LOGINFarhan berdiri di depan cermin sambil merapikan dasi yang melingkar di lehernya. Sesekali ia melirik jam tangan, seolah khawatir akan terlambat. Disisi lain, Sarah keluar dari dapur membawa secangkir kopi dengan uap yang masih mengepul. Tanpa banyak bicara Sarah meletakan kopi itu di atas meja. Pandangannya tertuju pada wajah Farhan. Ada beberapa pertanyaan yang sebenarnya ingin ia sampaikan, namun tak satupun berhasil keluar dari bibirnya.
"Mas, kopinya" Farhan meraih cangkir kopi itu tanpa menatap istrinya. Ia mengesapnya sebentar, lalu kembali fokus merapikan kemejanya. "Hari ini aku banyak kerjaan. Mungkin pulangnya agak malam," kata Farhan datar. Sarah tersenyum tipis, meski senyum itu tak benar-benar sampai ke matanya. "Iya, Mas. Hati-hati di jalan." Farhan mengambil tas kerjanya, lalu melangkah menuju pintu. Sarah mengikuti dari belakang, mengantarkannya hingga ke teras depan. Meskipun pagi-pagi mereka tak lagi dipenuhi kehangatan Sarah tetap mencium tangan Farhan sama seperti hari-hari sebelumnya, namun yang berbeda hanya respon Farhan yang tak lagi sama. Sarah menutup pintu perlahan setelah mobil Farhan menghilang di ujung jalan. Ia menghembuskan napas panjang, lalu berbalik ke dalam rumah. Suasana kembali sunyi. Hanya detak jam dinding yang terdengar memenuhi ruangan. Sementara itu, Sarah mulai menyibukan diri dengan pekerjaan rumah, agar pikirannya tak terus dipenuhi berbagai pertanyaan. Ia membereskan ruang tamu, menyapu lantai, lalu melipat pakaiaan yang sejak kemarin belum sempat dirapihkan. Namun, sesibuknya apapun ia mengalihkan perhatian banyangan kejadian terakhir tetap datang silih berganti. Iya..., besok kita bertemu seperti rencana. Sarah berhenti sejenak. Tatapannya kosong mengarah ke luar jendela. Ia menggeleng pelan, seolah sedang menegur dirinya sendiri agar tidak terus larut dalam prasangka. 'Sudah Sarah tidak baik berburuk sangka.' batinnya Menjelang siang, Sarah memutuskan keluar rumah untuk membeli beberapa kebutuhan dapur yang mulai habis. Setelah memastikan pintu rumah terkunci, ia berjalan menuju minimarket yang letaknya tidak terlalu jauh. Tak membutuhkan waktu lama, semua barang yang diperlukan sudah masuk ke dalam keranjang belanja. Setelah membayar di kasir, Sarah melangkah keluar sambil membawa dua kantong plastik di tangannya. Semilir angin siang menerpa wajahnya saat ia berjalan menuju tempat penyeberangan. Saat hendak menyeberang jalan, pandangan Sarah tiba-tiba terpaku pada sebuah mobil yang terparkir di seberang jalan. Langkahnya seketika terhenti. Dadanya mulai berdebar. Mobil itu sangat mirip dengan mobil yang setiap pagi dikendarai Farhan. "Perasaanku saja, mungkin..." gumamnya lirih, berusaha menenangkan diri. Namun, semakin lama ia menatap, semakin mustahil ia menyangkal kenyataan itu. Mobil itu memang milik Farhan. Dengan rasa penasaran yang semakin besar, Sarah menoleh ke kanan dan kiri memastikan keadaan jalan. Begitu kendaraan mulai lengang, ia segera melangkahkan kaki menyeberang. Kantong belanjaan yang dibawanya bergoyang pelan mengikuti langkah yang kini terasa lebih cepat dari biasanya. Semakin dekat jaraknya, jantung Sarah justru berdetak semakin keras. Ada perasaan aneh yang perlahan merayapi dadanya. Sebagian dari dirinya berharap mobil itu memang bukan milik Farhan. Namun, sebagian yang