로그인Suara alarm yang berbunyi pelan membangunkan Sarah dari tidur yang tak pernah benar-benar lelap. Ia membuka mata perlahan, menatap langit-langit kamar beberapa saat sebelum akhirnya bangkit dari tempat tidur. Sisi ranjang di sampingnya sudah kosong. Sisi ranjang yang semalam ditempati suaminya kini hanya mengisakan lipatan selimut yang berantakan. Sarah menghela napas pelan, tanpa membiarkan dirinya larut dalam lamunan, ia segera melangkan ke kamar mandi dan memulai rutinitas paginya seperti biasa.
Tak lama kemudian, aroma bawang putih yang ditumis di dapur memenuhi dapur. Jemarinya bergerak lincah menyiapkan sarapan, meskipun pikirannya sama sekali tidak fokus. Beberapa kali ia terdiam, hingga nyaris lupa mematikan api kompor. "Astaga...," gumamnya pelan sambil mematikan kompor. Ia mengusap wajahnya pelan. Hari itu Sarah bertekad menjalani hari-harinya seperti biasa. Setidaknya sampai ia benar-benar menemukan jawaban atas kegelisahan yang selama ini terus mengganggunya. Farhan baru saja berangkat ke kantor beberapa menit yang lalu, namun pikiran Sarah masih melayang pada nama seseorang dan kalimat pesannya. Nadya. Sarah mencoba mengingat apakah Farhan pernah menyebut nama itu. Namun, seingat Sarah tak ada nama itu dalam daftar pertemanan Farhan. Kalau pun nama itu adalah rekan kerja baru, biasanya lelaki itu akan bercerita. Dan entah dorangan darimana Sarah membuka media sosial dan memasukan nama Nadya ke dalam kolom pencarian. Matanya mulai menelusuri satu per satu akun yang bermunculan. Setelah beberapa menit menelusuri media sosial, Sarah tetap tidak menemukan akun yang ia cari. Entah karena nama itu terlalu umum atau memang perempuan tersebut menggunakan identitas yang berbeda. Dengan perasaan kecewa, ia mengunci layar ponselnya. Sarah menghela napas dan bergumam, "Mana mungkin aku tahu yang mana...." Sarah meletakkan ponselnya perlahan di atas meja, lalu mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan. Ia mengembuskan napas panjang sebelum akhirnya tersenyum hambar pada dirinya sendiri. Entah sejak kapan ia berubah menjadi seseorang yang begitu mudah dipenuhi prasangka. Selama ini, Farhan selalu menjadi lelaki yang paling ia percaya. Lelaki yang menemaninya melewati suka dan duka, yang pernah berjanji akan selalu menjaga rumah tangga mereka. Rasanya tidak adil jika hanya karena sepotong pesan dan sebuah nama yang bahkan belum ia kenal, ia mulai meragukan semua itu. "Mungkin aku memang terlalu banyak berpikir," gumamnya lirih. Bukankah setiap orang berhak memiliki rekan kerja, teman, atau kenalan? Nama Nadya belum tentu berarti apa-apa. Bisa saja perempuan itu hanya seseorang yang bekerja satu tim dengan Farhan, atau sekadar teman lama yang kebetulan menghubunginya. Lagi pula, Sarah belum melihat apa pun selain beberapa kata yang muncul di layar ponsel. Perlahan ia menggeleng, seolah sedang menegur dirinya sendiri. Ia tidak ingin membangun tuduhan hanya berdasarkan dugaan yang belum tentu benar. Ia lebih memilih mempercayai Farhan daripada membiarkan pikirannya dipenuhi prasangka yang bisa merusak kepercayaan di antara mereka. Namun, meski bibirnya terus berusaha meyakinkan diri, ada sesuatu di dalam hatinya yang masih terasa mengganjal. Perasaan itu begitu