Share

kedua🍂

Penulis: Dillah_whj
last update Tanggal publikasi: 2026-03-18 22:49:30

Dira memejamkan kedua matanya untuk memanjatkan doa, oh ya jangan lupakan kedua pipi gadis itu masih tetap mengembung atas godaan dari pacar nya itu dengan kalimat satu tahun lebih tua itu.

Oh ayolah, bahkan saat ini usianya saja belum mencapai kepala tiga. Jadi bukan kah wajar jika dirinya tidak terima dengan kata satu tahun lebih tua itu.

"Aminn," turut Raffa saat Dira sudah membuka matanya dan mulai meniupkan lilin yang sedari tadi sudah menyala.

"Terimakasih atas suprise tak terduga ini, walaupun sebenarnya konsepnya agak random ya pak," kekeh Dira.

"Jangan panggil pak dong honey," Dira terkekeh mendengar Protesan dari Raffa. Memang selalu seperti ini Raffa selalu tidak mau dipanggil pak. Katanya itu seakan memberikan kesan ia seperti sudah tua saja, terkadang Dira heran sendiri dengan tingkah pacar nya itu yang tidak mau dipanggil pak. Padahal jelas-jelas di wilayah jam kerja nya pasti pacar nya itu dipanggil pak oleh junior nya.

Seperti sepasang kekasih pada umumnya.

Dua orang dewasa itu juga melakukan hal yang sama dalam sesi menghabiskan waktu bersama untuk melepaskan kerinduan yang melanda usai beberapa waktu tak berjumpa.

Didalam mobil taksi yang disewa oleh Raffa itu, keduanya bercengkrama bersama menceritakan segala aktivitas keseharian keduanya usai beberapa waktu tak bersama. Sebenarnya sesi cerita itu lebih didominasi oleh Dira yang menjadi pencerita sedangkan Raffa lebih ke pendengar yang setia dalam menanggapi setiap cerita yang dikatakan oleh Dira.

"Trus nasib orang nya sekarang gimana? " tanya Raffa sambil sesekali menyuapkan cake yang tadi sempat ia beli untuk Dira.

"Alhamdulillah nya sekarang orang nya itu sudah bisa kumpul bareng keluarga nya. Aduh sumpah deh mas aku baru kali ini dapet kejadian begini."

"By tolong ambilin tisu didalam situ!"

Tangan Dira terulur membuka dasbor mobil.

Gerakan tangan nya terhenti saat tak sengaja memegang sesuatu hal yang agak mengganjal.

"Ini apa mas?"

Raffa menahan senyuman nya itu, membiarkan sang kekasih menerka-nerka benda apa yang ada didalam dasbor tersebut.

"Coba ambil!" pintah Raffa dengan wajah menahan senyuman.

Dahi Dira menyerit bingung saat mendapati kotak kecil dengan hiasan pita diatasnya.

Dengan wajah menahan gemas, Raffa menarik kotak tersebut dari tangan Dira.

Didalam kotak kecil tersebut, terdapat sebuah kotak bludru berwarna merah,

Dengan gerakan cepat tanpa sadar kotak tersebut sudah terbuka menampilkan sebuah cincin dengan permata indah berbentuk hati di tengah-tengah nya.

"Faldira Winara, Are You Marry Me?"

Jantung Dira berdetak dua kali lebih cepat, matanya mulai berkaca kaca. Tanpa sadar mulut nya sudah terbuka akibat terkejut dengan lamaran tiba-tiba yang dilakukan sang kekasih.

Kedua sorot mata Dira mencoba menelisik ke dalam iris mata indah dari Raffa. Mencari sebuah fakta apakah sang kekasih beneran serius dalam melamar nya saat ini, apakah ada tersirat kebohongan didalamnya.

Nyatanya itu semua tidak ditemukan oleh Dira, dan berarti Raffa saat ini memang tulus dan sungguh-sungguh meminta nya untuk menjadi pasangan nya kelak.

Sama halnya dengan Dira,

Raffa juga mengalami hal yang sama, Jantung nya berdetak tak beraturan. Menunggu jawaban kepastian dari sang kekasih, rasa risau mulai memenuhi otak dan hatinya.

Takut-takut jika Dira menolak lamaran nya saat ini.

