ANMELDEN"Mungkin seorang bos besar yang sudah pensiun di balik layar. Karena bisa menjadi guru Hamid, setidaknya usianya sudah lewat 60 tahun, 'kan?""Nggak sia-sia aku datang hari ini!"Semua orang di tempat itu berseru, seolah-olah ini adalah acara temu penggemar.Bahkan Nindy dan tiga orang di sampingnya pun tidak terkecuali. Wajah mereka memerah, bertepuk tangan sekuat tenaga.Di saat yang sama, mereka juga tak lupa menyindirku."Pecundang, apa artinya penilaianmu itu? Penilaian guru Pak Hamid barulah yang benar-benar kata-kata mutiara!""Hehe, jangan-jangan ada orang yang cuma nonton beberapa video motivator sukses, lalu benar-benar menganggap dirinya ahli bisnis? Konyol!""Bu Nindy, sebaiknya cerai saja. Orang seperti ini bukan cuma nggak becus, tapi juga penipu. Saranku kirim saja ke rumah sakit jiwa, disetrum sedikit, mungkin baru sadar realitas!"Begitu kata-kata itu selesai, Nindy sama sekali tak sempat menanggapi mereka. Dia menatap tanpa berkedip ke arah podium, menantikan kemuncul
Ketiganya seperti sudah dijatuhi hukuman mati, duduk kaku di kursi masing-masing. Kemudian, mereka memaksakan senyuman pucat ke arah Nindy."Ini ... kalian benar-benar percaya pada dia yang cuma orang luar?"Saat ini, Nindy juga benar-benar tercengang. Masalah-masalah yang barusan disebutkan Ray, setelah dia pikirkan kembali dengan saksama, baru dia sadar bahwa celah-celah itu memang ada.Ray sama sekali tidak asal bicara!Namun, harga diri yang terbangun selama lima tahun pernikahan membuat Nindy sulit memercayai bahwa suami yang selama ini dia anggap biasa-biasa saja ternyata memiliki insting investasi setajam itu. Maka tanpa sadar, dia memilih menghindar."Aku bisa menjamin pada kalian, dia nggak pernah bersentuhan dengan industri investasi apa pun. Dia benar-benar cuma seorang pemadam kebakaran, sehari-hari cuma tahu memadamkan api!""Lagi pula, proyek kita sama sekali nggak berada di bidang yang sama. Sekalipun dia mengerti, mana mungkin dia tahu semuanya dan bisa menilai dalam wa
"Kalau kamu benar-benar bisa menunjukkan celah dalam proyek kami, aku akan menampar wajahku sendiri seratus kali dan mengakui aku memang sudah meremehkan orang!"Abian mencibir dingin, lalu melanjutkan, "Tapi kalau kamu nggak bisa menyebutkan masalahnya, bahkan cuma asal bicara, jangan salahkan aku kalau nanti aku nggak memberi muka pada Bu Nindy."Melihat tiga berkas proyek yang diletakkan di depanku, sudut bibirku terangkat dingin. Tak kusangka, di zaman sekarang masih ada orang yang sengaja mencari malu? Baiklah, akan kupenuhi keinginan mereka."Yang ini milikmu, terlihat mewah tapi kosong. Sekilas memang tampak sudah melakukan analisis pasar dan evaluasi risiko secara menyeluruh, tapi kenyataannya keuntungan dan risikonya sama sekali nggak sebanding.""Tingkat pengembalian investasinya terlalu rendah, bahkan jauh melampaui rata-rata periode tahunan industri ini. Untuk proyek seperti ini, uang yang ditanamkan bahkan nggak akan kembali modal. Anak tiga tahun pun nggak akan mempertimb
"Buka lebar-lebar matamu dan lihat dengan jelas, seberapa bagus proyek Grup Karya!" Saat itu, Nindy tiba-tiba merasakan ketidakberdayaan yang mendalam.Perusahaannya sedang terjerat krisis. Sebagai suami, Ray bukan saja tak bisa membantu sedikit pun, malah terus bersikap kekanak-kanakan karena cemburu, bahkan merendahkan dan mengutuknya.Dalam amarah sesaat, Nindy langsung membuka berkas proyek, lalu membantingnya di depan Ray, ingin membuatnya melihat betapa konyol dirinya.Aku sedikit mengernyit, menatap Nindy seperti melihat orang bodoh. Adapun berkas proyek yang dia lemparkan ke hadapanku, aku hanya melirik sekilas dan langsung melihat masalah terbesarnya. Masalah besar yang cukup untuk memastikan kegagalannya!Saat itu, Nindy menarik kembali berkas proyeknya, lalu tersenyum mengejek diri sendiri. "Aku benar-benar gila, sampai ingin membuatmu sadar diri?""Aku lupa kamu cuma seorang pemadam kebakaran biasa yang nggak becus, tapi penuh amarah. Kamu sama sekali nggak mengerti proyek.