kecil, tetapi cukup untuk membuatnya sulit benar-benar tenang. Dan untuk pertama kalinya, Sarah mulai menyadari bahwa kepercayaan yang selama ini begitu kokoh perlahan mulai dipenuhi retakan-retakan kecil yang tak kasatmata. *** Menjelang sore, Sarah mengumpulkan pakaian kotor yang sejak pagi belum sempat ia cuci. Satu per satu ia memeriksa saku celana dan kemeja Farhan, memastikan tak ada benda yang tertinggal sebelum semuanya dimasukkan ke dalam mesin cuci. Tangannya berhenti ketika merasakan selembar kertas terlipat di saku celana bahan milik Farhan yang dipakai kemarin. Sarah mengeluarkannya perlahan. Ternyata sebuah struk pembayaran. Tanpa bermaksud mencari tahu lebih jauh, matanya tak sengaja membaca beberapa tulisan yang tercetak di sana. Nama sebuah restoran terpampang jelas di bagian atas struk. Di bawahnya tercetak dua porsi makanan dan dua gelas minuman. Sarah menahan napas. Tanggal pembayarannya... kemarin. Sarah terdiam.nIngatannya langsung kembali pada ucapan Farhan semalam. "Aku sudah makan di luar." Jemarinya tanpa sadar meremas ujung struk itu. Ada sesuatu yang terasa mengganjal di dadanya. Namun, sedetik kemudian ia menggeleng pelan. "Mungkin makan bersama klien," gumamnya, berusaha menenangkan pikirannya sendiri. Bukankah hal seperti itu biasa terjadi dalam urusan pekerjaan? Sarah menarik napas panjang, lalu melipat kembali struk tersebut. Ia berniat mengembalikannya ke saku celana Farhan, tetapi tangannya justru tertahan. Entah mengapa, secarik kertas kecil itu terasa jauh lebih berat daripada yang seharusnya. Untuk beberapa saat, Sarah hanya memandanginya dalam diam. Semakin keras ia berusaha meyakinkan dirinya bahwa semua itu wajar, semakin sulit pula ia mengabaikan kegelisahan yang perlahan tumbuh di dalam hati. Malam itu, Farhan pulang lebih larut dari biasanya. Wajahnya tampak lelah, sementara Sarah masih duduk di ruang tamu dengan secarik struk restoran yang sejak sore terus memenuhi pikirannya. Begitu mendengar suara pintu terbuka, Sarah buru-buru menyelipkan struk itu ke balik telapak tangannya. Ia menatap Farhan beberapa saat, mencoba mengumpulkan keberanian. "Mas... aku mau bicara sebentar." Farhan menghentikan langkahnya dan menoleh singkat. "Soal apa?" Sarah menggigit bibir bawahnya. Jemarinya semakin erat menggenggam struk itu. "Ada yang ingin aku tanyakan...." Belum sempat kalimat itu selesai, suara dering ponsel memecah keheningan.Farhan segera merogoh saku celananya. Sesaat setelah melihat nama yang tertera di layar, raut wajahnya berubah. Tanpa mengatakan apa pun, ia langsung mematikan layar ponsel, lalu memasukkannya kembali ke dalam saku. "Aku angkat telepon di luar dulu," ucapnya singkat. "Tapi, Mas..." Farhan sudah lebih dulu membuka pintu dan melangkah keluar. Sarah hanya mampu memandang punggung suaminya hingga menghilang dalam gelapnya malam. Rumah kembali sunyi. Perlahan ia membuka genggamannya. Secarik struk restoran itu masih berada di sana, kini mulai kusut karena terlalu lama diremas. Tak lama kemudian, dari balik jendela, samar-samar terdengar suara Farhan yang sedang berbicara melalui telepon. Sarah tak dapat mendengar seluruh percakapannya. Hanya satu kalimat yang tertangkap jelas oleh telinganya. "Iya... besok kita ketemu seperti