Home / Romansa / Diary Dira / kedua🍂

Share

kedua🍂

Author: Dillah_whj
last update publish date: 2026-03-18 22:49:30

Tangan Dira dengan cekatan meraih slingbag yang tergantung didalam lemari khusus tas milik nya.

Dipoles nya sedikit lip cream untuk  menambahkan kesempurnaan pada make up tipis yang sudah melekat pada wajahnya.

"Loh mbak mau kemana? " tanya Wita yang baru saja tiba didalam kamar

"Urusan orang gede" jawab Dira tersenyum geli

Alis Wita terangkat sebelah "Dih, bilang aja yang mau ngedate" cibir Wita seraya merebahkan tubuh nya diatas sofa kamar Dira

"Nanti kalau mau balik kunciin apartemen nya ya dek" pesan Dira sebelum ia benar-benar melangkah pergi

Wita hanya mengacungkan jempol sebagai tanggapan, usai itu gadis Jawa asal Solo itu sudah berkelana didalam dunia mimpinya.

Dira sampai geleng-geleng kepala melihat tingkah adik angkat nya itu yang segampang itu terlelap dalam tidur, tak perduli ditempat apa ia tengah berada.

Saat baru saja akan melangkah masuk kedalam lift,

Raffa baru saja mengirimkan sebuah pesan mengenai dirinya yang sudah tiba di basement apartemen milik Dira.

"I'm sorry mas karena udah nunggu lama pasti" ucap Dira tak enak hati

Raffa mendongak kan kepala nya,

Tangannya memasukkan bendah pipih nya itu kedalam saku celana.

Dan oh ya jangan lupakan wajah tampan nya itu yang selalu mengukir kan sebuah senyuman nan indah untuk sang pujaan tercinta.

"Enggakpapa, aku juga enggak terlalu lama juga kok"

"Kenapa mas?" tanya Dira salah tingkah saat Raffa menatap penampilan nya dari atas hingga kebawah.

Raffa tersenyum kecil "kamu cantik banget by, kita ganti tujuan aja ya"

"Loh emang mau ganti kemana lagi?" tanya Dira dengan dahi berkerut bingung

"Ke KUA, aku enggak rela kalau kecantikan kamu harus dilihat banyak orang. Pokoknya cuman aku aja yang boleh nikmati kecantikan kamu"

Blush

Rona merah benar-benar menguasai wajah Dira saat ini, apa lagi dengan kalimat manis penuh gombalan yang dilontarkan oleh Raffa,

"Udah akh, ngegombal mulu. Kapan jalan nya nih" sahut Dira yang berjalan meninggalkan Raffa untuk masuk kedalam mobil lebih dulu.

"Yah by, aku beneran ini bukan ngegombal. Apa kita langsung beli tiket ke Medan aja ya. Supaya aku bisa ngomong langsung keorang tua kamu"

"ARAFFA SATYAKI udah buruan gak usah pakai acara wacana gak jelas segala, entar kita kejebak macet lagi"

"Ini bukan Wacana loh by" tegas Raffa yang sudah masuk kedalam mobil

"Tetep bahas yang gak jelas, atau aku bakal turun nih" ancam Dira yang membuat Raffa menggelengkan kepalanya dengan cepat,

Yah kali acara kencan mereka hari ini harus gagal perkara hal sepele seperti itu, sudah lh mencari waktu untuk kencan seperti ini adalah hal yang paling sulit. Mengingat keduanya sama-sama dibuat sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.

"Mau makan dulu atau langsung ketempat nya?" tanya Raffa sambil menutup pintu mobil untuk Dira.

"Hmm, makan dulu aja deh. Biar ada tenaga buat jalan-jalannya"

"Okey let's go honey "

Kedua tangan sejoli itu selalu bertaut satu sama lain,

Banyak pasang mata yang menatap takjub dengan keduanya.

Tak jarang dari para pengunjung juga memuji kagum atas keserasian keduanya.

