로그인Ucapan Farhan semalam masih jelas di benak Sarah. Lelaki itu menjawab pertanyaannya dengan begit tenang, seolah apa yang dikatakannya adalah sebuah kebenaran yang tak perlu di ragukan. Padahal dengan mata kepalanya sendiri, Sarah melihat Farhan memasuki sebuah kafe pada saat jam kantor.
Semalam Sarah memutar ulang kejadian itu di dalam pikirannya. Wajah Farhan yang tetap tenang saat menjawab pertanyaannya, langkah kakinya yang memasuki kafe, hingga sosok perempuan yang berdiri menyambutnya terus bergantian memenuhi pikirannya. Sarah menghela napas sejenak, lalu menghembuskan napas panjang. "Mungkin memang ada urusan pekerjaan di luar kantor," gumamnya pelan. Ia mencoba mencari alasan untuk membela suaminya. Bukankah Farhan selama ini dikenal sebagai lelaki yang bertanggung jawab? Mungkin perempuan itu hanya rekan kerja. Mungkin mereka sedang membahas pekerjaan. Mungkin yang dilihatnya hanya sebuah kesalahpahaman. Namun, semakin keras ia berusaha meyakinkan diri semakin sulit pula ia mengabikan satu kenyaataan. Farhan telat berbohong. Ia mengatakan berada di kantor, padahal kenyataannya Sarah melihat sendiri lelaki itu sedang berada di Kafe bersama seorang perempuan. Sarah mengusap wajahnya pelan, dadanya terasa sesak seperti terhimpit ribuan batu. Ia tidak ingin prasangja buruk menguasai pikirannya. Selama empat tahun membangun rumah tangga, ia selalu mempercayai Farhan. Rasanya tidak adil jika hanya karena satu kebohongan, ia langsung menuduh suaminya mengkhianatinya. "Jangan berpikir macam-macam dulu Sarah," bisiknya lirih pada diri sendiri. "Mungkin memang ada penjelasan yang belun kamu tahu. Meski berusaha menenangkan diri, jauh di dalam lubuk hatinya Sarah tau kepercayaan yang ia pegang mulai retak sedikit demi sedikit. Beberapa menit kemudian, pintu kamar terbuka. Farhan keluar dengan kemeja kerja yang telah rapi dikenakannya. Seperti biasa, Sarah segera menuju dapur untuk mengambilkan secangkir kopi hangat dan menyiapkan sarapan di atas meja makan. "Mas, sarapannya sudah siap," ucap Sarah sambil meletakkan sepiring nasi goreng kesukaan Farhan. Farhan hanya mengangguk singkat. Belum sempat duduk, ponsel di saku celananya tiba-tiba bergetar pelan. Refleks, Farhan langsung mengeluarkannya. Tatapannya terpaku beberapa detik pada layar, lalu tanpa sadar sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis. Sarah yang berdiri tak jauh dari meja makan memperhatikan semua itu dalam diam. Begitu menyadari Sarah sedang memandangnya, Farhan buru-buru mematikan layar ponsel, memasukkannya kembali ke dalam saku, lalu menarik kursi seolah tak terjadi apa-apa. "Ada apa, Mas?" tanya Sarah hati-hati. Farhan menggeleng pelan. "Nggak ada. Cuma pesan dari kantor." Farhan sambil mengalihkan pandangan dan segera memasukkan ponselnya ke saku.Sarah hanya mengangguk sambil memaksakan senyum. Meski tak berkata apa-apa, entah mengapa jawaban itu terasa begitu sulit ia percaya. *** Setelah menyelesaikan pekerjaan rumah, Sarah kembali ke kamar untuk merapikan beberapa barang yang masih berserakan. Ia merapikan selimut, menyusun bantal, lalu mengelap permukaan nakas di samping tempat tidur. Saat hendak memindahkan beberapa botol perlengkapan pribadi Farhan, pandangannya tertuju pada sebotol parfum yang hampir kosong. Sarah mengambilnya perlahan, lalu memperhatikan isinya yang hanya tersisa sedikit. Alisnya bertaut pelan. Setahunya, Farhan bukan tipe lelaki yang gemar memakai parfum berlebihan. Dulu, satu botol parfum bisa bertahan berbulan-bulan karena hanya dipakai pada acara tertentu atau saat ada rapat penting di kantor. Namun, kini botol itu hampir habis, padahal baru beberapa minggu lalu Sarah membelikannya. Sarah memutar botol parfum itu di tangannya sambil tersenyum tipis. "Mungkin sekarang memang tuntutan pekerjaannya berbeda," gumamnya pelan. "Sering bertemu klien, jadi harus selalu tampil rapi." Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi entah mengapa hati Sarah belum sepenuhnya merasa tenang. Ia kembali meletakkan botol parfum itu di tempat semula. Sesaat kemudian, tanpa sadar ia menghirup aroma yang masih tertinggal di tutup botolnya. Aroma itu begitu familiar. Seketika ingatannya melayang pada malam ketika Farhan pulang larut. Malam itu ia juga mencium wangi parfum yang sama dari tubuh suaminya. Saat itu ia berusaha mengabaikannya, menganggap aroma tersebut mungkin berasal dari rekan kerja yang tak sengaja berpapasan dengan Farhan. Sarah mengembuskan napas panjang, lalu menggeleng pelan. "Jangan berpikir yang aneh-aneh, Sarah," bisiknya kepada diri sendiri. "Bisa jadi memang hanya kebetulan." Meski terus mencoba menenangkan hati, ada perasaan yang sulit dijelaskan. Semakin banyak perubahan kecil yang ia temukan, semakin sulit pula baginya untuk menganggap semuanya sebagai kebetulan. *** Menjelang sore, Sarah baru saja selesai menyiram tanaman di halaman depan ketika suara mobil memasuki pekarangan rumah. Ia menoleh refleks. Alisnya sedikit terangkat saat melihat Farhan turun dari mobil. "Mas...?" gumamnya pelan. Biasanya, lelaki itu baru pulang setelah matahari benar-benar tenggelam. Namun kali ini, langit bahkan masih memancarkan semburat jingga ketika Farhan sudah berdiri di depan pintu rumah. Sarah segera menghampiri dan membukakan pintu. "Kok pulang cepat, Mas?" tanyanya dengan nada heran. Farhan tersenyum tipis. "Iya, kerjaan hari ini selesai lebih awal." Jawaban itu membuat hati Sarah sedikit menghangat. Sudah lama rasanya ia tidak melihat Farhan pulang sepagi ini. Tanpa membuang waktu, ia segera menuju dapur. "Tunggu sebentar ya, Mas. Aku bikinin teh." Beberapa menit kemudian, Sarah kembali membawa secangkir teh hangat dan sepiring camilan kesukaan Farhan. Ia meletakkannya di atas meja ruang tamu, lalu duduk di hadapan suaminya. Farhan mengucapkan terima kasih singkat sebelum menyeruput tehnya.Melihat momen sederhana itu, Sarah perlahan tersenyum. Untuk sesaat, ia berharap semua kegelisahan yang memenuhi pikirannya selama beberapa hari terakhir memang hanyalah prasangka. Mungkin semuanya benar-benar akan kembali seperti dulu. Sarah memperhatikan Farhan yang tampak lebih santai dari biasanya. Lelaki itu sesekali menyesap teh hangat buatannya sambil menikmati camilan di atas meja. Pemandangan sederhana yang sudah lama tak Sarah rasakan. "Kalau tiap hari pulangnya begini, pasti Mas nggak terlalu capek," ucap Sarah sambil tersenyum kecil. Farhan hanya membalas dengan senyum tipis. Belum sempat Sarah kembali membuka percakapan, suara getaran ponsel terdengar dari atas meja. Drett... Farhan yang semula terlihat santai langsung meraih ponselnya. Tatapannya terpaku pada layar beberapa detik. Ekspresi wajahnya perlahan berubah. Senyum yang tadi sempat muncul seketika menghilang. Sarah memperhatikan perubahan itu tanpa berkedip. "Kenapa, Mas?" tanyanya pelan. Farhan segera mematikan layar ponselnya. "Nggak apa-apa." Ia berdiri dari duduknya, lalu meraih kunci mobil yang tergantung di dekat pintu. "Mau ke mana, Mas?" tanya Sarah lagi, kali ini dengan nada yang sedikit bingung. Farhan mengenakan jaketnya sambil menjawab singkat, "Ada teman yang minta tolong. Mas keluar sebentar." "Teman kantor?" "Iya." Jawabannya terdengar cepat, seolah tak ingin pembicaraan itu berlanjut. Sarah hanya mengangguk pelan. "Ya sudah, hati-hati di jalan." "Iya." Tak lama kemudian, suara mesin