MasukMata indah Aisha berkilat nanar, tubuhnya terasa nyaris ambruk dengan kalimat sang CEO yang baru saja meluncur. Kalimat yang jatuh dengan sempurna. Tanpa pemanis, atau pun filter.
Sang CEO melihat perubahan emosi Aisha. Rona kepuasan sedikit menyembul dari mata hitamnya. Senyum samar yang manipulatif pun tampak jelas tertera di lengkungan bibirnya yang tipis. Aisha refleks menggeser tubuhnya ke posisi yang lebih nyaman di kursi hitam itu. Bukan karena terkejut, bahkan dia sudah memperkirakan hal ini di jauh hari sebelum waktu benar-benar tiba. Aisha mengerti, detik ini adalah satu-satunya kesempatan dirinya berbicara untuk terakhir kali. Jika dia gagal memanfaatkan kesempatan ini, maka dunia gadis itu benar-benar berakhir di tangan CEO yang berhati batu! Aisha mengangkat wajahnya, menguatkan tekad matang-matang, menghela napas dengan keyakinan penuh, lalu berujar dengan hati-hati, "Bolehkah saya berbicara di ruang Anda untuk terakhir kali sebelum benar-benar keluar?" Cakra menatap Aisha dengan dingin. Dia tak menjawab yang seharusnya, tetapi malah memerintah dengan tegas, "Singkat!" Aisha tak membuang waktu lagi. Dengan ekspresi yang serius, gadis itu berkata mantap, "Saya nggak melamar posisi sekretaris di perusahaan Anda untuk belajar belaka, Tuan. Saya juga nggak mencari belas kasihan di sini." Aisha mencengkeram lengannya, mengatur napas agar tetap stabil. Di tempat duduk, Cakra mengangkat alisnya, menebar senyum mengejek yang amat menusuk. Pandangan Aisha sedikit bergulir ketika melihat senyum itu. Namun, dia memang pandai membawa diri. Wajahnya yang proporsional tampak netral, tak menunjukkan emosi berlebih yang terlihat. Aisha melanjutkan, "Saya melamar posisi ini memang karena sanggup, dan saya benar-benar membutuhkan pekerjaan paruh waktu ini. Saya tentu nggak bisa menjanjikan hasil kerja yang sempurna, tetapi saya menjanjikan usaha yang konsisten." Suara lugas Aisha terdengar bergetar di ujung kalimat. Sunyi membumbung ke seluruh sudut ruangan. Helaan napas dua manusia pun terdengar begitu jelas. Detik yang berlalu teramat menyiksa bagi Aisha, tetapi menciptakan sensasi yang aneh di hati Cakra. Pria itu mendekap lengannya sendiri, menyandarkan punggung ke sandaran kursi dengan kukuh yang mulai goyah. Cakra menggeser pandangannya ke arah jendela. Dari sana, Kota Valemont tetap terdiam dengan dingin. Tanpa mengalihkan pandangan dari jendela, Cakra berkata pada Aisha dengan ekspresi tak peduli, "Asal Anda tahu, Pierce Holdings nggak seindah yang Anda kira." Aisha meremas lututnya, dengan sorot mata yang lurus ke arah sang CEO. "Pierce Holdings bukan tempat orang untuk membangun sikap konsisten, tapi tempat untuk orang tumbang." Suara Cakra terdengar tak beremosi, dengan mata hitam yang kini beralih memandang Aisha. Detik berikutnya, Cakra menarik pandangannya, menyorot berkas yang terkulai di atas meja. Pria itu mengatupkan bibir. Dia terdiam cukup lama, bahkan terlalu lama untuk sekadar wawancara dengan gadis yang menurutnya tak bernilai. Aisha tak terlalu terkejut. Setelah berpikir matang, dia kembali berkata dengan penuh rasa berani, "Kalau begitu, tolong izinkan saya untuk tumbang dengan cara terhormat." Cakra menyeringai dengan sinis. Namun, ketika tatapannya tak sengaja bertemu dengan mata jernih Aisha, sorot mata Cakra tiba-tiba berubah. Bukan lebih