Share

Bab 5

Auteur: Mona
Risa terbaring di genangan darah, pandangannya perlahan mengabur. Ia menatap Niko yang sedang melindungi Dinda dengan hati-hati di dalam pelukannya. Di benak Risa, potongan demi potongan kenangan berkelebat.

Saat pertama kali bertemu, tatapan sedingin es milik Niko di balik kacamata berbingkai emas .... Saat mereka saling bertentangan, Risa menuangkan garam ke dalam kopi Niko, tapi Niko tetap meminumnya tanpa perubahan ekspresi. Saat pertama kali Risa ditekan di atas meja kerja, rasa sakit membuatnya menggigit bahu pria itu sampai berdarah. Lalu, tanpa sadar, Risa jatuh cinta pada Niko semakin dalam. Hingga di hari ulang tahun Niko, Risa mendekorasi seluruh vila untuknya, namun yang Risa dapatkan justru berita skandal antara Niko dan Dinda .…

Dan kenangan di hari lain, saat Risa berjalan sendirian sejauh lima kilometer, dengan mata merah, menuju pemakaman ibunya. Sepatu hak tingginya menggesek tumit hingga penuh luka lepuh berdarah. Saat itu, Niko yang menemukannya. Tanpa sepatah kata, Niko melepas sepatu hak yang membuat penuh luka itu. Satu tangan menenteng sepatu, tangan lainnya menggendong Risa pulang. Air mata Risa mengalir ke leher pria itu, dan dalam hati ia berpikir, kalau bisa seperti ini seumur hidup, sepertinya tidak buruk juga. Sejak ibunya pergi, akhirnya ada seseorang lagi yang menuntun Risa pulang.

Namun pada akhirnya, semua kenangan itu runtuh, menyatu menjadi satu adegan, Niko yang memeluk Dinda erat-erat, dan melindungi Dinda tanpa ragu.

Bip … bip … bip .…

Suara alat medis menarik Risa kembali ke kenyataan. Ia perlahan membuka mata, lalu mendengar suara Dinda dari ranjang sebelah, bergetar bercampur isak tangis, “Ini salahku, aku seharusnya tidak berdiri di pinggir jalan dan bertengkar dengan Kak Risa … aku cuma ingin mengantarnya pulang …. Kak Niko, kenapa kamu justru menyelamatkanku lebih dulu? Kalau Kak Risa tahu, dia pasti marah .…”

Niko mengangkat tangan, mengusap air mata di wajah Dinda.

“Ini bukan salahmu.” Nada suaranya begitu lembut, kelembutan yang belum pernah Risa dengar sebelumnya.

“Kalau pun diulang sekali lagi, aku tetap akan menyelamatkanmu lebih dulu,” bisik Niko pelan. “Kondisi tubuhmu tidak baik, kamu tidak boleh terluka lagi.”

Niko terdiam sejenak, lalu menambahkan, “Lagipula, dia juga tidak punya alasan untuk marah.”

Dada Risa mendadak mengencang, seolah ada tangan tak terlihat yang mencengkeram jantungnya dan memutarnya dengan kejam.

Benar juga. Memang ada hubungan apa dia dengan Niko? Apa haknya untuk marah? Siapa yang ingin Niko selamatkan, itu kebebasan Niko untuk memilih.

“Sudah, jangan menangis lagi. Pulanglah dan istirahat dengan baik,” ujar Niko lembut.

Niko terus menenangkan Dinda dengan suara pelan cukup lama, hingga akhirnya Dinda pergi. Saat pintu ruang rawat tertutup, Niko menoleh, dan baru menyadari bahwa Risa sudah lama terbangun, sedang menatapnya dalam diam.

Tak ada sedikit pun rasa bersalah di wajahnya. Dengan ekspresi datar, Niko berkata, “Lukamu hanya luka luar. Tapi aku tahu kamu memerhatikan penampilan dan takut sakit, jadi aku memanggil tim medis terbaik. Tidak akan meninggalkan bekas luka.”

Kalau dulu, Risa pasti sudah menangis dan mengamuk, mempertanyakan kenapa dia menyelamatkan Dinda lebih dulu. Namun sekarang, Risa hanya berkata dengan tenang, “Aku mengerti. Terima kasih. Biaya pengobatan akan aku kembalikan setengah bulan lagi.”

Alis Niko sedikit berkerut, seolah heran kenapa Risa berterima kasih? Dan kenapa Risa terus menyebut "setengah bulan"?

Namun Niko tidak bertanya lebih jauh. Ia hanya menganggap itu sekadar sikap manja seorang Nona Besar, sindiran halus khas diri Risa.

