Home / Romansa / Diary Dira / Awal 🍂

Share

Diary Dira
Diary Dira
Author: Dillah_whj

Awal 🍂

Author: Dillah_whj
last update publish date: 2026-03-18 22:47:57

"Selamat malam. Seat berapa bapak?" Dira tersenyum ramah pada pria paruh baya dengan setelan jas formal yang seperti nya tengah kebingungan mencari no tempat duduknya.

"3F, Mbak."

"3F window seat di sebelah kiri. Mari saya antarkan."

Pria tadi ikut berjalan dibelakang Dira untuk mencari tempat duduknya.

Setibanya ditempat, Dira langsung mempersilahkan penumpang nya itu untuk segera duduk.

"Terimakasih banyak mbak," ulas sang penumpang dengan senyuman lega.

Dira mengangguk dan tersenyum hangat membalas ulasan dari penumpang nya itu.

Selanjutnya Dira segera kembali ke galley depan. Ada ratusan penumpang lagi yang harus ia sambut dengan ramah tamah.

Sebenarnya secara spesifik ada 11 penumpang lagi yang harus ia tunggu, sebab pada hari ini Dira mendapat tanggungjawab 12 orang penumpang kelas bisnis.

Faldira Winara, nama yang tersemat dalam name tag didada sebelah kirinya itu.

Pramugari senior yang berkandang di business class dan telah mengudara selama sembilan tahun.

Hamparan gunung Sahara adalah wujud prestasinya yang mentereng. Cabin one- atau bahasa gampang nya adalah pimpinan pramugari dalam suatu penerbangan-sejak beberapa tahun belakangan. Bukan main-main perjuangan dari gadis asal Sumatra itu untuk bisa sampai diposisi tersebut, banyak hinaan serta cacian yang turut membarengi beliau untuk mengukir prestasi yang akhirnya bisa menjulang gemulang itu.

"Mama kangen banget loh sama mbak Dira," ucap Wita tatkalah Dira yang baru saja mendudukkan bokongnya itu tepat disebelah gadis asal Solo itu.

Dira tersenyum kecil mendengar ungkapan Wita, oh ayolah tolong ingatkan Dira jika ia masih punya ibu angkat yang bawelnya melebihi ibu kandung. Saat ia beberapa kali dalam waktu libur tidak berkunjung.

"Kamu kan tau ta, mbak waktu hari libur dibuat sibuk buat ngejar target deadline dari penerbit."

Satu hal lagi teman-teman, Faldira Winara pramugari senior yang memiliki senyuman ramah itu nyatanya bukan hanya menggeluti satu bidang profesi saja, melainkan tiga sekaligus.

Ditengah-tengah kesibukannya mengudara, Dira masih bisa sempat-sempatnya mencari sampingan sebagai seorang penulis novel dan juga konten kreator dibeberapa sosial media. Jadi tak heran jika nama gadis asal Sumatra itu tak hanya terkenal didunia penerbangan saja, melainkan didunia maya juga tentunya.

"Nah itu makanya mbak, aku juga udah ngomong gitu ke mama. Tapi kan mbak tahu sendiri mama orang nya gimana. Aku aja yang anak kandung berasa jadi anak angkat nya tau gak mbak, kayaknya ya kita ini ketuker deh mbak sebenarnya. Aku yang anak angkat trus mbak Dira yang anak kandung nya mama."

Dira tertawa geli mendengar asumsi tak masuk akal dari Wita,

Bagaimana bisa ceritanya mereka tertukar? Sedangkan ia saja lahir dan besar dipulau Sumatra, lain halnya dengan Wita yang lahir dan besar dipulau Jawa.

Tanpa sadar penerbangan pada malam itu berlalu begitu cepat, hingga mereka bisa sampai ketempat tujuan dengan menempuh waktu 2 jam 30 menit dan ketinggian 40.000 kaki diatas permukaan laut.

Alhamdulillah nya landing kali ini berjalan dengan lancar.

Tanpa sadar sang pilot sudah mengumumkan ketimbaan mereka di bandara internasional Soekarno-Hatta.

Usai memastikan para penumpang bisa turun dengan tenang, Dira segera menemui para junior nya untuk memeriksa kesiapan pekerjaan mereka.

"Terimakasih atas kerja samanya pada hari ini.Selamat beristirahat untuk kita semua, dan sampai bertemu di esok hari," petuah Dira mengakhiri sesi pertemuan mereka.

