Compartir

Babak Baru

Autor: Imay21
last update Fecha de publicación: 2026-09-05 19:07:21

Dua hari kemudian, pintu ruang kerja Nadira tertutup rapat. Suasana di dalam ruangan itu terasa hening dan menekan.

Maya melangkah mendekat ke meja kerja Nadira. Ia meletakkan sebuah map cokelat tebal dengan gerakan pelan.

“Ini semua informasi dan bukti yang Ibu minta,” kata Maya pelan. “Semua sudah saya kumpulkan dan verifikasi, Bu.”

Nadira menarik napas panjang. Jemarinya yang dingin perlahan membuka lembaran map tersebut.

Di dalam map itu terlampir bukti pembayaran sewa apartemen atas nama Shela. Ada pula cetakan transaksi kartu kredit Raka serta jadwal perjalanan dinas fiktif.

“Bagaimana dengan latar belakang Shela?” tanya Nadira tanpa mengalihkan pandangannya dari berkas.

“Shela masuk ke perusahaan Pak Raka sekitar satu setengah tahun lalu,” jelas Maya hati-hati. “Awalnya dia staf biasa, tapi belakangan posisinya promosi cukup cepat.”

Nadira menatap lembar bukti pembayaran apartemen. Angka di sana tidak kecil.

“Raka yang menanggung seluruh biaya sewa apartemen ini?” tanya Nadira memastikan.

“Betul, Bu,” jawab Maya mengangguk pelan. “Pembayarannya ditransfer langsung dari rekening pribadi Pak Raka setiap bulannya.”

Nadira menyandarkan punggungnya ke kursi. Tatapannya lurus menatap layar laptop yang redup.

“Jadi ini bukan sekadar kekhilafan satu dua hari,” gumam Nadira lirih.

“Dari catatan transaksi dan jadwalnya, hubungan mereka sudah berjalan hampir satu tahun, Bu,” tambah Maya ragu.

Nadira mengangguk pelan. Naluri analitisnya sebagai seorang direktur seketika mengambil alih rasa sakit di dadanya.

“Bagaimana dengan kepemilikan aset atas nama kami berdua?” tanya Nadira lagi.

“Semua dokumen aset rumah dan tabungan bersama sudah saya rekap terpisah,” sahut Maya. “Posisi legal Ibu sangat kuat jika ingin mengambil langkah hukum.”

Nadira menutup map cokelat itu dengan rapat. Jemarinya mengusap permukaan sampulnya sejenak.

“Terima kasih, May,” ucap Nadira tenang. “Tolong simpan salinan digitalnya di drive rahasia saya.”

“Baik, Bu Nadira,” balas Maya. “Jika Ibu butuh bantuan hukum, saya sudah siapkan kontak pengacara yang bisa dipercaya.”

“Nanti saya kabari,” kata Nadira. “Untuk sekarang, biar saya yang tangani sendiri di rumah.”

Malam harinya, rumah dua lantai itu terasa sangat sunyi. Arkana sedang menginap di rumah kakek dan neneknya.

Nadira duduk sendirian di meja makan. Di hadapannya, map cokelat itu sudah terbuka lebar.

Suara langkah kaki terdengar dari pintu depan. Raka masuk dengan gaya santainya, melonggarkan ikatan dasi di lehernya.

“Kok belum tidur, Nad?” tanya Raka sambil berjalan mendekat. “Jarang-jarang kamu nungguin Mas di ruang makan.”

Nadira tidak menjawab. Matanya hanya tertuju pada lembaran foto dan dokumen di atas meja.

Raka yang penasaran mendekat. Begitu melihat foto dirinya bersama Shela serta riwayat sewa apartemen, wajahnya seketika memucat.

“Nad… ini… ini apa?” gagap Raka. Matanya bergerak panik.

“Harusnya aku yang tanya itu, Mas,” balas Nadira dengan suara dingin tanpa emosi.

Raka langsung memegang pundak Nadira. “Dengar dulu, Nad! Ini nggak seperti yang kamu bayangkan. Dia cuma staf Mas, dia yang terus-menerus mendekati Mas!”

Nadira menepis tangan suaminya pelan. Tatapannya lurus menembus mata Raka.

“Sewa apartemen satu tahun dan liburan bersama itu kamu bilang cuma digoda, Mas?” tanya Nadira miring.

Raka mendadak berlutut di samping kursi Nadira. Ia memegang kedua tangan istrinya yang terasa dingin.

“Mas khilaf, Nad. Tolong maafkan Mas,” bisiknya panik. “Mas janji bakal putusin Shela malam ini juga!”

“Kamu bohongi aku berkali-kali, Raka. Kamu bilang rapat, padahal kamu sama dia,” ucap Nadira lirih.