rencana." Tubuh Sarah seketika membeku. Dengan siapa Farhan membuat janji untuk esok hari? Dan... benarkah selama ini semua firasatnya bukan sekadar prasangka? Bersambung... Firasat Sarah mulai terbukti, atau semua ini hanya kebetulan? Yuk, tinggalkan pendapat kalian di kolom komentar. Jangan lupa like, share dan kritik dan saran supaya aku lebih semangat lagi dan tulisanku bisa jauh lebih baik lain, ya. Ouh iya jangan tinggalkan jejak biar kalian gak ketinggalan updatenya ... thank you😘Nadya memandang keluar jendela. Sorot lampu jalan yang bergantian melewati kaca mobil membuat wajahnya nampak muram. Beberapa menit kemudian Farhan sampai di depan sebuah apartemen yang ditempati Nadya. Mesin mobil dimatikan. Namun, tak ada satu pun dari mereka yang segera turun. Nadya masih memandang lurus ke depan. "Sayang..." Farhan menoleh."Aku harap kamu mikirin yang tadi aku bilang."Farhan mengangguk pelan. Nadya tersenyum tipis, namun senyum itu tak mampu menutupi kekecewaannya. "Aku nggak mau disembunyiin terus!""Aku ngerti.""Nggak." Nadya menggeleng pelan. "Kamu nggak paham, kalau ngerti udah dari kemaren kamu ambil keputusan."Kalimat itu membuat Farhan terdiam. Ia tak mampu membantah. Ia menatap kedua tangannya yang masih menggenggam setir. Ia sadar segala kerumitan yang terjadi dalam hidupnya sendiri adalah konsikuensi dari apa yang di perbuatnya. Dari hal yang awalnya main-main hingga terbawa arus sejauh ini. Sampai pada akhirnya ia harus memilih keputusan, tetap
Setelah membereskan ruang tamu dan mencuci peralatan makan, Sarah kembali duduk di sofa. Pandangannya tanpa mengarah ke arah meja kecil di samping televisi. Di sanalah ia menyimpan map berisi bukti-bukti yang selama beberapa hari terakhir terus menghantuinya. Perlahan Sarah membuka laci itu. Tangannya mengambil map, lalu mengeluarkan beberapa lembar hasil cetak foto dan tangkapan layar pesan dari nomor misterius itu. Ia menghamparkan semuanya di atas meja. Tatapannya pindah dari satu bukti ke bukti lainnya. Mulai dari foto Farhan bersama perempuan itu di kafe, foto mereka memasuki apartemen dan foto selfi yang membuat hatinya benar-benar hancur. Sarah memejamkan mata sejenak, berusaha menetralkan rasa sakit yang mulai muncul ke permukaan. Andai semua ini hanya kesalahpahaman. Andai ada penjelasan yang mampu menghapus keraguan di hatinya. Namun semakin banyak bukti yang ia lihat, harapan itu justru semakin memudar. Ia ingat ucapan Silvia kemarin."Jangan buru-buru mengonfrontasi Farh
Pagi datang tanpa membawa ketenangan. Sarah terbangun lebih awal dari biasanya. Matanya terasa berat setelah semalaman nyari tak terpejam. Setiap kali memejamkan mata, bayangan foto yang dikirim nomor misterius itu kembali menghantuinya. Ia duduk di tepi ranjang beberapa saat sebelum akhirnya beranjak ke kamar mandi. Setelah membasuh wajah, Sarah menatap pantulan dirinya di cermin. Matanya sembap. Ia menghembuskan napas pelan, lalu berusaha merapihkan tampilannya. Setidaknya, ia tak ingin Farhan menyadari kalau semalaman ia menangis. Sama seperti pagi-pagi sebelumnya. Ia menyiapkan sarapan, menyeduh secangkir kopi untuk suaminya. Semuanya dilakukan tanpa hanyak berpikir, seolah tubuhnya sudah hafal dengan baik rutinitas pagi. Pintu kamar terbuka. Farhan keluar dengan pakaian kerja yang sudah rapih. Pandangannya hanya sekilah mengarah ke meja makan sebelum menarik kursi dan duduk."Pagi," ucapnya datar."Pagi," jawab Sarah pelan.Keheningan kembali memenuhi ruangan. Farhan menaikmat
