เข้าสู่ระบบSilas hanya bungkam di tempatnya, menahan dada yang terasa panas karena tersulut emosi.
Daphne menggulir pandangan mata ke arah sang putri dengan ekspresi tersiksa. Bagaimanapun, Aisha sama dengan Philip di hati Daphne. Melihat satu buah cinta yang bernasib malang, tentu saja membuat hati ibu mana pun terluka. Namun, Daphne juga tak mengerti kenapa Silas begitu membedakan mereka! "Kenapa diam saja, Ayah?" Aisha menggertak. "Bukankah kamu selalu berbicara dengan lembut pada putramu itu? Tapi kenapa Ayah selalu berbicara kasar ke aku? Kenapa aku merasa jadi anak tiri di sini? Apa aku memang bukan anak Ayah?" Aisha kehilangan kontrol emosi. Sebenarnya, gadis itu juga ingin tahu mengapa sikap sang ayah tak sebaik pada sang kakak. Silas mengepalkan tangan dengan rahang yang mengetat. Dada pria itu naik turun dengan susah payah saat berujar, "Ya, kamu memang bukan anakku! Putri Silas Willow nggak ada yang pembangkang seperti kamu! Aisha, kamu puas dengar kata-kata itu?!" Daphne merasa jantungnya seperti tertindih batu besar. Wanita paruh baya itu sangat marah dengan omong kosong Silas. "Hei, Silas! Omong kosong apa kamu?!" bentak Daphne. Aisha masih berdiri. Perasaan gadis itu remuk, remuk yang tak lagi bisa ditahan. Tubuhnya gemetar hebat, terasa seperti melayang dan kehilangan keseimbangan. Sementara itu, Philip tampak tersenyum puas. Dia adalah orang yang paling mendapat untung di situasi Keluarga Willow! "Hah!" Daphne mendorong tubuh bongsor Silas, lalu berlari ke arah Aisha dan mendekap tubuh putrinya yang bernasib malang. "Hei, Aisha Sayang!" Daphne membingkai wajah Aisha. "Jangan dengarkan perkataan ayahmu, ya!" Pandangan ibu dan anak itu bertemu dengan kedua mata yang sama-sama sudah basah. Aisha mencengkeram pergelangan tangan Daphne, membiarkan sang ibu berbicara hingga selesai. "Aisha adalah putri kandung Ayah dan Ibu. Aisha tahu itu, 'kan, dari dulu?" Daphne terus berusaha menenangkan sang putri. Aisha masih terdiam, hanya sorot mata kelamnya yang berbicara dengan jujur. Isak tangis gadis itu terus mendominasi, mengiris hati Daphne yang makin merasa bersalah. Daphne memeluk Aisha saat berbicara pada Silas, "Ayah, ayo jelaskan yang sebenarnya! Tadi yang kamu katakan hanya omong kosong!" Silas melepas kaca mata, melemparnya dengan kasar ke meja makan. "Dari tadi putrimu itu terus memancing emosiku dan terus mendesak. Aku katakan saja hal yang membuat dia berhenti bicara. Sudah, lupakan saja omonganku tadi. Malam-malam bikin ribut saja!" Silas berkata dengan galak, kemudian melenggang pergi begitu saja. Namun, suara lantang Daphne kembali terdengar, sontak menghentikan langkah angkuh Silas. "Silas, jangan lupa dengan peristiwa dulu. Kamu hampir diusir oleh ayahku karena telah melakukan penyelewengan di perusahaan Gilbert Consulting Group. Berkat kehadiran janin Aisha di perutku, kamu terselamatkan!" Daphne tampak tersengal-sengal. Di sampingnya, Aisha memeluk tubuh Daphne, mengusap punggung Daphne dengan tujuan memberi kekuatan. Sejujurnya, Aisha cukup kaget dengan pernyataan Daphne. Cerita masa lalu yang belum diketahui kini mengusik batin