Hasrat Liar di Bawah Satu Atap

Hasrat Liar di Bawah Satu Atap

last updateLast Updated : 2025-12-06
By:  Angelyn HuangOngoing
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
7Chapters
225views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Ruang tamu rumah itu terasa begitu luas, namun entah mengapa udara di sekitarnya terasa menyempit, menekan paru-paruku. Malam ini adalah awal kehidupan baruku bersama Ibu di rumah suami barunya. "Bella, ayo, jangan malu-malu. Mulai sekarang kita adalah keluarga," ucap Ibu dengan senyum merekah, menarik tanganku agar lebih mendekat. Di hadapanku berdiri dua sosok pria yang kini menjadi bagian dari hidup kami. Arthur, ayah tiriku, duduk dengan wibawa yang mengintimidasi. Usianya memang sudah menyentuh kepala lima, tapi aura maskulinnya justru semakin pekat. Tubuhnya gagah, terbalut kemeja yang sedikit ketat di bagian dada, dan brewok tipis di dagunya memberikan kesan tegas yang sulit diabaikan. Namun, bukan dia yang membuat bulu kuduku meremang. Melainkan sosok yang berdiri di sampingnya. Leonard, atau kerap dipanggil Leo. Abang tiriku. "Halo, Bella," sapanya. Suaranya berat, rendah, dan memiliki getaran yang membuat perutku terasa aneh. Leo mewarisi postur gagah ayahnya, namun dengan vitalitas masa muda yang meledak-ledak. Kaos hitam polos yang ia kenakan menempel pas di tubuhnya, mencetak jelas otot-otot dada dan lengannya yang atletis. Sepertinya tidak ada satu inci pun lemak di tubuh itu, hanya otot keras yang siap menerkam. Saat aku mengangkat wajah untuk membalas sapanya, aku menangkap basah tatapannya. Mata itu... tidak sedang menatap wajahku. Mata tajam itu sedang menelusuri lekuk tubuhku, berhenti cukup lama di area dadaku, seolah tatapannya bisa menembus kain blus yang kukenakan. Tatapan itu bukan tatapan seorang kakak, melainkan tatapan seorang pria yang sedang menilai mangsanya.

View More

Chapter 1

Bab 1

Ruang tamu rumah itu terasa begitu luas, namun entah mengapa udara di sekitarnya terasa menyempit, menekan paru-paruku. Malam ini adalah awal kehidupan baruku bersama Ibu di rumah suami barunya.

"Bella, ayo, jangan malu-malu. Mulai sekarang kita adalah keluarga," ucap Ibu dengan senyum merekah, menarik tanganku agar lebih mendekat.

Di hadapanku berdiri dua sosok pria yang kini menjadi bagian dari hidup kami. Arthur, ayah tiriku, duduk dengan wibawa yang mengintimidasi. Usianya memang sudah menyentuh kepala lima, tapi aura maskulinnya justru semakin pekat. Tubuhnya gagah, terbalut kemeja yang sedikit ketat di bagian dada, dan brewok tipis di dagunya memberikan kesan tegas yang sulit diabaikan.

Namun, bukan dia yang membuat bulu kuduku meremang.

Melainkan sosok yang berdiri di sampingnya. Leonard, atau kerap dipanggil Leo. Abang tiriku.

"Halo, Bella," sapanya. Suaranya berat, rendah, dan memiliki getaran yang membuat perutku terasa aneh.

Leo mewarisi postur gagah ayahnya, namun dengan vitalitas masa muda yang meledak-ledak. Kaos hitam polos yang ia kenakan menempel pas di tubuhnya, mencetak jelas otot-otot dada dan lengannya yang atletis. Sepertinya tidak ada satu inci pun lemak di tubuh itu, hanya otot keras yang siap menerkam.

Saat aku mengangkat wajah untuk membalas sapanya, aku menangkap basah tatapannya. 

Mata itu... tidak sedang menatap wajahku. Mata tajam itu sedang menelusuri lekuk tubuhku, berhenti cukup lama di area dadaku, seolah tatapannya bisa menembus kain blus yang kukenakan. Tatapan itu bukan tatapan seorang kakak, melainkan tatapan seorang pria yang sedang menilai mangsanya.

"Hai... Kak Leo," jawabku canggung.

Dia mengulurkan tangannya yang besar.

Dengan ragu, aku menyambut uluran tangan itu. Telapak tangannya terasa kasar, hangat, dan... besar. Tangan itu menelan tanganku sepenuhnya.

Namun, itu bukan jabat tangan biasa.

Saat kulit kami bersentuhan, ia tidak langsung melepaskannya. Ibu jarinya bergerak perlahan, mengusap punggung tanganku dengan gerakan memutar yang lambat dan sensual. Sentuhan itu begitu samar, namun mengirimkan sinyal bahaya ke seluruh sarafku.

Jantungku berdegup kencang. Aku refleks menarik tanganku, lalu melirik panik ke arah Ibu dan Om Arthur. Mereka tampak sibuk berbincang, sama sekali tidak menyadari interaksi kecil ketegangan ini.

Leo hanya menyeringai tipis melihat reaksiku. Seringaian yang penuh arti.

"Sudah malam, perjalanan kalian pasti melelahkan," suara bariton Arthur memecah keheningan. "Leo, antarkan adikmu ke kamarnya."

Perintah itu terdengar wajar, tapi bagiku terdengar seperti vonis.

Leo mengangguk patuh. "Ayo, Bella."

Aku mengikutinya menaiki tangga. Punggung lebarnya yang tegap berjalan di depanku. Wangi parfum musk yang bercampur dengan aroma alami tubuhnya menguar, memenuhi indra penciumanku.

"Ini kamarmu," katanya sambil membuka sebuah pintu. "Dan-" Dia menunjuk pintu tepat di sebelahnya, "Ini kamarku. Kalau butuh sesuatu, jangan sungkan ketuk saja dindingnya. Mungkin aku bisa dengar."

Kalimat terakhirnya terdengar ambigu di telingaku. Aku hanya mengangguk kaku, buru-buru masuk ke dalam kamar dan menutup pintu. Jantungku masih berpacu tidak karuan. Ada sesuatu yang salah dengan rumah ini, atau mungkin hanya perasaanku saja?

Arthur sempat melintas di koridor, tersenyum sopan. "Selamat malam, Bella. Istirahatlah."

"Malam, Om," jawabku lirih. Aku masih belum terbiasa menggunakan kata Ayah untuk memanggil Om Arthur.

Setelah suasana sepi, aku berusaha menenangkan diri. Kamar ini luas dan nyaman, jauh lebih mewah dari kamar lamaku. Aku memutuskan untuk mandi air hangat untuk meluruhkan keringat dan ketegangan.

Rutinitas tidurku adalah hal yang sakral. Aku terbiasa tidur dengan pakaian minim agar kulitku bisa bernapas. Malam ini, aku memilih lingerie tipis berbahan satin hitam. Potongannya yang rendah di dada dan panjang yang hanya menutupi separuh paha membuat kulit putihku terlihat sangat kontras dan bercahaya di bawah lampu kamar.

Setelah mengeringkan rambut, aku merangkak naik ke tempat tidur empuk itu. Lelah yang amat sangat membuat mataku terasa berat. Aku mematikan lampu utama, menyisakan kegelapan yang menyelimuti. Dalam hitungan menit, aku sudah terlelap, tidak menyadari bahwa kunci pintu kamarku belum terputar sempurna.

Dan aku tidak tahu, bahwa di balik dinding sebelah, ada yang sedang mendengarkan setiap gerak-gerikku.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
7 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status