hangat, tapi hanya lebih waspada. "Kontrak tiga bulan," cetus Cakra datar. "Pekerjaan paruh waktu, dan tanpa jaminan perpanjangan." Aisha merasa sedikit tercekat. Da menggigit bibir bawah hingga terasa sakit. Jantungnya pun berirama cepat dan tak beraturan. Cakra kembali berujar serius, "Jika Anda gagal ...." "Saya akan pergi." Aisha menyahut cepat dengan akurat. "Tanpa drama," pungkasnya dengan ekspresi tenang. Cakra mengangguk samar, lalu berkata dengan nada datar, "HRD akan menghubungi Anda." Pria itu bersedekap dengan wajah tampan yang terkesan acuh tak acuh, mengakhiri wawancara secara sepihak. Aisha tentu tak ambil pusing. Dia pamit dengan hormat, kemudian berjalan ke arah pintu. Saat tangan Aisha hampir menyentuh gagang pintu, suara final Cakra kembali menembus telinga. "Satu hal lagi." Pandangan Aisha berpindah sedikit. Dia menjatuhkan tangan ke sisi tubuh, lalu berbalik badan ke sumber suara. "Pierce Holdings nggak menyelamatkan siapa pun!" seru Cakra. Aisha tanpa gentar menatap calon bosnya. Dia lantas tersenyum simpul, senyum yang menorehkan rasa damainya dengan dunia yang gila ini. "Tenang saja, Tuan Pierce. Saya datang ke sini memang bukan untuk mengemis minta diselamatkan," cetus Aisha. Cakra tak lagi bersuara. Aisha pun benar-benar meraih gagang pintu, menariknya hingga pintu terbuka sepenuhnya, kemudian melangkah keluar dengan gerakan yang rapi. Pintu kini telah tertutup rapat di belakang Cakra, meninggalkan kesan ambigu yang menyinggung batinnya. Cakra mengusap pelipis. Untuk pertama kali, di hari ini, pria itu menemukan hal asing yang mampu mengganggu ketertiban batinnya. Gadis itu tidak meminta ruang, tetapi membawa ketahanan yang memang telah dimilikinya! .... Di rumah megah Keluarga Willow, sosok tiga orang terlihat berbaur dengan hangat, menyisakan seorang gadis yang berdiri mematung, memperhatikan mereka dengan air liur yang terasa memenuhi mulut. Silas Willow bersama sang istri, Daphne Gilbert, tengah menikmati kudapan makan malam dengan senda gurau yang menyelingi, bertemankan putra kebanggaan mereka, Philip Baskara Willow. Sosok tiga orang itu terlihat begitu bahagia, seperti tak ingat jika ada satu putri terabaikan yang juga merupakan darah daging Silas dan Daphne. Aisha dan Philip terlahir di keluarga yang sama, tetapi kenapa kehidupan mereka terasa begitu berbeda? Ketika memikirkan hal ini, dada Aisha terasa amat pedih. Namun, air mata gadis itu sama sekali tak tumpah setetes pun, seperti benar-benar telah mengering karena terlalu banyak yang terbuang dengan percuma. Aisha sudah merasa amat lelah dengan masalah keluarganya. Dengan hati yang masih terasa tercekik, gadis itu lewat di hadapan ketiga keluarganya dengan acuh tak acuh. "Hei, Aisha? Gadis macam apa kamu sudah larut begini baru pulang?!" Silas berdiri dengan wajah geram, menunjuk-nunjuk putri kandung yang dia abaikan dengan hati sekeras batu. Aisha menghentikan langkahnya, lalu menjawab dengan dada yang mengembang dan mengempis, "Ayah, apa kamu nggak bisa berbicara dengan suara yang lebih lembut juga ke putrimu ini?" Suara Aisha bergetar memilukan, menyentil hati Daphne yang sikapnya memang lebih baik dari Silas. Daphne ikut berdiri, mencengkeram lengan Silas, lalu mendongak dengan wajah mengiba ke arahnya. "Ayah, sudahlah! Jangan marah-marah begitu sama Aisha. Dia masih remaja, butuh