공유

Bab 2

작가: Dwi Maula
last update 게시일: 2025-12-30 12:35:30

Mata indah Aisha berkilat nanar, tubuhnya terasa nyaris ambruk dengan kalimat sang CEO yang baru saja meluncur. Kalimat yang jatuh dengan sempurna. Tanpa pemanis, atau pun filter.

Sang CEO melihat perubahan emosi Aisha. Rona kepuasan sedikit menyembul dari mata hitamnya. Senyum samar yang manipulatif pun tampak jelas tertera di lengkungan bibirnya yang tipis.

Aisha refleks menggeser tubuhnya ke posisi yang lebih nyaman di kursi hitam itu. Bukan karena terkejut, bahkan dia sudah memperkirakan hal ini di jauh hari sebelum waktu benar-benar tiba.

Aisha mengerti, detik ini adalah satu-satunya kesempatan dirinya berbicara untuk terakhir kali. Jika dia gagal memanfaatkan kesempatan ini, maka dunia gadis itu benar-benar berakhir di tangan CEO yang berhati batu!

Aisha mengangkat wajahnya, menguatkan tekad matang-matang, menghela napas dengan keyakinan penuh, lalu berujar dengan hati-hati, "Bolehkah saya berbicara di ruang Anda untuk terakhir kali sebelum benar-benar keluar?"

Cakra menatap Aisha dengan dingin. Dia tak menjawab yang seharusnya, tetapi malah memerintah dengan tegas, "Singkat!"

Aisha tak membuang waktu lagi. Dengan ekspresi yang serius, gadis itu berkata mantap, "Saya nggak melamar posisi sekretaris di perusahaan Anda untuk belajar belaka, Tuan. Saya juga nggak mencari belas kasihan di sini."

Aisha mencengkeram lengannya, mengatur napas agar tetap stabil.

Di tempat duduk, Cakra mengangkat alisnya, menebar senyum mengejek yang amat menusuk.

Pandangan Aisha sedikit bergulir ketika melihat senyum itu. Namun, dia memang pandai membawa diri. Wajahnya yang proporsional tampak netral, tak menunjukkan emosi berlebih yang terlihat.

Aisha melanjutkan, "Saya melamar posisi ini memang karena sanggup, dan saya benar-benar membutuhkan pekerjaan paruh waktu ini. Saya tentu nggak bisa menjanjikan hasil kerja yang sempurna, tetapi saya menjanjikan usaha yang konsisten." Suara lugas Aisha terdengar bergetar di ujung kalimat.

Sunyi membumbung ke seluruh sudut ruangan. Helaan napas dua manusia pun terdengar begitu jelas. Detik yang berlalu teramat menyiksa bagi Aisha, tetapi menciptakan sensasi yang aneh di hati Cakra.

Pria itu mendekap lengannya sendiri, menyandarkan punggung ke sandaran kursi dengan kukuh yang mulai goyah.

Cakra menggeser pandangannya ke arah jendela. Dari sana, Kota Valemont tetap terdiam dengan dingin.

Tanpa mengalihkan pandangan dari jendela, Cakra berkata pada Aisha dengan ekspresi tak peduli, "Asal Anda tahu, Pierce Holdings nggak seindah yang Anda kira."

Aisha meremas lututnya, dengan sorot mata yang lurus ke arah sang CEO.

"Pierce Holdings bukan tempat orang untuk membangun sikap konsisten, tapi tempat untuk orang tumbang." Suara Cakra terdengar tak beremosi, dengan mata hitam yang kini beralih memandang Aisha.

Detik berikutnya, Cakra menarik pandangannya, menyorot berkas yang terkulai di atas meja. Pria itu mengatupkan bibir. Dia terdiam cukup lama, bahkan terlalu lama untuk sekadar wawancara dengan gadis yang menurutnya tak bernilai.

Aisha tak terlalu terkejut. Setelah berpikir matang, dia kembali berkata dengan penuh rasa berani, "Kalau begitu, tolong izinkan saya untuk tumbang dengan cara terhormat."

Cakra menyeringai dengan sinis. Namun, ketika tatapannya tak sengaja bertemu dengan mata jernih Aisha, sorot mata Cakra tiba-tiba berubah. Bukan lebih hangat, tapi hanya lebih waspada.

"Kontrak tiga bulan," cetus Cakra datar. "Pekerjaan paruh waktu, dan tanpa jaminan perpanjangan."

Aisha merasa sedikit tercekat. Da menggigit bibir bawah hingga terasa sakit. Jantungnya pun berirama cepat dan tak beraturan.

Cakra kembali berujar serius, "Jika Anda gagal ...."

"Saya akan pergi." Aisha menyahut cepat dengan akurat. "Tanpa drama," pungkasnya dengan ekspresi tenang.

