“Ada yang mau gue sampaikan.”
Kalimat yang keluar dari mulut Jace membuatku bersikap waspada. Dengan segala kecanggungan yang selalu aku perlihatkan padanya, harusnya dia tahu bahwa berbicara berdua saja denganku tanpa kehadiran pacarnya di sini merupakan hal yang tidak wajar.
Aku berdeham sambil menenangkan apa pun yang sedang berkecamuk di kepalaku. “Ada apa?”
Dia merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah amplop putih. “Nih, nitip buat wali kelas lo. Surat sakitnya Sheryl.”
Aku menaikan kedua alisku. Menyadari kalau aku sudah terlalu jauh menduga hal-hal yang mustahil terjadi. Dasar bodoh!
Aku kembali menghadap Jace dan mengerjap dengan cepat. “Sakit? Kok, gue enggak tahu?”
Merasa heran mendengar Sheryl sakit. Semalam dia habis dari rumahku untuk mengerjakan tugas. Dan dia tidak terlihat sedang sakit.
Aku tidak mengambil amplop yang menggantung di tangan Jace. Aku sibuk merogoh tas untuk mengambil handphone-ku.
Oh, pantas aku tidak tahu Sheryl sakit. Handphone-ku mati.
Jace tidak bersuara ketika menaruh amplop dari Sheryl di bawah buku pelajaranku. Sudut mataku menangkap kalau dia masih memperhatikanku. Aku memilih mengabaikannya. Beberapa menit kami tidak saling bicara, sampai ahkirnya Jace bangkit dari kursi di sampingku.
Dia pergi meninggalkanku seiring dengan kelas yang mulai ramai. Tidak ada lagi kata-kata darinya. Juga dariku. Begitulah jika kami bertemu. Jarang bicara dan selalu menghindari tatapannya. Jangan tanya mengapa. Pokoknya, aku tetap memilih seperti itu sampai aku sendiri tahu mengapa aku harus seperti itu.
***
Banyak yang aku tidak mengerti tentang perkembangan perasaanku di masa remaja ini. Ada kalanya aku akan bersemangat menjalani hari. Mengerjakan latihan soal matematika dengan suka rela dan menyelesaikan tugas fisika dengan gembira.
Lalu di suatu ketika, hari-hari akan menjadi terasa mendung, murung dan tidak bergairah. Itu yang aku rasakan ketika aku harus melihat Jace dan Sheryl jalan bersama sambil bergandengan tangan. Mood-ku seketika berantakan dan jadi tidak berselera makan. Aku langsung memikirkan kesalahan apa yang mereka lakukan padaku sehingga aku akan menjadi merasa sedih dan kesal dalam waktu yang besamaan.
Aku menduga, aku hanya risi dan iri karena aku belum punya pacar saja. Aku selalu meyakinkan diri bahwa aku harus ikut senang dengan kemesraan Jace dan Sheryl. Dan cara yang paling tepat untuk itu adalah dengan segera memiliki pacar. Sampai akhirnya aku membuka diri pada seorang cowok bernama Zoey—sepupunya Yosef, teman sekelasku.
“Gue kasih nomor lo, ya?” pinta Yosef pada suatu hari.
“Kok bisa sepupu lo pengen kenalan sama gue? Emang dia pernah liat gue sebelumnya?” tanyaku dengan penuh curiga. Aku tidak terlalu dekat dengan Yosef, jadi aneh rasanya ketika dia bilang sepupunya minta nomorku.
“Gue juga enggak tahu, tiba-tiba dia tanya-tanya tentang lo.” Jawaban Yosef tidak memuaskan.
“Anak sekolah mana, sih?” tanya Sheryl yang sama-sama curiga dengan maksud si Yosef ini.
“Anak SMA Budi Bakti.”
“Wih, sekolah elit. Orang kaya, dong,” celetuk Briya yang baru bergabung di mejaku.
“Kalo cuma kaya doang buat apa? Yang paling utama tuh mukanya. Ganteng, enggak?” Sheryl menyeringai dan menaikan satu alisnya sambil menatap ke arahku.
“Ganteng. Gue jamin. Nih, gue kirim fotonya.” Yosef meyakinkan kami.
Setelah berdiskusi panjang dengan teman-temanku, dan keselamatan Yosef sebagai jaminannya. Akhirnya aku bersedia untuk jadi pacar sepupunya itu.
Menurut teman-temanku, Zoey sudah lolos seleksi tipe pacar ideal untukku karena berwajah lumayan dan juga kaya. Mereka juga mengingatkan Zoey agar tidak lupa membelikanku cokelat saat valentine nanti. Aku hanya tertawa ketika Zoey mengangguk pasrah dan mengucapkan janji di depan teman-temanku agar selalu bersikap baik dan sopan padaku.