mobil kembali terdengar. Sarah berdiri di ambang pintu, memandangi mobil Farhan yang perlahan meninggalkan halaman rumah. Senyum yang tadi sempat menghiasi wajahnya kembali memudar. Entah mengapa, kali ini hatinya mengatakan bahwa Farhan tidak sedang pergi menemui teman seperti yang ia katakan. *** Jarum jam hampir menunjukkan pukul sembilan malam ketika suara mobil Farhan akhirnya terdengar kembali di halaman rumah. Sarah yang sejak tadi duduk di ruang tamu segera berdiri. Begitu pintu terbuka, Farhan masuk dengan langkah tergesa. Wajahnya terlihat lelah, tetapi entah mengapa senyum tipis masih tersisa di sudut bibirnya. "Kok lama, Mas?" tanya Sarah pelan. Farhan meletakkan kunci mobil di atas meja. "Tadi ngobrol dulu sama teman." Sarah mengangguk pelan. Ia ingin mempercayai jawaban itu, meski hatinya terus mengatakan sebaliknya. "Aku angetin makanannya, ya?" "Nggak usah. Mas sudah makan." Jawaban itu membuat langkah Sarah terhenti. "Lagi?" Farhan menoleh sekilas. "Iya. Tadi sekalian makan." Tanpa menunggu balasan, Farhan langsung berjalan menuju kamar. Sarah memejamkan mata perlahan. Untuk pertama kalinya sejak empat tahun pernikahan mereka, ia benar-benar takut. Takut jika lelaki yang selama ini ia percaya sepenuh hati ternyata sedang menjaga hati perempuan lain? Kira-kira Farhan dari mana ya??? BersambungNadya memandang keluar jendela. Sorot lampu jalan yang bergantian melewati kaca mobil membuat wajahnya nampak muram. Beberapa menit kemudian Farhan sampai di depan sebuah apartemen yang ditempati Nadya. Mesin mobil dimatikan. Namun, tak ada satu pun dari mereka yang segera turun. Nadya masih memandang lurus ke depan. "Sayang..." Farhan menoleh."Aku harap kamu mikirin yang tadi aku bilang."Farhan mengangguk pelan. Nadya tersenyum tipis, namun senyum itu tak mampu menutupi kekecewaannya. "Aku nggak mau disembunyiin terus!""Aku ngerti.""Nggak." Nadya menggeleng pelan. "Kamu nggak paham, kalau ngerti udah dari kemaren kamu ambil keputusan."Kalimat itu membuat Farhan terdiam. Ia tak mampu membantah. Ia menatap kedua tangannya yang masih menggenggam setir. Ia sadar segala kerumitan yang terjadi dalam hidupnya sendiri adalah konsikuensi dari apa yang di perbuatnya. Dari hal yang awalnya main-main hingga terbawa arus sejauh ini. Sampai pada akhirnya ia harus memilih keputusan, tetap
Setelah membereskan ruang tamu dan mencuci peralatan makan, Sarah kembali duduk di sofa. Pandangannya tanpa mengarah ke arah meja kecil di samping televisi. Di sanalah ia menyimpan map berisi bukti-bukti yang selama beberapa hari terakhir terus menghantuinya. Perlahan Sarah membuka laci itu. Tangannya mengambil map, lalu mengeluarkan beberapa lembar hasil cetak foto dan tangkapan layar pesan dari nomor misterius itu. Ia menghamparkan semuanya di atas meja. Tatapannya pindah dari satu bukti ke bukti lainnya. Mulai dari foto Farhan bersama perempuan itu di kafe, foto mereka memasuki apartemen dan foto selfi yang membuat hatinya benar-benar hancur. Sarah memejamkan mata sejenak, berusaha menetralkan rasa sakit yang mulai muncul ke permukaan. Andai semua ini hanya kesalahpahaman. Andai ada penjelasan yang mampu menghapus keraguan di hatinya. Namun semakin banyak bukti yang ia lihat, harapan itu justru semakin memudar. Ia ingat ucapan Silvia kemarin."Jangan buru-buru mengonfrontasi Farh
