Share

Bab 3

Auteur: Dwi Maula
last update Dernière mise à jour: 2025-12-30 12:35:57

Silas hanya bungkam di tempatnya, menahan dada yang terasa panas karena tersulut emosi.

Daphne menggulir pandangan mata ke arah sang putri dengan ekspresi tersiksa. Bagaimanapun, Aisha sama dengan Philip di hati Daphne. Melihat satu buah cinta yang bernasib malang, tentu saja membuat hati ibu mana pun terluka. Namun, Daphne juga tak mengerti kenapa Silas begitu membedakan mereka!

"Kenapa diam saja, Ayah?" Aisha menggertak. "Bukankah kamu selalu berbicara dengan lembut pada putramu itu? Tapi kenapa Ayah selalu berbicara kasar ke aku? Kenapa aku merasa jadi anak tiri di sini? Apa aku memang bukan anak Ayah?"

Aisha kehilangan kontrol emosi. Sebenarnya, gadis itu juga ingin tahu mengapa sikap sang ayah tak sebaik pada sang kakak.

Silas mengepalkan tangan dengan rahang yang mengetat. Dada pria itu naik turun dengan susah payah saat berujar, "Ya, kamu memang bukan anakku! Putri Silas Willow nggak ada yang pembangkang seperti kamu! Aisha, kamu puas dengar kata-kata itu?!"

Daphne merasa jantungnya seperti tertindih batu besar. Wanita paruh baya itu sangat marah dengan omong kosong Silas.

"Hei, Silas! Omong kosong apa kamu?!" bentak Daphne.

Aisha masih berdiri. Perasaan gadis itu remuk, remuk yang tak lagi bisa ditahan. Tubuhnya gemetar hebat, terasa seperti melayang dan kehilangan keseimbangan.

Sementara itu, Philip tampak tersenyum puas. Dia adalah orang yang paling mendapat untung di situasi Keluarga Willow!

"Hah!" Daphne mendorong tubuh bongsor Silas, lalu berlari ke arah Aisha dan mendekap tubuh putrinya yang bernasib malang.

"Hei, Aisha Sayang!" Daphne membingkai wajah Aisha. "Jangan dengarkan perkataan ayahmu, ya!" Pandangan ibu dan anak itu bertemu dengan kedua mata yang sama-sama sudah basah.

Aisha mencengkeram pergelangan tangan Daphne, membiarkan sang ibu berbicara hingga selesai.

"Aisha adalah putri kandung Ayah dan Ibu. Aisha tahu itu, 'kan, dari dulu?" Daphne terus berusaha menenangkan sang putri.

Aisha masih terdiam, hanya sorot mata kelamnya yang berbicara dengan jujur. Isak tangis gadis itu terus mendominasi, mengiris hati Daphne yang makin merasa bersalah.

Daphne memeluk Aisha saat berbicara pada Silas, "Ayah, ayo jelaskan yang sebenarnya! Tadi yang kamu katakan hanya omong kosong!"

Silas melepas kaca mata, melemparnya dengan kasar ke meja makan.

"Dari tadi putrimu itu terus memancing emosiku dan terus mendesak. Aku katakan saja hal yang membuat dia berhenti bicara. Sudah, lupakan saja omonganku tadi. Malam-malam bikin ribut saja!"

Silas berkata dengan galak, kemudian melenggang pergi begitu saja. Namun, suara lantang Daphne kembali terdengar, sontak menghentikan langkah angkuh Silas.

"Silas, jangan lupa dengan peristiwa dulu. Kamu hampir diusir oleh ayahku karena telah melakukan penyelewengan di perusahaan Gilbert Consulting Group. Berkat kehadiran janin Aisha di perutku, kamu terselamatkan!" Daphne tampak tersengal-sengal. Di sampingnya, Aisha memeluk tubuh Daphne, mengusap punggung Daphne dengan tujuan memberi kekuatan.

Sejujurnya, Aisha cukup kaget dengan pernyataan Daphne. Cerita masa lalu yang belum diketahui kini mengusik batin Aisha, memberikan pemahaman yang sebenarnya. Tentang sang ayah yang benar-benar tidak begitu baik, bahkan sejak dulu.

"Ibu, sudah, ya. Aku nggak mau Ibu dan Ayah bertengkar terus," pinta Aisha. Tangan gadis itu meremas jemari ibunya.