bimbingan dari orang tua dan kakaknya. Aisha juga darah dagingmu, Sayang!" Di kursi tempat duduk, Philip menyeringai sinis, seperti sedang menikmati pertunjukan drama yang begitu menghiburnya. Senyum penuh kemenangan pun tersungging sempurna di lengkungan bibir pemuda itu. "Hei, sudahlah, Bu." Silas mengibaskan tangan Daphne, lalu kembali berkata, "Jangan lindungi putrimu yang memang bersalah itu. Dia sudah pulang malam. Pasti berpacaran lagi, 'kan?" Aisha mengepalkan tangan. Dengan air mata panas yang akhirnya jatuh bebas, gadis itu mencoba menjelaskan, "Ayah, kenapa kamu nggak tanya dulu jelasnya bagaimana? Ayah tahu, nggak? Hal apa saja yang baru terjadi pada putrimu ini?""Lepaskan!" pekik Aisha dengan ekspresi panik saat menarik kembali jarinya. Dia benar-benar merasa malu, sekaligus takut."Hhh!" Cakrawala malah memiringkan bibirnya, dia tersenyum dengan sinis."Apa yang kamu lakukan?" tanya pria itu saat dirinya refleks segera duduk."Ng-nggak ada," jawab Aisha yang masih terlihat gelagapan. Dia buru-buru menggeleng dengan cepat.Tubuh gadis itu bergetar hebat, dengan wajah yang telah memerah seperti tomat. Cakrawala pun tak kuasa menahan senyum, seraya memicingkan mata pada Aisha."Nggak ada, tapi kenapa harus sentuh-sentuh bibirku? Lampunya kamu nyalakan terang pula! Itu sangat mengganggu dan bikin tidur lelapku terbangun!""Em, iya, aku akan matikan lagi," sahut Aisha cepat, sambil berlari kecil ke arah saklar lampu dan segera mematikannya."Kenapa? Bibirku pasti seksi, 'kan? Kamu jadi tergoda dan nggak tahan untuk menyentuhnya," duga Cakrawala dengan penuh percaya diri, sambil menyentuh bibirnya yang kini berubah lembab."Mana ada, Pak?" Aisha l
"Nggak masalah. Bunuh aku saja jika perkataanku tadi nggak benar," gumam Cakrawala lirih sambil bangkit dan berlalu dari kamar pengantin, tapi masih dapat didengar sangat jelas oleh telinga Aisha."Apa?! Bunuh?" Aisha merasa ini sangat tak masuk akal. Tanggapan Cakrawala terhadap tuntutan Aisha barusan memanglah berlebihan dan terasa agak bualan. Jika pun benar, itu adalah respon dari seorang pria yang benar-benar jatuh cinta terhadap wanitanya. Aisha merasa hal itu tidaklah mungkin, karena pernikahan kilat dan rahasia ini memang murni untuk kepentingan bisnis yang dapat dibayarkan dengan uang. Sedangkan dia tahu betul, jika cinta tak pernah bisa diukur dengan apa pun, apalagi jika hanya dengan sejumlah uang.Lalu, apakah perkataan Cakrawala harus dia percayai?....Ketika Cakrawala telah merampungkan pekerjaannya, waktu telah menunjukkan pukul sepuluh malam. Dia teringat pada Aisha yang kemungkinan besar telah tertidur lelap, jadi pria itu berusaha untuk tak membuat suara saat mema
"Pak, bolehkah saya memakan Anda sekarang?!" teriak Aisha yang sedang memancarkan rasa kesalnya sampai puas. Dia menonjok bantal di genggamannya hingga bulu-bulu putih pun terhambur dan terbang.Sebelum itu, kepalanya benar-benar terasa nyaris meledak. Barulah ketika dia berteriak dengan leluasa, rasa menyiksa di kepala gadis itu perlahan-lahan redam.Di dekat kapstok dinding, Cakrawala sontak menghentikan gerakannya, sambil menikmati taburan bulu-bulu putih yang menghujaninya begitu saja."Memakan? Apa kamu mampu?" Cakrawala tersenyum dengan dingin. Dia segera memutar badan dan menghadap Aisha dengan sorot mata menantang."Pak, aku cuma nggak menyangka kalau tujuan Anda mengharuskan saya tidur sekamar dengan Anda hanyalah untuk menyenangkan Nenek Lilly," ujar Aisha sambil menahan kepalanya untuk tetap tegak dan tidak sampai menunduk.Gadis itu juga menajamkan matanya, persis seperti apa yang dilakukan oleh Cakrawala sekarang. Aisha berpikir, jika lelaki dan perempuan harus setara. D