“Pikirkan Arkana, Nad!” seru Raka memohon. “Kita sudah lima belas tahun menikah. Masalah ini bisa kita selesaikan baik-baik demi anak kita.”

Kata-kata Raka sempat membuat dada Nadira berdenyut nyeri. Ia teringat Arkana, kenangan lima belas tahun membangun rumah tangga dari nol, serta nama baik keluarga yang dipertaruhkan.

Namun, ingatan saat Raka berbohong di telepon dan rekaman kebersamaannya dengan Shela kembali berputar di kepalanya.

“Aku sudah mencoba bertahan dan percaya selama bertahun-tahun, Mas,” kata Nadira sambil menarik tangannya dari genggaman Raka.

“Nad, tolong… jangan ambil keputusan waktu emosi,” bujuk Raka lagi dengan mata berkaca-kaca.

Nadira berdiri dari kursinya. Wajahnya tampak sangat tenang, tetapi matanya menunjukkan ketegasan yang tak tergoyahkan.

“Aku tidak sedang emosi, Mas. Aku sadar sepenuhnya,” tegas Nadira.

Ia merapikan berkas-berkas itu lalu menatap suaminya yang masih berlutut di lantai.

“Masalah kita bukan cuma soal satu kesalahan,” lanjut Nadira. “Tapi kepercayaan yang sudah hancur total.”

Raka memegang ujung baju Nadira. “Kita bisa perbaiki ini, Nad. Demi rumah tangga kita!”

Nadira menggeleng pelan. Ia menatap Raka dengan sisa-sisa rasa kecewa yang mendalam.

“Mempertahankan pernikahan cuma demi kelihatan utuh di depan orang lain… bukan lagi pilihanku, Mas.”

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Diantara Dua Cincin   Langkah Baru Nadira

    Edwin datang lebih cepat dari perkiraan Nadira. Sebelum jam tujuh, bel rumah sudah berbunyi pelan dua kali.Nadira langsung berjalan menuju pintu depan untuk membukakannya. Edwin berdiri di sana membawa koper sedang dan tas ransel besar.“Masuk, Win,” kata Nadira pelan sambil memberi jalan.“Mba sudah sarapan?” tanya Edwin halus sambil menaruh tasnya di sofa.“Belum, ini baru buat teh,” jawab Nadira datar.“Kamar kamu di bawah, samping ruang kerja,” tambah Nadira lagi.“Kamu rapikan dulu barang-barangmu di kamar,” lanjut Nadira tenang.Edwin mengangguk paham tanpa banyak bertanya hal sensitif. Ia langsung membawa koper dan ranselnya masuk ke kamar tamu.Tidak lama kemudian, Arkana turun dari lantai atas dengan seragam sekolah. Langkah kakinya melambat saat melihat keberadaan sang paman di ruang tengah.“Om Edwin?” panggil Arkana pelan sambil memiringkan kepalanya.“Hei, Jagoan! Sini, sarapan dulu,” sapa Edwin ramah dengan senyum lebar.Raut wajah Arkana yang tadinya agak murung beruba

  • Diantara Dua Cincin   Kepergian Raka

    Raka mengemas pakaiannya ke dalam dua koper besar. Ibu mertuanya terus mengoceh, menyumpahi keputusan Nadira yang dianggap tidak tahu diri. Nadira cuma berdiri diam di dekat tangga, mengawasi tanpa bersuara. Ia memastikan Raka tidak membawa dokumen penting atau barang berharga milik rumah. Sesekali pandangannya mengikuti gerakan Raka yang mondar-mandir dari kamar menuju ruang tengah, memasukkan beberapa pakaian dan barang pribadinya ke dalam koper. Suasana rumah terasa begitu tegang. Tidak ada lagi percakapan seperti biasanya. Yang terdengar hanya suara resleting koper, langkah kaki, dan ocehan ibu Raka yang seolah tidak ada habisnya. Saat menyeret kopernya melewati pintu depan, Raka berhenti sejenak. Ia menoleh ke arah Nadira dengan pandangan tajam. “Jangan kira kamu bisa tenang setelah ini, Dira,” bisik Raka menahan amarah. “Aku bakal pastikan kamu menyesal di pengadilan nanti.” Nadira tidak membalas ancaman itu. Ia hanya menatap Raka dengan wajah tenang meskipun dadany

