.

Bahkan anakku pun tahu bahwa orang itu adalah Bara. Namun ia tak pernah mengakuinya, bahkan tega pada darah dagingnya sendiri.

Aku memeluk putriku erat-erat, berusaha menahan air mata.

“Cindy sayang, itu bukan Ayah. Ayah sudah pergi.”

Hari itu juga aku berangkat ke markas militer. Dengan membawa surat kematian, aku melaporkan kabar duka dan mengajukan permohonan agar status militer Bara dicabut.

Kepala komando berkata, “Kami juga sudah mendengar kabar gugurnya Kamerad Bara Atmaja. Kami turut berduka.”

“Kalian adalah keluarga yang ditinggalkan. Jika memerlukan bantuan, organisasi akan berusaha memenuhinya.”

Tanpa ragu, aku menyampaikan keputusan yang sudah lama kupikirkan.

“Komandan, aku ingin bekerja di kawasan militer. Asal bisa menghidupiku dan anakku, itu sudah cukup.”

Ia tampak terkejut. “Bekerja di militer bisa sangat melelahkan, dan berarti harus jauh dari kampung halaman. Apa kamu sudah memikirkannya dengan matang-matang?”

Justru itulah tujuanku. Aku mengangguk dengan tegas.

Semua proses berjalan cepat. Status militer Bara dicabut, dan aku menerima santunan kematian serta biaya pemakaman.

Saat pulang ke rumah, ibu mertua sedang duduk di halaman. Begitu melihatku, ia langsung menyindirku dengan tajam.

“Si pembawa sial pulang juga? Suami sudah mati pun masih keluyuran ke sana kemari. Anakku benar-benar sial menikahi perempuan sepertimu.”

Putriku duduk di tanah, menunduk sambil terisak, mengupas jagung.

Telapak tangannya penuh luka melepuh. Di beberapa bagian sudah pecah dan memerah.

Amarah kembali membakar dadaku. Aku segera mengangkat anakku.

“Cindy baru berusia lima tahun. Tangannya sampai luka begini, apa Ibu nggak bisa melihatnya?”

Ibu mertua berkacak pinggang dan meludah dengan kasar.

“Dasar perempuan pembawa sial! Nggak bisa melahirkan anak laki-laki masih berani melawan?”

“Kalian berdua cuma orang luar. Nggak kerja tapi mau makan gratis?”

Aku mencibir dingin, “Suamiku sudah mati. Kalau begitu, aku akan pergi. Aku tak akan mengambil keuntungan dari Keluarga Atmaja.”

Aku berbalik hendak pergi, namun ibu mertua langsung panik dan menghalangiku.

“Kalau kamu pergi, lalu siapa yang akan melayani Maya sampai melahirkan anak laki-laki? Sudah bertahun-tahun menumpang makan di rumah ini, jangan harap bisa pergi begitu saja!”

Maya berdiri di bawah jendela, mengelus perutnya, menatapku dengan wajah penuh kemenangan.

“Kakak ipar, siapa suruh kamu nggak bisa melahirkan anak laki-laki? Di perutku ini ada satu-satunya cucu Keluarga Atmaja. Tentu harus dilayani dengan baik.”

Bara menopang tubuhnya dengan satu tangan, lalu berkata padaku dengan nada memerintah, “Ibu sudah tua, Maya juga butuh perawatan. Kakak ipar, jangan kekanak-kanakan.”

Aku hampir tertawa sinis. Saat aku melahirkan anakku, mengapa ia tak pernah berkata aku butuh perawatan?

Saat itu air ketubanku pecah dan aku pergi ke rumah sakit sendirian. Tak satu pun dari keluarga ini yang peduli.

Ibu mertua membenciku karena aku melahirkan anak perempuan.

Bara bahkan tak muncul sama sekali, dan tak pernah bertanya sepatah kata pun.

Lalu dengan alasan apa aku harus mengorbankan diri dan melayani mereka?

Aku mengatupkan gigi, memeluk anakku kembali ke kamar, dan dengan hati-hati mengoleskan salep ke tangannya.

Saat keluar, aku mendengar Bara dan Maya berbicara.

“Bara, lihat sikap Aluna. Kalau bukan karena kamu menggantikan Danu menemaniku, aku mungkin sudah celaka oleh ulahnya.”

Suara Bara terdengar lembut.

“Tenang saja, Maya. Demi kamu dan anak kita, aku akan melindungimu seumur hidup.”

“Ibu juga berpihak padamu. Kalau tidak, mana mungkin ia setuju aku menyamar sebagai Danu.”