Daphne tersenyum lembut ke arah Aisha. Dia membelai pelipis Aisha pelan, berkata dengan serius, "Kami nggak bertengkar, Sayang. Tapi kamu dan kakakmu juga harus tahu cerita yang sebenarnya. Ayahmu pun juga harus mengingat kebaikan kita padanya. Dia nggak boleh semena-mena dengan putri Keluarga Gilbert!"

Daphne maju selangkah. Gerakannya terlihat melindungi Aisha.

"Tentu saja ayahku nggak berpikir sedangkal kamu, Silas. Beliau memikirkan aku dan calon cucunya. Menurut beliau, kehadiran seorang ayah di tengah kami sangat dibutuhkan demi pertumbuhan putrimu yang kamu beri nama Aisha!"

Daphne menjeda kalimatnya, menyilangkan dada dengan senyum yang sinis.

"Silas, apa kamu nggak punya rasa iba terhadap Aisha hanya karena dia seorang perempuan? Bahkan, almarhum ayahku rela mengganti nama perusahaan menjadi nama marga keluargamu!"

"Gilbert Consulting Group, menjadi Willow Consulting Group. Bukankah kami sudah baik sama kamu dan menghargaimu juga? Tapi kenapa kamu selalu merasa kurang, Silas?! Kenapa!" gertak Daphne.

Silas mengacak rambutnya yang penuh uban dengan tidak sabaran. "Ibu, jangan panggil aku dengan nama di depan anak-anak kita. Perihal Aisha, aku nggak membencinya sama sekali. Dia saja yang dari dulu pembangkang." Silas mendengus kesal.

"Andai dulu Aisha menurut untuk mengambil jurusan Bisnis dan Manajemen, pasti Ayah nggak akan semarah ini! Lihat, Philip pun bisa patuh dan menjadi penerus muda perusahaan kita, kenapa Aisha nggak bisa? Lalu apa yang putrimu itu perbuat? Dia menghancurkan kepercayaanku, dengan memilih jurusan Kedokteran. Bukankah itu artinya dia mengabaikan kita dan juga perusahaan?"

Lagi-lagi, Silas menunjuk-nunjuk Aisha. Sorot matanya pun sama sekali tak menyerupai seorang ayah yang sayang terhadap putrinya.

Aisha tak tahan lagi. Gadis itu angkat bicara, "Ayah, kamu salah paham. Aku memilih jurusan Kedokteran memang karena tujuan yang baik, bukan karena mengabaikan kita semua atau pun perusahaan!"

Aisha mengusap peluh di pelipis, lalu kembali bersikeras, "Ayah, dari SMA, aku selalu rajin ikut kegiatan perusahaan, hingga aku mengerti tentang dasar-dasar Bisnis dan Manajemen. Karyawan di sana juga bilang ke Ayah, 'kan, kalau hasil kerjaku cukup bisa dibilang baik?" Mata jernih Aisha berkaca-kaca, dengan ekspresi yang penuh pengharapan.

"Hah, sudahlah!" Silas mengibaskan tangannya. "Pokoknya, kamu tetap pembangkang karena memilih jurusan Kedokteran itu. Anak perempuan memang benar-benar nggak berguna dan nggak bisa diandalkan!" cecar Silas garang.

Melihat Silas yang pergi dengan langkah cepat, Aisha langsung berteriak, "Ayah, akan aku buktikan kalau putrimu ini hebat dan bisa diandalkan! Aku sudah melamar pekerjaan paruh waktu sebagai sekretaris di Pierce Holdings! Aku pasti akan diterima, dan membuktikan ke Ayah dan semua orang, kalau aku bisa dibanggakan! Juga dengan jurusan Kedokteran pilihanku yang nggak seburuk apa yang Ayah pikirkan!"

Jantung Silas terasa berdesir saat mendengar nama perusahaan "Pierce Holdings" yang baru putrinya katakan!

'Perusahaan hebat dan bergengsi itu .... Ah, sudah sejak dulu aku bermimpi untuk menaruh saham dan bekerja sama dengan mereka, bahkan dulu sebelum aku menikah dan masuk ke perusahaan Keluarga Gilbert. Tapi, Pierce Holdings memang sangat ganas, membuat aku kewalahan menyesuaikan diri di sana. Tapi, kenapa bocah ingusan itu berani dan bisa menginjakkan kaki ke sana?'

Akan tetapi, Silas tak ingin menampakkan kekagumannya. Pria itu tetap melangkah cepat, seperti tak mengabaikan perkataan Aisha.