lain justru ingin memastikan semuanya dengan mata kepalanya sendiri. Belum sempat Sarah mencapai seberang jalan, pintu mobil itu perlahan terbuka. Napasnya seolah tertahan. Seorang lelaki keluar dari balik kemudi sambil merapikan lengan kemejanya. Sarah membeku. Tak mungkin ia salah mengenali sosok itu. Farhan. Lelaki itu menutup pintu mobil, lalu berjalan santai menuju sebuah kafe yang berada tepat di samping area parkir. Sarah refleks mempercepat langkahnya. Berbagai pertanyaan memenuhi kepalanya. Bukankah Farhan mengatakan sedang bekerja? Saat jarak di antara mereka tinggal beberapa meter, Farhan lebih dulu memasuki kafe. Sarah berhenti di depan pintu masuk. Dari balik dinding kaca, ia masih dapat melihat sosok suaminya berjalan menuju salah satu meja di sudut ruangan. Belum sempat Sarah melihat lebih jelas, seorang perempuan yang duduk membelakangi pintu perlahan berdiri menyambut Farhan. Dari tempatnya berdiri, Sarah hanya bisa melihat punggung perempuan itu. Rambut panjangnya tergerai rapi, sementara wajahnya tertutup karena posisi duduk yang membelakangi pintu. Jantung Sarah kembali berdegup lebih cepat. "Siapa perempuan itu...?" batinnya lirih. Sarah melangkah mundur perlahan dari depan kafe. Kantong belanja yang sejak tadi digenggamnya terasa semakin berat. Ia tidak tahu mengapa kakinya memilih pergi, padahal hatinya ingin masuk dan memastikan siapa perempuan yang sedang bersama Farhan. Sepanjang perjalanan pulang, bayangan itu terus berputar di kepalanya. Sosok Farhan yang berjalan memasuki kafe, lalu perempuan yang berdiri menyambutnya, seolah terus terulang tanpa henti. "Barangkali memang sedang bertemu klien," gumam Sarah pelan, mencoba mencari alasan yang bisa menenangkan hatinya. Namun, semakin ia berusaha berpikir positif, semakin sulit pula ia mengabaikan kegelisahan yang memenuhi dadanya. Untuk pertama kalinya, Sarah mulai bertanya pada dirinya sendiri. Apakah selama ini ia benar-benar mengenal lelaki yang telah menjadi suaminya? *** Sudah hampir dua jam Sarah menunggu di ruang tamu. Sejak pulang dari minimarket, pikirannya tak pernah benar-benar tenang. Bayangan Farhan yang memasuki kafe bersama seorang perempuan terus berputar di kepalanya. Berkali-kali ia mencoba mengusir bayangan itu, tetapi semakin ia berusaha melupakannya, semakin jelas pula semua yang dilihatnya siang tadi. Ketika akhirnya suara mobil Farhan terdengar dari luar, jantung Sarah justru berdegup lebih kencang daripada biasanya. Tak lama kemudian, pintu rumah terbuka. Farhan melangkah masuk seperti biasa. Ia melepas sepatu, meletakkan tas kerjanya di atas sofa, lalu mengusap tengkuknya pelan seolah lelah setelah seharian bekerja. "Mas capek?" tanya Sarah pelan. Farhan hanya mengangguk singkat. Beberapa saat suasana kembali hening. Sarah menggenggam ujung bajunya, berusaha mengumpulkan keberanian yang sejak tadi terus menghilang. "Mas...," panggilnya lirih. "Iya?" Sarah menatap wajah suaminya beberapa detik sebelum akhirnya bertanya, "Tadi siang... Mas benar dari kantor?" Farhan sempat menghentikan langkahnya. Jemarinya yang sedang membuka jam tangan terlihat berhenti sesaat, sebelum akhirnya ia menoleh. "Iya. Memangnya kenapa?" Jawaban itu membuat dada Sarah terasa semakin sesak. Padahal beberapa jam sebelumnya, ia melihat sendiri Farhan memasuki sebuah kafe saat