  • Diantara Dua Cincin   Berhenti Mengalah

    Malam terasa makin berat setelah pertengkaran di ruang tengah itu. Nadira tidak kembali ke kamar utama. Ia justru memindahkan sebagian pakaian dan barang pribadinya ke kamar tamu di lantai bawah.Kamar kecil itu terasa dingin dan asing, tetapi entah kenapa jauh lebih menenangkan daripada harus berbagi ruangan dengan Raka. Tidak ada suara napas suaminya. Tidak ada aroma parfum yang selama ini melekat di bantal. Tidak ada lagi ruang untuk berpura-pura bahwa pernikahan mereka masih baik-baik saja.Nadira mengunci pintu dari dalam.Beberapa menit kemudian, ketukan terdengar.Tok. Tok. Tok.“Dira.”Nadira memejamkan mata.“Dira, buka pintunya.”Ia tidak menjawab.“Jangan kekanak-kanakan seperti ini!”Ketukan Raka semakin keras. Nadira tetap diam, membiarkan suara itu perlahan menghilang.Malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Nadira memilih dirinya sendiri.Pagi harinya, Pak Singgih mengabarkan bahwa berkas gugatan sudah resmi masuk ke pengadilan. Surat panggilan sidang dip

  • Diantara Dua Cincin   Pintu yang ditutup

    Malam itu terasa panjang di rumah dua lantai itu. Setelah makan malam yang canggung, Nadira nggak langsung naik ke kamar. Ia malah turun ke ruang kerja di lantai bawah. Pintu ditutup, lalu dikunci pelan dari dalam. Ia cuma butuh sendiri. Di dalam, lampu meja jadi satu-satunya cahaya. Nadira duduk, lalu membuka lagi berkas dari Maya. Kertas-kertas itu rapi, tapi isinya bikin dada sesak—angka, tanggal, nama, semuanya jelas. Nadira nggak nangis. Tangannya pelan membalik halaman. Dibaca lagi dari awal, seolah berharap ada yang salah. Tapi makin dibaca, makin jelas semuanya. Di luar, langkah Raka kedengaran mondar-mandir. Nggak tenang. Lantai kayu sampai berderit tiap dia lewat. Tok. Tok. “Nad, buka pintunya. Kita ngomong,” suara Raka terdengar nahan sesuatu. Nadira diam saja. Matanya sempat ke arah pintu, tapi cuma sebentar. Habis itu kembali ke berkas di tangannya. “Nad… tolong. Jangan begini,” lanjut Raka, lebih pelan. Tetap nggak ada jawaban. Beberapa menit kemud

  • Diantara Dua Cincin   Babak Baru

    Dua hari kemudian, pintu ruang kerja Nadira tertutup rapat. Suasana di dalam ruangan itu terasa hening dan menekan. Maya melangkah mendekat ke meja kerja Nadira. Ia meletakkan sebuah map cokelat tebal dengan gerakan pelan. “Ini semua informasi dan bukti yang Ibu minta,” kata Maya pelan. “Semua sudah saya kumpulkan dan verifikasi, Bu.” Nadira menarik napas panjang. Jemarinya yang dingin perlahan membuka lembaran map tersebut. Di dalam map itu terlampir bukti pembayaran sewa apartemen atas nama Shela. Ada pula cetakan transaksi kartu kredit Raka serta jadwal perjalanan dinas fiktif. “Bagaimana dengan latar belakang Shela?” tanya Nadira tanpa mengalihkan pandangannya dari berkas. “Shela masuk ke perusahaan Pak Raka sekitar satu setengah tahun lalu,” jelas Maya hati-hati. “Awalnya dia staf biasa, tapi belakangan posisinya promosi cukup cepat.” Nadira menatap lembar bukti pembayaran apartemen. Angka di sana tidak kecil. “Raka yang menanggung seluruh biaya sewa apartemen ini?

  • Diantara Dua Cincin   Permainan Dimulai

    Nadira tidak ingin mengambil keputusan dalam keadaan emosi. Ia tahu kemarahan hanya akan membuatnya kehilangan kendali. Jika Raka memang mengkhianatinya, ia ingin memastikan semuanya terlebih dahulu. Sepanjang sore itu, Nadira tetap bekerja seperti biasa. Ia memeriksa laporan dan menyelesaikan dokumen yang tertunda. Hasil rapat dengan PT Nusa Maritim juga ia pastikan berjalan sesuai rencana. Jam di dinding menunjukkan pukul empat sore. Nadira merapikan meja dan memasukkan laptop ke dalam tas. Ia lalu berdiri dan keluar dari ruangannya. Maya langsung menoleh saat melihatnya. “Bu Dira?” “Saya pulang dulu, May. Saya harus jemput Kana.” “Baik, Bu.” Nadira sempat berhenti. Ia teringat sesuatu dari rapat pagi tadi. “Oh iya, terkait rapat tadi, kamu kawal sampai proyek ini tuntas, ya.” “Siap, Bu.” “Pastikan revisi proposal dan anggaran sudah dikoordinasikan.” “Siap, Bu. Saya kawal.” “Terima kasih.” “Sama-sama, Bu.” Nadira meninggalkan kantor. Perjalanan menuju seko

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status