Inicio / Romansa / Diantara Dua Cincin / Permainan Dimulai

Compartir

Permainan Dimulai

Autor: Imay21
last update Fecha de publicación: 2026-08-10 14:47:53

Nadira tidak ingin mengambil keputusan dalam keadaan emosi. Ia tahu kemarahan hanya akan membuatnya kehilangan kendali. Jika Raka memang mengkhianatinya, ia ingin memastikan semuanya terlebih dahulu.

Sepanjang sore itu, Nadira tetap bekerja seperti biasa. Ia memeriksa laporan dan menyelesaikan dokumen yang tertunda. Hasil rapat dengan PT Nusa Maritim juga ia pastikan berjalan sesuai rencana.

Jam di dinding menunjukkan pukul empat sore. Nadira merapikan meja dan memasukkan laptop ke dalam tas. Ia lalu berdiri dan keluar dari ruangannya.

Maya langsung menoleh saat melihatnya.

“Bu Dira?”

“Saya pulang dulu, May. Saya harus jemput Kana.”

“Baik, Bu.”

Nadira sempat berhenti. Ia teringat sesuatu dari rapat pagi tadi.

“Oh iya, terkait rapat tadi, kamu kawal sampai proyek ini tuntas, ya.”

“Siap, Bu.”

“Pastikan revisi proposal dan anggaran sudah dikoordinasikan.”

“Siap, Bu. Saya kawal.”

“Terima kasih.”

“Sama-sama, Bu.”

Nadira meninggalkan kantor. Perjalanan menuju sekolah Kana cukup lancar meski lalu lintas mulai padat. Ia tiba tepat waktu.

Kana sudah menunggu di area penjemputan. Wajahnya langsung cerah saat melihat mobil ibunya.

“Ma!”

Nadira tersenyum tipis.

“Ayo, kita pulang.”

Sepanjang perjalanan, Kana bercerita tentang kegiatannya di sekolah. Nadira mendengarkan dengan tenang, sesekali menanggapi. Untuk beberapa saat, pikirannya terasa lebih ringan.

Namun, ketenangan itu hilang saat mobil memasuki halaman rumah. Sebuah mobil sudah terparkir di sana. Mobil Raka.

Nadira memperlambat laju mobilnya. Kana turun lebih dulu dan berlari masuk. Nadira menyusul dengan langkah lebih pelan.

Raka sudah berada di ruang tengah. Ia menoleh sekilas.

“Kamu sudah pulang?”

“Iya. Aku jemput Kana.”

Nadira melirik jam di dinding.

“Kamu kok sudah di rumah? Tumben pulang cepat.”

Raka langsung mengernyit.

“Bodoh kamu, Dira. Suami pulang cepat memang salah?”

“Kamu bikin aku emosi aja.”

Nadira memilih diam. Ia tidak ingin memperpanjang percakapan. Ia mengalihkan perhatiannya.

“Kana, cuci tangan dulu.”

“Iya, Ma.”

Sore itu terasa hening. Mereka berada di rumah yang sama, tetapi seolah hidup sendiri-sendiri. Tidak ada percakapan berarti.

Nadira masuk ke dapur dan mulai menyiapkan makan malam. Kana sesekali bercerita di dekatnya. Suara itu sedikit membantu mengalihkan pikirannya.

Makanan akhirnya tersaji. Nadira memanggil Kana. Ia lalu menoleh ke ruang keluarga.

Raka masih bermain PlayStation. Matanya terpaku pada layar.

“Pah, makan dulu.”

“Kalian aja duluan.”

Nadira menarik napas pelan. Ia tidak membalas.

“Yuk, Kana.”

“Iya, Ma.”

Mereka makan berdua. Suara televisi terdengar dari ruang sebelah. Nadira tetap melayani Kana seperti biasa.

Setelah makan, Nadira membereskan meja. Kana masuk ke kamarnya. Rumah kembali terasa sunyi.

Beberapa saat kemudian, Nadira masuk ke kamar. Raka sudah tertidur. Lampu dimatikan.

Nadira masih terjaga. Ia menatap langit-langit dalam gelap. Pikirannya kembali pada pesan di ponsel Raka.

