Share

16. Kasus Henry

Penulis: Pena Random
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-26 12:00:50

Aruna tidak bergerak, tidak bertanya, tidak bereaksi.

Ia hanya menatap Ravian dengan ekspresi profesional yang sangat terlatih, sementara di dalam dadanya, jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.

Ravian berdiri.

Begitu saja.

Kursinya terdorong ke belakang dengan suara kasar yang jarang sekali terdengar di ruangan itu.

“Siapa saja yang tahu?” suaranya rendah. Berbahaya.


Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Dibalik Dendam Sekretaris   28. Pernyataan tiba-tiba

    Pintu kaca gedung terbuka otomatis saat mereka mendekat.Udara dingin dari pendingin ruangan langsung menyambut.Lobi J Corps terlihat mewah, tapi dengan gaya yang berbeda dari Elion.Bukan elegan.Lebih ke… mencolok.Terlalu banyak marmer.Terlalu banyak emas.Terlalu banyak hal yang seolah ingin berkata “kami kaya”.Aruna berjalan setengah langkah di belakang Ravian seperti biasa.Pegawai di lobi yang melihat kedatangan Ravian segera berlari kecil menghampiri. "Selamat datang Pak Ravian Elarion, saya akan memandu anda ke ruangan."Ravian tidak membalas apapun, namun pegawai itu langsung menuntunnya dan Ravian juga langsung mengikuti dari belakang. Aruna mengikuti di belakang Ravian, matanya menyapu lorong panjang yang dipenuhi lukisan besar dan lampu gantung berlebihan.Semakin masuk ke dalam, suasananya semakin sunyi.Hingga akhirnya mereka berdiri di depan pintu ruangan yang begitu besar dan mewah. 'Sepertinya CEO perusahaan ini benar-benar ingin menunjukkan kalau dia kaya.' Ba

  • Dibalik Dendam Sekretaris   27. Ke J Corps.

    Aruna keluar dari apartemen Vio dengan langkah pelan.Lorong apartemen sunyi.Hanya suara langkahnya sendiri yang terdengar.Pukul sudah lewat tengah malam.Udara terasa lebih dingin dari biasanya.Ia menekan tombol lift tanpa benar-benar sadar.Pikirannya masih tertinggal di ruang tamu tadi.Di kata-kata Vio.Di foto dokter.Dan entah kenapa… di senyum Ravian sore tadi.Pintu lift terbuka.Aruna masuk.Bersandar di dinding.Menatap pantulan dirinya di cermin.Wajahnya terlihat lelah.Bukan karena pekerjaan.Tapi karena pikirannya yang tak berhenti berjalan."Aku harus segera pulang, besok masih banyak yang harus dilakukan."Termasuk untuk mencari tahu, apakah dokter itu sungguhan dokter Ravian. Pintu lift terbuka di lantai parkir.Langkahnya kembali terdengar pelan di ruangan luas itu.Mobilnya menyala dengan bunyi halus.Ia keluar dari area apartemen dan menyusuri jalanan kota yang hampir kosong.Lampu-lampu jalan memanjang seperti garis tak berujung di depan matanya.Sepanjang per

  • Dibalik Dendam Sekretaris   26. Dokter?

    Bel pintu restoran berdenting pelan saat Aruna masuk.Aroma makanan hangat menyambut.Tempat itu sama seperti biasa.Tenang.Akrab.Dan terasa nyaman.Vio sudah duduk di meja pojok.Topi hitamnya masih terpasang, dan ekspresinya selalu santai seperti biasanya. Ia langsung berdiri begitu Aruna mendekat.“Kau lama sekali.”“Aku dari luar kantor.”"Sepertinya kau bekerja keras setiap harinya." Vio kembali duduk setelah membantu menarik kursi untuk Aruna duduk. "Ya, begitulah." Ia tak akan bilang bahwa ia selesai menghabiskan waktu dengan es krim dan wahana permainan. "Jadi, hal penting apa yang ingin kau tunjukkan padaku?" tanya Aruna dengan cepat, sebelum Vio mulai menanyainya apa saja yang ia lakukan hari ini. "Ah benar," Vio segera mengeluarkan tabletnya dan meletakkan di atas meja. "Aku menemukan hal baru," ia menggeser layar-layar tabletnya dan membuka ke aplikasi Galeri. Aruna bisa menebak bahwa hal penting ini berupa gambar. Dan saat Vio tengah mencari-cari gambar untuk dit