Di pertemuan pertamaku dengan Zoey, dia bercerita kalau aku pernah adu cerdas cermat dengannya waktu kami SMP. Itu menjadi nilai tambah untuknya. Artinya, dia juga termasuk anak yang berprestasi.
“Dulu aku kaget ada cewek cantik yang jenius kayak kamu,” ucapnya kala itu. “Semenjak itu, aku selalu penasaran kamu masuk ke SMA mana setelah lulus SMP.”
Aku tersipu mendengarnya. Baru kali ini aku dipuji oleh orang yang baru aku kenal. Biasanya, yang selalu memujiku adalah ayahku.
“Lalu, tahu dari mana aku sekelas sama Yosef?” tanyaku penasaran.
“Fotomu ada di feed Inst’agram-nya Yosef. Saat kalian acara api unggun.” Zoey mengeluarkan handphone-nya dan menunjukan foto yang dimaksud.
Ada dua fotoku yang diunggah Yosef di aplikasi berbagi foto itu. Satu, saat kami melakukan sesi foto kelas di depan api unggun. Lalu yang kedua saat aku dan Sheryl diminta berswafoto bersama Yosef. Entah apa tujuan yosef waktu itu, tetapi kita senang-senang saja berfoto bersama.
***
Aku baru saja selesai membilas piring terakhir ketika handphone-ku berdering. Nama Sheryl muncul di layar.
“Halo,” sapaku setelah menggeser ikon terima.
“Kat ...,” Suara Sheryl terdengar bergetar. Dia pasti habis menangis.
Aku mendesah dan memutar bola mataku. “Ada apa lagi, Sher?”
Bukannya aku tidak sopan pada Sheryl yang sepertinya sedang bersedih ini. Aku sudah kenyang mendengar tangisannya. Dalam seminggu, pasti ada hal yang harus dia tangisi. Jadi, aku sudah terbiasa mendengar dia seperti ini.
Sheryl memang agak melankolis. Dia selalu mendramatisir setiap persoalan hidupnya. Walau memang menjadi seorang Sheryl tidak mudah. Dia anak yang dilahirkan tanpa ayah. Hanya ada ibu dan dirinya saja di rumah yang besarnya empat kali lipat dari besar rumahku. Semua tanggung jawab untuk mengurus segala hal dia pikul sejak dia masih remaja. Makanya, dia selalu mencariku. Dia selalu menumpahkan segala kesedihan hidupnya padaku yang dia anggap aku sedikit lebih beruntung darinya.
“Gue nginep di rumah lo, ya? Gue mau curhat.” Sheryl masih terisak.
“Besok aja di sekolah. Malam ini gue mau belajar buat kuis besok,” saranku sambil mengeringkan tangan pada handuk kecil yang tergantung di dekat tempat mencuci piring.
“Gue udah di depan. Bukain gerbang.”
Sambungan terputus. Aku menggeleng pelan sambil memaki Sheryl dalam hati.
Aku berjalan ke pintu depan. Melewati ibuku yang sedang asik dengan handphone-nya di ruang televisi. Sesekali dia tersenyum sendiri saat membaca pesan yang masuk.
“Ke mana, Kat?” tanya ibuku tanpa mengalihkan pandangannya dari layar handphone.
“Ada Sheryl di depan,” jawabku.
Aku menemukan Sheryl dengan wajah sembap di kursi rotan teras rumahku. Dia langsung masuk tanpa menungguku mempersilakannya. Ia menyapa ibuku di ruang televisi dan menaiki tangga menuju kamarku di lantai dua. Aku mengekor di belakangnya.
Ibuku sempat menanyakan Aiden, adikku yang masih belum pulang. Dia sedikit cemas karena malam semakin larut. Handphone-nya pun tidak bisa dihubungi. Namun, karena ini bukan yang pertama Aiden menghilang seperti ini. Jadi aku tidak terlalu khawatir. Nanti juga anak itu pulang.
“Lo kenapa?” Aku membuka pertanyaan ketika kami sudah duduk dengan nyaman di kasur.
Sheryl mengambil bantal merah muda di sampingnya lalu melanjutkan tangisnya.
“Kenapa Sheryl? Tante lo dateng lagi? Atau om lo minta duit lagi?” tebakku sambil mengusap rambut panjangnya yang tidak pernah kusut.
Sheryl menggeleng kencang. “Ini bukan tentang keluarga gue. Ini tentang Jace.”
Seketika perasaanku tidak enak. Ada hal yang selalu membuatku bersikap berlebihan ketika mendengar nama Jace. Apalagi sekarang dia membuat Sheryl menangis.
“Jace kenapa?” tanyaku ragu.
Sheryl mencoba meredakan isakannya. Lalu dengan suara serak dia bicara. “Jace ikut tawuran.”
“Hah? Tawuran?” tanyaku menegaskan apa yang tadi aku dengar.
