Share

Kepergian Raka

Author: Imay21
last update publish date: 2026-09-08 22:10:45
Raka mengemas pakaiannya ke dalam dua koper besar. Ibu mertuanya terus mengoceh, menyumpahi keputusan Nadira yang dianggap tidak tahu diri.

Nadira cuma berdiri diam di dekat tangga, mengawasi tanpa bersuara. Ia memastikan Raka tidak membawa dokumen penting atau barang berharga milik rumah.

Sesekali pandangannya mengikuti gerakan Raka yang mondar-mandir dari kamar menuju ruang tengah, memasukkan beberapa pakaian dan barang pribadinya ke dalam koper.

Suasana rumah terasa begitu tegang. Tidak
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Diantara Dua Cincin   Arena Perosotan

    Setelah tawa mereda dan seluruh peserta siap, rombongan mulai berjalan berbaris rapi mengikuti arahan tim panitia. Mereka menyusuri jalur setapak yang lembap, dipandu langsung oleh beberapa petugas hutan lindung.Pepohonan pinus menjulang tinggi di kanan dan kiri jalur. Kabut yang turun semakin tebal membuat pemandangan di kejauhan terlihat samar. Butiran air hujan menempel pada ujung dedaunan, lalu sesekali jatuh membasahi tudung jas hujan para peserta yang melintas di bawahnya.Meski udara terasa dingin, suasana rombongan tetap ramai. Beberapa peserta sibuk mengabadikan pemandangan menggunakan ponsel, sementara yang lain bercanda untuk mengusir rasa dingin. Dira berjalan di sisi barisan sambil sesekali memeriksa keadaan peserta dan memastikan tidak ada yang tertinggal.Sepanjang perjalanan, para petugas dengan ramah memberikan penjelasan mengenai berbagai spesies tanaman langka dan jenis-jenis pepohonan yang tumbuh subur di ekosistem hutan tersebut.Langkah rombongan kemudian terhen

  • Diantara Dua Cincin   Jas Hujan Warna Warni

    Pagi menjelang dengan udara sejuk Lembang yang masih menyisakan kabut tipis di sela-sela pepohonan pinus. Di pelataran parkir resor, suasana sudah ramai oleh celoteh antusias para peserta dari PT Nusa Maritim yang mulai memenuhi kabin bus pariwisata.Dira berdiri di bagian depan lorong bus sambil memegang mikrofon pemandu. Setelah semalam akhirnya bisa tidur nyenyak, raut wajahnya pagi ini terlihat jauh lebih segar. Ia menatap deretan kursi yang sudah padat terisi dengan senyum ramah.“Selamat pagi, Bapak dan Ibu. Sudah sarapan semuanya?” sapa Dira melalui pengeras suara kabin.“Sudah, Bu Dira!” sahut para peserta serempak dengan penuh semangat.“Syukurlah kalau sudah kenyang semua,” balas Dira diselingi tawa kecil. “Hari ini jadwal kita jelajah alam. Pastikan kondisi tubuh benar-benar fit, ya. Berhubung cuaca dan udara di Lembang ini agak sulit ditebak, sebentar lagi saya dan tim akan membagikan jas hujan lipat ke masing-masing kursi untuk berjaga-jaga. Semoga perjalanan kita kali in

  • Diantara Dua Cincin   Tangan Hangat

    Melihat Dira sudah jauh lebih tenang, Dewa melirik jam tangannya, lalu tersenyum pelan.“Sudah malam. Udara juga makin dingin. Ayo, saya antar kamu kembali ke kamar. Besok pagi kita masih harus jelajah alam, lalu pulang ke Jakarta. Perjalanan seharian itu pasti bakal menguras tenaga kita berdua.”Dira mengangguk pelan. Mereka kemudian beranjak dari area kolam dan berjalan berdampingan menuju tempat penginapan. Udara malam Lembang terasa semakin dingin. Sesekali angin berembus melewati pepohonan, membuat suasana di sekitar mereka semakin sunyi.Sesampainya di persimpangan jalan menuju blok kamar masing-masing, Dira berhenti dan melepas jaket milik Dewa yang sejak tadi dikenakannya.“Ini jaket kamu, Mas. Terima kasih sudah meminjamkannya.”Dewa menggeleng sambil tersenyum tipis. “Pakai saja dulu. Malam ini dingin sekali. Besok pagi baru kamu kembalikan.”“Tapi nanti kamu kedinginan.”“Saya tidak apa-apa, Dira. Kamar saya c