Di tengah panasnya situasi, Philip merasa canggung. Ketika tatapan pemuda itu bertemu dengan Daphne, ada riak bersalah yang tergambar di sana. Namun, Philip tak mau mengakuinya, dan memilih untuk pergi menyusul sang ayah.

Daphne menutup mulut, menarik pandangan dari Philip dengan rasa kecewa yang tak lagi terasa kecewa.

Daphne mengusap kepala Aisha, menuntun Aisha ke kamar untuk menenangkannya.

Aisha menurut dengan patuh. Di tengah langkah yang berlangsung, Daphne teringat dengan pernyataan Aisha. Rasa penasaran pun menyita batinnya.

"Aisha, bagaimana bisa gadis sekecil kamu bisa memasuki Pierce Holdings?"

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Latest chapter

  • Diabaikan Keluarga, Diratukan CEO Misterius    Bab 62

    "Lepaskan!" pekik Aisha dengan ekspresi panik saat menarik kembali jarinya. Dia benar-benar merasa malu, sekaligus takut."Hhh!" Cakrawala malah memiringkan bibirnya, dia tersenyum dengan sinis."Apa yang kamu lakukan?" tanya pria itu saat dirinya refleks segera duduk."Ng-nggak ada," jawab Aisha yang masih terlihat gelagapan. Dia buru-buru menggeleng dengan cepat.Tubuh gadis itu bergetar hebat, dengan wajah yang telah memerah seperti tomat. Cakrawala pun tak kuasa menahan senyum, seraya memicingkan mata pada Aisha."Nggak ada, tapi kenapa harus sentuh-sentuh bibirku? Lampunya kamu nyalakan terang pula! Itu sangat mengganggu dan bikin tidur lelapku terbangun!""Em, iya, aku akan matikan lagi," sahut Aisha cepat, sambil berlari kecil ke arah saklar lampu dan segera mematikannya."Kenapa? Bibirku pasti seksi, 'kan? Kamu jadi tergoda dan nggak tahan untuk menyentuhnya," duga Cakrawala dengan penuh percaya diri, sambil menyentuh bibirnya yang kini berubah lembab."Mana ada, Pak?" Aisha l

  • Diabaikan Keluarga, Diratukan CEO Misterius    Bab 61

    "Nggak masalah. Bunuh aku saja jika perkataanku tadi nggak benar," gumam Cakrawala lirih sambil bangkit dan berlalu dari kamar pengantin, tapi masih dapat didengar sangat jelas oleh telinga Aisha."Apa?! Bunuh?" Aisha merasa ini sangat tak masuk akal. Tanggapan Cakrawala terhadap tuntutan Aisha barusan memanglah berlebihan dan terasa agak bualan. Jika pun benar, itu adalah respon dari seorang pria yang benar-benar jatuh cinta terhadap wanitanya. Aisha merasa hal itu tidaklah mungkin, karena pernikahan kilat dan rahasia ini memang murni untuk kepentingan bisnis yang dapat dibayarkan dengan uang. Sedangkan dia tahu betul, jika cinta tak pernah bisa diukur dengan apa pun, apalagi jika hanya dengan sejumlah uang.Lalu, apakah perkataan Cakrawala harus dia percayai?....Ketika Cakrawala telah merampungkan pekerjaannya, waktu telah menunjukkan pukul sepuluh malam. Dia teringat pada Aisha yang kemungkinan besar telah tertidur lelap, jadi pria itu berusaha untuk tak membuat suara saat mema

  • Diabaikan Keluarga, Diratukan CEO Misterius    Bab 60

    "Pak, bolehkah saya memakan Anda sekarang?!" teriak Aisha yang sedang memancarkan rasa kesalnya sampai puas. Dia menonjok bantal di genggamannya hingga bulu-bulu putih pun terhambur dan terbang.Sebelum itu, kepalanya benar-benar terasa nyaris meledak. Barulah ketika dia berteriak dengan leluasa, rasa menyiksa di kepala gadis itu perlahan-lahan redam.Di dekat kapstok dinding, Cakrawala sontak menghentikan gerakannya, sambil menikmati taburan bulu-bulu putih yang menghujaninya begitu saja."Memakan? Apa kamu mampu?" Cakrawala tersenyum dengan dingin. Dia segera memutar badan dan menghadap Aisha dengan sorot mata menantang."Pak, aku cuma nggak menyangka kalau tujuan Anda mengharuskan saya tidur sekamar dengan Anda hanyalah untuk menyenangkan Nenek Lilly," ujar Aisha sambil menahan kepalanya untuk tetap tegak dan tidak sampai menunduk.Gadis itu juga menajamkan matanya, persis seperti apa yang dilakukan oleh Cakrawala sekarang. Aisha berpikir, jika lelaki dan perempuan harus setara. D