Tanganku mengepal kuat, bibirku hampir berdarah tergigit.

Ternyata anak yang dikandung Maya adalah anak Bara. Bahkan Maya dan ibu mertua pun tahu soal penyamarannya.

Mereka sudah berhubungan lebih lama dari yang kubayangkan. Hanya aku yang dibodohi selama ini.

Aku menenangkan diri sambil menatap wajah tidur putriku. Demi anakku, kami akan segera meninggalkan tempat ini.

Benar saja, dua hari kemudian aku menerima kabar dari komandan. Pekerjaanku sudah diatur, dan aku bisa segera mulai bekerja.

Aku langsung membereskan barang-barang dan bersiap pergi.

Namun begitu melangkah keluar, aku berhadapan dengan wajah Bara yang muram.

Tatapannya jatuh ke tiket yang ada di tanganku. Suaranya dingin.

“Aluna, kamu mau ke mana?”
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Dia Mau Jadi Adik Iparku, Aku Restui!   Bab 9

    Pimpinan memanggil Maya dan ibu mertua secara terpisah untuk dimintai keterangan.Bara merasa sudah menggenggam kemenangan. Ia menatapku dengan sikap menantang.“Aluna, sekarang aku benar-benar sadar pada sifatmu. Begitu identitasku dipulihkan, aku akan langsung menceraikanmu.”Aku tak menanggapi. Aku hanya menunggu hingga sesi pemeriksaan mereka selesai.Beberapa menit kemudian, Maya keluar lebih dulu. Begitu melihat Bara, ia langsung menempel manja dan memanggil "Suami".Bara spontan menarik lengannya. “Siapa yang kamu panggil suami? Aku Bara, bukan suamimu.”Maya mengerutkan bibir. “Apa yang kamu bicarakan? Aku tadi bersusah payah meyakinkan pimpinan bahwa kita ini suami istri.”Bara langsung membeku.Belum sempat ia berkata apa-apa, ibu mertua juga keluar. Dengan wajah penuh rahasia, ia berbisik pada Bara, “Tenang saja, Nak. Ibu sudah menutupinya. Mereka pasti tidak akan curiga kalau kamu menyamar sebagai Danu.”Aku tersenyum dingin. Bara mengira dengan adanya orang yang mengetahui

  • Dia Mau Jadi Adik Iparku, Aku Restui!   Bab 8

    Jika dulu Bara sendiri yang mengaku padaku tentang jati dirinya, mungkin aku akan terpukul dan mengikutinya pulang tanpa berpikir panjang.Namun sekarang, setelah melihat sendiri betapa mesranya ia dengan Maya, semua itu terasa ironis.Aku melepaskan tangannya, wajahku penuh ketidakpercayaan.“Suamiku sudah meninggal. Apa maksudmu menyamar sebagai dia? Kamu pikir aku bakal tertipu begitu saja?”Bara mengulurkan tangannya. “Aku benar-benar dia. Lihat bekas lukaku ….”Aku langsung memotongnya, “Bekas luka juga bisa dipalsukan. Aku tidak akan memercayaimu.”Ia semakin gelisah, bahkan mulai menarikku dengan paksa.Aku berontak sekuat tenaga. Saat Bara lengah, aku mendorongnya dan berlari ke arah luar.Ia mengejarku dengan marah. Begitu tangannya kembali menangkapku, seberkas cahaya putih tiba-tiba muncul.Beberapa orang langsung mengepung dan dengan sigap menekan Bara ke tanah. Gerakan mereka terlatih, tak memberinya sedikit pun kesempatan untuk melawan.Itu adalah regu patroli yang kebetu

  • Dia Mau Jadi Adik Iparku, Aku Restui!   Bab 7

    Aku tak ingin meladeni mereka. Aku pun menarik Damian pergi, tetapi Bara melangkah cepat menyusul dan mencengkeram pergelangan tanganku.“Aluna, kamu dengar tidak aku bicara?”Aku berbalik, menepis tangannya dengan cepat. Wajahku datar tanpa emosi.“Danu, dengan status apa kamu mempertanyakanku?”Bara spontan melirik Maya.“Kamu kakak iparku. Tentu saja aku berhak mengurusmu. Kakakku baru meninggal belum lama ini, tapi kamu sudah bermesraan dengan lelaki lain. Masih punya rasa malu atau tidak!”Aku tak sudi mendengar dalih munafiknya dan hendak kembali pergi. Namun Bara justru menghalangi Damian, menatapnya dari atas ke bawah dengan sikap merendahkan.“Kamu tahu Aluna pernah menikah, kan? Anak yang kamu gendong itu adalah anaknya dengan suaminya. Perempuan yang sudah punya anak pun kamu masih mau?”“Aku tidak keberatan memberitahumu, aku adik iparnya. Wajahku sama dengan kakakku. Dia bahkan menganggapku sebagai pengganti. Kamu ….”Belum selesai ucapannya, Damian memotong dengan suara d