"Tentu saja, Nek. Lihatlah, aku sudah berhasil membujuk cucu menantumu itu untuk tidur di kamarku. Dan malam ini, kami berdua akan memulai untuk tidur bersama," sahut Cakrawala dengan senyum merekah yang tak kalah terlihat hangat.Pada saat ini, Aisha masih bertahan di tempatnya, sambil melebarkan mata dan menutupi mulut dengan kedua telapak tangannya. Gadis itu benar-benar tak tahu harus percaya atau tidak dengan pemandangan nyata di depannya. Yang pasti, dirinya merasa bersalah terhadap Cakrawala karena selalu berprasangka buruk pada suami sahnya sendiri.'Jadi, Pak Cakra membujuk aku itu karena keinginan nenek? Dan dia nggak mau buat neneknya kecewa?' pikir Aisha di dalam hati."Ya Tuhan, kenapa Pak Cakra sangat aneh dan misterius? Aku benaran nggak bisa menebak sikap dia yang sebenarnya," gumam Aisha yang kini telah menutup pintu kamarnya. Gadis itu berjalan menuju ranjang kamar dengan perasaan yang rumit.Ketika Aisha telah merebahkan tubuh dengan segudang misteri, obrolan antar
"Akhirnya, kamu menepati janjimu juga!" ujar Cakrawala datar kala melirik sosok wanita muda yang baru saja masuk ke kamarnya. Aisha menghela napas, lalu menyahut, "Tentu saja, Pak. Aku bukan wanita yang suka menye-menye.""Apa benar begitu?" Tanpa disadari, Cakrawala malah menantang Aisha. Hal itu membuat adrenalin Aisha terpacu secara signifikan.Aisha mengencangkan kedua tangan yang tergantung di sisi tubuhnya. Kilat kebencian mulai muncul di kerling mata gadis muda itu."Apa pernyataanku tadi belum cukup meyakinkan?" Aisha mengukuhkan kakinya dengan kekuatan penuh. Dia mulai berani bersikap dingin di hadapan sang suami.Dia benar-benar ingin menjadi wanita yang tangguh, dan tak pernah sudi membiarkan seorang pria menjatuhkan harga dirinya.Menjadi istri rahasia Cakrawala selama hampir dua minggu membuat Aisha mulai beradaptasi dan memahami pola yang berlaku. Gadis itu telah mengerti, suami sahnya selalu memandangnya rendah karena adanya banyak ketimpangan yang jauh di antara merek
"Hanya maaf katamu?" Cakrawala merasa tak terima. Dia benar-benar merasa sangat terhina. Di hadapan seorang gadis kecil, niat baiknya justru membuat dirinya celaka dan malu."Ya, aku memang salah, Pak," aku Aisha dengan pasrah. Air matanya tumpah begitu saja, tanpa dia tahu apa sebabnya."Dan aku ... benar-benar minta maaf." Aisha hanya menunduk. Sebenarnya, dia ingin menatap mata Cakrawala, tapi ada tangis tak biasa yang menuntut untuk disembunyikan olehnya."Sudahlah. Maaf dari kamu itu nggak berguna. Nggak bisa memperbaiki keadaan bahwa kamu sudah membuat aku malu dan terjatuh ke lantai," gerutu Cakrawala dengan dingin. Dia memutar badan membelakangi Aisha."Baiklah. Aku akan menebus kesalahan itu, Pak. Aku bersedia melakukan apa pun yang Anda minta," kata Aisha dengan seketika.Gadis itu memang tak sengaja, tapi tak bisa membuatnya terlepas dari diri yang memang bersalah. Jadi, dia harus bertanggung jawab dan menebusnya."Bagus," sahut Cakrawala, suaranya lirih. Senyum liciknya t