Melihat itu, aku melirik ke arah podium tinggi di ruang rapat. Benar saja, aku melihat Hamid sedang memandang ke sekeliling.[ Aku sudah di ruang rapat, kamu mulai saja. ][ Nanti, aku akan langsung naik ke panggung. ]Setelah membalas Hamid, aku bersiap bangkit dan berjalan ke atas panggung. Namun, pantatku bahkan belum terangkat, Nindy di samping sudah menarikku."Kenapa? Nggak tahan dengarnya? Kamu malu setengah mati, jadi mau pergi?""Lepaskan!" Aku mengernyit dan membentaknya dengan dingin.Namun, Nindy tetap tidak mau melepaskan lenganku, malah berkata dengan ekspresi tak sabar, "Sudahlah, aku akui tadi kata-kataku memang agak keterlaluan. Tapi sebenarnya kamu mau ngambek sampai kapan?""Sudah cukup, Ray. Kamu cuma berpikiran sempit, keberatan karena aku ke pesta sama Chicco, 'kan?"Sampai di sini, Nindy menarik napas dalam, seolah-olah memaksa dirinya menurunkan harga diri yang besar, baru bisa menjelaskan dengan tenang kepadaku."Itu pesta anggur kelas atas, aturannya banyak se
Sampai di situ, presdir yang berbicara paling lantang itu langsung tertawa dingin. "Dasar pria tak berguna. Kalau memang mampu, ya pergi bangun karier sendiri.""Kalau nggak punya kemampuan, ya sadar diri saja jadi pria yang hidup dari istri. Kalau tersinggung ya tahan, kalau menderita ya telan!"Begitu dia selesai, teman di sampingnya berkata dengan angkuh, "Masuk akal sekali!""Ray, jangan kira perceraian bisa mengancam Bu Nindy. Pria sepertimu, perempuan sukses mana pun nggak akan melirik dua kali.""Kusarankan kamu cepat minta maaf dan akui kesalahan pada Bu Nindy, lalu tenang saja jadi bapak rumah tangga. Kalau nggak, saat Bu Nindy benar-benar menceraikanmu nanti, kamu bahkan nggak punya tempat untuk nangis!"Selain dua pria itu, satu-satunya presdir wanita di antara mereka justru yang omongannya paling tajam. "Ray, kuakui wajahmu lumayan, tapi jangan naif mengira hanya dengan tampang kamu bisa mengikat wanita sukses selamanya.""Kalau pria sepertimu ada di sisiku, kamu bahkan ngg
Begitu perkataannya diucapkan, aku menatap mata Nisha yang hampir hancur itu dan aku terdiam.Ternyata dia tidak mabuk. Ternyata dia tahu semuanya."Sekarang Hamid sudah nggak mengakui perjodohan kalian. Mungkin keluargamu berubah pikiran. Bisa jadi masih ada jalan keluar.""Kalau memang bukan Hamid
"Ray, kamu itu sebenarnya punya hati atau nggak? Jelas-jelas aku ini istrimu yang sudah hidup bersamamu selama lima tahun .... Buang saja keinginanmu untuk cerai itu! Aku nggak akan setuju. Aku akan menahanmu seumur hidup."Begitu kalimat itu keluar dari mulutnya, barulah Nindy seperti melepas selur
Saat dia melihat wajahku yang muram dan penuh amarah, tubuhnya langsung menegang. Dia buru-buru berkata, "Pak Ray, kenapa Bapak datang ke sini?"Aku tidak menanggapi pertanyaannya. Dengan suara dingin, aku berkata, "Nindy ada di kantor nggak?""Ada ....""Kalau begitu ini bukan urusanmu. Pulang saja
Lima menit kemudian, wajah Nisha sudah penuh dengan ekspresi kenikmatan. Napasnya stabil, tampaknya dia telah tertidur.Melihat Nisha sudah tidak kesakitan, aku menghentikan pijatan dan bersiap menutup tubuhnya dengan selimut agar dia bisa beristirahat dengan tenang.Sedangkan aku, awalnya aku berni