Cakra mengangguk samar, lalu berkata dengan nada datar, "HRD akan menghubungi Anda."

Pria itu bersedekap dengan wajah tampan yang terkesan acuh tak acuh, mengakhiri wawancara secara sepihak.

Aisha tentu tak ambil pusing. Dia pamit dengan hormat, kemudian berjalan ke arah pintu.

Saat tangan Aisha hampir menyentuh gagang pintu, suara final Cakra kembali menembus telinga.

"Satu hal lagi."

Pandangan Aisha berpindah sedikit. Dia menjatuhkan tangan ke sisi tubuh, lalu berbalik badan ke sumber suara.

"Pierce Holdings nggak menyelamatkan siapa pun!" seru Cakra.

Aisha tanpa gentar menatap calon bosnya. Dia lantas tersenyum simpul, senyum yang menorehkan rasa damainya dengan dunia yang gila ini.

"Tenang saja, Tuan Pierce. Saya datang ke sini memang bukan untuk mengemis minta diselamatkan," cetus Aisha.

Cakra tak lagi bersuara. Aisha pun benar-benar meraih gagang pintu, menariknya hingga pintu terbuka sepenuhnya, kemudian melangkah keluar dengan gerakan yang rapi.

Pintu kini telah tertutup rapat di belakang Cakra, meninggalkan kesan ambigu yang menyinggung batinnya.

Cakra mengusap pelipis. Untuk pertama kali, di hari ini, pria itu menemukan hal asing yang mampu mengganggu ketertiban batinnya. Gadis itu tidak meminta ruang, tetapi membawa ketahanan yang memang telah dimilikinya!

....

Di rumah megah Keluarga Willow, sosok tiga orang terlihat berbaur dengan hangat, menyisakan seorang gadis yang berdiri mematung, memperhatikan mereka dengan air liur yang terasa memenuhi mulut.

Silas Willow bersama sang istri, Daphne Gilbert, tengah menikmati kudapan makan malam dengan senda gurau yang menyelingi, bertemankan putra kebanggaan mereka, Philip Baskara Willow.

Sosok tiga orang itu terlihat begitu bahagia, seperti tak ingat jika ada satu putri terabaikan yang juga merupakan darah daging Silas dan Daphne.

Aisha dan Philip terlahir di keluarga yang sama, tetapi kenapa kehidupan mereka terasa begitu berbeda?

Ketika memikirkan hal ini, dada Aisha terasa amat pedih. Namun, air mata gadis itu sama sekali tak tumpah setetes pun, seperti benar-benar telah mengering karena terlalu banyak yang terbuang dengan percuma.

Aisha sudah merasa amat lelah dengan masalah keluarganya. Dengan hati yang masih terasa tercekik, gadis itu lewat di hadapan ketiga keluarganya dengan acuh tak acuh.

"Hei, Aisha? Gadis macam apa kamu sudah larut begini baru pulang?!" Silas berdiri dengan wajah geram, menunjuk-nunjuk putri kandung yang dia abaikan dengan hati sekeras batu.

Aisha menghentikan langkahnya, lalu menjawab dengan dada yang mengembang dan mengempis, "Ayah, apa kamu nggak bisa berbicara dengan suara yang lebih lembut juga ke putrimu ini?" Suara Aisha bergetar memilukan, menyentil hati Daphne yang sikapnya memang lebih baik dari Silas.

Daphne ikut berdiri, mencengkeram lengan Silas, lalu mendongak dengan wajah mengiba ke arahnya. "Ayah, sudahlah! Jangan marah-marah begitu sama Aisha. Dia masih remaja, butuh bimbingan dari orang tua dan kakaknya. Aisha juga darah dagingmu, Sayang!"

Di kursi tempat duduk, Philip menyeringai sinis, seperti sedang menikmati pertunjukan drama yang begitu menghiburnya. Senyum penuh kemenangan pun tersungging sempurna di lengkungan bibir pemuda itu.

"Hei, sudahlah, Bu." Silas mengibaskan tangan Daphne, lalu kembali berkata, "Jangan lindungi putrimu yang memang bersalah itu. Dia sudah pulang malam. Pasti berpacaran lagi, 'kan?"

Aisha mengepalkan tangan. Dengan air mata panas yang akhirnya jatuh bebas, gadis itu mencoba menjelaskan, "Ayah, kenapa kamu nggak tanya dulu jelasnya bagaimana? Ayah tahu, nggak? Hal apa saja yang baru terjadi pada putrimu ini?"

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
댓글 (1)
goodnovel comment avatar
Deemardani
Padahal Aisha pinter dan bisa jadi dokter kan🥹 kasihannya
댓글 더 보기

최신 챕터

  • Diabaikan Keluarga, Diratukan CEO Misterius    Bab 205

    "Lebih gila lagi, kamu mengajak kami ramai-ramai untuk berlibur ke Kota Elarion?! Aisha, kamu dan suamimu memang sudah terlewat segalanya!""Terlewat baik hati, terlewat kaya, pokoknya kalian benaran pasangan terbaik yang sama sekali nggak tanggung-tanggung dalam semua hal-hal yang baik."Karena terlalu menggebu-gebu dalam mengungkapkan kegembiraannya, Reya sampai lupa untuk bernapas.Gadis itu sampai terengah-engah dan hampir pingsan karena kehebohannya sendiri.Untungnya, ada Lora yang mau peduli padanya. Meski dengan ekspresi malas, gadis itu tetap membantu Reya untuk mengatur napas dengan baik. Dia juga menyodorkan air putih agar cairan di tubuh Reya tetap stabil.Sementara itu, Aisha dan Cakrawala hanya bisa saling menggenggam tangan dengan hati yang hangat. Menyenangkan banyak orang sudah cukup membuat pasangan muda itu selalu dalam perasaan yang positif.Waktu berangkat berlibur ke Kota Elarion telah tiba. Persiapan sudah dilakukan dengan matang sejak dua hari yang lalu.Pukul

  • Diabaikan Keluarga, Diratukan CEO Misterius    Bab 204

    Cakrawala menerima mikrofon dengan gerakan formal. Dia menatap Aisha yang berada di sampingnya, sebelum beralih kepada seluruh tamu yang memenuhi aula. Pria itu memberikan salam pembuka sekadarnya dan permintaan maaf pada semua orang yang hadir. Baru kemudian, dia mulai mengutarakan maksudnya. "Selama satu tahun terakhir, ada satu kenyataan yang sengaja kami simpan." Suasana semakin terasa sunyi. Semua orang menatap pria itu dengan fokus penuh, sampai tak berani untuk bersuara sepatah kata pun. "Saya dan Aisha ... sebenarnya telah resmi menikah sejak satu tahun yang lalu," kata Cakrawala dengan lugas dan tetap tenang. Tatapan terkejut saling beradu dari segala arah. Mereka terlihat saling menoleh dengan tatapan seolah mempertanyakan kebenaran. Cakrawala melanjutkan dengan suara stabil, "Keputusan untuk merahasiakan pernikahan kami, semata-mata bukan karena malu." Dia menoleh pada Aisha. Mereka sama-sama saling beradu senyum yang tipis. "Tetapi karena dari awal, saya me

  • Diabaikan Keluarga, Diratukan CEO Misterius    Bab 203

    Aisha langsung diserbu dengan banyak pertanyaan dari segala arah. Namun, semua mendadak musnah ketika seorang pembawa acara mulai mengumumkan jika acara wisuda segera dimulai.Aisha langsung menghela napas lega. Setidaknya, dia terselamatkan dari banyak pertanyaan yang membuatnya pusing.Saat ini, aula utama kampus telah dipenuhi oleh lautan toga hitam yang tersusun rapi. Di balkon, keluarga para wisudawan sudah mulai memenuhi kursi tamu.Alunan musik orkestra mengalun lembut, menambah sakral suasana wisuda yang tengah berlangsung. Di barisan undangan VVIP, Cakrawala duduk berdampingan dengan keluarga Aisha, juga keluarganya. Pria itu menatap lurus ke panggung, tak pernah lepas dari sosok Aisha yang duduk di barisan ketujuh peserta wisuda.Detik berikutnya, pembawa acara segera naik ke podium."Selamat pagi, dan salam sejahtera bagi kita semua."Suara tepuk tangan sontak bergetar memenuhi udara. "Dengan mengucap puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, Prosesi Wisuda Fakultas Ke

  • Diabaikan Keluarga, Diratukan CEO Misterius    Bab 202

    Cakrawala menuntun Aisha untuk masuk ke mobil perlahan-lahan. Begitu mereka berdua telah duduk di jok mobil secara berdampingan dengan tenang, Daniel mulai menyalakan mesin. Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang di jalan raya Kota Valemont. Di mobil lain yang cukup besar, Philip menyetirnya dengan baik, dengan posisi tepat di belakang mobil Rolls Royce-Ghost. Mobil itu mengangkut seluruh anggota Keluarga Pierce dan Keluarga Willow.Mereka semua ingin menyaksikan keberhasilan Aisha secara langsung.Tak butuh waktu lama, dua mobil telah sampai di rest area Universitas Internasional Eldenford. Saat turun dari mobil, para panitia wisuda bergerak cepat dan profesional untuk mengarahkan keluarga besar itu ke auditorium yang telah dipersiapkan.Cakrawala selalu setia untuk menuntun Aisha hingga sampai di belakang panggung. Pria itu tak perlu menyembunyikan keberadaan dan kebersamaannya lagi. Karena sebentar lagi, tepat bebarengan dengan dipanggilnya Aisha ke atas panggung, Cakrawala aka