Pagi datang tanpa membawa ketenangan. Sarah terbangun lebih awal dari biasanya. Matanya terasa berat setelah semalaman nyari tak terpejam. Setiap kali memejamkan mata, bayangan foto yang dikirim nomor misterius itu kembali menghantuinya. Ia duduk di tepi ranjang beberapa saat sebelum akhirnya beranjak ke kamar mandi. Setelah membasuh wajah, Sarah menatap pantulan dirinya di cermin. Matanya sembap. Ia menghembuskan napas pelan, lalu berusaha merapihkan tampilannya. Setidaknya, ia tak ingin Farhan menyadari kalau semalaman ia menangis. Sama seperti pagi-pagi sebelumnya. Ia menyiapkan sarapan, menyeduh secangkir kopi untuk suaminya. Semuanya dilakukan tanpa hanyak berpikir, seolah tubuhnya sudah hafal dengan baik rutinitas pagi. Pintu kamar terbuka. Farhan keluar dengan pakaian kerja yang sudah rapih. Pandangannya hanya sekilah mengarah ke meja makan sebelum menarik kursi dan duduk."Pagi," ucapnya datar."Pagi," jawab Sarah pelan.Keheningan kembali memenuhi ruangan. Farhan menaikmat
Sarah menatap pintu lobi apartemen yang tertutup rapat. Sudah lebihndari dua puluh menit berlalu sejak Farhan dan perempuan itu masuk ke dalam. Selama itu pula, Sarah tidak beranjak dari kemudi. Beberapa kali pintu lobi terbuka. Ada penghuni yang keluar masuk membawa kantong belanjaan, ada juga yang membawa koper di tangannya. Namun, tak ada satu pun diantara mereka adalah Farhan atau perempuan itu. "Sarah...." Silvia memecah keheningan." Kita mau nunggu sampai kapan di sini?" Sarah menggeleng pelan, tatapannya masih lurus memperhatikan pintu lobi. "Aku nggak tahu."Tangga Sarah masih bertumpu di atas setir. Pandnagannya tak pernah lepas dari pintu masuk apartemen, seokah berharap Farhan muncul kapan saja. "Kalau memang dia ada urusan harusnya dari tadi udah keluar," gumam Silvia. Sejujurnya ia sangat kesal pada lelaki itu bisa-bisanya memainkan sahabatnya. Sarah terdiam. Batinnya berperang mencari alasan yang masuk akal. Mungkin ada rapat? Mungkin bertemu klien? Atau mungkin...
Sarah merapihkan sprei yang sedikit kusut. Ia menarik ujunng-ujungnya hingga kembali rapi, lalu ia menepuk-nepuk bantal dan guling menggunakan sapu lidi khusus untuk membersihkan kasur. Sementara di sisi lain, Farhan berdiri di depan pintu lemari yang pintunya terbuka. Tangannya sibuk menggeser gantungan baju, mencari kemeja yang ingin dipakainya ke kantor."Yang biru tua dimana, ya?" gumam Farhan.Sarah menoleh sekilas. "Coba lihat di sebelah jaket abu-abu."Farhan mengikuti arah yang ditunjuk Sarah. Dan benar saja kemeja itu terselip diantara beberapa pakaian lain. "Ouh, ketemu. Pantesan dari tadi nggak kelihatan."Sarah hanya tersenyum tipis, lalu kembali merapikan sprei. Beberapa menit kemudian Farhan selezai berpakaian. Ia mengenakan jam tangan, memgambil dompet dan kunci mobil, lalu menoleh ke arah Sarah."Hari ini mungkin aku pulang agak malam." Sarah menghentikan tangannya sejenak. "Lembur?"Farhan mengangguk. "Iya, ada beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan hari ini."
Ponsel di tangan Sarah masih menampilkan pesan terakhir yang baru saja diterimanya. 083xxxxxx389Jangan pergi duluSarah menatap layar ponsel itu beberapa saat. Jemarinya tanpa sadar menggenggam ponsel lebih erat. Perlahan, ia mengangkat kepala dan mengedarkan pandangan ke seluruh sudut kafe. Beberapa pengunjung masih asyik dengan aktivitas masing-masing. Di dekat jendela sepasang anak muda tampak sibuk mengobrol. Seorang pria berkemeja putih mengetik sesuatu di laptopnya, sementara seorang ibu sedang menemani anaknya menikmati sepotong kue. Tak ada satu pun yang nampak memperhatikannya. Sarah kembali menatap layar ponselnya. Siapa sebenarnya orang yang mengirim pesan padanya? Dengan ragu ia mulai mengetik.SarahSiapa kamu?Tak butuh waktu lama, tanda centang dua muncul. Artinya pesan itu sudah diterima. Sarah menunggu. Matanya sesekali pindah dari layar ponsel ke arah pintu masuk kafe. Tidak ada balasan, ia mencoba menelepon nomor tersebut. Panggilan sempat tersambung sampai bebe