Sheryl mengangguk lalu menghapus air matanya.
Seharusnya hal ini tidak membuatku terkejut. Dari awal aku sudah tahu kalau Jace memang bukan murid teladan. Teman-temannya adalah kelompok murid yang paling dicari oleh guru BP, atau biasa kita panggil dengan Guru Kesiswaan. Tidak ada yang setidaknya mau memasukan baju seragam ke dalam sabuk celana. Semuanya urakan dan tidak pernah rapi. Sering membolos dan merokok di warung belakang sekolah. Sungguh perilaku yang tidak bisa dibanggakan.
Semua hal buruk itu seolah bisa dimaklumi hanya karena dia berwajah tampan dan jago basket. Ketika melihat Jace tersenyum dan melakukan atraksi tebar pesona, hilanglah semua sisi negatif yang melekat di dirinya. Sheryl harusnya sudah bisa menduga kalau Jace akan sejauh ini. Bergabung dalam tawuran antar pelajar. Namun, tetap saja, Sheryl adalah fans Jace nomor satu. Senakal apa pun kelakuan pacarnya.
“Lo kata siapa?” tanyaku dengan lembut.
“Banyak yang bilang ke gue. Mereka lihat Jace gabung sama anak-anak kelas XI ke arah timur,” paparnya dengan suara serak. Isakannya mulai berhenti.
Tadi sore aku memang mendengar ada yang tawuran, tetapi lokasinya jauh. Bahkan itu sudah masuk ke daerah perbatasan kota. Tidak mungkin Jace tawuran di wilayah yang bukan daerah kekuasaan dia dan gengnya
“Lo yakin Jace ikut tawuran?”
Sheryl mengangguk. “Gue belum bisa hubungin dia. Gue takut dia kenapa-napa.”
Aku mengerutkan dahi. “Handphone-nya mati?” kekhawatiran tiba-tiba menyelimutiku.
Sheryl mengangguk lemah seiring dengan isakan yang kembali terdengar.
Aku menggigit bibir demi menekan rasa cemas yang mulai merambat naik. “Kita cek di kontak teman-teman sekolah. Barang kali ada info tentang tawuran sore tadi,” usulku.
Tanpa menunggu persetujuan Sheryl, aku segera mengambil Handphone-ku. Segera kubuka aplikasi berbagi pesan dan mencari info pada unggahan-unggahan teman sekolah. Tidak ada yang membahas tawuran.
Lalu jariku berhenti bergulir pada salah satu unggahan seorang kakak kelas. Seketika tubuhku membeku melihat sebuah foto luka bacok di bagian perut dari seseorang yang mengenakan seragam SMA tempatku sekolah
Ya Tuhan, itu tidak mungkin Jace, 'kan?
Hai apa kabar pembaca setiaku.Mau menyampaikan aja bahwa cerita ini akan di lanjut di buku yang berbeda. karena sebenarnya kisah Katy dan Jace seharunya sudah tamat ketika mereka bertunangan.Hanya saja saya masih sayang sama mereka berdua dan ingin mereka punya cerita yang lebih lanjut.Maka dari itu aku bikin Dia-Lo-Gue Season 2 dengan cerita yang pelik, konflik yang lebih berat, dan karakter yang lebih dewasa. Jadi, ratenya harus di ganti karena cerita Dia-Lo-Gue seasion pertama itu rate remaja.Segitu aja dulu ya,, ditunggu lanjutan Dia-Lo-Gue season 2.XOXO,Anna kuhas
Aku menjejakkan kaki ke lantai marmer mewah di lobi utama kediaman keluarga Ashad, merasakan atmosfer megah yang selalu membuatku sedikit terintimidasi. Budi, membawaku bertemu Jace di ruang kerjanya. Sebuah ruangan yang terasa seperti perwujudan kepribadian keluarga Ashad. Dingin, elegan, namun diselimuti aura kekuasaan yang tak terbantahkan.Buku-buku tebal berjejer sempurna di rak kayu gelap, aroma kopi pahit dan kulit mahal menyelimuti udara. Jace berdiri di dekat jendela besar, membelakangi Katy, siluetnya yang tegap terpantul samar di kaca.“Aku enggak tahu kapan kamu pamit pulang dari rumah Mama. Aku kira kita bakal nginep di sana.” Suaraku membuatnya berbalik.Jace berjalan perlahan, raut wajah ceria dan ramah yang dia tampilkan di meja makan ibuku telah hilang, berganti dengan ekspresi datar tanpa emosi, lebih dingin dari embusan AC sentral yang terasa menusuk kulit.“Kamu terlalu sibuk sama handphone-mu. Sampai aku harus kirim orang buat jemput kamu di sana.”Kalimat Jace men