Ia menarik napas panjang. Ia tidak boleh gegabah. Ia harus tetap tenang.

Beberapa saat kemudian, Nadira bangun perlahan. Ia memastikan Raka benar-benar tertidur. Lalu ia mengambil ponsel suaminya.

Ia berjalan menuju kamar mandi. Tangannya sedikit gemetar.

Di dalam, ia menutup pintu. Ia membuka ponsel itu. Percakapan dengan Shela langsung terlihat.

Pesan-pesan itu masih ada.

Nadira membacanya satu per satu. Dadanya terasa panas. Namun ia menahan diri.

Ia mengambil tangkapan layar. Semua dikirim ke ponselnya sendiri. Setelah itu, ia menghapus jejaknya.

Ia membuka galeri. Beberapa foto Raka dan Shela terlihat jelas. Nadira terdiam.

Lalu ia membuka video.

Tubuhnya membeku.

Ia segera mengalihkan pandangan. Napasnya terasa berat. Air mata hampir jatuh, tetapi ia tahan.

Siapa sebenarnya Shela?

Pertanyaan itu berulang di kepalanya. Nadira menyimpan semua bukti yang diperlukan.

Ia tidak akan menangis sekarang. Ia juga tidak akan membuat keributan. Ia ingin memahami semuanya dengan jelas.

Setelah selesai, ia mengunci ponsel Raka. Ia keluar dari kamar mandi. Langkahnya pelan.

Raka masih tertidur pulas. Nadira mengembalikan ponselnya ke tempat semula. Ia memastikan posisinya tidak berubah.

Ia lalu berbaring membelakangi Raka. Matanya terpejam, tapi pikirannya belum berhenti. Pertanyaan itu terus berputar.

Malam itu, Nadira memilih diam. Ia ingin tahu semuanya dulu, sebelum mengambil langkah.

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Diantara Dua Cincin   Permainan Dimulai

    Nadira tidak ingin mengambil keputusan dalam keadaan emosi. Ia tahu kemarahan hanya akan membuatnya kehilangan kendali. Jika Raka memang mengkhianatinya, ia ingin memastikan semuanya terlebih dahulu. Sepanjang sore itu, Nadira tetap bekerja seperti biasa. Ia memeriksa laporan dan menyelesaikan dokumen yang tertunda. Hasil rapat dengan PT Nusa Maritim juga ia pastikan berjalan sesuai rencana. Jam di dinding menunjukkan pukul empat sore. Nadira merapikan meja dan memasukkan laptop ke dalam tas. Ia lalu berdiri dan keluar dari ruangannya. Maya langsung menoleh saat melihatnya. “Bu Dira?” “Saya pulang dulu, May. Saya harus jemput Kana.” “Baik, Bu.” Nadira sempat berhenti. Ia teringat sesuatu dari rapat pagi tadi. “Oh iya, terkait rapat tadi, kamu kawal sampai proyek ini tuntas, ya.” “Siap, Bu.” “Pastikan revisi proposal dan anggaran sudah dikoordinasikan.” “Siap, Bu. Saya kawal.” “Terima kasih.” “Sama-sama, Bu.” Nadira meninggalkan kantor. Perjalanan menuju seko

  • Diantara Dua Cincin   Kebohongan Raka

    Nadira sudah berada diruang kerjanya, dan melakukan aktivitas seperti biasanya tetai pikiranya kembali pada pesan mesra yang tak sengaja ia lihat di ponsel Raka tadi pagi. “Kalau cuma antar Arkana, harusnya udah sampai kantor,” gumamnya. Nadira meraih ponsel di meja dan mencari nomor Raka. Jarinya sedikit tegang saat menekan tombol panggil. Panggilan tersambung, tetapi baru pada dering ketiga diangkat. “Halo, Mas? Kamu di mana?” tanya Nadira, berusaha menahan getaran napas agar suaranya tetap terdengar tenang. Di ujung telepon, Raka tidak langsung menjawab. Ada jeda dua detik, diisi suara napas berat. Hati Nadira mencelos. Setelah lima belas tahun menikah, ia hafal betul helaan napas Raka saat sedang berada di puncak gairah bercinta. “A–aku lagi– di toilet, Ra,” jawab Raka terbata-bata. Suaranya sengaja dipelankan seolah menahan sesuatu. “Perutku… agak nggak enak.” Sesak di dada Nadira semakin menjadi. Instingnya sebagai perempuan yang pernah dibohongi berbunyi nyaring. Ia menar