Beberapa hari berikutnya, Niko yang biasanya selalu sibuk, untuk pertama kalinya menunda semua pekerjaannya dan tinggal di rumah sakit demi merawat Risa. Anehnya, Risa tidak lagi seperti dulu yang selalu menempel pada Niko dan bertingkah manja. Ia menerima perawatan dengan tenang, makan dan tidur dengan tenang. Ketenangannya justru membuat dada Niko terasa sesak tanpa alasan.

“Masih marah?” Saat menemani Risa yang sedang disuntik infus, akhirnya Niko membuka suara.

“Marah soal apa?”

“Soal aku tidak menyelamatkanmu hari itu.” Niko berhenti sejenak, lalu melanjutkan, “Aku menyelamatkan Dinda itu wajar. Aku dan dia .…”

Niko belum sempat menyelesaikan kalimatnya, ketika tiba-tiba terdengar keributan dari lorong.

“Ada apa?” Seorang perawat berlari tergesa-gesa.

“Katanya putri tiri Pak Hendra jatuh dari tangga.” Perawat lain membuka suara. “Baru saja dibawa ke IGD. Pak Hendra sampai pucat, dia menggendong sendiri masuk ke rumah sakit. Jujur saja, sebaik itu pada anak tiri, benar-benar pria langka .…”

Risa mengangkat pandangan ke arah Niko. Seperti dugaan, raut wajahnya berubah seketika.

“Ada urusan yang harus aku tangani,” ucap Niko sambil berdiri, gerakannya lebih tergesa dari biasanya. “Nanti aku kembali lagi.”

Risa menatap punggung Niko yang menjauh dengan langkah cepat. Tanpa perlu berpikir, ia sudah tahu ke mana pria itu pergi. Ia memejamkan mata dengan lelah. Hatinya seolah sudah kosong.
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Latest chapter

  • Dia Tertidur Dalam Malam Abadi   Bab 22

    Risa belajar untuk patuh pada hari kedua puluh tujuh sejak ia dikurung. Ia tak lagi melawan, tak lagi mogok makan, bahkan sesekali tersenyum pada Niko. Awalnya, Niko tetap waspada. Namun perlahan, ia mulai percaya bahwa perempuan itu mungkin benar-benar telah menyerah pada nasibnya.“Apa yang ingin kamu makan hari ini?” tanya Niko di pagi hari. Ia berdiri di sisi ranjang sambil merapikan dasinya.Risa bersandar di kepala ranjang, rambut panjangnya tergerai di bahu. Nada suaranya tenang. “Masakanmu.”Jari Niko sempat terhenti. Kilatan terkejut melintas di matanya, lalu ia tersenyum tipis. “Baik.”Niko berbalik menuju dapur. Untuk pertama kalinya, langkahnya terlihat begitu rileks. Begitu punggung pria itu menghilang di balik pintu, senyum di wajah Risa lenyap. Ia langsung menyingkap selimut dan mengeluarkan sebuah komputer mikro dari bawah kasur, benda yang diam-diam ia curi dari ruang kerja Niko seminggu lalu.Jari Risa bergerak cepat, kode demi kode mengalir di layar. Sistem keamanan

  • Dia Tertidur Dalam Malam Abadi   Bab 21

    Karena tumpukan pekerjaan di Grup Sutomo yang tidak bisa ditunda, Niko terpaksa kembali untuk menanganinya.Pulau pribadi, senja hari.Pada hari ketiga sejak kepergian Niko, Risa berdiri di depan jendela kaca besar, menatap sisa cahaya matahari di cakrawala yang perlahan ditelan laut. Seorang pelayan masuk dengan langkah hati-hati, meletakkan segelas susu hangat.“Nyonya … tolong minum sedikit.”Risa tak bergerak. Ia hanya bertanya pelan, “Kapan dia kembali?”“Pak Niko bilang setelah urusan perusahaan selesai, beliau akan ....”Prang!Gelas itu menghantam dinding. Pecahannya beterbangan, susu tumpah membasahi lantai.“Aku bukan nyonya siapa pun.” Risa tertawa dingin. “Keluar.”Pelayan itu pucat pasi, segera mundur dan menutup pintu. Risa membungkuk dan mengambil sepotong pecahan kaca yang paling tajam....Di saat yang sama, di Kota Utara, kantor pusat Grup Sutomo. Di ruang rapat, Niko duduk di kursi utama, mendengarkan laporan para eksekutif. Jarinya tanpa sadar mengusap layar ponsel.