Aisha, memberikan pemahaman yang sebenarnya. Tentang sang ayah yang benar-benar tidak begitu baik, bahkan sejak dulu. "Ibu, sudah, ya. Aku nggak mau Ibu dan Ayah bertengkar terus," pinta Aisha. Tangan gadis itu meremas jemari ibunya. Daphne tersenyum lembut ke arah Aisha. Dia membelai pelipis Aisha pelan, berkata dengan serius, "Kami nggak bertengkar, Sayang. Tapi kamu dan kakakmu juga harus tahu cerita yang sebenarnya. Ayahmu pun juga harus mengingat kebaikan kita padanya. Dia nggak boleh semena-mena dengan putri Keluarga Gilbert!" Daphne maju selangkah. Gerakannya terlihat melindungi Aisha. "Tentu saja ayahku nggak berpikir sedangkal kamu, Silas. Beliau memikirkan aku dan calon cucunya. Menurut beliau, kehadiran seorang ayah di tengah kami sangat dibutuhkan demi pertumbuhan putrimu yang kamu beri nama Aisha!" Daphne menjeda kalimatnya, menyilangkan dada dengan senyum yang sinis. "Silas, apa kamu nggak punya rasa iba terhadap Aisha hanya karena dia seorang perempuan? Bahkan, almarhum ayahku rela mengganti nama perusahaan menjadi nama marga keluargamu!" "Gilbert Consulting Group, menjadi Willow Consulting Group. Bukankah kami sudah baik sama kamu dan menghargaimu juga? Tapi kenapa kamu selalu merasa kurang, Silas?! Kenapa!" gertak Daphne. Silas mengacak rambutnya yang penuh uban dengan tidak sabaran. "Ibu, jangan panggil aku dengan nama di depan anak-anak kita. Perihal Aisha, aku nggak membencinya sama sekali. Dia saja yang dari dulu pembangkang." Silas mendengus kesal. "Andai dulu Aisha menurut untuk mengambil jurusan Bisnis dan Manajemen, pasti Ayah nggak akan semarah ini! Lihat, Philip pun bisa patuh dan menjadi penerus muda perusahaan kita, kenapa Aisha nggak bisa? Lalu apa yang putrimu itu perbuat? Dia menghancurkan kepercayaanku, dengan memilih jurusan Kedokteran. Bukankah itu artinya dia mengabaikan kita dan juga perusahaan?" Lagi-lagi, Silas menunjuk-nunjuk Aisha. Sorot matanya pun sama sekali tak menyerupai seorang ayah yang sayang terhadap putrinya. Aisha tak tahan lagi. Gadis itu angkat bicara, "Ayah, kamu salah paham. Aku memilih jurusan Kedokteran memang karena tujuan yang baik, bukan karena mengabaikan kita semua atau pun perusahaan!" Aisha mengusap peluh di pelipis, lalu kembali bersikeras, "Ayah, dari SMA, aku selalu rajin ikut kegiatan perusahaan, hingga aku mengerti tentang dasar-dasar Bisnis dan Manajemen. Karyawan di sana juga bilang ke Ayah, 'kan, kalau hasil kerjaku cukup bisa dibilang baik?" Mata jernih Aisha berkaca-kaca, dengan ekspresi yang penuh pengharapan. "Hah, sudahlah!" Silas mengibaskan tangannya. "Pokoknya, kamu tetap pembangkang karena memilih jurusan Kedokteran itu. Anak perempuan memang benar-benar nggak berguna dan nggak bisa diandalkan!" cecar Silas garang. Melihat Silas yang pergi dengan langkah cepat, Aisha langsung berteriak, "Ayah, akan aku buktikan kalau putrimu ini hebat dan bisa diandalkan! Aku sudah melamar pekerjaan paruh waktu sebagai sekretaris di Pierce Holdings! Aku pasti akan diterima, dan membuktikan ke Ayah dan semua orang, kalau aku bisa dibanggakan! Juga dengan jurusan Kedokteran pilihanku yang nggak seburuk apa yang Ayah pikirkan!" Jantung Silas terasa berdesir saat mendengar nama perusahaan "Pierce Holdings" yang baru putrinya katakan! 