LOGINSuasana di lantai empat kantor pusat PT Bhaskara sore itu terasa jauh lebih lengang dan sunyi dari biasanya. Jarum jam baru saja melewati angka lima, dan sebagian besar karyawan divisi operasional telah bergegas turun menuju basemen atau stasiun MRT terdekat, menghindari puncak kemacetan Jakarta yang terkenal kejam.Di luar sana, langit ibu kota yang semula abu-abu pekat kini mulai menumpahkan bebannya. Hujan rintik-rintik yang konsisten mulai membasahi permukaan kaca jendela besar yang membentang dari lantai hingga langit-langit ruangan. Bulir-bulir air berkejaran, menciptakan aliran sungai kecil di atas permukaan kaca, sekaligus membiaskan lampu-lampu jalanan metropolitan yang mulai menyala satu demi satu. Suasana melankolis yang tenang dan dingin perlahan merayap, menguasai setiap sudut ruangan kubikel yang mulai ditinggalkan penghoninya.Rofiq berdiri tegak di depan jendela ruang kerjanya yang luas. Kedua tangannya terbenam di saku celana kainnya, menatap lurus ke arah luar, menya
Pov LilyAroma kertas tua, lem jilid yang mengering, dan debu yang mengendap bertahun-tahun langsung menyergap indra penciumanku begitu pintu kayu tebal itu tertutup. Di luar, riuh rendah suara mesin tik elektrik, dering telepon yang tak putus-putus, dan tawa sinis Sarah seolah terputus oleh sekat dinding beton yang tebal. Di dalam ruangan berukuran empat kali enam meter ini, hanya ada keheningan. Kesunyian yang sunyi, namun anehnya, entah mengapa terasa jauh lebih manusiawi daripada kubikel kerjaku di luar sana.Aku terduduk di atas sebuah kursi kayu jengki tua yang diletakkan di sudut ruangan. Kedua lututku bergetar hebat. Di balik rok batik tulis motif semen rama yang kupakai, kakiku terasa seperti kehilangan seluruh tulangnya. Aku mencengkeram tepian meja kayu dengan kuku yang memutih, mencoba menahan tubuhku agar tidak merosot ke lantai kayu yang dingin."Napas, Lily. Atur ritmenya. Jangan biarkan pikiranmu menguasai jantungmu," sebuah suara berat, datar, namun penuh dengan penek
"Setiap menit adalah perjuangan, dan setiap perjuangan layak dijaga." - LilyPintu kaca otomatis PT Bhaskara terbuka dengan desis halus yang sama, suara yang kini terdengar seperti peringatan di telingaku. Udara AC yang kering langsung menerpa wajahku, membawa aroma kertas, tinta printer, dan kopi instan yang kuat—aroma dunia korporat yang dingin. Seharusnya aku merasa biasa saja, namun setiap langkah yang kuambil menuju lift terasa seperti sedang mendaki gunung yang sangat terjal. Jantungku, benda kecil yang hampir menyerah beberapa hari lalu, berdenyut dengan irama yang waspada. Aku bisa merasakannya di balik blazer biru dongkerku, seolah ia sedang berbisik: Hati-hati, Lily. Jangan terlalu bersemangat.Aku menatap pantulan diriku di pintu lift yang mengkilap. Wajahku dipulas riasan yang sedikit lebih tebal dari biasanya, usaha sia-sia untuk menyembunyikan pucat yang masih tersisa di bawah mataku. Rambutku kusemprot dengan sedikit lebih banyak hairspray agar nampak rapi sempurna, seb
Pov LilyAroma antiseptik itu masih tertinggal, menempel lekat pada pori-pori kulitku seolah ia enggan melepaskan mangsanya. Aku duduk bersandar pada tumpukan bantal di kamar joglo ini, kamar yang seharusnya menjadi tempat paling aman di dunia, namun malam ini terasa seperti penjara kaca yang sunyi. Di luar, suara jangkrik bersahutan dengan desir angin Solo yang membawa aroma tanah basah, tapi di dalam dadaku, hanya ada kesunyian yang mencekam. Kesunyian yang hanya diinterupsi oleh detak jantungku sendiri—detak yang kini terasa seperti langkah kaki orang asing yang tidak stabil di atas lantai kayu yang rapuh.Aku menatap langit-langit kamar yang tinggi. Ukiran kayu jati yang rumit itu biasanya menenangkanku, bercerita tentang silsilah dan kehormatan yang harus kupanggul. Namun sekarang, ukiran itu tampak seperti jaring laba-laba yang siap menjeratku. Kejadian di pintu darurat PT Bhaskara itu terus terputar di kepalaku seperti film rusak yang enggan berhenti. Gelap yang tiba-tiba, rasa
Sejak ambulans membawa Lily pergi dari lobi PT Bhaskara, pikiran Rofiq tidak pernah benar-benar tenang. Meskipun ia harus mengurus laporan teknis mengenai kegagalan sistem listrik di kantor, jiwanya seolah tertinggal di brankar bersama Lily. Sebagai seorang Gus dari sebuah pesantren besar di Jawa Timur, ia memiliki tanggung jawab batin untuk menjaga mereka yang lemah; dan sebagai seorang pria, ia memiliki ketertarikan yang kini tak lagi bisa ia sangkal. Ketertarikan yang bermula dari kekaguman pada ketegaran Lily yang tersembunyi di balik kerapuhannya.Setelah memastikan keadaan kantor terkendali dan memberikan instruksi tegas pada tim teknis agar insiden serupa tidak terulang, Rofiq segera memacu mobilnya menuju Rumah Sakit Pusat. Hujan gerimis mulai membasahi kaca depan, menciptakan suasana melankolis yang sejalan dengan kecemasannya. Ia tidak datang sebagai "Manajer Rofiq" yang kaku dan penuh otoritas, melainkan sebagai seorang pelindung yang didera rasa khawatir yang asing baginya
Sore itu, PT Bhaskara seolah sedang diuji oleh alam. Langit Jakarta yang tadinya muram mendadak tumpah dalam hujan badai yang disertai petir yang menggelegar. Di dalam kantor, suasana masih sibuk, hingga sebuah ledakan kecil terdengar dari rubanah. Seketika, seluruh cahaya padam. Bunyi dengung mesin pendingin ruangan mati, menyisakan keheningan yang mencekam sebelum akhirnya sirine darurat melolong panjang, membelah kepanikan."Perhatian, terjadi kegagalan sistem listrik total. Seluruh staf diminta meninggalkan gedung melalui tangga darurat sekarang juga. Jangan gunakan lift!"Suara pengeras suara darurat itu terdengar parau dan mendesak. Rofiq segera keluar dari ruangannya. Sebagai manajer, sekaligus seorang Gus yang dididik untuk selalu bertanggung jawab atas nyawa orang lain, ia langsung mengambil kendali. Dengan lampu senter dari ponselnya, ia mulai mengarahkan staf yang panik."Tenang! Semua ke arah tangga darurat! Jangan berdesakan!" teriak Rofiq tegas.Namun, di tengah hiruk-pi