  • Diabaikan Keluarga, Diratukan CEO Misterius    Bab 59

    "Tentu saja, Nek. Lihatlah, aku sudah berhasil membujuk cucu menantumu itu untuk tidur di kamarku. Dan malam ini, kami berdua akan memulai untuk tidur bersama," sahut Cakrawala dengan senyum merekah yang tak kalah terlihat hangat.Pada saat ini, Aisha masih bertahan di tempatnya, sambil melebarkan mata dan menutupi mulut dengan kedua telapak tangannya. Gadis itu benar-benar tak tahu harus percaya atau tidak dengan pemandangan nyata di depannya. Yang pasti, dirinya merasa bersalah terhadap Cakrawala karena selalu berprasangka buruk pada suami sahnya sendiri.'Jadi, Pak Cakra membujuk aku itu karena keinginan nenek? Dan dia nggak mau buat neneknya kecewa?' pikir Aisha di dalam hati."Ya Tuhan, kenapa Pak Cakra sangat aneh dan misterius? Aku benaran nggak bisa menebak sikap dia yang sebenarnya," gumam Aisha yang kini telah menutup pintu kamarnya. Gadis itu berjalan menuju ranjang kamar dengan perasaan yang rumit.Ketika Aisha telah merebahkan tubuh dengan segudang misteri, obrolan antar

  • Diabaikan Keluarga, Diratukan CEO Misterius    Bab 58

    "Akhirnya, kamu menepati janjimu juga!" ujar Cakrawala datar kala melirik sosok wanita muda yang baru saja masuk ke kamarnya. Aisha menghela napas, lalu menyahut, "Tentu saja, Pak. Aku bukan wanita yang suka menye-menye.""Apa benar begitu?" Tanpa disadari, Cakrawala malah menantang Aisha. Hal itu membuat adrenalin Aisha terpacu secara signifikan.Aisha mengencangkan kedua tangan yang tergantung di sisi tubuhnya. Kilat kebencian mulai muncul di kerling mata gadis muda itu."Apa pernyataanku tadi belum cukup meyakinkan?" Aisha mengukuhkan kakinya dengan kekuatan penuh. Dia mulai berani bersikap dingin di hadapan sang suami.Dia benar-benar ingin menjadi wanita yang tangguh, dan tak pernah sudi membiarkan seorang pria menjatuhkan harga dirinya.Menjadi istri rahasia Cakrawala selama hampir dua minggu membuat Aisha mulai beradaptasi dan memahami pola yang berlaku. Gadis itu telah mengerti, suami sahnya selalu memandangnya rendah karena adanya banyak ketimpangan yang jauh di antara merek

  • Diabaikan Keluarga, Diratukan CEO Misterius    Bab 57

    "Hanya maaf katamu?" Cakrawala merasa tak terima. Dia benar-benar merasa sangat terhina. Di hadapan seorang gadis kecil, niat baiknya justru membuat dirinya celaka dan malu."Ya, aku memang salah, Pak," aku Aisha dengan pasrah. Air matanya tumpah begitu saja, tanpa dia tahu apa sebabnya."Dan aku ... benar-benar minta maaf." Aisha hanya menunduk. Sebenarnya, dia ingin menatap mata Cakrawala, tapi ada tangis tak biasa yang menuntut untuk disembunyikan olehnya."Sudahlah. Maaf dari kamu itu nggak berguna. Nggak bisa memperbaiki keadaan bahwa kamu sudah membuat aku malu dan terjatuh ke lantai," gerutu Cakrawala dengan dingin. Dia memutar badan membelakangi Aisha."Baiklah. Aku akan menebus kesalahan itu, Pak. Aku bersedia melakukan apa pun yang Anda minta," kata Aisha dengan seketika.Gadis itu memang tak sengaja, tapi tak bisa membuatnya terlepas dari diri yang memang bersalah. Jadi, dia harus bertanggung jawab dan menebusnya."Bagus," sahut Cakrawala, suaranya lirih. Senyum liciknya t

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status