Home / Romansa / Diary Dira / ketiga🍂

Share

ketiga🍂

Author: Dillah_whj
last update publish date: 2026-03-18 22:50:54

Menikmati sejenak hari libur yang cukup menghibur dirinya,

Saat ini Dira sudah harus kembali pada rutinitas awalnya yang ditemani oleh padatnya skeju terbang serta beberapa acara seminar peluncuran buku terbaru nya yang akan dilaksanakan minggu ini.

Melirik jadwal yang sudah tersusun rapi pada catatan ipad nya itu membuat Dira memijat pelipis nya pusing,

Jujur saja tubuh nya benar-benar merasa lelah dengan skeju yang amat padat ini, tapi disisi lain Dira juga bisa merasa senang melakoni pekerjaan yang sedang ia lakukan. Entah lah terkadang Dira juga merasa bingung dengan kemauan dirinya sendiri ini.

"Mbak udah siap? Mobil udah nunggu di loby nih" teriakan dari Wita yang terdengar diruang Tv, membuat Dira segera bergegas untuk mengunci isi kopernya

"Iya sebentar... "

"Udah siap semua? Enggak ada yang ketinggalan lagi kan? " tanya Dira sambil tangannya merapikan sedikit tas yang tengah dipakai

"Enggak ada sih kayaknya" jawab Wita pelan dengan raut seperti tengah berpikir

"Oh ya ampun astagfirullah" Wita spontan melompat dari atas sofa, dan berlari dengan gesit untuk menuju apartemen miliknya.

Melihat hal itu Dira hanya bisa geleng-geleng kepala, tak heran dengan tingkah ceroboh nan pelupa adik angkat nya itu.

Sesampainya di loby Dira dan Wita sudah disambut oleh kedatangan kurir makanan yang menyapa keduanya

"Ini dengan mbak Dira"

"Iya benar pak"

"Ini saya mau nganter makanan atas nama mbak Dira. Pengiriman dari mas Raffa"

Dira tersenyum salah tingkah sambil tangannya menerima paper bag yang berisi makanan dari sang pacar itu,

"Terimakasih ya pak"

"Sama-sama mbak"

Gemas melihat tingkah mbaknya yang salah tingkah itu membuat Wita mengoda Dira dengan menyenggol bahu Dira.

"Cie yang pagi-pagi udah dikasih asupan sama ayangnya, apalah diri ini yang sama sekali gak punya ayang jadi gak pernah dapet asupan pagi deh"

Dira tak menghiraukan godaan Wita, dirinya lebih memilih memeriksa pesan masuk yang ternyata dari sang pacar tercinta.

Mas Raffa ❤

⬤ Assalamu'alaikum bidadariku

⬤ sudah terima sarapannya? Maaf yah aku gk bsa nganter lngsung, soalnya ad patroli ddakn

⬤ smga suka dngn srapan nya yah, slmat beraktivitas cantik 😘. Semangat menjalani hari ini 🥰❤

Dira tak tahan untuk tidak tersenyum lebar, rasanya ada ribuan kupu-kupu yang tengah menggelitik perutnya saat ini.

Pesan singkat yang dikirim Raffa benar-benar seakan menjadi vitamin untuk menambah stamina nya dalam menjalani hari yang lumayan berat ini,

Diketik nya pesan balasan sebagai ucapan terimakasih atas upaya sang kekasih yang selalu memberikan kesan romantis untuk nya.

Pangggilan dari Wita untuk segera masuk kedalam mobil membuat Dira mengurungkan niatnya untuk mengetikan pesan lagi,

"YaAllah hamba tak tahu apakah yang ini benar akan menjadi suami hamba kelak atau justru ia lah yang akan menjadi sumber patah hati terbesar hamba. Tapi satu hal yang hamba minta, apapun yang terjadi kelak tolong berikan kelapangan pada hati hambamu ini" guman Dira

"Mbak bawa bekalnya kan? Siniin aku mau sarapan" menerima tas bekal dari Dira, tanpa berlama-lama lagi Wita langsung menyantap isian bekal yang memang sudah disiapkan Dira untuk mereka berdua.

"Karena mbak udah dapet sarapan dari mas ayang nya, sekarang nih bekal untuk aku semuaaa" ucap Wita dengan mulut penuh makanan.