seharusnya berada di kantor. Sarah menelan semua pertanyaan yang memenuhi kepalanya. Ia memaksakan senyum tipis, lalu menggeleng pelan. "Enggak... nggak apa-apa, Mas." Farhan hanya mengangguk, lalu berlalu menuju kamar tanpa sedikit pun menyadari tatapan Sarah yang terus mengikutinya. Sarah tetap berdiri di tempatnya. Untuk pertama kalinya, ia mulai mempertanyakan satu hal yang selama ini tak pernah berani ia ragukan. Benarkah lelaki yang paling ia percaya kini mulai terbiasa berbohong di hadapannya? Bersambung... Yuk absen kalian asal kota mana aja nih? Masih mau lanjut gak? Jangan lupa ya like biar aku makin tambah semangat. Makasih.Nadya memandang keluar jendela. Sorot lampu jalan yang bergantian melewati kaca mobil membuat wajahnya nampak muram. Beberapa menit kemudian Farhan sampai di depan sebuah apartemen yang ditempati Nadya. Mesin mobil dimatikan. Namun, tak ada satu pun dari mereka yang segera turun. Nadya masih memandang lurus ke depan. "Sayang..." Farhan menoleh."Aku harap kamu mikirin yang tadi aku bilang."Farhan mengangguk pelan. Nadya tersenyum tipis, namun senyum itu tak mampu menutupi kekecewaannya. "Aku nggak mau disembunyiin terus!""Aku ngerti.""Nggak." Nadya menggeleng pelan. "Kamu nggak paham, kalau ngerti udah dari kemaren kamu ambil keputusan."Kalimat itu membuat Farhan terdiam. Ia tak mampu membantah. Ia menatap kedua tangannya yang masih menggenggam setir. Ia sadar segala kerumitan yang terjadi dalam hidupnya sendiri adalah konsikuensi dari apa yang di perbuatnya. Dari hal yang awalnya main-main hingga terbawa arus sejauh ini. Sampai pada akhirnya ia harus memilih keputusan, tetap
Setelah membereskan ruang tamu dan mencuci peralatan makan, Sarah kembali duduk di sofa. Pandangannya tanpa mengarah ke arah meja kecil di samping televisi. Di sanalah ia menyimpan map berisi bukti-bukti yang selama beberapa hari terakhir terus menghantuinya. Perlahan Sarah membuka laci itu. Tangannya mengambil map, lalu mengeluarkan beberapa lembar hasil cetak foto dan tangkapan layar pesan dari nomor misterius itu. Ia menghamparkan semuanya di atas meja. Tatapannya pindah dari satu bukti ke bukti lainnya. Mulai dari foto Farhan bersama perempuan itu di kafe, foto mereka memasuki apartemen dan foto selfi yang membuat hatinya benar-benar hancur. Sarah memejamkan mata sejenak, berusaha menetralkan rasa sakit yang mulai muncul ke permukaan. Andai semua ini hanya kesalahpahaman. Andai ada penjelasan yang mampu menghapus keraguan di hatinya. Namun semakin banyak bukti yang ia lihat, harapan itu justru semakin memudar. Ia ingat ucapan Silvia kemarin."Jangan buru-buru mengonfrontasi Farh
Pagi datang tanpa membawa ketenangan. Sarah terbangun lebih awal dari biasanya. Matanya terasa berat setelah semalaman nyari tak terpejam. Setiap kali memejamkan mata, bayangan foto yang dikirim nomor misterius itu kembali menghantuinya. Ia duduk di tepi ranjang beberapa saat sebelum akhirnya beranjak ke kamar mandi. Setelah membasuh wajah, Sarah menatap pantulan dirinya di cermin. Matanya sembap. Ia menghembuskan napas pelan, lalu berusaha merapihkan tampilannya. Setidaknya, ia tak ingin Farhan menyadari kalau semalaman ia menangis. Sama seperti pagi-pagi sebelumnya. Ia menyiapkan sarapan, menyeduh secangkir kopi untuk suaminya. Semuanya dilakukan tanpa hanyak berpikir, seolah tubuhnya sudah hafal dengan baik rutinitas pagi. Pintu kamar terbuka. Farhan keluar dengan pakaian kerja yang sudah rapih. Pandangannya hanya sekilah mengarah ke meja makan sebelum menarik kursi dan duduk."Pagi," ucapnya datar."Pagi," jawab Sarah pelan.Keheningan kembali memenuhi ruangan. Farhan menaikmat
