Share

2. Permulaan

Author: Pena Random
last update Last Updated: 2026-01-15 13:03:36

Aruna segera menyadari bahwa menjadi sekretaris pribadi Ravian Elarion bukan tentang kemampuan administratif semata.

Ini tentang ketahanan.

Hari pertamanya dimulai tanpa orientasi. Tidak ada penjelasan alur kerja, tidak ada perkenalan dengan jajaran eksekutif, bahkan tidak ada catatan singkat tentang kebiasaan sang CEO. Ia hanya diberi satu tablet, akses penuh ke email eksekutif, dan sebuah kalimat pendek sebelum Ravian masuk ke ruangannya.

“Pelajari jadwal saya.”

"Baik Pak."

Tidak ada tambahan. Tidak ada instruksi lanjutan.

Aruna duduk di mejanya, tepat di luar ruang CEO, dan membuka kalender yang hampir sepenuhnya terisi. Rapat internal, pertemuan dengan investor, panggilan lintas zona waktu, semuanya tersusun rapat tanpa jeda. Tidak ada ruang kosong, bahkan untuk kesalahan kecil.

Ia menarik napas pelan.

Baik, pikirnya. Ini standar yang kau mau.

Aruna bekerja dalam diam. Ia mencatat setiap perubahan jadwal, memeriksa ulang setiap detail lokasi dan waktu, serta menyusun ulang prioritas tanpa perlu bertanya. Ia mengamati ritme Ravian dari kejauhan, cara pria itu berjalan cepat tanpa terlihat terburu-buru, cara ia berhenti hanya untuk mendengar poin inti, dan cara orang-orang secara refleks menyingkir memberi jalan ketika ia lewat.

Ravian Elarion tidak pernah meninggikan suara.

Namun semua orang mendengarkan.

Menjelang siang, krisis pertama muncul.

“Rapat dengan Orion Capital dimajukan tiga puluh menit.”

Suara Ravian terdengar dari ambang pintu ruangannya, datar dan singkat. Ia tidak menunggu jawaban.

Aruna langsung membuka detail rapat. Orion Capital adalah investor besar. Perubahan jadwal mendadak berarti risiko, bukan hanya soal waktu, tapi juga kesiapan dokumen dan pihak terkait.

“Tim legal belum mengirimkan revisi terakhir,” lapor Aruna setelah mengecek cepat.

“Kejar,” jawab Ravian singkat.

Tidak ada diskusi. Tidak ada kompromi.

Aruna berdiri, berjalan cepat menuju meja tim legal, lalu kembali dengan wajah tetap tenang meski pikirannya bekerja keras. Ia mengirim email, melakukan panggilan singkat, dan menyusun ulang susunan dokumen yang ada. Semua dilakukan dalam waktu terbatas.

Saat rapat dimulai, Ravian sudah duduk di ujung meja dengan postur tegak dan ekspresi tak terbaca. Aruna berdiri di samping, menyerahkan map terakhir tepat sebelum diskusi dimulai.

Tidak ada komentar.

Namun Ravian melirik sekilas ke arahnya, cukup lama untuk memastikan satu hal: pekerjaan itu selesai.

Rapat berjalan tegang. Beberapa kali diskusi nyaris keluar jalur, namun Ravian mengembalikannya dengan satu atau dua kalimat dingin. Aruna mencatat semuanya, memastikan tidak ada poin terlewat.

Ketika rapat berakhir, Ravian berdiri lebih dulu.

“Laporan,” katanya.

“Sore ini,” jawab Aruna.

“Sekarang.”

Aruna mengangguk. Ia kembali ke mejanya dan menyusun ringkasan rapat dalam waktu singkat, merangkum poin utama tanpa embel-embel.

Saat ia menyerahkannya, Ravian membaca cepat.

“Cukup,” ucapnya akhirnya.

Bukan pujian.

Namun juga bukan penolakan.

Hari berjalan tanpa jeda. Panggilan masuk silih berganti. Perubahan jadwal terjadi hampir setiap jam. Aruna bekerja nyaris tanpa mengangkat kepala, memastikan semua berjalan sesuai ritme yang diinginkan Ravian, ritme yang tidak memberi ruang bagi siapa pun untuk bernapas terlalu lama.

Di sela kesibukan itu, Aruna sempat memperhatikan satu hal kecil.

Ravian berhenti sejenak di depan pintu ruangannya, menutup mata selama beberapa detik, lalu melanjutkan langkah seolah tidak terjadi apa-apa.

Aruna mengalihkan pandangan.

Ia tidak datang untuk memperhatikan hal-hal yang tidak perlu.

Namun menjelang sore, kejadian serupa terulang. Kali ini lebih lama. Ravian berdiri di dekat jendela ruangannya, tangan bertumpu pada bingkai kaca, bahunya sedikit menegang.

Aruna menunggu.

Beberapa detik kemudian, Ravian kembali duduk dan memanggilnya.

“Jadwal besok.”

Aruna menyerahkan tablet tanpa komentar.

Ravian memeriksanya singkat.

“Batalkan makan siang dengan divisi pemasaran.”

“Baik.”