  • Diabaikan Keluarga, Diratukan CEO Misterius    Bab 201

    Hari ini, wisuda kelulusan untuk Aisha akan dilaksanakan. Sejak fajar menyingsing, mata gadis itu sudah tak bisa lagi dipejamkan.Dia sudah terbangun dengan kesadaran penuh karena merasa sangat terharu, tak menyangka, bangga, sekaligus antusias.Tadi malam, Aisha dan Cakrawala memang sengaja untuk tidur, sekaligus menghabiskan detik-detik terakhir menjelang wisuda di villa mewah pemberian Silas. Di samping letak villa yang strategis, semua juga agar pikiran Aisha semakin rileks dan bahagia. Cakrawala belum terbangun dari tidurnya. Jadi, Aisha memutuskan untuk membangunkan suaminya pelan-pelan."Pak Cakra, ayo bangun. Ini sudah subuh." Aisha menepuk-nepuk pipi Cakrawala lembut, sampai pria itu bergerak sedikit dan mulai mengeliat."Argh ...." Cakrawala mengerang sedikit, kemudian membuka matanya perlahan-lahan."Sudah pagi, ya?" tanya Cakrawala pelan sambil mulai duduk dan mengucek mata.Aisha menjawab dengan penuh semangat, "Ya, sebentar lagi MUA yang aku pesan kemarin pasti datang.

  • Diabaikan Keluarga, Diratukan CEO Misterius    Bab 200

    "Wah, wah, wah. Sepertinya, ada yang baru saja menerima hadiah besar nih karena prestasinya."Lilly yang kembali dengan membawa beberapa piring menu jamuan tiba-tiba ikut bersuara."Nenek, aku dapat villa dari Ayah." Sontak, Aisha langsung melompat dari tempat duduknya.Dia berjalan cepat ke arah Lilly, lalu membantu wanita tua itu meletakkan piring-piring yang telah berisi beragam menu masakan ke atas meja."Aisha, Nenek ikut senang mendengarnya, Sayang." Lilly menahan haru saat Aisha memeluk tubuhnya dengan gerakan spontan."Ya, Nenek. Akhirnya, Tuhan sudah mengabulkan doa-doaku." Aisha mengeratkan pelukannya."Itu memang bagus, Sayang. Kamu sudah terlalu lama berjuang dan bersabar. Mungkin, sekarang saatnya kamu menikmati buah dari kesabaran kamu." Lilly membimbing cucu menantunya untuk duduk kembali di sofa dengan tenang."Hm, makan yang banyak, Nak. Siapkan energi yang besar untuk menyambut hadiah dari suami kamu nanti." Lilly menyodorkan sepiring nasi beserta pelengkap yang tela

  • Diabaikan Keluarga, Diratukan CEO Misterius    Bab 1

    "Aku harus bisa keluar dari sini dengan keadaan hidup!"Hanya ada dua kemungkinan di ruang yang kejam ini. Serupa antara hidup dan mati bagi seorang manusia. Entah apa yang membuatnya begitu kuat menghadapi dunia. Ruang yang dingin ini, kini mencekik seorang gadis dalam kesunyian.Aisha Nasywah Wil

  • Diabaikan Keluarga, Diratukan CEO Misterius    Bab 6

    Gadis itu merasa sangat khawatir dan iba, hingga insting seorang manusia menggerakkan Aisha untuk menggenggam jemari Cakrawala."Jangan sentuh saya sembarangan!" potong Cakrawala, gemetar. "Tapi ...." Aisha tak benar-benar menggubris perkataan sang CEO. Dia hanya mengikuti kata hati untuk menggeng

  • Diabaikan Keluarga, Diratukan CEO Misterius    Bab 5

    Aisha sedikit berjingkat karena merasa terkejut dan takut. Bibir merah muda wanita itu tergigit dengan keras, hingga dia benar-benar bisa mengingat kembali ucapan sang bos kemarin.Sementara itu, pandangan Cakra belum berpindah dari mata Aisha, membuat wanita muda itu sulit untuk bernapas di tempat

  • Diabaikan Keluarga, Diratukan CEO Misterius    Bab 3

    Silas hanya bungkam di tempatnya, menahan dada yang terasa panas karena tersulut emosi.Daphne menggulir pandangan mata ke arah sang putri dengan ekspresi tersiksa. Bagaimanapun, Aisha sama dengan Philip di hati Daphne. Melihat satu buah cinta yang bernasib malang, tentu saja membuat hati ibu mana

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status