"Selamat menikmati cantik, aku berharap suapan demi suapan bubur ini seakan kamu bisa merasakan rasa cinta aku yang luar biasa" Wita membaca tulisan yang terlampir dikotak bubur

"Hmm agak alay campur romantis ya ceritanya bund" ledek Wita kembali menyuapkan nasi kedalam mulutnya.

✜»✜«✜»✜«✜»✜«✜»✜

"Eh maaf-maaf mas--" akibat terburu menuju Garuda Operating Center Dira tak memperhatikan jalannya hingga tak sengaja menabrak orang.

Merasa bersalah akan kecerobohan nya, Dira ikut berjongkok membantu lelaki yang ditabraknya tadi untuk membereskan barang-barangnya yang jatuh dilantai.

"Biar saya saja" kata lelaki itu

"Tidak apa-apa mas, saya yang salah karena tidak sengaja nabrak tadi"

Kedua nya sama-sama akan bangkit hingga tak sengaja membuat kontak mata keduanya terjadi.

Sama-sama terpaku mengagumi manik mata indah yang dimiliki,

"Permisi" kata lelaki itu yang membuat Dira tersadar dari lamunannya,

Masih ditempat, Dira memperhatikan sosok tadi yang mulai menghilang dibalik ramai nya orang-orang yang berlalu lalang.

"Matanya seperti engga asing" guman Dira

Getaran pada saku bajunya membuat Dira tersadar jika ia saat ini sudah terlambat.

"Sebelum memulai mari sama-sama kita berdoa agar perjalanan kita hari ini mendapatkan kelancaran dan perlindungan dari yang maha kuasa" Dira sebagai seorang purser mengkordinat para awak kabin sebelum mereka bersiap menyambut para penumpang

"Mbak kenapa? " sebuah pertanyaan dilontarkan Wita pada saat sebagian awak kabin sudah mulai bersiap memulai pekerjaannya

Raut wajah Dira tampak bingung, pasalnya ia merasa tidak ada yang salah dengan dirinya.

Seakan mengerti dengan raut wajah Dira, lantas Wita pun kembali berkata "Mbak dari tadi keliatan gak tenang, seperti ada yang dipikirin. Mbak lagi tengkar sama mas Raffa? Eh tapi ndak mungkin deh wong tadi masih romantisan kok"

"Udah akh Wit, kamu ini ngomong apa sih. Mbak gapapa, mbak juga gak lagi tengkar kok"

"Tapi mbak___"

"Udah ayo buruan kesana, gak enak sama yang lainya"

~Astagfirulla, apa aku ketara banget ya kepikiran soal lelaki yang tadi~

Sial, salahnya lelaki tadi wajahnya tertutup oleh masker. Hanya bagian mata nya saja yang terlihat.

Hal itu lh yang membuat Dira sampai sepenasaran ini.

Flashback on :

Rintik hujan mulai turun dan membasahi padatnya kota Jakarta pada malam itu,

Jam pulang kerja dengan kemacetan yang tak pernah redah ditambah guyuran hujan yang tengah melanda seakan menjadi sebuah perhiasan yang sakit dilihat dengan mata.

"Meong meong meong" suara cicitan kucing yang meminta sebuah pertolongan sejenak, bahkan sudah tak dihiraukan oleh para orang-orang yang berlalu lalang untuk menyelamatkan tubuh agar tak tersentuh air hujan setetes pun.

Kucing itu mendongakkan kepalanya keatas, menatap langit malam yang gelap dengan rintihan air hujan yang tengah turun,

Semenyedihkan ini kah takdir nya?

"Yaampun kamu kenapa disini sendiri push, astaga kasian banget pasti kamu kedinginan"

Sang kucing mendongak kembali keatas, menatap sosok gadis cantik dihadapannya yang dengan sedia memayungi kepalanya agar tak kembali tertetesan air hujan.

"Meong meong"kucing itu seakan merasa senang dengan kehadiran gadis cantik dengan surai rambut panjang yang terbentang hingga pinggulnya,

Apakah ini sosok malaikat yang dikirimkan Tuhan untuk melindunginya~ Batin kucing itu,

Gadis itu bahkan tak sadar jika saat ini guyuran air hujan itu sudah mengenai nya,

Ia lebih memilih melindungi kucing itu dari air hujan.