"Sorry mungkin kamu mengira ini terlalu cepat by, tapi kalau aku merasa ini memang waktu yang tepat disaat kita sudah lama bersama. Aku tidak ingin membuat kamu berdosa terus menerus karena harus berhubungan dengan aku tanpa ada ikatan yang sah. Aku ingin bisa melihat mu setiap hari tanpa ada batasan apapun yang menjadi penghalang. Aku sayang sama kamu by, rasanya aku engga bisa kalau sedetik saja harus berjauhan dari kamu. Aku ingin membawa mu berkelana bersama menjelajahi dunia ini, yang pasti nya sudah dalam ikatan yang diridhoi oleh Allah."

"Faldira Winara,Will You Marry Me?" kata Raffa sekali lagi.

Dira diam tak bergeming, ia masii terkejut dengan lamaran dadakan ini. Memang untuk kurun waktu hubungan mereka terbilang sudah cukup lama.

Akan tetapi ada satu hal lagi yang masih sangat mengganjal untuk mereka bisa melangkah lebih jauh lagi.

Restu mama Raffa, yah itu dia masalahnya saat ini.

Otak Dira berputar putar menelisik apakah mama Raffa sudah bisa menerima dirinya menjadi seorang menantu. Mengingat bagaimana sikap dari ibunda sang pacar yang secara terang terangan menunjukkan ketidak sukaanya tersebut.

"By-" panggil Raffa dengan lembut. Melihat Dira yang masih tetap diam dengan mata yang berkaca kaca.

Sedetik kemudian tangis Dira pecah, yang membuat Raffa tentu saja kalang kabut,

Tangan nya meletakkan kotak cincin tadi,

Dengan cepat ia langsung menarik Dira ke dalam dekapan nya, membiarkan sang kekasih menumpahkan seluruh kesedihan yang tengah dirasa.

"It's okay jika kamu masih belum siap jika kita melangkah lebih jauh. Aku engga akan maksa kamu untuk nerima. Tapi, aku akan selalu menunggu waktu sampai dimana kamu akan nerima aku kembali by."

Dira menggelengkan kepala didalam dekapan Raffa, pasti nya dengan tangis nya itu yang semakin menjadi.

Bagaimana caranya memberi tahu Raffa jika mamanya beberapa hari silam telah jauh-jauh datang ke Australia hanya demi menemui dirinya yang saat itu tengah bertugas disana.

Dengan sangat tegas bahkan ibunda Raffa itu menentang hubungan keduanya, sang ibunda meminta Dira untuk segera mengakhiri hubungan keduanya jika tidak ingin membuat Raffa semakin menjadi anak yang durhaka.

"Fa--" panggil Dira dengan suara lemah

Raffa menatap lekat wajah Dira,

Sepasang netra mata yang selalu membuat nya jatuh cinta saat memandang nya, tak perduli sudah sejauh mana Raffa mencintai gadis di dekapan nya ini.

"Maaf bukannya aku bermaksud buat nolak kamu, aku selalu ingin bisa merasakan hubungan yang jauh dari ini, akan tetapi--" bibir Dira terkatup, tak sanggup untuk kembali melanjutkan perkataan nya atas alasan ia belum bisa menerima Raffa.

"Restu mama? " tebak Raffa yang membuat Dira mengangguk.

Raffa mendengus sebal, selalu saja seperti itu. Kenapa mamanya begitu egois tidak mengijinkan nya bahagia dengan gadis pilihan nya.

Bukankah wajar jika Raffa bersikeras mempertahankan gadisnya, disaat ia sudah lelah dengan semua aturan yang dibuat sang mama.

"Aku engga mau fa buat kamu harus jadi anak durhaka terus menerus. Tapi aku juga engga mau kehilangan kamu," tangis Dira lagi.

"Hustt, jangan nangis! aku engga akan ninggalin kamu ra. Aku sayang sama kamu, bahkan aku lebih sayang dan cinta kamu ketimbang diri aku sendiri."

"Lalu bagaimana dengan mamamu? Aku pasti akan jadi orang paling berdosa karena sudah membuat seorang anak durhaka terhadap ibunya sendiri."

Raffa menggelengkan kepala dengan tegas "Tidak, aku bukan menjadi anak durhaka ra. Aku hanya berusaha mempertahankan apa yang aku miliki" jeda Raffa "sedari kecil aku selalu dituntun untuk bisa mendapatkan apa yang aku mau, sesusah itu aku mendapatkan nya maka aku juga diajarkan untuk mempertahankan dan menjaga apa yang aku miliki. Dan sampai saat ini aku masih melakukan hal yang sama, termasuk mempertahankan hubungan kita."