Akhirnya waktu jam kerja telah berakhir, dengan langkah bergegas Dira menyeret koper bawaannya untuk menuju parkiran tepat dimana taksi pesanannya sudah menunggu disana.

"Maaf Pak karena sudah menunggu," ucap Dira saat supir taksi itu keluar untuk membantunya memasukkan koper.

"Maaf Pak tolong tangannya--" peringai Dira saat sang supir taksi dengan lancang menarik tangannya

"Pakk!" bentak Dira geram atas ulah sang supir yang masih tetep menarik tangannya

"Mas Raffa!" pekik Dira dengan ekpresi wajah kaget

Raffa yang menyamar sebagai supir taksi itu lantas membuka topi yang sedari tadi ia pakai untuk menutupi wajahnya itu.

Kedua tangan Raffa sudah terentang, oh yah jangan lupakan dengan senyuman manis dan menawan yang selalu membuat seorang Faldira Winara sampai kesem-seman.

"Tidak rindu dengan ku? " tanya Raffa disaat Dira yang tak kunjung membalas rentangan tangannya itu

Dira menggeleng kan kepala seraya tersenyum, detik selanjutnya ia langsung menghamburkan pelukan kepada Raffa.

Rasa rindu campur kesal benar-benar tengah menguasai hatinya saat ini.

Ia rindu karena sudah dua minggu menjalani hubungan jarak jauh dengan sang kekasih, serta rasa kesal karena Raffa yang jarang sekali menghubungi nya disaat sesi LDR mereka itu,

Dan nyatanya tahu-tahu Raffa datang dengan menyamar sebagai supir taksi.

"Hampir saja aku mau patahin tangan kamu, karena aku pikir supir taksi yang sudah kurang ajar sama aku."

Raffa terkekeh geli mendengar nya, tangan nya mengurai pelukan mereka dan beralih untuk merapikan sedikit anak rambut Dira yang berantakan.

"Sory honey."

"Enggak mau, pokoknya aku ngambek sama kamu!" kedua pipi Dira menggembung yang membuat Raffa gemas sendiri.

"Terus kemana aja kamu selama ini? jarang kasih kabar ke aku. Apa jangan-jangan kamu disana ganjen sama cewe-cewe disana sampai lupa sama pacar nya sendiri," Dira menjeda omelan nya untuk menarik napas "terus apa lagi coba ini datang-datang malah pakek nyamar jadi supir taksi segala, kamu ini bikin aku kesel tau gak? Pokoknya sekarang aku ngambek sama kamu, enggak mau ngomong sama kamu lagi."

Tangan Raffa mengelus lembut kedua pipi mulus Dira, lalu tangan nya meraih tangan Dira untuk dikecup dengan hangat

"Sory honey, mana mungkin aku berani lirik cewe lain sedangkan pacar aku sendiri lebih cantik dari apapun. Untuk masalah engga bisa ngehubungin karena disana aku benar-benar enggak ada waktu buat megang ponsel. Maafin aku ya," ucap Raffa tersenyum.

"Hmm, trus kenapa bisa nyamar jadi supir taksi segala?" mata Dira memicing.

"Kalau itu rahasia," senyum Raffa yang membuat Dira gemas untuk melemparkan pukulan pada dada bidang sang pacar.

"Ngeselin banget sih pakai acara rahasiaan segala!"

Raffa menghentikan tawa nya, kemudian pandangan menatap pokus kearah Dira yang membuat gadis itu sampai salah tingkah.

"By coba kamu tutup mata sebentar"

"Mau ngapain?" tanya Dira dengan raut wajah penasaran nya itu

Teman-teman tolong ingatkan Raffa untuk tidak khilaf melihat tingkah menggemaskan pacarnya itu.

Dira menurut untuk menutup kedua matanya itu "lama lagi gak sih mas? Aku udah penasaran banget nih."

Raffa terkekeh geli melihat kelakuan sang pacar yang katanya sudah penasaran tapi justru melakukan hal curang dengan mengitip dari sela-sela jarinya itu.

"Udah boleh dibuka?"

"Belum, tunggu dua windu lagi."

"Iss kelamaan! kamu mau buat tangan aku patah sampai harus nunggu dua windu buat buka nih mata."

"Kamu kok lucu banget sih by."

"Aku buka yaa!"