  • Dibalik Dendam Sekretaris   25. Pernah Suka

    Kabin bianglala berhenti beberapa detik di puncak.Tidak bergerak.Seolah sengaja memberi waktu lebih lama pada pemandangan itu.Dan pada mereka.Lampu kota di bawah sudah menyala penuh.Langit tinggal menyisakan garis oranye tipis di ujung barat.Ravian tidak mengalihkan pandangannya dari Aruna.“Aneh ya,” ucapnya pelan.“Apa, Pak?”“Aku merasa hari ini kau yang membawaku keluar… tapi entah kenapa rasanya seperti aku yang sedang melihatmu keluar dari sesuatu.”Aruna terdiam.Kalimat itu terasa terlalu dekat.Terlalu tepat.Ravian menyandarkan kepalanya ke kaca.“Sejak tadi, kau terlihat seperti orang yang sedang berpikir keras. Bukan tentang pekerjaanku. Tapi tentang dirimu sendiri.”Aruna refleks mengalihkan pandangan.Ke luar.Ke kota.Ke mana saja asal bukan ke pria di depannya.Bianglala mulai bergerak turun perlahan.Suara wahana mulai terdengar lagi dari bawah.Aruna akhirnya menoleh.Menatap Ravian dengan sorot yang sulit dijelaskan."Apakah anda ingin kembali bekerja lembur?"

  • Dibalik Dendam Sekretaris   24. Terimakasih

    Mereka berjalan pelan menjauh dari area rollercoaster.Langkah Ravian masih sedikit tidak stabil.Bukan karena lemah.Tapi karena tubuhnya masih mencoba mengejar napas yang tadi sempat tertinggal di tikungan-tikungan tajam itu.Aruna berjalan di sampingnya tanpa bicara.Sesekali melirik.Memastikan pria itu benar-benar masih “di sini”.Bukan kembali tenggelam ke dalam pikirannya sendiri.Mereka berhenti di dekat bangku panjang di bawah pohon besar, agak jauh dari keramaian.Ravian duduk lebih dulu.Mengusap wajahnya pelan.Lalu tertawa kecil lagi.Pendek.Ringan.Seolah ia sendiri heran kenapa bisa tertawa hari ini.“Aku tidak ingat kapan terakhir kali jantungku berdetak karena hal yang tidak berhubungan dengan pekerjaan,” ucapnya pelan.Aruna ikut duduk.“Berarti terapi kejut saya berhasil, Pak.”Ravian menoleh.Menatap Aruna beberapa detik lebih lama dari biasanya.Tatapan yang tidak tajam.Tidak menilai.Hanya… melihat.“Kau tahu kenapa aku tadi ikut saja waktu kau menarikku ke sin

  • Dibalik Dendam Sekretaris   23. Agenda mendadak

    Aruna mengedip pelan.“…Es krim, Pak?”Ravian sudah mengambil jasnya dari sandaran kursi.“Sekarang.”Tanpa Aruna sempat berpikir lama, mereka berdua sudah berada di dalam Super Mart yang hanya berjarak 7 menit jika berjalan kaki dari Elion Group. Aruna sesekali melirik ke arah pria yang duduk di sampingnya ini. Ia tak menyangka rupanya ia juga bisa makan es krim? Aruna pikir dinginnya sifat Ravian itu sudah tak memerlukan es krim lagi. Mereka duduk tepat menghadap ke jalanan, menatap orang berlalu-lalang dengan es krim di tangan masing-masing. Ravian membuka tutup cup es krimnya pelan.Tidak langsung makan.Ia hanya menatap permukaannya beberapa detik.Putih.Tenang.Rapi.Seperti tidak pernah disentuh.Baru setelah itu ia menyendok sedikit dan memasukkannya ke mulut.Aruna memperhatikannya diam-diam.Aneh.Pria yang biasanya tidak pernah terlihat “berhenti” ini… sekarang terlihat seperti sedang berhenti dari semuanya.Tidak ada dokumen, tidak ada telepon, tidak ada ekspresi tega

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status