LOGINSuara gemuruh arus Sungai Palayangan menyambut rombongan di basecamp. Di bawah rimbunnya pohon pinus, puluhan karyawan sibuk memasang rompi pelampung oranye dan helm pelindung.Dira, yang perutnya sudah jauh lebih nyaman berkat obat lambung tadi, berdiri di tengah area kumpul sambil memegang clipboard.“Perhatian semuanya! Kita bagi tim sekarang,” seru Dira mengalahkan deru air. “Satu perahu maksimal lima orang. Jajaran direksi akan disebar supaya membaur dengan tim lain!”Sorak antusias terdengar. Dira diarahkan ke perahu nomor tiga. Ia harus ikut turun memastikan alur pengarungan aman.“Wah, pucuk dicinta ulam tiba! Kita satu perahu nih, Bu Ketua!” seru Pak Joko heboh. Helmnya terpasang sedikit miring, tetapi tangannya sudah mantap memegang dayung.Dira tertawa pelan sambil mengencangkan tali helmnya. “Biar saya bisa mantau Bapak. Jangan sampai asyik nyanyi terus lupa dayung.”“Aman! Tenaga saya udah full habis makan nasi goren
Sesi sarapan pagi itu akhirnya rampung. Area restoran resor perlahan mulai lengang seiring bergeraknya para karyawan PT Nusa Maritim menuju pelataran parkir. Di bawah arahan sigap tim lapangan Aditsa, puluhan peserta mulai berbaris rapi dan menaiki tiga unit bus pariwisata yang mesinnya sudah dipanaskan sejak tadi.Di dekat pilar lobi, Dira berdiri memantau pergerakan dengan saksama. Matanya bergerak lincah menyusuri deretan nama pada lembar presensi, sementara telinganya fokus mendengarkan laporan melalui earpiece.“Bus satu aman, peserta lengkap,” lapor salah satu staf dari ujung saluran.“Bus dua dan tiga juga sudah clear, Bu Dira. Semua peserta terdata lengkap dan siap berangkat,” sambung staf lainnya.Dira mengembuskan napas lega.“Bagus. Pastikan semua perlengkapan keselamatan untuk arung jeram tidak ada yang tertinggal di bagasi. Lima menit lagi kita berangkat,” instruksinya dengan intonasi setenang komandan lapangan.Begitu komunikasi earpiece berakhir, Maya berjalan cepat men
Pagi di restoran resor Lembang sudah ramai oleh keriuhan sarapan. Rombongan PT Nusa Maritim tampil kompak. Para staf mengenakan seragam kaus merah muda dan biru bertopi putih, sementara jajaran direksi tampil kasual dengan kemeja bernuansa kuning mentega (butter yellow) dan topi yang senada.Di salah satu meja dekat jendela, Dewa sedang menikmati roti bakar dan kopi hitamnya. Celana pendek putih selutut dan kemeja yang kancing atasnya dibiarkan terbuka membuat pria itu tampak jauh lebih santai. Rambut gondrongnya dibiarkan tergerai, masih agak lembap sehabis keramas.“Wah, segar bener, Mas Dewa! Keramas subuh ini luntur dong sisa-sisa saweran dangdut semalam?” goda Pak Joko yang tiba-tiba melintas membawa sepiring penuh nasi goreng. Tak lupa, pria itu menepuk pundak atasannya dengan akrab.Dewa tergelak santai. “Harus luntur dong, Pak Joko. Kalau nggak keramas, nanti saya malah disuruh nyanyi koplo lagi di atas perahu karet.”“Hahaha! Tapi gaya rambut lepek agak basah begitu malah kel
Malam ini, batas antara direktur perusahaan klien dan penyedia jasa travel seolah tak lagi berarti. Di hadapan satu sama lain, mereka hanyalah dua manusia yang sama-sama mengenal pahitnya luka dan berusaha menemukan kekuatan untuk melanjutkan hidup.“Bagaimana dengan persidanganmu sendiri, Dira? Sudah sampai tahap mana sekarang?” tanya Dewa lembut.“Sudah tinggal tahap pembagian harta gono-gini dan hak asuh anak, Mas,” jawabnya lirih.“Jujur saja, aku takut banget kalau Arkana sampai jatuh ke tangan mantan suamiku. Pihak mereka pintar sekali memutarbalikkan fakta di depan hakim.”Dewa tampak sedikit tertegun mendengar nama yang disebutkan Dira. Ia berdeham pelan, kemudian kembali menatap perempuan di sampingnya dengan senyum tipis.“Arkana?” ulangnya. “Nama putramu Arkana? Bagus sekali namanya.”Dewa mengubah posisi duduknya agar lebih nyaman. Perhatiannya kini tertuju sepenuhnya kepada Dira, yang masih terlihat gelisah meskipun berusaha mengendalikan perasaannya.“Sudah kelas berapa
Pria itu melangkah menuruni undakan panggung, diiringi tepukan bahu dan pujian dari beberapa rekan kerjanya. Bukannya kembali ke mejanya, Dewa justru berjalan tenang membelah sisa keriuhan aula menuju sudut ruangan tempat meja operator berada. Melihat sosok tegap itu berjalan ke arahnya, Dira buru-buru mengatur napas. Tangannya sigap mengambil sebotol air mineral dingin yang tergeletak di atas meja. Begitu Dewa tiba di hadapannya, Dira menyodorkan botol tersebut dengan seulas senyum tulus. “Minum dulu, Mas Dewa,” ucap Dira lembut. “Luar biasa penampilannya tadi. Suaranya sudah cocok banget jadi penyanyi.” Dewa terkekeh renyah menerima botol tersebut, membiarkan ujung jemarinya bersentuhan sekilas dengan telapak tangan Dira. “Terima kasih airnya, Dira. Kalau saya banting setir jadi penyanyi betulan, nanti orang-orang di kantor pada demo karena kerjaannya saya tinggal.” Dira tertawa kecil mendengar candaan itu. Di sebelahnya, Maya yang sejak tadi menahan senyum usil perlahan me
Pukul tujuh malam, aula resor di Lembang mulai riuh. Hawa dingin pegunungan kalah oleh aroma panggangan daging dan obrolan hangat puluhan karyawan PT Nusa Maritim.Dira berdiri di dekat meja operator bersama Maya, memastikan susunan acara berjalan sesuai jadwal.“Bu Dira, makan malam sudah hampir selesai semua. Mau dimulai sekarang?” bisik Maya.“Mulai aja, May. Kasih kode ke MC,” jawab Dira.MC bertubuh gempal itu langsung mengambil alih panggung dengan gaya santainya. Setelah melempar candaan pembuka, ia menunjuk ke meja divisi kreatif.“Sebelum masuk sesi hiburan, kita minta perwakilan yang paling berjiwa muda buat kasih sepatah kata. Mas Dewa, maju dong sebentar!” seru MC.Sorak-sorai dan siulan langsung menggema dari tim kreatif. Dewa yang sedang minum teh sempat tergelak pelan. Tahu tak bisa mengelak dari dorongan anak buahnya, ia meletakkan cangkir lalu melangkah santai ke panggung.Penampilannya sederhana malam itu. Ia hanya mengenakan kemeja flanel gelap dengan lengan digulun







