Share

Kepergian Raka

Author: Imay21
last update publish date: 2026-09-08 22:10:45
Raka mengemas pakaiannya ke dalam dua koper besar. Ibu mertuanya terus mengoceh, menyumpahi keputusan Nadira yang dianggap tidak tahu diri.

Nadira cuma berdiri diam di dekat tangga, mengawasi tanpa bersuara. Ia memastikan Raka tidak membawa dokumen penting atau barang berharga milik rumah.

Sesekali pandangannya mengikuti gerakan Raka yang mondar-mandir dari kamar menuju ruang tengah, memasukkan beberapa pakaian dan barang pribadinya ke dalam koper.

Suasana rumah terasa begitu tegang. Tidak
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Diantara Dua Cincin   Langkah Baru Nadira

    Edwin datang lebih cepat dari perkiraan Nadira. Sebelum jam tujuh, bel rumah sudah berbunyi pelan dua kali.Nadira langsung berjalan menuju pintu depan untuk membukakannya. Edwin berdiri di sana membawa koper sedang dan tas ransel besar.“Masuk, Win,” kata Nadira pelan sambil memberi jalan.“Mba sudah sarapan?” tanya Edwin halus sambil menaruh tasnya di sofa.“Belum, ini baru buat teh,” jawab Nadira datar.“Kamar kamu di bawah, samping ruang kerja,” tambah Nadira lagi.“Kamu rapikan dulu barang-barangmu di kamar,” lanjut Nadira tenang.Edwin mengangguk paham tanpa banyak bertanya hal sensitif. Ia langsung membawa koper dan ranselnya masuk ke kamar tamu.Tidak lama kemudian, Arkana turun dari lantai atas dengan seragam sekolah. Langkah kakinya melambat saat melihat keberadaan sang paman di ruang tengah.“Om Edwin?” panggil Arkana pelan sambil memiringkan kepalanya.“Hei, Jagoan! Sini, sarapan dulu,” sapa Edwin ramah dengan senyum lebar.Raut wajah Arkana yang tadinya agak murung beruba

  • Diantara Dua Cincin   Kepergian Raka

    Raka mengemas pakaiannya ke dalam dua koper besar. Ibu mertuanya terus mengoceh, menyumpahi keputusan Nadira yang dianggap tidak tahu diri. Nadira cuma berdiri diam di dekat tangga, mengawasi tanpa bersuara. Ia memastikan Raka tidak membawa dokumen penting atau barang berharga milik rumah. Sesekali pandangannya mengikuti gerakan Raka yang mondar-mandir dari kamar menuju ruang tengah, memasukkan beberapa pakaian dan barang pribadinya ke dalam koper. Suasana rumah terasa begitu tegang. Tidak ada lagi percakapan seperti biasanya. Yang terdengar hanya suara resleting koper, langkah kaki, dan ocehan ibu Raka yang seolah tidak ada habisnya. Saat menyeret kopernya melewati pintu depan, Raka berhenti sejenak. Ia menoleh ke arah Nadira dengan pandangan tajam. “Jangan kira kamu bisa tenang setelah ini, Dira,” bisik Raka menahan amarah. “Aku bakal pastikan kamu menyesal di pengadilan nanti.” Nadira tidak membalas ancaman itu. Ia hanya menatap Raka dengan wajah tenang meskipun dadany

  • Diantara Dua Cincin   Berhenti Mengalah

    Malam terasa makin berat setelah pertengkaran di ruang tengah itu. Nadira tidak kembali ke kamar utama. Ia justru memindahkan sebagian pakaian dan barang pribadinya ke kamar tamu di lantai bawah.Kamar kecil itu terasa dingin dan asing, tetapi entah kenapa jauh lebih menenangkan daripada harus berbagi ruangan dengan Raka. Tidak ada suara napas suaminya. Tidak ada aroma parfum yang selama ini melekat di bantal. Tidak ada lagi ruang untuk berpura-pura bahwa pernikahan mereka masih baik-baik saja.Nadira mengunci pintu dari dalam.Beberapa menit kemudian, ketukan terdengar.Tok. Tok. Tok.“Dira.”Nadira memejamkan mata.“Dira, buka pintunya.”Ia tidak menjawab.“Jangan kekanak-kanakan seperti ini!”Ketukan Raka semakin keras. Nadira tetap diam, membiarkan suara itu perlahan menghilang.Malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Nadira memilih dirinya sendiri.Pagi harinya, Pak Singgih mengabarkan bahwa berkas gugatan sudah resmi masuk ke pengadilan. Surat panggilan sidang dip