'Perusahaan hebat dan bergengsi itu .... Ah, sudah sejak dulu aku bermimpi untuk menaruh saham dan bekerja sama dengan mereka, bahkan dulu sebelum aku menikah dan masuk ke perusahaan Keluarga Gilbert. Tapi, Pierce Holdings memang sangat ganas, membuat aku kewalahan menyesuaikan diri di sana. Tapi, kenapa bocah ingusan itu berani dan bisa menginjakkan kaki ke sana?' Akan tetapi, Silas tak ingin menampakkan kekagumannya. Pria itu tetap melangkah cepat, seperti tak mengabaikan perkataan Aisha. Di tengah panasnya situasi, Philip merasa canggung. Ketika tatapan pemuda itu bertemu dengan Daphne, ada riak bersalah yang tergambar di sana. Namun, Philip tak mau mengakuinya, dan memilih untuk pergi menyusul sang ayah. Daphne menutup mulut, menarik pandangan dari Philip dengan rasa kecewa yang tak lagi terasa kecewa. Daphne mengusap kepala Aisha, menuntun Aisha ke kamar untuk menenangkannya. Aisha menurut dengan patuh. Di tengah langkah yang berlangsung, Daphne teringat dengan pernyataan Aisha. Rasa penasaran pun menyita batinnya. "Aisha, bagaimana bisa gadis sekecil kamu bisa memasuki Pierce Holdings?"Aisha sedikit berjingkat karena merasa terkejut dan takut. Bibir merah muda wanita itu tergigit dengan keras, hingga dia benar-benar bisa mengingat kembali ucapan sang bos kemarin.Sementara itu, pandangan Cakra belum berpindah dari mata Aisha, membuat wanita muda itu sulit untuk bernapas di tempatnya."Cih!" Cakra melipat tangan serta memiringkan bibir dengan sinis. "Baru kesan pertama, tapi Anda sudah nggak bisa menjaganya!" cetus Cakra.Aisha melambaikan tangan saat berkata, "Nggak, Tuan. Eh, maksud saya ... Pak Cakra."Wajah tegang Cakra mengendur, tergantikan dengan senyum kepuasan yang begitu terlihat samar di garis bibir sang CEO.Aisha menekuk wajahnya, hingga merasakan situasi yang tegang kini telah melunak. Barulah gadis itu merasa lega dan berani menatap sekeliling."Ingat-ingat panggilan itu. Sekarang, ikut saya ke ruangan Anda untuk memulai hari pertama bekerja!" perintah Cakra dengan suara finalnya. Pria itu keluar dari ruangan, lalu membanting pintu dengan keras.Aisha
Mata jernih Aisha membulat. "Apa?" Dia terkekeh tak terima, lalu cemberut. Gadis itu melangkah cepat, meninggalkan Daphne yang mengernyitkan dahi di belakangnya."Ibu, aku sudah sembilan belas tahun, punya Kartu Tanda Penduduk sendiri." Aisha menarik gagang pintu hingga pintu terbuka, lalu masuk dan menghempaskan tubuh ke ranjang empuknya. Ekspresi gadis muda itu terlihat sangat jengah.Daphne juga telah tiba di kamar Aisha. Dia tersenyum penuh arti ke arah putrinya yang kini sudah tumbuh dewasa dengan baik.Daphne segera duduk di samping Aisha. Namun, gadis itu malah memiringkan tubuh dan membelakangi Daphne.Daphne memandang punggung Aisha saat gadis itu kembali bersiteguh, "Aku sudah bisa bertanggung jawab dengan diriku sendiri. Aku bukan gadis kecilmu lagi, Bu. Aku sudah menjadi wanita dewasa yang hebat.""Iya, Sayang." Daphne tersenyum lagi. Dia mendekatkan tubuh ke kepala Aisha, kemudian mengelus rambut hitam Aisha. "Ibu mengerti." Daphne mengecup kening Aisha."Putri Ibu meman