  • Diantara Dua Cincin   TITIK BALIK

    Embusan angin malam Lembang mendadak bertiup lebih kencang di balkon restoran tempat Dira dan Dewa menghabiskan waktu bersama. Udara dingin khas perbukitan menusuk hingga menembus pakaian Dira. Tanpa sadar, perempuan itu merapatkan bahunya sambil menggosok kedua lengan untuk mencari sedikit kehangatan.Melihat gerakan itu, Dewa segera bertindak tanpa banyak bicara. Pria itu melepaskan jaket tebal yang sejak tadi dikenakannya, lalu menyampirkannya perlahan ke bahu Dira. Aroma parfum Dewa yang maskulin dan menenangkan seketika tercium dari kain jaket tersebut, membalut tubuh Dira dengan kehangatan yang kontras dengan dinginnya malam.Dira sedikit tersentak. Ia refleks memegang ujung jaket kebesaran itu agar tidak merosot dari bahunya. Perempuan itu kemudian mendongak menatap Dewa, mendadak salah tingkah menyadari jarak mereka yang kini terasa begitu dekat.“Eh, Mas Dewa nggak kedinginan kalau jaketnya dikasih ke aku?” tanya Dira, berusaha menyembunyikan debaran di dadanya dengan senyum

  • Diantara Dua Cincin   Segelas Wine

    Jam menunjukkan pukul sepuluh malam. Restoran mulai sepi. Sebagian besar karyawan Nusa Maritim sudah kembali ke kamar masing-masing. Di meja sudut, tim Aditsa akhirnya bisa duduk tenang setelah seharian sibuk memastikan acara berjalan lancar.Di tengah meja, kuah hot pot masih mendidih perlahan. Riko langsung menyendok kuah kaldu ke mangkuknya begitu duduk.“Akhirnya makan juga. Dari tadi nyium bau kaldu, rasanya perut udah demo.”Maya menyusul dengan memasukkan sisa irisan daging ke dalam wajan.“Makan yang banyak, Rik. Tenaga lo paling habis tuh gara-gara nge-MC dadakan.”Dira menyesap minumannya sesaat sebelum meletakkan gelas di atas meja. Ia memandangi timnya yang mulai menikmati makanan dengan wajah lelah, tetapi puas.“Kerja bagus hari ini, guys. Klien puas. Tapi ada satu catatan buat panggung tadi.”Riko langsung berhenti mengunyah dan menatap Dira dengan ekspresi sedikit waspada.“Soal doorprize, ya, Bu

  • Diantara Dua Cincin   Doorprize

    Dira menarik lengan Maya sedikit menjauh dari meja prasmanan menuju area konter minuman.“May, wine-nya dikeluarkan di akhir acara aja, ya. Sekalian bareng sama pembagian doorprize utama,” bisik Dira, memberikan instruksi terakhir. “Pastikan botol-botol yang keluar itu pilihan kualitas terbaik yang kita pesan khusus kemarin. Jangan sampai waitress salah tuang pakai house wine biasa dari hotel.”Maya mengacungkan ibu jarinya dengan mantap.“Siap, Bu. Udah saya pisahin di chiller dari sore tadi biar suhunya pas. Tim waitress juga udah saya briefing ulang barusan.”“Bagus,” Dira mengangguk lega.Ia membalikkan badan, membiarkan matanya menyapu seluruh penjuru restoran utama. Malam ini, semuanya berjalan tepat seperti skenario di kepalanya. Alunan smooth jazz dari band akustik di sudut panggung mengalun merdu, mengisi ruangan dengan ritme santai yang menambah kehangatan malam keakraban.Suara saksofon yang mendayu berpadu manis dengan riuh obrolan santai, denting sendok dan piring yang sa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status