“Dan majukan rapat internal.”

“Pada jam berapa?”

Ravian terdiam sejenak. Pandangannya kosong, seolah sedang mencari sesuatu yang tidak ada di ruangan itu.

“Jam sembilan,” jawabnya akhirnya.

Aruna mencatat.

Tidak bertanya. Tidak menatap lebih lama dari yang diperlukan.

Menjelang malam, sebagian besar staf sudah pulang. Lampu-lampu kantor meredup, menyisakan keheningan yang tidak nyaman.

Aruna masih di mejanya ketika Ravian keluar dari ruangannya.

“Kau belum pulang.” Bukan pertanyaan.

“Masih ada laporan yang perlu dirapikan,” jawab Aruna.

Ravian menatapnya sekilas. Tatapannya dingin, namun ada sesuatu yang lain di sana, bukan emosi, melainkan kelelahan yang tertahan.

“Pekerjaan ini tidak menuntut pengorbanan pribadi,” katanya datar.

“Tidak semua orang memisahkan keduanya dengan mudah,” jawab Aruna, tanpa bermaksud menantang.

Hening.

Beberapa detik berlalu sebelum Ravian mengangguk tipis dan melangkah pergi.

Saat Aruna akhirnya meninggalkan gedung, langit sudah gelap. Ia berhenti sejenak di depan pintu keluar, menarik napas panjang.

Hari ini berjalan sesuai rencana.

Ia diterima.

Ia bertahan.

Ia tidak membuat kesalahan.

Namun ada satu hal yang mengganggunya ini bukan simpati, bukan empati, melainkan pengamatan.

Ravian Elarion bukan pria yang tampak gelisah. Bukan pula seseorang yang mudah goyah. Namun ada jeda-jeda singkat dalam dirinya, seperti retakan halus yang cepat ditutup kembali.

Aruna menepis pikiran itu.

Itu bukan urusanku, katanya pada diri sendiri.

Ia membuka buku agenda kecilnya begitu sampai di apartemen. Di bawah kalimat pertama yang ia tulis kemarin, ia menambahkan satu catatan baru.

Catat semua kejanggalan. Jangan terlewat dan jangan terlibat.

Aruna menutup buku itu.

Kebenciannya pada Ravian tidak berkurang. Jika ada, justru semakin mengeras. Pria itu berdiri di puncak dengan kendali penuh, sementara Aira berakhir di meja autopsi dengan bekas cekikan di lehernya.

Aruna tidak datang untuk bersimpati.

Ia datang untuk menunggu waktu yang tepat.

Dan hari ini hanyalah permulaan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dibalik Dendam Sekretaris   7. Inikah Kelemahanmu?

    Malam itu, Aruna tidak langsung tidur.Ia duduk di tepi ranjang, sepatu sudah dilepas, rambut diurai seadanya. Lampu kamar menyala redup, hanya cukup untuk menerangi meja kecil di sudut ruangan.Tangannya masih sedikit gemetar, bukan karena takut, melainkan karena sesuatu yang lebih mengganggu.Bukan menjatuhkan Ravian, bukan juga melukainya.Tapi berhasil membuatnya terasa.Perubahan lima sentimeter, sepuluh menit keterlambatan, keheningan yang biasanya ia isi kali ini dibiarkan kosong.Hal-hal kecil dan sepele namun cukup untuk menggeser keseimbangan seseorang yang hidup penuh kendali. Aruna menarik napas panjang.Selama tiga tahun terakhir, ia melatih dirinya untuk tidak bereaksi, untuk bertahan, untuk tidak runtuh ketika dunia bersikap kejam.Namun hari ini, untuk pertama kalinya, ia tidak hanya bertahan.Ia juga melawan dalam diam.Ia berdiri, berjalan ke jendela apartemennya. Lampu kota membentang seperti lautan cahaya. Hiruk pikuk yang terasa jauh dari hidupnya sendiri.“Aira…

  • Dibalik Dendam Sekretaris   6. Memberi sedikit retakan

    Pagi itu, Aruna duduk di mejanya seperti biasa. Rambut rapi. Wajah tenang. Tidak ada sisa ketegangan dari hari sebelumnya.Ravian datang tepat pukul tujuh tiga puluh.“Kopi.”Aruna menyiapkan kopi seperti biasa. Hitam. Tanpa gula. Tanpa krim.Namun kali ini, ia menaruhnya dengan jarak lima sentimeter lebih ke kiri dari biasanya.Hanya itu.Ravian duduk. Membuka laptop. Tangannya bergerak refleks ke kanan namun ia merasa sedikit kosong.Ia pun berhenti.Matanya turun ke meja. Kopi itu ada di sana hanya tidak di tempat yang tidak biasanya.“Kau memindahkannya,” kata Ravian datar.“Apanya, Pak?” tanya Aruna tanpa mengangkat kepala. “Kopinya.”“Oh,” Aruna menoleh sekilas. “Maaf. Tadi meja Anda dipakai staf IT. Saya geser sedikit.”Hening.Ravian menatap cangkir itu beberapa detik lebih lama dari wajar.Lalu ia mengambilnya.“Jangan ulangi.”“Baik, