LOGINTiga hari telah berlalu. Waktu paling sulit bagi Dira mencoba untuk merangkak melewati duri-duri tajam yang menekan hulu hatinya.Getaran alarm di atas nakas kayu memaksa tubuh yang baru saja terbaring selama tiga jam itu untuk terbangun. Dira tidak langsung bangun, ia menatap langit-langit kamar selama beberapa detik. Matanya terlihat merah, pertanda jika tidurnya hanya berupa pingsan sesaat.Satu tangan terulur mematikan alarm dengan gerakan mekanis. Tidak ada helah napas, tidak ada keluhan, Ia langsung bangkit duduk di tepi ranjang. Membiarkan kaki jenjangnya menyentuh dinginnya lantai.Tubuhnya terasa ringan bagai sebuah kapas, sedangkan kepalanya terasa seperti timah.Menghabiskan waktu beberapa menit untuk membersihkan diri, kini Dira telah duduk dimeja rias dengan lampu lighting yang menyala. Mengekspos tiap detail kehancuran diwajahnya.Lingkar hitam dibawah matanya terlihat jelas, kulit dan bibir yang pucat transparan. Tangan Dira bergerak mengambil botol concealer. Dengan ge
"Beneran Mbak?" Terdengar ada keraguan dari Doni."Iya Ayah. M.bak beneran engga apa-apa kok.""Kalau ada apa-apa cerita sama Ayah ya mbak! jangan apa-apa itu disimpen sendiri. Cerita sama Ayah, biar hatinya sedikit tenang."DammPerkataan sang ayah seperti sebuah palu yang memukul paksa hatinya. Dalam hatinya, beribu maaf dilontarkan Dira atas kebohongan yang terpaksa ia sembunyikan."Iya Ayah, pokoknya ayah tenang aja. Mbak baik-baik aja kok, kalaupun mbak ada masalah pasti Mbak bakal langsung cerita ke arah," cengir Dira"Oh iya Mbak, ngomong-ngomong kabar nya Raffa gimana?"DegNama itu disebut, Dira memejamkan mata rapat-rapat. Membiarkan satu tetes air mata jatuh tanpa suara."Soalnya kemarin itu Ayah sempet telpon, tapi engga dijawab sama dia. Biasanya kalau telpon Ayah engga dijawab dia bakal langsung ngewhatsap Ayah, tapi ini tumbenan."Dira tertawa pelan"ya iyalah dia engga jawab telpon ayah. Kan sekarang dia lagi sibuk ngurusin acara pernikahannya.""Ada apa mbak?""Egh eng
Pagi itu datang tanpa permisi. Membawa cahaya sang mentari untuk menyelinap tanpa permisi. Rasa silau yang berpantulan dengan matanya yang sembab, memancing rasa sakit tanpa insyarat.Dira terbangun dengan perasaan berat. Seakan ada beton yang menindih dada dan kepalanya. Napasnya terdengar berat, menandakan rasa sakit yang teramat luar biasa yang tengah ia rasakan.Kepalanya mendongak keatas, menatap langit-langit kamar yang dipenuhi oleh para bintang-bintang yang tak bersinar saat siang. Mencoba menghalau air mata yang sudah menggenang di pelupuknya, menahan agar sibening kristal tak lagi jatuh."Ayo, Dira! lo pasti bisa lewati ini semua. Lo engga boleh nyerah sama keadaan, mungkin benar apa yang dibilang Meka. Ini adalah cara terbaik Tuhan agar lo bisa dapat yang benar-benar nerima semua kekurangan yang lo miliki."Yahh, mungkin ini akan menjadi rutinitas baru bagi Dira dipagi hari. Ia akan memberikan dorongan semangat pada dirinya sendiri agar tidak menyerah pada badai yang tengah
Udara apartemen terasa pengap saat itu. Seakan mengetahui kesedihan dari sang pemilik yang tengah hancur tak berarti. Padahal hujan deras tengah mengguyur kota, tapi seakan tak dapat mengusir rasa pengap dari ruangan itu. Diruang tv yang selalu dipenuhi kehangatan. Kini, berganti menjadi rasa hampa yang tiba-tiba saja datang. Kembali moment-moment yang selalu terukir dalam ruangan ini berputar dengan sendirinyaa. Seakan tengah mengejek Dira atas kebenaran yang tersembunyi dibalik hal indah berselubung dusta. Pandangan mata Dira masih tetap sama, menatap kosong pada arah balkon yang sudah basah akibat diguyur hujan. Beribu kali nuraninya berkata bahwa ini hanyalah upaya wanita tua itu untuk mematahkan hatinya agar mundur dari hubungan miliknya sendiri. Akan tetapi kembali otaknya berusaha untuk menyadarkan bahwa ini adalah memang benar kebenaran yang ada. Matanya sempat melirik sebentar pada ponsel yang masih setia berada didalam tas. Sempat berpikir untuk menghubungi Raffa. Mem
Masih dengan kacamata hitam di hidung bangirnya. Kedua kaki jenjang itu melangkah keluar dari restoran yang menjadi tempat Kramat dalam sejarah hidupnya. Pandangannya terlihat kabur, penuh dengan genangan butiran kristal yang dalan kedipan akan luluh begitu saja. Kalimat demi kalimat dari wanita ular yang sayangnya adalah ibu dari orang yang pernah menjadi bagian hidupnya itu, teringat jelas tanpa celah. Bagaimana tiap bait kata yang keluar sungguh menghujam hatinya dengan ribuan belati yang menancap tanpa melesat sedikit pun. Jika didalam sana tadi. Ia terlihat tetap datar dalam membalas tiap perbuatan yang diterima. Lain halnya jika sekarang ini. Dibawah rintik hujan yang membasahi bumi, kaki itu tetep melangkah tak tau arah. Hujan turun semakin deras, seakan saat ini semesta juga mengambil andil atas sakit yang dialaminya. Bagaimana mungkin? bagaimana mungkin ini semua terjadi? kalimat itu selalu ia tanyakan pada dirinya sendiri. Kenapa pertunangan itu terjadi? ralat, kenapa i
Satu gelas americano sudah berpindah tempat diwajah Arna. "K-kamuu," tunjuk Arana "berani sekali kamu menyiram saya!" hardik Arna "Memang nya tante siapa? sampai saya harus takut? Sedari tadi saya berusaha untuk tetap bersikap sopan kepada tante. Tapi apa yang tante lakuin? Tante justru semakin injak-injak harga diri saya. Tante hina keluarga saya, bahkan dengan mulut sampah Tante itu berani sekali menghina ibu saya!" geram Dira. Katakanlah saat ini Faldira sudah kehilangan tata krama nya terhadap orang yang lebih tua. Persetan dengan itu semua, yang terpenting ia bisa melampiaskan amarahnya terhadap kelakuan wanita tua ini. "Saya tau kok tante. Saya cuman orang kampung yang tidak tahu diri dengan memiliki hubungan bersama anak Tante yang level nya diatas saya. Saya sadar itu kok. Tapi perlu Tante ingat lagi anak Tante yang mengejar saya, bukan saya yang mengejar anak Tante." "Masalah tata krama yang diajarkan orang tua saya. Seperti nya Tante salah besar terhadap itu. Justru ora