'Sama Fa, aku juga melakukan hal yang sama. Sadari kecil aku harus berusaha keras untuk mendapatkan apa yang aku, aku juga diajarkan untuk mempertahankan apa yang aku miliki. Bedanya jika kamu akan mendapatkan nya dengan cuma-cuma tanpa harus merasakan kerja keras yang amat melelahkan. Lihat bukankah perbedaan diantara kita sangat ketara? Wajar jika mama mu menentang hubungan dengan perbedaan kasta ini' batin Dira.

"Dir, please stay with me!"

"Kita masih bisa tetap menikah walau tanpa restu mamaku. Selagi kedua orang ayah kamu merestui kita."

Dira mengangguk dengan agak ragu, sejujurnya ia masih sangat takut dengan ancaman mama Rafa, ia takut mama nya Raffa berbuat nekat terhadap keluarga nya.

Usai kelelahan menangis, kedua mata Dira terasa amat berat untuk sekedar dibuka.

Mobil Raffa sudah sampai tepat didepan apartemen milik Dira.

Tapi dirinya masiih enggan membangunkan sang kekasih yang masih asik bergelut dalam dunia mimpi nya itu.

Dirapikan dengan perlahan anak-anak rambut nakal yang menutupi wajah cantik sang kekasih,

"Maaf. M-maafin aku by, karena ulah mamaku kamu sampai harus seperti ini. Aku janji akan terus berjuang untuk restu mama, aku yakin suatu saat nanti pasti mama akan menerima kamu, bahkan aku bisa memastikan jika mama akan sangat menyayangi kamu melebihi diriku."

Akan kah ucapan Raffa itu bisa menjadi kenyataan? Atau justru sebaliknya...

Bersambung...

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Diary Dira   ketujuh belas 🍂

    Kaki terasa berat dalam melangkah, berjalan lunglai tak tentu arah. Hari ini terasa begitu lelah, dalam menghadapi dunia yang penuh dengan drama.Tepat saat kakinya berhasil sampai di dalam apartemen. Tubuh itu langsung ambruk di lantai yang terasa dingin. Masih dengan seragam kebanggaan yang tersemat gagah dan juga koper yang senantiasa menemani dalam tiap momen duka maupun indah.Keheningan apartemen yang biasanya menenangkan, kini justru terasa menghimpit. Dira meringkuk di atas lantai dingin, menyandarkan kepalanya pada koper yang masih berdiri tegak di sampingnya—koper yang menjadi saksi bisu betapa ia telah berlari terlalu jauh, terbang terlalu tinggi, hanya untuk melarikan diri dari luka yang tak kunjung sembuh.Di atas sana, ribuan kaki di udara, ia bisa berpura-pura menjadi Dira yang tangguh, Dira yang selalu siap melayani dengan ramah, dan Dira yang tidak punya beban apa pun. Namun, begitu roda pesawat menyentuh landasan dan tugasnya usai, topeng itu retak. Schedulenya yang

  • Diary Dira   keenam belas🍂

    "kopi mulu dari tadi, Mbak," celetuk Sani yang datang membawa kukies di nampan.Dira hanya tersenyum sebagai tanggapan. Satu alisnya terangkat melihat nampan yang di bawa oleh Sani. "Kenapa kok dibalikin, San? Engga cocok sama cookiesnys?"Sani mengangguk lesu, hari ini ia mendapatkan penumpang yang lumayan rewel hingga membuat dirinya kewalahan dalam menghadapi. Maklum dirinya masih baru, dengan jam terbang yang terbilang minim. Jadi jika menghadapi penumpang seperti itu masih lumayan kaget dan butuh waktu penyesuaian."Iya, Mbak. Tadi penumpang yang kursi 4F minta diambilin cookies buat anaknya. Eh, pas udah aku anter malah dianya marah-marah gajelas lah. Katanya kukies nya engga sesuai standar yang dia mau, anaknya bisa sakit gigi kalau makan cookies ini," ucap Sani dengan raut wajah frustasi. Mengingat bagaimana penumpang tadi memaki nya saat ia mencoba memberikan penjelasan terkait cookies, atau bahkan saat ia berusaha untuk mengganti menu yang dipesan.Dira mengangguk paham. Mem