"Liat deh mas, ikan nya kok bisa segede itu" tunjuk Dira pada spot pertunjukan ikan arwana yang berukuran tak biasanya

"Mas kita foto disitu yuk. Kayaknya bagus banget deh" ajak Dira yang dijawab anggukan serta senyuman oleh Raffa

"Mas mas, boleh minta tolong fotoin saya dan tunangan saya"

Desiran aneh dirasakan Dira saat Raffa menyebutkan dirinya sebagai tunangannya, padahal nyatanya usai kejadian itu ia masih belum memberikan jawaban pasti atas ajakan Raffa untuk menikah.

Salah seorang yang diminati Raffa mulai mengarahkan keduanya untuk berfose agar sesi pengambilan gambar segera dilakukan.

Perjalanan kencan keduanya berjalan sesuai dengan rencana.

Keduanya sama-sama menikmati masa kencan yang jarang sekali bisa terjadi dengan kesibukan keduanya,

Dira dibuat terharu dengan efffort yang dilakukan Raffa setiap kali keduanya melakukan kencan bersama, banyak sekali kejutan yang dilakukan oleh sang kekasih yang membuat Dira sampai berpikir.

Apakah pria setampan dan seromantis Raffa tidak rugi jika bersanding dengan nya?

"Heyy, kamu kenapa? Kok malah melamun? " Raffa menyadarkan Dira yang melamun usai keduanya sudah sampai tepat diparkiran apartemen Dira

Untuk menyembunyikan kebohongan nya itu, Dira mengulas senyuman manisnya.

"Aku enggakpapa kok mas"

"Beneran?"

Dengan yakin Dira mengangguk

"Terus kenapa dari tadi mas liat kamu kebanyakan ngelamun? Kamu gak senang dengan kencan kita hari ini? Atau mau kita kencan lagi sekarang"

Dengan cepat Dira menggeleng kan kepalanya "enggak usah mas, aku enggakpapa beneran. Tadi cuman kepikiran sama deadline dari penerbit aja kok. Lagian kan kamu harus balik kerja lagi besok"

Raffa menghela napas, sambil tangannya mengelus lembut kepala Dira "jangan terlalu dipaksain buat ngejar deadline, aku enggak mau kalau kamu sampai kecapean"

Dira menepis pelan tangan Raffa, dan beralih untuk menggenggamnya dengan erat.

"Kenapa? Kok enggak kayak biasanya by, seperti bakal berpisah lama " kekeh Raffa

Dira tak menanggapi kekehan dari sang kekasih, justru gadis itu semakin menarik lengan Raffa untuk berada didalam pelukan nya.

Entah lah, untuk saat ini ia seperti merasa enggan untuk berpisah dengan Raffa. Seakan kencan mereka kali ini seperti akan menjadi kencan terakhir kalinya untuk keduanya.

"Aku takut banget kehilangan kamu" lirih Dira dengan mata yang kian terpejam

Raffa diam beberapa saat, membiarkan Dira yang masih sangat nyaman memeluk lengan nya itu,

"Emang nya aku bakal kemana by? Aku enggak bakal pergi kok, selagi panggilan Tuhan belum menemui ku"

Dengan cepat mata Dira terbuka lebar, ditepis nya lengan Raffa yang menjadi bahan pelukan nya lagi.

Manik mata coklat nya itu menatap tajam kearah Raffa yang justru ditanggapi dengan cengiran saja.

"Enggak usah ngomong yang aneh-aneh" sungut Dira yang mulai membuka pintu untuk keluar dari mobil

Pergelangan tangannya ditahan oleh Raffa "sorry by, tadi hanya bercanda"

"Enggak lucu"

●◉◎◈◎◉●

"Udah selesai ngefoto nya? "

Wita mengangguk seraya tangannya meletakkan ponsel yang tadi ia pegang itu.