Sarah menatap pintu lobi apartemen yang tertutup rapat. Sudah lebihndari dua puluh menit berlalu sejak Farhan dan perempuan itu masuk ke dalam. Selama itu pula, Sarah tidak beranjak dari kemudi. Beberapa kali pintu lobi terbuka. Ada penghuni yang keluar masuk membawa kantong belanjaan, ada juga yang membawa koper di tangannya. Namun, tak ada satu pun diantara mereka adalah Farhan atau perempuan itu. "Sarah...." Silvia memecah keheningan." Kita mau nunggu sampai kapan di sini?" Sarah menggeleng pelan, tatapannya masih lurus memperhatikan pintu lobi. "Aku nggak tahu."Tangga Sarah masih bertumpu di atas setir. Pandnagannya tak pernah lepas dari pintu masuk apartemen, seokah berharap Farhan muncul kapan saja. "Kalau memang dia ada urusan harusnya dari tadi udah keluar," gumam Silvia. Sejujurnya ia sangat kesal pada lelaki itu bisa-bisanya memainkan sahabatnya. Sarah terdiam. Batinnya berperang mencari alasan yang masuk akal. Mungkin ada rapat? Mungkin bertemu klien? Atau mungkin...
Sarah merapihkan sprei yang sedikit kusut. Ia menarik ujunng-ujungnya hingga kembali rapi, lalu ia menepuk-nepuk bantal dan guling menggunakan sapu lidi khusus untuk membersihkan kasur. Sementara di sisi lain, Farhan berdiri di depan pintu lemari yang pintunya terbuka. Tangannya sibuk menggeser gantungan baju, mencari kemeja yang ingin dipakainya ke kantor."Yang biru tua dimana, ya?" gumam Farhan.Sarah menoleh sekilas. "Coba lihat di sebelah jaket abu-abu."Farhan mengikuti arah yang ditunjuk Sarah. Dan benar saja kemeja itu terselip diantara beberapa pakaian lain. "Ouh, ketemu. Pantesan dari tadi nggak kelihatan."Sarah hanya tersenyum tipis, lalu kembali merapikan sprei. Beberapa menit kemudian Farhan selezai berpakaian. Ia mengenakan jam tangan, memgambil dompet dan kunci mobil, lalu menoleh ke arah Sarah."Hari ini mungkin aku pulang agak malam." Sarah menghentikan tangannya sejenak. "Lembur?"Farhan mengangguk. "Iya, ada beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan hari ini."
Ponsel di tangan Sarah masih menampilkan pesan terakhir yang baru saja diterimanya. 083xxxxxx389Jangan pergi duluSarah menatap layar ponsel itu beberapa saat. Jemarinya tanpa sadar menggenggam ponsel lebih erat. Perlahan, ia mengangkat kepala dan mengedarkan pandangan ke seluruh sudut kafe. Beberapa pengunjung masih asyik dengan aktivitas masing-masing. Di dekat jendela sepasang anak muda tampak sibuk mengobrol. Seorang pria berkemeja putih mengetik sesuatu di laptopnya, sementara seorang ibu sedang menemani anaknya menikmati sepotong kue. Tak ada satu pun yang nampak memperhatikannya. Sarah kembali menatap layar ponselnya. Siapa sebenarnya orang yang mengirim pesan padanya? Dengan ragu ia mulai mengetik.SarahSiapa kamu?Tak butuh waktu lama, tanda centang dua muncul. Artinya pesan itu sudah diterima. Sarah menunggu. Matanya sesekali pindah dari layar ponsel ke arah pintu masuk kafe. Tidak ada balasan, ia mencoba menelepon nomor tersebut. Panggilan sempat tersambung sampai bebe