  • Diary Dira   kelima belas🍂

    Lampu kabin sudah diredupkan, sebagian penumpang sudah terlelap dalam selimut mereka. Menyisakan suara dengung pesawat yang konstan dan menenangkan. Ini adalah moment yang digunakan para kru untuk istirahat atas keriwehan penumpang yang membuat mumet.Di dekat pintu darurat R1, Dira duduk di jump sheat. Mengunci tubuh kecilnya dari lonjakan yang mungkin akan tiba. Kedua matanya terpejam, tapi tidak dengan isi kepala.Mencoba mencari ketenangan dalam hening yang melanda.Perlahan-lahan kelopak mata itu tampak bergerak. Menyisir cahaya kecil yang menusuk mata. Tangannya mulai bergerak, menyusuri isi saku untuk mencari benda pipih yang mengusik pikirannya sejak tadi.Layar itu hidup kembali, menampilkan gambar sepasang kekasih yang tersenyum dengan happy. Tanpa sadar satu sudut bibirnya terangkat, mengukir senyum miris menatap layar ponsel yang memancing sakit hati.Pelan tapi pasti, si kristal bening kembali jatuh tanpa henti. Satu tangan Dira meremas ujung seragam tanpa disadari. Rasa

  • Diary Dira   keempat belas 🍂

    Pagi itu, rintik hujan mulai turun. Mengguyur kota Jakarta yang padat tanpa kenal waktu. Suara air hujan yang bersentuhan dengan kaca, bagai sebuah ketukan dengan melodi yang kontras. Sebuah simfoni tenang yang justru memacu detak jantung tanpa kenal waktu. Di saat orang-orang dengan gencarnya menarik selimut menutupi tubuh, dengan dinginnya suhu yang menggigit tubuh. Lain halnya pula dengan Faldira Winara, sipramugari cantik yang harus segera bersiap karena penerbangan yang sudah menunggu. Rintik yang tadi malu-malu kini berupa menjadi rintik yang rapat. Menciptakan tabir air yang membungkus bandara Soekarno-Hatta. Di area parkir terbuka, sebuah sedan putih mutiara membelah genangan yang menghiasi jalan. Lampu LED nya menembus kabut tipis seperti mata pemangsa yang tajam. Mobil itu berhenti dengan halus. Snowflake White Pearl—warna bodi mobil itu tampak berkilau meskipun di bawah langit yang redup, memantulkan sisa-sisa lampu jalan yang masih menyala. Di balik kemudi, Dira menar

  • Diary Dira   ketigabelas 🍂

    Tiga hari telah berlalu. Waktu paling sulit bagi Dira mencoba untuk merangkak melewati duri-duri tajam yang menekan hulu hatinya.Getaran alarm di atas nakas kayu memaksa tubuh yang baru saja terbaring selama tiga jam itu untuk terbangun. Dira tidak langsung bangun, ia menatap langit-langit kamar selama beberapa detik. Matanya terlihat merah, pertanda jika tidurnya hanya berupa pingsan sesaat.Satu tangan terulur mematikan alarm dengan gerakan mekanis. Tidak ada helah napas, tidak ada keluhan, Ia langsung bangkit duduk di tepi ranjang. Membiarkan kaki jenjangnya menyentuh dinginnya lantai.Tubuhnya terasa ringan bagai sebuah kapas, sedangkan kepalanya terasa seperti timah.Menghabiskan waktu beberapa menit untuk membersihkan diri, kini Dira telah duduk dimeja rias dengan lampu lighting yang menyala. Mengekspos tiap detail kehancuran diwajahnya.Lingkar hitam dibawah matanya terlihat jelas, kulit dan bibir yang pucat transparan. Tangan Dira bergerak mengambil botol concealer. Dengan ge

  • Diary Dira   keduabelas 🍂

    "Beneran Mbak?" Terdengar ada keraguan dari Doni."Iya Ayah. M.bak beneran engga apa-apa kok.""Kalau ada apa-apa cerita sama Ayah ya mbak! jangan apa-apa itu disimpen sendiri. Cerita sama Ayah, biar hatinya sedikit tenang."DammPerkataan sang ayah seperti sebuah palu yang memukul paksa hatinya. Dalam hatinya, beribu maaf dilontarkan Dira atas kebohongan yang terpaksa ia sembunyikan."Iya Ayah, pokoknya ayah tenang aja. Mbak baik-baik aja kok, kalaupun mbak ada masalah pasti Mbak bakal langsung cerita ke arah," cengir Dira"Oh iya Mbak, ngomong-ngomong kabar nya Raffa gimana?"DegNama itu disebut, Dira memejamkan mata rapat-rapat. Membiarkan satu tetes air mata jatuh tanpa suara."Soalnya kemarin itu Ayah sempet telpon, tapi engga dijawab sama dia. Biasanya kalau telpon Ayah engga dijawab dia bakal langsung ngewhatsap Ayah, tapi ini tumbenan."Dira tertawa pelan"ya iyalah dia engga jawab telpon ayah. Kan sekarang dia lagi sibuk ngurusin acara pernikahannya.""Ada apa mbak?""Egh eng

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status