  • Diantara Dua Cincin   Profesional

    Usai memastikan rumah kembali rapi, Nadira berganti pakaian kerja berwarna krem dengan blus putih. Ia menyanggul rambut panjangnya secara sederhana dan merapikan riasan tipis di wajahnya. Penampilannya kembali seperti biasa—tenang dan terkontrol. Tidak ada yang bisa menebak apa yang sedang ia rasakan. Setelah itu, Nadira keluar dari rumah dan langsung menuju mobilnya. Ia duduk di kursi pengemudi, meletakkan tas di samping, Ponselnya bergetar, menampilkan pesan dari Maya. “Selamat pagi, Bu. Jangan lupa pukul 10.00 kita ada meeting dengan klien dari PT Nusa Maritim. Mereka ingin membahas proposal executive gathering terlebih dahulu sebelum proyek Family Gathering Tahunan. Pesertanya sekitar tiga puluh orang, satu divisi di bawah naungan Pak Dewa selaku Direktur Divisi Pengembangan Bisnis. Konsep yang diminta tiga hari dua malam di Bandung. Menginap di vila di kawasan hutan pinus dekat air terjun, dengan agenda arung jeram, barbecue dinner, fun games, dan team building.” Nadira memba

  • Diantara Dua Cincin   Pesan Menggoda

    Pagi selalu datang dengan rutinitas yang sama bagi Nadira, seolah hidupnya telah diprogram tanpa pernah memberinya pilihan. Menyiapkan sarapan, memastikan seragam sekolah putranya rapi, lalu menyeduh secangkir kopi hitam untuk Raka. Semua dikerjakan dengan urutan yang nyaris tak pernah berubah selama bertahun-tahun.Rumah masih diselimuti suasana tenang. Putranya sedang bersiap di lantai atas, sementara Raka telah duduk di kursi di ujung meja makan dengan kemeja yang baru saja disetrika Nadira. Lelaki itu sibuk menatap layar ponselnya tanpa sekali pun melirik sang istri yang berjalan mendekat.Nadira membawa teko berisi kopi panas. Ia berdiri di belakang kursi Raka, hendak menuangkan kopi ke dalam cangkir sebelum duduk dan sarapan bersama keluarganya. Saat itulah bunyi notifikasi WhatsApp memecah keheningan.Raka membuka pesan itu. Tangan Nadira yang menggenggam gagang teko mendadak berhenti. Matanya tanpa sengaja menangkap layar ponsel suaminya.Nama Shela terpampang di sana. Di bawa

  • Diantara Dua Cincin   Pengkhianatan Raka

    Basemen lantai tiga di sebuah gedung perkantoran sepi, hanya terdengar deru mesin sedan Raka yang sengaja dibiarkan menyala. Di balik kaca film yang gelap, kemeja mahal Raka berantakan, kancingnya terlepas hingga ke dada. Bau parfum Shela yang terlalu manis dan tajam tercium di udara, merusak sisa wangi pelicin pakaian di kerah kemeja Raka—wangi rumahan yang selalu disiapkan istrinya setiap subuh dengan rapi. Tiba-tiba, ponsel Raka yang tergeletak di dekat tuas persneling bergetar panjang. Layarnya menyala terang, memunculkan satu nama: Nadira. Shela berhenti sejenak. Ia melirik layar ponsel, mendecak pelan, lalu menatap Raka dengan senyum mengejek. Alih-alih mundur, perempuan itu justru menyingkirkan jarak di antara mereka. “Angkat, Mas,” bisik Shela persis di depan bibir Raka. Matanya menantang. “Nanti Ibu Direktur panik suaminya belum pulang.” Raka tersenyum miring, merasa egonya disentuh. Dengan santai, tangannya meraih ponsel itu, menggeser tombol hijau, dan menempelkannya k

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status