Sarah menatap pintu lobi apartemen yang tertutup rapat. Sudah lebihndari dua puluh menit berlalu sejak Farhan dan perempuan itu masuk ke dalam. Selama itu pula, Sarah tidak beranjak dari kemudi. Beberapa kali pintu lobi terbuka. Ada penghuni yang keluar masuk membawa kantong belanjaan, ada juga yang membawa koper di tangannya. Namun, tak ada satu pun diantara mereka adalah Farhan atau perempuan itu. "Sarah...." Silvia memecah keheningan." Kita mau nunggu sampai kapan di sini?" Sarah menggeleng pelan, tatapannya masih lurus memperhatikan pintu lobi. "Aku nggak tahu."Tangga Sarah masih bertumpu di atas setir. Pandnagannya tak pernah lepas dari pintu masuk apartemen, seokah berharap Farhan muncul kapan saja. "Kalau memang dia ada urusan harusnya dari tadi udah keluar," gumam Silvia. Sejujurnya ia sangat kesal pada lelaki itu bisa-bisanya memainkan sahabatnya. Sarah terdiam. Batinnya berperang mencari alasan yang masuk akal. Mungkin ada rapat? Mungkin bertemu klien? Atau mungkin...
Sarah merapihkan sprei yang sedikit kusut. Ia menarik ujunng-ujungnya hingga kembali rapi, lalu ia menepuk-nepuk bantal dan guling menggunakan sapu lidi khusus untuk membersihkan kasur. Sementara di sisi lain, Farhan berdiri di depan pintu lemari yang pintunya terbuka. Tangannya sibuk menggeser gantungan baju, mencari kemeja yang ingin dipakainya ke kantor."Yang biru tua dimana, ya?" gumam Farhan.Sarah menoleh sekilas. "Coba lihat di sebelah jaket abu-abu."Farhan mengikuti arah yang ditunjuk Sarah. Dan benar saja kemeja itu terselip diantara beberapa pakaian lain. "Ouh, ketemu. Pantesan dari tadi nggak kelihatan."Sarah hanya tersenyum tipis, lalu kembali merapikan sprei. Beberapa menit kemudian Farhan selezai berpakaian. Ia mengenakan jam tangan, memgambil dompet dan kunci mobil, lalu menoleh ke arah Sarah."Hari ini mungkin aku pulang agak malam." Sarah menghentikan tangannya sejenak. "Lembur?"Farhan mengangguk. "Iya, ada beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan hari ini."
Ponsel di tangan Sarah masih menampilkan pesan terakhir yang baru saja diterimanya. 083xxxxxx389Jangan pergi duluSarah menatap layar ponsel itu beberapa saat. Jemarinya tanpa sadar menggenggam ponsel lebih erat. Perlahan, ia mengangkat kepala dan mengedarkan pandangan ke seluruh sudut kafe. Beberapa pengunjung masih asyik dengan aktivitas masing-masing. Di dekat jendela sepasang anak muda tampak sibuk mengobrol. Seorang pria berkemeja putih mengetik sesuatu di laptopnya, sementara seorang ibu sedang menemani anaknya menikmati sepotong kue. Tak ada satu pun yang nampak memperhatikannya. Sarah kembali menatap layar ponselnya. Siapa sebenarnya orang yang mengirim pesan padanya? Dengan ragu ia mulai mengetik.SarahSiapa kamu?Tak butuh waktu lama, tanda centang dua muncul. Artinya pesan itu sudah diterima. Sarah menunggu. Matanya sesekali pindah dari layar ponsel ke arah pintu masuk kafe. Tidak ada balasan, ia mencoba menelepon nomor tersebut. Panggilan sempat tersambung sampai bebe