" setidaknya jika ingin menolong seseorang, pikir kan dirimu lebih dahulu"

Gadis itu terpelonjak kaget mendengar suara orang lain yang juga ada ditempat itu,

Terlebih tiba-tiba saja ada sesosok lelaki dengan tubuh tegap berdiri dihadapannya lengkap dengan payung yang ia pegang.

"Maaf-- anda siapa? "

Jangan berpikir jika sang gadis dan lelaki itu akan berkenalan setidaknya tentang nama,

Yang terjadi usai itu justru, sang gadis pergi berlari mengejar kucing yang tadi ia lindungi. Tanpa mengucapkan kata terimakasih pada orang yang memayungi nya tadi.

"Dasar gadis aneh"

Flashback off:

⬤saya dngr u diyogya

⬤ayo brtmu

Guratan kebingungan jelas tampak diwajah Ayu dari Dira.

Membaca sekilas pesan singkat yang dikirimkan oleh mamah Raffa.

Oh ayolah bahkan tubuh nya sudah lelah usai penerbangan panjang hari ini. Ditambah harus bertemu dengan mamah Raffa yang pasti akan menguras tenaga nya yang sudah habis ini.

Ingatan Dira terbawa pada pertemuan keduanya terakhir kali, saat itu mamah Raffa benar-benar menguji mental, tenaga bahkan kesabarannya.

Tolong berikan pujian kepada Dira karena walaupun semuanya tengah diuji oleh nenek sihir cantik yang nyatanya ibu sang pacar,

Dira masih tetap menunjukkan sikap sopan nya.

⬤InsyaAllah tante

"Mbak ikut gak diajak jalan-jalan keluar sama yang lain? "

Dira meletakkan ponsel nya, dan beralih menyambar handuk didalam koper. Setidaknya ia harus merendam dirinya untuk menghilangkan segala beban walaupun hanya sesaat.

"Enggak deh dek, mbak mau istirahat dulu"

"Kan pergi nya nanti mbak, habis magrib"

Dira berpikir sejenak "enggak deh, kalian aja. Mbak juga udah terlanjur ada janji"

"Okey deh kalau gitu" tanggap Wita memberikan jempol.

****

Np: tolong tingalkan vote and komentar nya ya guys!!

Maafkan typo yang masih bertebaran dimana-mana

Oke see you next time....

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Diary Dira   kelima🍂

    Masih dengan kacamata hitam di hidung bangirnya, kedua kaki jenjang itu melangkah keluar dari restoran yang menjadi tempat Kramat dalam sejarah hidupnya.Pandangannya terlihat kabur, penuh dengan genangan butiran kristal yang dalan kedipan akan luluh begitu saja.Kamlimat demi kalimat dari wanita ular yang sayangnya adalah ibu dari orang yang pernah menjadi bagian hidupnya itu teringat jelas tanpa celah. Bagaimana tiap bait kata yang keluar sungguh menghujam hatinya dengan ribuan belati yang menancap tanpa melesat sedikit pun.Jika didalam sana tadi, ia terlihat tetap datar dalam membalas tiap perbuatan yang diterima. Lain halnya jika sekarang ini.Dibawah rintik hujan yang membasahi bumi, kaki itu tetep melangkah tak tau arah. Hujan turun semakin deras, seakan saat ini semesta juga mengambil andil atas sakit yang dialaminya.Bagaimana mungkin? Bagaimana mungkin ini semua terjadi? Kalimat itu selalu ia tanyakan pada dirinya sendiri.Kenapa pertunangan itu terjadi? Ralat kenapa ia meng

  • Diary Dira   ke empat

    Sore ini adalah sore yang berbeda bagi Dira. Sebuah moment dimana ia akan kembali bertemu dengan ibu dari sang kekasih tercinta. Wanita paruh bayah yang selalu menatap tak suka kepada Dira setelah mengetahui fakta bahwa ia bersanding dengan anaknya tercinta. Rasa gugup tentu saja tak bisa Dira tutupi begitu saja, terlihat sedari tadi gadis cantik dengan lesung pipi diwajahnya itu berulang-ulang kali melihat penampilan nya melalui layar ponsel yang menyala. Oh ayolah Dira, sebagus apapun penampilan mu hal itu tak akan membuat ibunda Raffa itu untuk menyukai nya. Yahh semoga saja kali ini keberuntungan berpihak padanya. Ekor mata Dira melirik kembali pada jam yang melingkar pada pergelangan tangan, jarum kecil jam itu sudah menunjukkan tepat pukul 17.15 WIB, yang artinya wanita paruh bayah itu terlambat datang untuk waktu yang sudah mereka tetapkan. Baru saja Dira akan beranjak pergi, wanita paruh baya yang sedari tadi ia tunggu akhirnya tiba juga. "Sorry Dira, ada beberapa hal p