  • Diantara Dua Cincin   Pintu yang ditutup

    Malam itu terasa panjang di rumah dua lantai itu. Setelah makan malam yang canggung, Nadira nggak langsung naik ke kamar. Ia malah turun ke ruang kerja di lantai bawah. Pintu ditutup, lalu dikunci pelan dari dalam. Ia cuma butuh sendiri. Di dalam, lampu meja jadi satu-satunya cahaya. Nadira duduk, lalu membuka lagi berkas dari Maya. Kertas-kertas itu rapi, tapi isinya bikin dada sesak—angka, tanggal, nama, semuanya jelas. Nadira nggak nangis. Tangannya pelan membalik halaman. Dibaca lagi dari awal, seolah berharap ada yang salah. Tapi makin dibaca, makin jelas semuanya. Di luar, langkah Raka kedengaran mondar-mandir. Nggak tenang. Lantai kayu sampai berderit tiap dia lewat. Tok. Tok. “Nad, buka pintunya. Kita ngomong,” suara Raka terdengar nahan sesuatu. Nadira diam saja. Matanya sempat ke arah pintu, tapi cuma sebentar. Habis itu kembali ke berkas di tangannya. “Nad… tolong. Jangan begini,” lanjut Raka, lebih pelan. Tetap nggak ada jawaban. Beberapa menit kemud

  • Diantara Dua Cincin   Babak Baru

    Dua hari kemudian, pintu ruang kerja Nadira tertutup rapat. Suasana di dalam ruangan itu terasa hening dan menekan. Maya melangkah mendekat ke meja kerja Nadira. Ia meletakkan sebuah map cokelat tebal dengan gerakan pelan. “Ini semua informasi dan bukti yang Ibu minta,” kata Maya pelan. “Semua sudah saya kumpulkan dan verifikasi, Bu.” Nadira menarik napas panjang. Jemarinya yang dingin perlahan membuka lembaran map tersebut. Di dalam map itu terlampir bukti pembayaran sewa apartemen atas nama Shela. Ada pula cetakan transaksi kartu kredit Raka serta jadwal perjalanan dinas fiktif. “Bagaimana dengan latar belakang Shela?” tanya Nadira tanpa mengalihkan pandangannya dari berkas. “Shela masuk ke perusahaan Pak Raka sekitar satu setengah tahun lalu,” jelas Maya hati-hati. “Awalnya dia staf biasa, tapi belakangan posisinya promosi cukup cepat.” Nadira menatap lembar bukti pembayaran apartemen. Angka di sana tidak kecil. “Raka yang menanggung seluruh biaya sewa apartemen ini?

  • Diantara Dua Cincin   Permainan Dimulai

    Nadira tidak ingin mengambil keputusan dalam keadaan emosi. Ia tahu kemarahan hanya akan membuatnya kehilangan kendali. Jika Raka memang mengkhianatinya, ia ingin memastikan semuanya terlebih dahulu. Sepanjang sore itu, Nadira tetap bekerja seperti biasa. Ia memeriksa laporan dan menyelesaikan dokumen yang tertunda. Hasil rapat dengan PT Nusa Maritim juga ia pastikan berjalan sesuai rencana. Jam di dinding menunjukkan pukul empat sore. Nadira merapikan meja dan memasukkan laptop ke dalam tas. Ia lalu berdiri dan keluar dari ruangannya. Maya langsung menoleh saat melihatnya. “Bu Dira?” “Saya pulang dulu, May. Saya harus jemput Kana.” “Baik, Bu.” Nadira sempat berhenti. Ia teringat sesuatu dari rapat pagi tadi. “Oh iya, terkait rapat tadi, kamu kawal sampai proyek ini tuntas, ya.” “Siap, Bu.” “Pastikan revisi proposal dan anggaran sudah dikoordinasikan.” “Siap, Bu. Saya kawal.” “Terima kasih.” “Sama-sama, Bu.” Nadira meninggalkan kantor. Perjalanan menuju seko

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status