Silas hanya bungkam di tempatnya, menahan dada yang terasa panas karena tersulut emosi.Daphne menggulir pandangan mata ke arah sang putri dengan ekspresi tersiksa. Bagaimanapun, Aisha sama dengan Philip di hati Daphne. Melihat satu buah cinta yang bernasib malang, tentu saja membuat hati ibu mana pun terluka. Namun, Daphne juga tak mengerti kenapa Silas begitu membedakan mereka!"Kenapa diam saja, Ayah?" Aisha menggertak. "Bukankah kamu selalu berbicara dengan lembut pada putramu itu? Tapi kenapa Ayah selalu berbicara kasar ke aku? Kenapa aku merasa jadi anak tiri di sini? Apa aku memang bukan anak Ayah?" Aisha kehilangan kontrol emosi. Sebenarnya, gadis itu juga ingin tahu mengapa sikap sang ayah tak sebaik pada sang kakak.Silas mengepalkan tangan dengan rahang yang mengetat. Dada pria itu naik turun dengan susah payah saat berujar, "Ya, kamu memang bukan anakku! Putri Silas Willow nggak ada yang pembangkang seperti kamu! Aisha, kamu puas dengar kata-kata itu?!"Daphne merasa jan
Mata indah Aisha berkilat nanar, tubuhnya terasa nyaris ambruk dengan kalimat sang CEO yang baru saja meluncur. Kalimat yang jatuh dengan sempurna. Tanpa pemanis, atau pun filter.Sang CEO melihat perubahan emosi Aisha. Rona kepuasan sedikit menyembul dari mata hitamnya. Senyum samar yang manipulatif pun tampak jelas tertera di lengkungan bibirnya yang tipis. Aisha refleks menggeser tubuhnya ke posisi yang lebih nyaman di kursi hitam itu. Bukan karena terkejut, bahkan dia sudah memperkirakan hal ini di jauh hari sebelum waktu benar-benar tiba. Aisha mengerti, detik ini adalah satu-satunya kesempatan dirinya berbicara untuk terakhir kali. Jika dia gagal memanfaatkan kesempatan ini, maka dunia gadis itu benar-benar berakhir di tangan CEO yang berhati batu!Aisha mengangkat wajahnya, menguatkan tekad matang-matang, menghela napas dengan keyakinan penuh, lalu berujar dengan hati-hati, "Bolehkah saya berbicara di ruang Anda untuk terakhir kali sebelum benar-benar keluar?"Cakra menatap
"Aku harus bisa keluar dari sini dengan keadaan hidup!"Hanya ada dua kemungkinan di ruang yang kejam ini. Serupa antara hidup dan mati bagi seorang manusia. Entah apa yang membuatnya begitu kuat menghadapi dunia. Ruang yang dingin ini, kini mencekik seorang gadis dalam kesunyian.Aisha Nasywah Willow duduk tegak di kursi putar berlapis kulit hitam. Kedua tangan Aisha tertaut sempurna di atas lutut. Dia telah berperang dengan jantungnya sendiri selama lima menit, waktu yang cukup lama untuk memahami bahwa jendela kokoh yang berada di belakang meja bukanlah sekadar hiasan.Itu adalah batas tak bertelak, antara dirinya dengan dunia yang belum sepenuhnya dapat dia pahami. Di luar sana, Kota Valemont tampak membisu dengan segala kemegahannya. Gedung-gedung tinggi nan mewah terlihat seperti miniatur, ribuan kendaraan yang saling memacu menjelma menjadi titik-titik kecil, serta tak sedikit manusia yang terlalu sibuk hingga tak sempat untuk bersuara.Aisha mengeratkan tautan tangannya, meli