"Gimana cerita kencan hari ini?" tanya Wita dengan tangan yang menyendokkan spaghetti kedalam mulut nya

"Rasa spaghetti nya gimana? Ada yang kurang atau gimana? " Dira seakan mengganti topik untuk menghindari menjawab pertanyaan dari Wita tadi,

Dengan kepala yang di goyang goyang kan dan senyuman ceria nya, Wita mengangguk setuju dengan mengapresiasi Dira dengan sebuah acungan jempol.

"Masakan mbak Dira gak pernah gagal buat perut ku kesenangan, udah bisa nih waktu nya mbak masakin mas Raffa juga"

Dira terkekeh "mbak juga udah sering kali Wit masakin mas mu itu"

Dengan tegas Wita menggelengkan kepala "bukan masakin yang begitu loh mbak, tapi masakin secara khusus sebagai seorang istri"

Dira terdiam merenungi perkataan dari Wita barusan, apa yang dikatakan Wita sebenarnya ada benar nya.

Dilihat dari umur serta berapa lama hubungan nya dengan kekasih sudah terjalin, bukan kah sudah waktunya keduanya untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius?

Bukan Dira tidak mau menjadikan Raffa teman sehidup semati nya, bukan karena Dira ragu dengan pria nya itu, akan tetapi masih ada setitik keraguan yang sering kali menutupi semua ketulusan dari Raffa.

"Mbak-"

"Mbak kenapa? Kok malah ngelamun? "

Dira tersenyum tipis seraya menggeleng kan kepala nya "mbak bingung Wit"

Oke seperti nya kali ini Dira akan menceritakan semua hal yang mengganjal harinya itu, semua keraguan yang sering kali bahkan menyita kewarasannya itu.

Wita mulai mengubah posisi duduknya menghadap Dira.

Melupakan segala rasa lezat dari spageti carbonara buatan mbaknya itu.

"Menurut kamu mbak cocok gak sih kalau harus bersanding dengan Raffa? "

Terlihat kerutan yang menghiasi wajah ayu adik angkat nya itu,

Seakan mengerti dengan isi kepala Wita, Dira lantas kembali berujar.

"Mbak bingung dek, semuanya benar-benar menyita kewarasan mbak. Bahkan sampai-sampai mbak lupa sama ketulusan yang dikasih Raffa ke mbak"

Wita masih menjadi pendengar yang baik, membiarkan mbaknya itu meluapkan segala hal yang menyita kewarasannya itu. Tanpa berniat untuk menyela perkataan yang tengah disampaikan.

"Mbak sayang dek sama Raffa, mbak cinta banget ke dia, bahkan mbak rasa separuh jiwa mbak memang ada di dia. Tapi disisi lain mbak gak bisa egois dek ngebuat seorang anak yang menjadi durhaka terhadap ibunya. Mbak boleh egois gak sih dek buat minta Raffa untuk tetap ada untuk mbak, tapi mbak juga gak mau egois dek kalau harus buat Raffa jadi anak yang durhaka. Apa seenggak pantes itu ya dek mbak buat Raffa? Apa mbak begitu buruk untuk bersanding dengan lelaki setulus Raffa? Atau justru memang mbak gak ditakdirkan untuk bahagia ya dek? " akhirnya tangis Dira bisa berhasil pecah, air mata yang beberapa hari ini selalu ia tahan untuk menutupi kesedihan yang dialaminya.

Tapi sepertinya Dira lupa, jika ia tidak akan bisa memakai seribu topeng untuk menutupi kesedihan nya itu jika sudah dihadapan seorang Wita.

Wita berdiri, memeluk erat tubuh Dira yang mulai bergetar akibat tangis hebat yang akhirnya ia tumpah kan juga.

