LOGINPonsel yang dipegang Marlena segera diberikannya ke arah Farel lalu berkata, “Cepat telpon Lisa, Rel! Tanya dia... dimana alamat rumahnya.” Usai berkata, Marlena langsung merebahkan kepalanya yang terasa begitu berat, pusing dan berdenyut itu ke paha Farel.“Kenapa harus ke rumah Lisa sih? Kenapa tidak ke rusunmu saja?” Tanya Farel dengan jengkel. Jujur, ia saat ini tidak ingin melihat lagi wajah gadis yang pura-pura lugu nan innocent itu.“Karena kunciku... kunci rusunku... tertinggal di apartemen. Dan aku... aku tidak ingat sama sekali... passwordnya.” Jawab Marlena yang bicaranya sudah tersendat-sendat akibat pengaruh minuman beralkohol.“Damn!”Dengan cepat, tangan Farel meraih ponsel milik Marlena yang ternyata butuh sidik jari untuk membukanya.“Sial!” Umpatnya kesal. Lalu meraih tangan Marlena dan menempelkan jari jempolnya diatas layar ponsel untuk mengidentifikasi keakuratan detail bentuknya. Setelah proses identifikasi sidik jari selesai, Otomatis layar ponsel segera terbuk
Setibanya di rumah sakit, Tuan Malik bergegas menemui tim dokter yang selama ini telah menangani pasien yang bernama nenek Kusmirah.Usai berbincang sebentar di ruang dokter, serta mendapatkan cukup pengarahan yang harus diperhatikan untuk proses pemulihan pasca operasi pasien, Tuan Malik segera menyelesaikan semua berkas administrasi sesuai prosedur kepulangan pasien. Tak lama kemudian, dia segera memboyong pulang nenek Kusmirah ke rumah. Nenek Kusmirah pun hanya menurut patuh saja pada semua keputusan yang sudah diambil Tuan Malik untuknya. Ia percaya bahwa Tuan Malik adalah pria yang baik dan tulus membantunya. Dan ia tidak memiliki prasangka buruk sedikitpun padanya.Begitu tiba di rumah Tuan Malik, nenek Kusmirah langsung ditempatkan di kamar khusus untuk tamu yang berada di lantai satu. Tak lupa ia membawa serta seorang perawat yang akan membantu pemulihan nenek Kusmirah selama seminggu kedepan.Alisa sendiri terkesan cuek dan membiarkan saja apa pun yang diinginkan Tuan Malik
Pagi hari. Usai berpakaian rapi, Alisa berusaha mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya yang tercecer semalam, untuk bisa bersikap biasa saja didepan Tuan Malik ketika akan makan pagi bersama sebentar lagi. Jujur, bayangan sentuhan intim yang dilakukan Tuan Malik di tubuhnya semalam, terus menari-nari dalam ingatannya. Dan hal itu tentu saja membuatnya sangat malu. Akan tetapi, perasaan bahagia yang akan didapatnya sebentar lagi, saat bisa berkumpul kembali bersama sang nenek tercinta, mampu menyirnakan perasaan malu dan rasa canggung yang dideritanya sejak tadi. Perlakuan Tuan Malik yang dilakukannya semalam terhadap dirinya, sangat jelas menyiratkan bahwa pria dewasa itu dengan terang-terangan dan serius menginginkan dirinya seperti seorang pria yang menginginkan wanita. Walaupun semalam Tuan Malik memperlakukan Alisa dengan seenaknya, dan dibumbuhi dengan ancaman halus agar gadis itu mau menuruti perintahnya, namun pada kenyataannya ia sangat menikmati momen intim tersebut. Alisa
Pintu perlahan terbuka, dan Alisa dengan cepat menutup matanya rapat-rapat. Jantungnya berpacu dengan cepat dan tangannya gemetaran mencengkeram selimut yang menutup hingga sebatas lehernya.“Lisa?”Dengan suara lembut, Tuan Malik memanggil namanya. Ia melangkah mendekati ranjang dan duduk disisi ranjang sama seperti malam sebelumnya.“Ini aku, Lisa!”Akan tetapi, Alisa tidak segera menjawab. Ia pura-pura tidur.Dalam keremangan cahaya lampu tidur, Tuan Malik memandangi wajah cantik gadis yang sudah meluluhkan hatinya, dan membuatnya nyaris gila di setiap malamnya hanya dengan memikirkannya, tanpa bisa memilikinya secara utuh.Tubuh Tuan Malik membungkuk, dan untuk beberapa detik lamanya menghirup aroma tubuh gadis pujaannya, yang seketika membuat aliran darahnya bergejolak. “Lisa? It’s me, your Master! Tuanmu! Sampai kapan kamu ingin berpura-pura tidur, hm?”Panggil Tuan Malik yang suaranya tiba-tiba berubah serak dan berat. Terlihat jelas bila tubuhnya mulai panas membara. Bibirnya
Mendengar pernyataan Marlena yang tentu saja membuat Alisa terkejut itu, ia pun berusaha menyangkalnya. “Tentu saja aku tidak salah, Lena! Justru Kamu itu yang salah!” Ucapnya membalik tuduhan pada Marlena.Kepala Marlena tetap menggeleng. “Ingatanku masih cukup kuat, Liz! Meskipun malam itu kondisiku masih setengah mabuk, tapi aku yakin pernah berada di rumah ini.” Jelas Marlena yang tangannya menunjuk ke arah luar. “Lihat Kolam Air mancur itu!” Lalu lanjut menunjuk ke arah bagian dalam rumah. “Dan meja bundar besar itu. Lalu ruang tamu, ruang makan dan tangga itu. Semua letaknya sama persis, Liz!” Jelas Marlena dengan detail menunjukkan kecurigaannya.Alisa menghela nafas panjang lalu menghembuskannya secara perlahan. “Namanya juga tinggal di Perumahan Elit, Lena! Tentu saja Pengembang perumahan disini itu membangun banyak rumah dengan model dan tipe yang sama. Jadi wajar saja banyak bagian rumah yang letaknya sama persis antara rumah satu dengan rumah lainnya. Termasuk rumah ini. M
Belum juga debaran jantungnya berdenyut normal, terdengar teriakan dari arah depan. Ternyata, Marlena sudah menunggunya disisi bahu jalan dekat pintu masuk gerbang sekolah. “Siapa yang mengantarmu tadi, Liz? Apa gak kurang jauh dia mengantarmu? BTW, Kenapa rasanya aku tidak asing sama mobil sport warna merah itu, ya? Mobil itu seperti milik Bos besar.” Tanya Marlena penasaran pada Alisa yang masih berjalan dengan wajah menunduk di trotoar depan pagar sekolah. Kepala Alisa terangkat sedikit. Ia tidak ingin teman baiknya itu melihat wajahnya yang terlihat berantakan karena ulah Tuan Malik barusan. Bibirnya saja masih terasa kebas dan berdenyut. “Kamu menungguku, Lena? Tumben kamu gak bawa motor.” Tanya balik Alisa yang sengaja mengabaikan pertanyaan Marlena. Sepertinya, dia tidak mendengar pertanyaan Marlena yang terakhir, selain itu dia benar-benar malas membahas Tuan Malik saat ini. Marlena berdecak kesal. “Malah balik nanyak lagi nih anak! Motor aku lagi jadwal service bulanan.