1

2

3

"Suprise.... Selamat ulang tahun pretty.

Semoga hari istimewa ini membawa kebahagiaan berlimpah dan kenangan berharga. I wanted to give you all my love for your birthday, but there's no box big enaugh to hold it. Happy birthday honey."

Kedua tangan Dira sudah berada ditangan, menutup mulutnya yang pasti saat ini sudah menganga karena reflek dengan suprise yang dilakukan Raffa saat ini.

Tanpa sadar kedua mata Dira saat ini sudah berkaca-kaca, rasa haru benar-benar mendominasi hatinya saat ini.

Langit malam dengan taburan bintang diangkasa seakan menjadi penambah kesan keromantisan yang diciptakan oleh Raffa padanya saat ini.

"Mas--" cicit Dira tak sanggup untuk melanjutkan perkataan nya lagi

"Maaf belum bisa jadi apa yang kamu inginkan selama ini honey."

Lihat sungguh merendah sekali sifat dari kekasih nya Dira itu.

"Ayo silakan berdoa atas satu tahun lebih tua ini!" tutur Raffa tersenyum hangat.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Diary Dira   ketujuh belas 🍂

    Kaki terasa berat dalam melangkah, berjalan lunglai tak tentu arah. Hari ini terasa begitu lelah, dalam menghadapi dunia yang penuh dengan drama.Tepat saat kakinya berhasil sampai di dalam apartemen. Tubuh itu langsung ambruk di lantai yang terasa dingin. Masih dengan seragam kebanggaan yang tersemat gagah dan juga koper yang senantiasa menemani dalam tiap momen duka maupun indah.Keheningan apartemen yang biasanya menenangkan, kini justru terasa menghimpit. Dira meringkuk di atas lantai dingin, menyandarkan kepalanya pada koper yang masih berdiri tegak di sampingnya—koper yang menjadi saksi bisu betapa ia telah berlari terlalu jauh, terbang terlalu tinggi, hanya untuk melarikan diri dari luka yang tak kunjung sembuh.Di atas sana, ribuan kaki di udara, ia bisa berpura-pura menjadi Dira yang tangguh, Dira yang selalu siap melayani dengan ramah, dan Dira yang tidak punya beban apa pun. Namun, begitu roda pesawat menyentuh landasan dan tugasnya usai, topeng itu retak. Schedulenya yang

  • Diary Dira   keenam belas🍂

    "kopi mulu dari tadi, Mbak," celetuk Sani yang datang membawa kukies di nampan.Dira hanya tersenyum sebagai tanggapan. Satu alisnya terangkat melihat nampan yang di bawa oleh Sani. "Kenapa kok dibalikin, San? Engga cocok sama cookiesnys?"Sani mengangguk lesu, hari ini ia mendapatkan penumpang yang lumayan rewel hingga membuat dirinya kewalahan dalam menghadapi. Maklum dirinya masih baru, dengan jam terbang yang terbilang minim. Jadi jika menghadapi penumpang seperti itu masih lumayan kaget dan butuh waktu penyesuaian."Iya, Mbak. Tadi penumpang yang kursi 4F minta diambilin cookies buat anaknya. Eh, pas udah aku anter malah dianya marah-marah gajelas lah. Katanya kukies nya engga sesuai standar yang dia mau, anaknya bisa sakit gigi kalau makan cookies ini," ucap Sani dengan raut wajah frustasi. Mengingat bagaimana penumpang tadi memaki nya saat ia mencoba memberikan penjelasan terkait cookies, atau bahkan saat ia berusaha untuk mengganti menu yang dipesan.Dira mengangguk paham. Mem

  • Diary Dira   kelima belas🍂

    Lampu kabin sudah diredupkan, sebagian penumpang sudah terlelap dalam selimut mereka. Menyisakan suara dengung pesawat yang konstan dan menenangkan. Ini adalah moment yang digunakan para kru untuk istirahat atas keriwehan penumpang yang membuat mumet.Di dekat pintu darurat R1, Dira duduk di jump sheat. Mengunci tubuh kecilnya dari lonjakan yang mungkin akan tiba. Kedua matanya terpejam, tapi tidak dengan isi kepala.Mencoba mencari ketenangan dalam hening yang melanda.Perlahan-lahan kelopak mata itu tampak bergerak. Menyisir cahaya kecil yang menusuk mata. Tangannya mulai bergerak, menyusuri isi saku untuk mencari benda pipih yang mengusik pikirannya sejak tadi.Layar itu hidup kembali, menampilkan gambar sepasang kekasih yang tersenyum dengan happy. Tanpa sadar satu sudut bibirnya terangkat, mengukir senyum miris menatap layar ponsel yang memancing sakit hati.Pelan tapi pasti, si kristal bening kembali jatuh tanpa henti. Satu tangan Dira meremas ujung seragam tanpa disadari. Rasa