  • Dia Mau Jadi Adik Iparku, Aku Restui!   Bab 6

    Itu adalah Komandan. Ia melangkah masuk dengan cepat. Begitu melihat kekacauan di hadapannya, wajahnya langsung mengeras. “Santunan diberikan oleh organisasi sesuai aturan, diperuntukkan bagi istri dan anak Kamerad Bara Atmaja. Tak seorang pun berhak merampasnya.”Belasan ajudan menyusul masuk. Suasana langsung hening. Tak seorang dari mereka berani bersuara lagi.Begitu melihat komandan, Bara segera memasang senyum dan mendekat dengan sikap menjilat.“Komandan, kenapa Anda sampai datang sendiri ke rumah kami? Anda tidak tahu kelakuan Aluna. Anda sudah tertipu olehnya.”“Di depan orang-orang dia mengurus pemakaman kakakku, tapi diam-diam dia menggodaku. Hanya karena wajahku mirip dengan kakak, dia ingin menikah denganku. Benar-benar tak tahu malu!”Begitu tahu yang datang adalah komandan, ibu mertua langsung duduk di tanah sambil menangis meraung-raung.“Komandan, tolong beri keadilan. Anak sulungku tidak pernah memperlakukannya dengan buruk. Aluna nggak bisa lahirkan anak laki-laki,

  • Dia Mau Jadi Adik Iparku, Aku Restui!   Bab 5

    Maya berdiri di depan, dengan beberapa tetangga dan warga desa yang mengikutinya dari belakang.Begitu melihat tangan Bara dan tanganku masih saling terpaut, ia berteriak. Wajahnya langsung berubah masam.“Danu, apa yang sedang kamu lakukan?!”Orang lain ikut melirik dengan ekspresi aneh, lalu berbisik-bisik.“Bukannya mereka adik kakak ipar? Kok di siang bolong sudah begini ….”“Nggak disangka, Bara baru saja meninggal, mereka sudah main belakang.”Bara menoleh dan seketika panik.Ia segera melepaskanku dan berjalan ke arah Maya.“Istriku, ini nggak seperti yang kamu lihat. Aluna yang menggodaku.”Ia menunjukku dengan penuh amarah.“Dia mengira aku sebagai kakak. Dia mau aku menanggung dua keluarga. Katanya dia nggak bisa hidup tanpa laki-laki.”Hatiku seketika tenggelam ke dasar jurang.Cara Bara menuduhku sama persis seperti di kehidupan sebelumnya. Ia menatapku dengan jijik, dan berdiri di sisi Maya.Wajah Maya langsung berubah. Ia menatapku dengan sorot mata menakutkan, suaranya m

  • Dia Mau Jadi Adik Iparku, Aku Restui!   Bab 4

    Aku menggenggam erat tiket di tanganku dengan spontan dan melindungi putriku di belakang tubuhku.“Aku mau ke mana bukan urusanmu. Kamu nggak berhak ikut campur, Danu.”Aku sengaja menekan pengucapan namanya.Wajah Bara menegang sejenak, lalu ia segera berkata, “Maya sedang hamil dan butuh orang yang merawatnya. Kamu hanya perlu mengurus rumah seperti dulu. Selama di rumah ini, makananmu tetap terjamin.”Aku menatapnya dingin. “Bara sudah meninggal. Aku hanya orang luar. Mana berani aku tinggal di rumahmu.”“Lagipula, kami berdua nggak ada gunanya di sini. Maya itu istrimu, urus saja sendiri.”Selesai berbicara, aku hendak membawa anakku pergi.Namun Bara melangkah cepat ke arahku dan tanpa aba-aba merebut tiket dari tanganku. Ia merobeknya menjadi beberapa bagian. Tanpa ragu, ia berkata, “Kakak ipar, aku ini memikirkan kebaikanmu. Kamu seorang janda dan membawa anak, bagaimana bisa bertahan hidup di luar sana? Lebih baik tinggal di rumah. Setidaknya nggak akan kelaparan.”Melihat pot

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status