"Siapa bilang mbak gak berhak bahagia? Bilang sama Wita mbak orang yang bilang seperti itu"

"Mbak, setiap manusia itu diciptakan bukan hanya untuk mengalami beribu penderitaan, kebahagiaan pasti akan dirasakan oleh setiap manusia, termasuk juga mbak. Jangan pernah berpikir kalau mbak gak berhak untuk bahagia"

"Mbak gak salah kalau memang membuat mas Raffa durhaka ke mamanya, itu bukan salah mbak sama sekali, itu salah takdir yang menyatukan mbak dan mas Raffa dengan cara yang lumayan rumit, mbak kita gak tahu loh apa rencana takdir, entah mungkin saja kan suatu saat nanti hati mamanya mas Raffa bisa terketuk untuk menerima mbak dengan lapang dada. Mbak hanya cukup sabar dan terus berdoa, meminta ke Allah agar hatinya mamanya mas Raffa segera terketuk untuk bisa menerima mbak. Kita memang boleh berusaha sekeras tenaga mbak, sisanya kita serahkan kembali kepada sang pemilik segalanya, yang bisa membolak-balikan hati manusia"

Dira perlahan mulai merasa tenang dengan kalimat-kalimat nasehat dari Wita.

"Makasih banyak ya Wit kamu sudah bersedia dengerin curhatan mbak, maaf juga ya selama ini mbak sudah banyak ngerepotin kamu dan juga bude"

Wita menggeleng kan kepala nya "mbak jangan ngomong gitu, aku justru senang bisa jadi tempat curhatan mbak, mbak Dira sama sekali enggak pernah ngerepotin aku atau pun mami. Kita senang sekali setiap dimintai tolong sama mbak Dira. Kan kita keluarga, jadi jangan sungkan untuk salinh mengulurkan tangan"

"Kamu enggak laper lagi? " tanya Dira sambil mengelap sisa air matanya dengan tisu

Wita menggeleng kan kepalanya "masih laper banget loh mbak"

"Trus kenapa spaghetti nya gak dihabisin? "

"Gimana mau ngabisin wong mbak aja tadi lagi nangis, gak mungkin kan mbak ku nangis tapi aku malah enak-enak makan"

Dira menyengir "maafin mbak deh, kalau gitu mau mbak masakin lagi gak sebagai gantinya? "

"Enggak usah deh mbak, spaghetti ini aja masih enak kok. Sayang kalau mbak masak lagi"

"Yaudah kalau gitu mbak bantu angetin lagi aja"

"Mau jus alpukat gak? Kemarin mbak beli alpukat banyak tapi belum sempat dimakan"

"Mau mbak, tapi biar aku aja yang buat sendiri. Mbak angetin makanannya aja"

Untuk menghilangkan rasa sedih yang tadi sempat melanda Dira.

Wita mengajak Dira untuk melakukan perawatan diri saja dirumah, dengan cara mengajak kakak angkat nya itu untuk maskeran bersama lalu dilanjutkan dengan menonton film horor secara bersama.

"Ikh Wit, jangan film yang ini dong. Mbak takut nanti enggak berani tidur sendiri"

"Bilang aja mbak memang lagi mau ditemenin tidur" cibir Wita yang dibalas cengiran oleh Dira

"Nginep sini ya Wit, mbak lagi gak berani buat sendiri"

"Iya-iya deh"

"Aaaaaaa, Witaaa itu hantunya muncul. Tutupin mbakk" teriak Dira yang ketakutan

"Mbak jangan deket-deket entar masker nya lengket dibaju aku"

"Lagian kamu juga salah malah ngajak nya film begini, udah tau mbak orang nya penakut"

Dira meraih laptop nya untuk mengganti film "ganti aja deh, cari film yang lebih seru"

Wita ngikut saja, cari aman dari pada entar masker yang diwajah Dira justru berpindah ke bajunya itu.

"Aaaaaa mbak Diraaa" teriakan Wita membuat Dira kaget bahkan sampai hampir membuat laptop yang ada dipangkuan nya hampir terjatuh.

"Apa an sih Wit? Kamu buat mbak jantungan aja"

"Liat deh" Wita menunjukkan laman aktvitas pada akun i*******m nya,

Mata Dira memicing mencari sumber dari yang membuat Wita berteriak tadi,

"Kenapa? Mbak gak ngerti"

"Lihat deh mbak, lihat deh ini sebuah keajaiban" kata Wita dengan raut wajah takjub.