  • Diary Dira   keempat belas 🍂

    Pagi itu, rintik hujan mulai turun. Mengguyur kota Jakarta yang padat tanpa kenal waktu. Suara air hujan yang bersentuhan dengan kaca, bagai sebuah ketukan dengan melodi yang kontras. Sebuah simfoni tenang yang justru memacu detak jantung tanpa kenal waktu. Di saat orang-orang dengan gencarnya menarik selimut menutupi tubuh, dengan dinginnya suhu yang menggigit tubuh. Lain halnya pula dengan Faldira Winara, sipramugari cantik yang harus segera bersiap karena penerbangan yang sudah menunggu. Rintik yang tadi malu-malu kini berupa menjadi rintik yang rapat. Menciptakan tabir air yang membungkus bandara Soekarno-Hatta. Di area parkir terbuka, sebuah sedan putih mutiara membelah genangan yang menghiasi jalan. Lampu LED nya menembus kabut tipis seperti mata pemangsa yang tajam. Mobil itu berhenti dengan halus. Snowflake White Pearl—warna bodi mobil itu tampak berkilau meskipun di bawah langit yang redup, memantulkan sisa-sisa lampu jalan yang masih menyala. Di balik kemudi, Dira menar

  • Diary Dira   ketigabelas 🍂

    Tiga hari telah berlalu. Waktu paling sulit bagi Dira mencoba untuk merangkak melewati duri-duri tajam yang menekan hulu hatinya.Getaran alarm di atas nakas kayu memaksa tubuh yang baru saja terbaring selama tiga jam itu untuk terbangun. Dira tidak langsung bangun, ia menatap langit-langit kamar selama beberapa detik. Matanya terlihat merah, pertanda jika tidurnya hanya berupa pingsan sesaat.Satu tangan terulur mematikan alarm dengan gerakan mekanis. Tidak ada helah napas, tidak ada keluhan, Ia langsung bangkit duduk di tepi ranjang. Membiarkan kaki jenjangnya menyentuh dinginnya lantai.Tubuhnya terasa ringan bagai sebuah kapas, sedangkan kepalanya terasa seperti timah.Menghabiskan waktu beberapa menit untuk membersihkan diri, kini Dira telah duduk dimeja rias dengan lampu lighting yang menyala. Mengekspos tiap detail kehancuran diwajahnya.Lingkar hitam dibawah matanya terlihat jelas, kulit dan bibir yang pucat transparan. Tangan Dira bergerak mengambil botol concealer. Dengan ge

  • Diary Dira   keduabelas 🍂

    "Beneran Mbak?" Terdengar ada keraguan dari Doni."Iya Ayah. M.bak beneran engga apa-apa kok.""Kalau ada apa-apa cerita sama Ayah ya mbak! jangan apa-apa itu disimpen sendiri. Cerita sama Ayah, biar hatinya sedikit tenang."DammPerkataan sang ayah seperti sebuah palu yang memukul paksa hatinya. Dalam hatinya, beribu maaf dilontarkan Dira atas kebohongan yang terpaksa ia sembunyikan."Iya Ayah, pokoknya ayah tenang aja. Mbak baik-baik aja kok, kalaupun mbak ada masalah pasti Mbak bakal langsung cerita ke arah," cengir Dira"Oh iya Mbak, ngomong-ngomong kabar nya Raffa gimana?"DegNama itu disebut, Dira memejamkan mata rapat-rapat. Membiarkan satu tetes air mata jatuh tanpa suara."Soalnya kemarin itu Ayah sempet telpon, tapi engga dijawab sama dia. Biasanya kalau telpon Ayah engga dijawab dia bakal langsung ngewhatsap Ayah, tapi ini tumbenan."Dira tertawa pelan"ya iyalah dia engga jawab telpon ayah. Kan sekarang dia lagi sibuk ngurusin acara pernikahannya.""Ada apa mbak?""Egh eng

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status