  • Diary Dira   ketiga🍂

    Menikmati sejenak hari libur yang cukup menghibur dirinya, Saat ini Dira sudah harus kembali pada rutinitas awalnya yang ditemani oleh padatnya skeju terbang serta beberapa acara seminar peluncuran buku terbaru nya yang akan dilaksanakan minggu ini. Melirik jadwal yang sudah tersusun rapi pada catatan ipad nya itu membuat Dira memijat pelipis nya pusing, Jujur saja tubuh nya benar-benar merasa lelah dengan skeju yang amat padat ini, tapi disisi lain Dira juga bisa merasa senang melakoni pekerjaan yang sedang ia lakukan. Entah lah terkadang Dira juga merasa bingung dengan kemauan dirinya sendiri ini. "Mbak udah siap? Mobil udah nunggu di loby nih" teriakan dari Wita yang terdengar diruang Tv, membuat Dira segera bergegas untuk mengunci isi kopernya "Iya sebentar... " "Udah siap semua? Enggak ada yang ketinggalan lagi kan? " tanya Dira sambil tangannya merapikan sedikit tas yang tengah dipakai "Enggak ada sih kayaknya" jawab Wita pelan dengan raut seperti tengah berpikir "Oh

  • Diary Dira   kedua🍂

    Tangan Dira dengan cekatan meraih slingbag yang tergantung didalam lemari khusus tas milik nya. Dipoles nya sedikit lip cream untuk menambahkan kesempurnaan pada make up tipis yang sudah melekat pada wajahnya. "Loh mbak mau kemana? " tanya Wita yang baru saja tiba didalam kamar"Urusan orang gede" jawab Dira tersenyum geliAlis Wita terangkat sebelah "Dih, bilang aja yang mau ngedate" cibir Wita seraya merebahkan tubuh nya diatas sofa kamar Dira "Nanti kalau mau balik kunciin apartemen nya ya dek" pesan Dira sebelum ia benar-benar melangkah pergiWita hanya mengacungkan jempol sebagai tanggapan, usai itu gadis Jawa asal Solo itu sudah berkelana didalam dunia mimpinya. Dira sampai geleng-geleng kepala melihat tingkah adik angkat nya itu yang segampang itu terlelap dalam tidur, tak perduli ditempat apa ia tengah berada. Saat baru saja akan melangkah masuk kedalam lift, Raffa baru saja mengirimkan sebuah pesan mengenai dirinya yang sudah tiba di basement apartemen milik Dira. "I'

  • Diary Dira   Awal 🍂

    "Selamat malam. Seat berapa bapak?" Dira tersenyum ramah pada pria paruh bayah dengan setelan jas formal yang seperti nya tengah kebingungan mencari no tempat duduknya. "3F, mbak" "3F window seat di sebelah kiri. Mari saya antarkan" Pria tadi ikut berjalan dibelakang Dira untuk mencari tempat duduknya, Setibanya ditempat, Dira langsung mempersilahkan penumpang nya itu untuk segera duduk. "Terimakasih banyak mbak" ulas sang penumpang dengan senyuman lega Dira mengangguk dan tersenyum hangat membalas ulasan dari penumpang nya itu. Selanjutnya Dira segera kembali ke galery depan. Ada ratusan penumpang lagi yang harus ia sambut dengan ramah tamah, Sebenarnya secara spesifik ada 11 penumpang lagi yang harus ia tunggu, sebab pada hari ini Dira mendapat tanggungjawab 12 orang penumpang kelas bisnis. Faldira Winara, nama yang tersemat dalam name tag didada sebelah kirinya itu. Pramugari senior yang berkandang di business class dan telah mengudara selama sembilan tahun. Hamp

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status