"Keajaiban? Keajaiban apa an? Kamu di follow sama gebetan mu? Atau diajak jalan bareng? "

"Bukan mbakk"

"Trus apa dong? Mbak gak ngerti deh Wit sumpah, kasih tau aja deh"

Wita lantas membuka laman i***a story di i***agram,

Mata Dira melotot kaget melihat video dirinya yang tengah memasak telah terpajang di i***a story Wita.

"Astaghfirullah Wit, kurang ajar yah kamu malah masukin mbak ke Sg. Hapus gak!! Itu maluin loh Wit muka mbak lagi berantakan juga"

"Gapapa Loh mbak, masih tetap cantik kok. Buktinya ini dapat like dari abang sepupu aku"

"Maksudnya? "

"Ini nih yang aku maksud buat aku bahagia loh mbak, aku kaget gak biasanya nih manusia purba ngeliat sg aku eh apa lagi sampai ngelike gini"

"Nge-like nge-like apa an, mbak gak mau tau, hapus gak!! Malu loh Wit muka mbak lagi berantakan juga"

"Gak mau!! Sayang loh mbak. Ini tuh sebuah keajaiban mas Kai ngeliat sg aku apa lagi sampai dilike"

"Mbak gak mau tau, hapus pokoknya!! "

"Yah jangan toh mbak, sayang kalau di hapus"

"Ini tuh cerita nya enak dikamu tapi rugi untuk mbak"

"Cafe baru deh. Besok aku traktir dicafe baru yang tadi sore aku kunjungin"

Dira diam menimang tawaran dari Wita.

"Gimana mbak? Mau gak? Tempat nya bagus loh. Itung itung bisa ngilangin setres deh"

"Yauda deh mbak mau, tapi bebas kan mau pesan apa aja"

"Hmm, iya tapi gak usah melunjak yah modelnya"

Ting

Kedua bola mata Wita melebar sempurna, kalah melihat notifikasi pesan yang benar-benar mengejutkan dirinya.

"Kenapa Wit? "

"Omaygat ini sebuah keajaiban dunia mbakk, demi apa ini ya Allah akhirnya mas ku udah mulai--"

"Kamu kenapa sih Wit? Mbak bingung liat tingkah mu ini teriak-teriak kayak orang gila gini. Gak enak kalau sampai didengar tetangga"

"Lihat deh mbak, mas ku tiba-tiba aja kirim pesan nanyain tentang perempuan yang di sg aku, yang gak lain yah mbak sendiri"

Buru-buru Dira merebut ponsel Wita dari sang pemilik nya,

Mata Dira menyipit sempurna usai membaca sebuah pesan yang memang dikirim mas nya Wita itu.

"Gimana mbak? Aneh kan mas ku. Tumben tiba-tiba dia notice sg aku apa lagi sampai ngechat nanyain tentang sg ku juga"

"Mungkin orang nya lagi gabut kali" kata Dira mencoba untuk berpikir positif

Wita seperti tampak tengah berpikir "bukan mbak, ini kayaknya memang sebuah pertanda deh"

"Pertanda apa'an? "

"Hmm yah pertanda gitu deh pokoknya"

"Udah akh jangan main asal nebak, takutnya ujung nya malah jadi enggak baik"

"Iya juga sih mbak. Tapi mbak aku ada ide bagus deh"

"Apa? " alis Dira terangkat sebelah.

"Dari pada mbak pusing dibuat mas Raffa, gimana kalau mbak sama mas ku aja. Lumayan loh mbak orang nya oke, tampan iya, mapan juga iya, kalau soal attitude sama keagamaan nya udah bisa acungin jempol deh"

Dahi Dira berkerut mendengar penuturan ngawur dari Wita.