  • Dia Tertidur Dalam Malam Abadi   Bab 20

    Pulau pribadi, pagi hari.Helikopter mendarat di helipad di tengah pulau. Deru baling-baling perlahan mereda, menyisakan suara ombak yang menghantam karang.Risa digendong turun oleh Niko. Begitu kakinya menyentuh tanah, Risa langsung mendorong Niko menjauh.“Penculikan?” Risa mencibir dingin. Ekor gaun pengantinnya berkibar liar diterpa angin laut. “Sejak kapan Pak Niko melakukan hal serendah ini?”Niko tidak marah. Justru ia tersenyum ringan. “Memangnya kenapa?”Niko mengangkat tangan dan menyentuh pipi Risa. Ujung jarinya dingin, namun tatapannya panas sampai terasa menakutkan. “Riri, kamu milikku.”“Dalam hidup ini, jangan pernah bermimpi menikah dengan orang lain.”Di dalam vila utama. Niko membawanya berkeliling seluruh pulau.“Semua yang ada di sini adalah milikmu.” Niko mendorong pintu kaca besar. Angin laut yang asin menerobos masuk. “Taman, kolam renang, perpustakaan … bahkan lautan itu.”Risa tetap tak bergeming. “Aku ingin pulang.”“Riri, lupakan semua hal yang tidak menyen

  • Dia Tertidur Dalam Malam Abadi   Bab 19

    Sehari sebelum pernikahan, di vila pribadi Keluarga Badara.Risa duduk di depan meja rias di kamar pengantin, ujung jarinya mengusap lembut taburan berlian kecil di gaun pengantinnya. Cahaya matahari di luar jendela terasa pas. Di dalam vila, para pelayan sibuk menata lokasi pernikahan esok hari, semuanya tampak begitu sempurna. Tiba-tiba terdengar ketukan pelan di pintu.“Kak?”Juan mendorong pintu dan masuk. Di tangannya ada secangkir teh mawar merah hangat, sementara tangan lainnya memegang kotak beludru kecil yang indah. Ia mengenakan setelan jas hitam yang rapi, kerahnya sedikit terbuka. Di balik kacamata berbingkai emas, tatapannya begitu lembut, terlalu lembut untuk sekadar kepura-puraan.“Kamu hampir tidak menyentuh sarapanmu,” kata Juan sambil meletakkan cangkir teh di dekat tangan Risa, nada suaranya mengandung sedikit keluhan. “Orang dapur bilang kamu hanya minum setengah gelas susu.”Risa menatap Juan dan tersenyum tipis. “Pak Juan mau memarahiku secara langsung?”“Tidak be

  • Dia Tertidur Dalam Malam Abadi   Bab 18

    “Bukankah Keluarga Badara di Kota Selatan dan Keluarga Sutomo di Kota Utara tidak pernah akur? Kenapa … Pak Niko datang ke sini?”Bisik-bisik para tamu menyebar di seluruh aula pesta.Semua pandangan tertuju pada sosok tinggi ramping di ambang pintu. Niko berdiri di sana, setelan jasnya rapi sempurna, namun sorot matanya gelap dan mengerikan. Tatapannya terpaku pada tangan Risa dan Juan yang saling bertaut dengan erat, seolah ingin membakar tangan itu hingga berlubang.“Kenapa Pak Niko menatap Nona Risa seperti itu? Jangan-jangan dia datang untuk merebut pengantin?”Seketika, Juan menarik Risa ke dalam pelukannya. Lengannya terentang di depan tubuh Risa, membentuk dinding tak kasatmata untuk melindungi Risa. Namun Risa justru terlihat sangat tenang. Ia menatap Niko, lalu tersenyum.“Pak Niko, kenapa Anda datang? Apa Anda ke sini untuk mengantarkan hadiah pernikahan?”Kalimat itu bagaikan sebilah pisau tajam yang menghunjam langsung ke dada Niko. Rahangnya mengeras, urat-urat di pelipis

  • Dia Tertidur Dalam Malam Abadi   Bab 17

    “Sepuluh tahun lalu, di pesta kapal pesiar di Kota Utara .…”“Kamu lupa siapa yang kamu selamatkan?”Risa tertegun. Ingatannya tiba-tiba terseret kembali ke sepuluh tahun silam. Di pesta itu, ia berdiri di tepi dek, menikmati hembusan angin laut, ketika tiba-tiba terdengar suara “Byuurr!”Seorang anak laki-laki terjatuh ke laut. Orang-orang di sekitar belum sempat bereaksi, sementara Risa sudah lebih dulu melompat turun. Air laut sedingin es, menusuk tulang. Risa berenang sekuat tenaga menuju sosok yang meronta itu. Setelah beberapa kali menelan air asin hingga tersedak, akhirnya Risa berhasil menyeret anak itu kembali ke atas.“Kamu tidak apa-apa?” Tubuh Risa basah kuyup, namun ia tak sempat memedulikan dirinya sendiri. Ia berlutut di lantai dek, memberi pertolongan pertama pada bocah itu.Anak kecil itu memuntahkan beberapa teguk air. Saat membuka mata, bulu matanya masih menggantungkan butiran air. Risa melepas jaketnya dan menyelimuti tubuh kecil yang gemetar itu.“Dasar bocah, lai

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status