LOGINSatu jam setelah meninggalkan gedung kantor, sebuah taksi berwana biru tua berhenti perlahan di depan sebuah kompleks paviliun bergaya kolonial modern di sudut Menteng, Jakarta Pusat. Lily melangkah keluar dari mobil dengan tubuh yang terasa sangat lemas. Setiap langkah kaki yang diayunkannya di atas jalan setapak menuju pintu masuk paviliunnya terasa bagaikan memikul beban berkuintal-kuintal beratnya. Udara malam Menteng yang biasanya terasa sejuk karena rimbunnya pepohonan tua, malam ini terasa pengap dan mencekik paru-parunya.Begitu berhasil masuk ke dalam ruang tengah paviliunnya yang sepi, Lily langsung menjatuhkan tas jinjingnya ke lantai tanpa peduli. Ia berjalan terengah-engah menuju sofa panjang, lalu merebahkan tubuhnya di sana dengan posisi menyamping, menekuk kedua lututnya mendekati dada—sebuah posisi refleks untuk mengurangi rasa sesak yang luar biasa di dalam rongga dadanya."Uhuk... uhuk..." Lily terbatuk kecil, dan setiap kali batuk itu keluar, rasa nyeri bagai ditus
Gemerlap lampu merkuri dari gedung-gedung pencakar langit yang memadati kawasan Segitiga Emas Jakarta malam itu tampak bagaikan hamparan berlian yang berserakan di atas kain beludru hitam. Di lantai dua puluh tiga gedung PT Bhaskara Utama, kesibukan siang hari telah surut, menyisakan keheningan korporat yang dingin dan monoton. Suara dengung pendingin ruangan sentral berpadu samar dengan ketukan jemari di atas papan tik, menciptakan ritme yang monoton di dalam ruang kerja Divisi Operasional yang luas.Di balik kubikel kaca beningnya, Rofiq duduk mematung. Pandangannya lurus menatap layar monitor yang menampilkan barisan angka-angka laporan logistik dan grafik efisiensi kuartalan, namun fokus jiwanya telah melompat jauh, tersesat di antara ingatan-ingatan membingungkan yang terjadi di teras kafe kemarin siang. Kemeja abu-abu gelap yang dikenakannya—lengkap dengan dasi sutra hitam yang sedikit dilonggarkan—tampak berkerut di bagian bahu, mencerminkan ketegangan fisik yang menjerat tubuh
Aroma minyak gaharu yang khas selalu menguap dari sudut-sudut kamar utama kediaman pengasuh Pesantren Jombang, menyatu dengan kelembapan udara malam yang turun setelah hujan reda. Di dalam kamar yang luas namun bersahaja itu, waktu seolah berjalan lebih lambat. Jam dinding kayu jati kuno berdetak dengan ritme yang monoton, membelah kesunyian malam yang kian pekat.Namun, bagi Bu Nyai Ruqayyah, kesunyian itu justru terasa bising. Di dalam kepalanya, suara-suara ingatan berdengung keras, merusak kedamaian yang biasanya ia temukan setiap kali bersimpuh di atas sajadah beludru hijaunya.Mushaf Al-Qur'an berukuran besar dengan sampul kulit cokelat masih terbuka di hadapannya. Lembarannya menampilkan ayat-ayat suci yang baru saja ia daras, namun fokus matanya telah lama hilang. Pandangan mata yang biasanya teduh dan penuh wibawa itu kini menerawang jauh, menembus kelambu jendela, melewati rindangnya pohon sawo di halaman, hingga melompati batas geografis menuju sebuah kota yang berjarak ratu
Di teras kafe yang sejuk, Rofiq dan Lily benar-benar telah tenggelam ke dalam dimensi dunia kecil yang mereka bangun sendiri malam itu. Mereka berdua sama sekali tidak memiliki kepekaan atau menyadari bahwa sebuah mobil sedan hitam yang membawa sosok paling berpengaruh dalam hidup Rofiq sedang mengawasi mereka dari jarak yang hanya belasan meter di seberang jalan raya."Mas... kenapa dari tadi terus-menerus melihat saya seperti itu?" tanya Lily pelan, menaikkan sedikit pandangannya dari dada Rofiq. Ia merasakan sedikit rona hangat sekaligus risih yang manis karena tatapan mata Rofiq sama sekali tidak pernah teralih dari wajahnya sejak krisis kesehatan di dalam ruangan tadi.Rofiq tersenyum lembut, tangannya kembali bergerak dengan sangat hati-hati untuk merapikan beberapa helai rambut panjang Lily yang sempat menempel di dahi akibat keringat dingin yang mulai mengering."Saya ini sedang menghitung jumlah syukur saya malam ini kepada Allah, Lily," jawab Rofiq dengan nada baritonnya yan
Hujan deras yang tadinya mengguyur kawasan Jakarta Selatan dengan intensitas ekstrem perlahan-lahan mulai mereda, menyusut menjadi rintik gerimis kecil yang jatuh dengan ritme yang lebih tenang. Suasana gaduh dari hantaman air di atas atap kanopi kayu teras berganti menjadi suara tetesan air yang teratur jatuh dari ujung genting.Rofiq perlahan bangkit dari posisinya yang semula duduk bersila di atas lantai kayu yang dingin. Dengan gerakan yang luwes, ia melangkah lalu mengambil tempat duduk tepat di samping Lily di atas sofa panjang. Ia mengulurkan lengan kanannya, melingkarinya ke atas bahu Lily, menarik tubuh gadis itu agar mendekat dan membiarkan Lily menyandarkan kepalanya yang masih terasa agak berat di atas bahunya yang kokoh.Dalam posisi sedekat itu, rasanya dunia di sekitar mereka mendadak menjadi begitu tenang dan melambat. Di depan teras kafe, bentang kota Jakarta yang biasanya tampak kejam, egois, dan terburu-buru, malam itu terlihat sedikit lebih manusiawi di mata Lily.
Sore itu, suasana sebuah kafe tersembunyi di kawasan Jakarta Selatan terasa begitu menenangkan, menyajikan kontras yang sempurna dari bisingnya belantara beton ibu kota. Desain interior bangunan tersebut didominasi oleh elemen kayu jati bertekstur kasar yang memancarkan aroma maskulin yang khas, berpadu dengan kelembapan udara senja.Di langit-langit kafe, pendar lampu gantung berwarna kuning temaram memantulkan siluet yang hangat pada dinding-dinding bata ekspos. Alunan musik instrumen Jawa kontemporer—perpaduan antara petikan siter yang magis dan ketukan kendang bertempo lambat—mengalun lembut dari sudut ruangan, menciptakan atmosfer yang sangat disukai Lily. Musik itu seolah membawa jiwanya pulang ke tanah kelahiran yang beralas ketenangan, jauh dari target korporat yang setiap hari memeras energinya.Gus Rofiq dan Lily memilih duduk di sebuah sudut yang agak tersembunyi di bagian belakang kafe. Meja mereka terlindung di balik juntaian daun-daun hijau dari tanaman hias monstera dan