"Apa an sih Wit, kamu ngawur terus dari tadi"

"Ini bukan ngawur loh mbak, ini seriusan. Aku ngasih ide yang bagus untuk masalah mbak kali. Aku gak tega loh liat mbak harus sedih-sedih gini, jadi mending sama mas aku aja yang sangat-sangat oke. Tenang orang nya 11 12 kok sama mas Rafa, jadi mbak gak bakal susah buat moveon nya"

"Astagfirullah Wit, mbak gak sejahat itu juga kali pakai acara manfaatin orang buat bisa moveon dari Raffa"

"Sini deh mbak lihat foto orang nya. Aku yakin deh mbak pasti bakal tergiur deh"

"Apa'an sih, kirain apa an kali coba pakai tergiur segala"

Tapi nyatanya lain di mulut lain pula dihati, buktinya Dira tetep terpincut untuk melihat foto yang dimaksud Wita.

Masyallah tampannya batin Dira melihat yang terpesona dengan foto sepupu dari Wita.

Sepupu Wita itu terlihat sangat tampan nan gagah dengan balutan seragam loreng pada tubuh nya,

Ditambah dengan wajah sangar nya khas seorang prajurit, nyatanya tetap tidak menghilangkan kesan tampan yang memang sudah ada sejak lama.

"Gimana mbak? Lumayan kan orang nya? "

"Hmm"

Bersambung...

****

Hallo guys gimana kabar nya nih?

Heheh maaf yaw baru bisa update,

Dimaklumin ya dengan kesibukan duniawi dari sayee pribadi 🙏

Diharapkan tetap enjoy menikmati jalannya cerita ini hingga endingnya kelak, wkwkwk

Ada yang mau disampaikan untuk

1. Dira

2. Wita

3.mama Raffa

Atau bahkan sepupunya Wita?

Okee see you next time buat part selanjutnya 🖐

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Diary Dira   kelima🍂

    Masih dengan kacamata hitam di hidung bangirnya, kedua kaki jenjang itu melangkah keluar dari restoran yang menjadi tempat Kramat dalam sejarah hidupnya.Pandangannya terlihat kabur, penuh dengan genangan butiran kristal yang dalan kedipan akan luluh begitu saja.Kamlimat demi kalimat dari wanita ular yang sayangnya adalah ibu dari orang yang pernah menjadi bagian hidupnya itu teringat jelas tanpa celah. Bagaimana tiap bait kata yang keluar sungguh menghujam hatinya dengan ribuan belati yang menancap tanpa melesat sedikit pun.Jika didalam sana tadi, ia terlihat tetap datar dalam membalas tiap perbuatan yang diterima. Lain halnya jika sekarang ini.Dibawah rintik hujan yang membasahi bumi, kaki itu tetep melangkah tak tau arah. Hujan turun semakin deras, seakan saat ini semesta juga mengambil andil atas sakit yang dialaminya.Bagaimana mungkin? Bagaimana mungkin ini semua terjadi? Kalimat itu selalu ia tanyakan pada dirinya sendiri.Kenapa pertunangan itu terjadi? Ralat kenapa ia meng

  • Diary Dira   ke empat

    Sore ini adalah sore yang berbeda bagi Dira. Sebuah moment dimana ia akan kembali bertemu dengan ibu dari sang kekasih tercinta. Wanita paruh bayah yang selalu menatap tak suka kepada Dira setelah mengetahui fakta bahwa ia bersanding dengan anaknya tercinta. Rasa gugup tentu saja tak bisa Dira tutupi begitu saja, terlihat sedari tadi gadis cantik dengan lesung pipi diwajahnya itu berulang-ulang kali melihat penampilan nya melalui layar ponsel yang menyala. Oh ayolah Dira, sebagus apapun penampilan mu hal itu tak akan membuat ibunda Raffa itu untuk menyukai nya. Yahh semoga saja kali ini keberuntungan berpihak padanya. Ekor mata Dira melirik kembali pada jam yang melingkar pada pergelangan tangan, jarum kecil jam itu sudah menunjukkan tepat pukul 17.15 WIB, yang artinya wanita paruh bayah itu terlambat datang untuk waktu yang sudah mereka tetapkan. Baru saja Dira akan beranjak pergi, wanita paruh baya yang sedari tadi ia tunggu akhirnya tiba juga. "Sorry Dira, ada beberapa hal p