Embun sisa hujan semalam masih mendekap erat jendela kamar hotel yang megah, meredupkan cahaya pagi menjadi kelabu yang sendu. Di atas ranjang satin yang kusut, jejak pergulatan yang panas dan penuh gairah masih membekas.Aku masih terbaring di ranjang besar ini. Di samping lelaki yang setiap napasnya terhembus, menimbulkan renjatan penyesalan yang dalam. Pikiranku kembali pada kegiatan kami beberapa jam yang lalu. Sebuah ritual sakral yang biasanya terselip senyuman manja, bisikan cinta, dan dekapan kerinduan. Namun yang terjadi hanyalah pelampiasan amarah yang tak terucapkan.Beberapa titik air keluar dari sudut mata. Bercampur dengan bulir keringat, jejak aktifitas kami yang intens di kamar hotel sedingin ini. Mataku menerawang ke langit-langit ruangan. Mencari tahu, kenapa aku bisa menangis saat orang yang aku rindukan ada disampingku.Aku buru-buru bangkit dari ranjang. Berjalan menyebrangi kamar menuju kamar mandi besar dengan bath tup mewah lengkap dengan berbagai minyak aromat
Dunia seolah berhenti bernapas. Hawa malam mendadak terasa seperti belati es yang menusuk ke dalam dada. Siluet lelaki yang sedang menatapku dari balik kaca mobil seolah melemparkan palu godam ke arahku yang siap meremukan setiap jengkal organ tubuhku.“Kayaknya mobil itu ada orangnya.” Suara Hiro semakin meyakinkanku bahwa malam ini tidak akan mudah untuk aku lalui.“Gue masuk sekarang. Makasih tumpangannya ya. Hati-hati dijalan,” ucapku sambil menyerahkan helm padanya dengan tergesa-gesa.“Gue anterin sampai ke dalam.”“Enggak perlu!” tanpa sadar, intonasiku meningkat karena rasa panik yang menyerang.Sudut mataku kembali melirik ke arah kaca mobil yang gelap. Aku menyadari, dibalik kaca itu, ada mata yang masih mengawasi gerak gerak kami berdua.Dahi Hiro bertaut. “Jam tiga pagi ada orang di dalam mobil lagi ngintai rumah lo. Elo yakin ini aman?”Aku menghembuskan napas dengan kasar. “Gue kenal mobil itu . Enggak ada masalah. Semua aman.”Aku coba menyakinkannya dengan nada bicara
Akhirnya aku tenggelam kembali ke dalam lautan kode. Baris demi baris kode aku baca kembali dengan seksama demi mencari kesalahan pada sintaks yang sudah diberi catatan oleh Hiro sebelumnya. Cukup banyak catatan yang ditambahkan ke dalam program ini. Contohnya seperti:“Logika modul harus spesifik, belajar lagi cara kerja fungsi.”“Penamaan harus ringkas dan unik. Jangan bikin bingung diri sendiri.”“Banyak banget catatan kaki, ini bikin program atau nulis diari?”Kata-kata dengan kesan menghina tidak hanya keluar dari mulut Hiro. Bahkan dalam back-end program saja, dia masih sempat membuatku kesal. Namun, lebih dari pada itu, aku merasa terhibur dengan kalimat-kalimatnya. Seperti sedang dimarahi betulan rasanya.Sesekali Hiro datang menghampiriku. Baik itu untuk menanyakan apakah ada kesulitan atau tidak, atau hanya sekedar duduk diam menemani. Bahkan dia masih sempat membawakan mie goreng untukku. Katanya, jangan sepelekan rasa lapar kalau sedang menulis kode. Karena otak sedang be
Suara klakson yang melengking, deru mesin yang tak putus, dan riuh rendah tawa bercampur aduk menciptakan melodi khas akhir pekan kota. Aku membiarkan diriku terseret arus, tanpa tujuan pasti, menikmati kebebasan anonimitas yang hanya bisa kutemukan di tengah keramaian. Sesekali aku berpapasan dengan pasangan muda mudi yang bercengkerama dengan mesra. Menumbuhkan perasaan iri yang biasanya tidak pernah aku rasakan selama ini.Bagaimana aku bisa iri pada kisah cinta orang lain, sedangkan aku punya tunangan yang sempurna di sana.Lelah dengan hiruk pikuk jalanan kota, aku memutuskan untuk mencari tempat untuk sekedar duduk santai sambil menyeruput kopi. Kebetulan tidak jauh dari tempatku berdiri, aku menemukan sebuah kedai kopi yang sedikit tersembunyi dan dihimpit gedung tinggi dengan banyak pohon di sekitarnya.Suara lonceng terdengar seiring pintu kaca aku dorong untuk membuka jalan. Begitu kakiku sudah masuk ke dalam, aku terkejut karena kafe tersembunyi ini ternyata penuh dengan pe