ANMELDENPagi datang tanpa membawa ketenangan. Sarah terbangun lebih awal dari biasanya. Matanya terasa berat setelah semalaman nyari tak terpejam. Setiap kali memejamkan mata, bayangan foto yang dikirim nomor misterius itu kembali menghantuinya. Ia duduk di tepi ranjang beberapa saat sebelum akhirnya beranjak ke kamar mandi. Setelah membasuh wajah, Sarah menatap pantulan dirinya di cermin. Matanya sembap. Ia menghembuskan napas pelan, lalu berusaha merapihkan tampilannya. Setidaknya, ia tak ingin Farhan menyadari kalau semalaman ia menangis. Sama seperti pagi-pagi sebelumnya. Ia menyiapkan sarapan, menyeduh secangkir kopi untuk suaminya. Semuanya dilakukan tanpa hanyak berpikir, seolah tubuhnya sudah hafal dengan baik rutinitas pagi. Pintu kamar terbuka. Farhan keluar dengan pakaian kerja yang sudah rapih. Pandangannya hanya sekilah mengarah ke meja makan sebelum menarik kursi dan duduk."Pagi," ucapnya datar."Pagi," jawab Sarah pelan.Keheningan kembali memenuhi ruangan. Farhan menaikmat
Sarah menatap pintu lobi apartemen yang tertutup rapat. Sudah lebihndari dua puluh menit berlalu sejak Farhan dan perempuan itu masuk ke dalam. Selama itu pula, Sarah tidak beranjak dari kemudi. Beberapa kali pintu lobi terbuka. Ada penghuni yang keluar masuk membawa kantong belanjaan, ada juga yang membawa koper di tangannya. Namun, tak ada satu pun diantara mereka adalah Farhan atau perempuan itu. "Sarah...." Silvia memecah keheningan." Kita mau nunggu sampai kapan di sini?" Sarah menggeleng pelan, tatapannya masih lurus memperhatikan pintu lobi. "Aku nggak tahu."Tangga Sarah masih bertumpu di atas setir. Pandnagannya tak pernah lepas dari pintu masuk apartemen, seokah berharap Farhan muncul kapan saja. "Kalau memang dia ada urusan harusnya dari tadi udah keluar," gumam Silvia. Sejujurnya ia sangat kesal pada lelaki itu bisa-bisanya memainkan sahabatnya. Sarah terdiam. Batinnya berperang mencari alasan yang masuk akal. Mungkin ada rapat? Mungkin bertemu klien? Atau mungkin...
Sarah merapihkan sprei yang sedikit kusut. Ia menarik ujunng-ujungnya hingga kembali rapi, lalu ia menepuk-nepuk bantal dan guling menggunakan sapu lidi khusus untuk membersihkan kasur. Sementara di sisi lain, Farhan berdiri di depan pintu lemari yang pintunya terbuka. Tangannya sibuk menggeser gantungan baju, mencari kemeja yang ingin dipakainya ke kantor."Yang biru tua dimana, ya?" gumam Farhan.Sarah menoleh sekilas. "Coba lihat di sebelah jaket abu-abu."Farhan mengikuti arah yang ditunjuk Sarah. Dan benar saja kemeja itu terselip diantara beberapa pakaian lain. "Ouh, ketemu. Pantesan dari tadi nggak kelihatan."Sarah hanya tersenyum tipis, lalu kembali merapikan sprei. Beberapa menit kemudian Farhan selezai berpakaian. Ia mengenakan jam tangan, memgambil dompet dan kunci mobil, lalu menoleh ke arah Sarah."Hari ini mungkin aku pulang agak malam." Sarah menghentikan tangannya sejenak. "Lembur?"Farhan mengangguk. "Iya, ada beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan hari ini."
Ponsel di tangan Sarah masih menampilkan pesan terakhir yang baru saja diterimanya. 083xxxxxx389Jangan pergi duluSarah menatap layar ponsel itu beberapa saat. Jemarinya tanpa sadar menggenggam ponsel lebih erat. Perlahan, ia mengangkat kepala dan mengedarkan pandangan ke seluruh sudut kafe. Beberapa pengunjung masih asyik dengan aktivitas masing-masing. Di dekat jendela sepasang anak muda tampak sibuk mengobrol. Seorang pria berkemeja putih mengetik sesuatu di laptopnya, sementara seorang ibu sedang menemani anaknya menikmati sepotong kue. Tak ada satu pun yang nampak memperhatikannya. Sarah kembali menatap layar ponselnya. Siapa sebenarnya orang yang mengirim pesan padanya? Dengan ragu ia mulai mengetik.SarahSiapa kamu?Tak butuh waktu lama, tanda centang dua muncul. Artinya pesan itu sudah diterima. Sarah menunggu. Matanya sesekali pindah dari layar ponsel ke arah pintu masuk kafe. Tidak ada balasan, ia mencoba menelepon nomor tersebut. Panggilan sempat tersambung sampai bebe
Sarah masih terpaku menatap layar ponselnya. Jari-jarinya terasa kaku saat menzoom foto yang baru saja diterimanya. Semakin lama ia memperhatikan gambar itu, semakin jelas sosok lelaki yang duduk di kursi kafe itu. Barang kali ia salah mengenali, tapi tunggu... itu Farhan.Iya Sarah kenal betul dengan kemeja yang dipakai lelaki di dalam foto itu. Kemeja abu-abu, jam tangan hitam yang dipakai di pergelangan tangan kirinya, potongan gaya rambut bahkan cara duduknya begitu akrab di mata Sarah. Hanya saja perempuan berambut panjang sebahu yang tergerai indah itu tidak terlihat dengan jelas. Wajahnya membelakangi kamera sehingga sulit dikenali. Sarah menggit bibir bawahnya. Dengan sisa harapan yang masih yang dimiliki, ia membuka ruang obrolan lewat aplikasi whatsapp tersebut. Lalu kembali mengirimkan pesan pada nomor tak dikenal itu. Sarah[Maaf ini siapa, ya?]Pesan terkirim. Namun, hanya menampilkan centang satu yang dimana nomor tak dikenal itu tidak online atau tidak aktif. Sarah m
Sesampainya di rumah, Sarah memarkirkan mobil di halaman. Ia mengambil tasnya, lalu melangkah masuk ke dalam rumah. Rumah yang biasanya terasa begitu menenangkan, sore itu justru dipenuhi keheningan.Sarah meletakkan tasnya di atas meja ruang tamu. Setelah membuat segelas teh hangat di dapur, ia kembali keluar dan duduk di kursi kayu yang berada di teras rumah.Angin sore berembus pelan, menggoyangkan daun-daun tanaman hias yang berjajar di sepanjang pagar. Di seberang rumah, beberapa anak tampak berlarian sambil tertawa riang mengejar bola. Seorang ibu memanggil anaknya untuk segera pulang, sementara seorang penjual bakso mendorong gerobaknya perlahan menyusuri gang dengan suara kentongan yang begitu akrab di telinga warga."Bakso, Neng Sarah," sapa Mang Asep sambil tersenyum ramah khas dengan logat sundanya.Sarah ikut tersenyum tipis. "Nggak dulu, Mang. Besok aja, ya."Mang Asep mengangguk pelan. "Ya udah atuh kalau gitu..., besok Mang lewat lagi."Sarah mengangguk kecil sebelum me