  • Diary Dira   ketiga🍂

    Menikmati sejenak hari libur yang cukup menghibur dirinya, Saat ini Dira sudah harus kembali pada rutinitas awalnya yang ditemani oleh padatnya skeju terbang serta beberapa acara seminar peluncuran buku terbaru nya yang akan dilaksanakan minggu ini. Melirik jadwal yang sudah tersusun rapi pada catatan ipad nya itu membuat Dira memijat pelipis nya pusing, Jujur saja tubuh nya benar-benar merasa lelah dengan skeju yang amat padat ini, tapi disisi lain Dira juga bisa merasa senang melakoni pekerjaan yang sedang ia lakukan. Entah lah terkadang Dira juga merasa bingung dengan kemauan dirinya sendiri ini. "Mbak udah siap? Mobil udah nunggu di loby nih" teriakan dari Wita yang terdengar diruang Tv, membuat Dira segera bergegas untuk mengunci isi kopernya "Iya sebentar... " "Udah siap semua? Enggak ada yang ketinggalan lagi kan? " tanya Dira sambil tangannya merapikan sedikit tas yang tengah dipakai "Enggak ada sih kayaknya" jawab Wita pelan dengan raut seperti tengah berpikir "Oh

  • Diary Dira   kedua🍂

    Tangan Dira dengan cekatan meraih slingbag yang tergantung didalam lemari khusus tas milik nya. Dipoles nya sedikit lip cream untuk menambahkan kesempurnaan pada make up tipis yang sudah melekat pada wajahnya. "Loh mbak mau kemana? " tanya Wita yang baru saja tiba didalam kamar"Urusan orang gede" jawab Dira tersenyum geliAlis Wita terangkat sebelah "Dih, bilang aja yang mau ngedate" cibir Wita seraya merebahkan tubuh nya diatas sofa kamar Dira "Nanti kalau mau balik kunciin apartemen nya ya dek" pesan Dira sebelum ia benar-benar melangkah pergiWita hanya mengacungkan jempol sebagai tanggapan, usai itu gadis Jawa asal Solo itu sudah berkelana didalam dunia mimpinya. Dira sampai geleng-geleng kepala melihat tingkah adik angkat nya itu yang segampang itu terlelap dalam tidur, tak perduli ditempat apa ia tengah berada. Saat baru saja akan melangkah masuk kedalam lift, Raffa baru saja mengirimkan sebuah pesan mengenai dirinya yang sudah tiba di basement apartemen milik Dira. "I'

  • Diary Dira   Awal 🍂

    "Selamat malam. Seat berapa bapak?" Dira tersenyum ramah pada pria paruh bayah dengan setelan jas formal yang seperti nya tengah kebingungan mencari no tempat duduknya. "3F, mbak" "3F window seat di sebelah kiri. Mari saya antarkan" Pria tadi ikut berjalan dibelakang Dira untuk mencari tempat duduknya, Setibanya ditempat, Dira langsung mempersilahkan penumpang nya itu untuk segera duduk. "Terimakasih banyak mbak" ulas sang penumpang dengan senyuman lega Dira mengangguk dan tersenyum hangat membalas ulasan dari penumpang nya itu. Selanjutnya Dira segera kembali ke galery depan. Ada ratusan penumpang lagi yang harus ia sambut dengan ramah tamah, Sebenarnya secara spesifik ada 11 penumpang lagi yang harus ia tunggu, sebab pada hari ini Dira mendapat tanggungjawab 12 orang penumpang kelas bisnis. Faldira Winara, nama yang tersemat dalam name tag didada sebelah kirinya itu. Pramugari senior yang berkandang di business class dan telah mengudara selama sembilan tahun. Hamp

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status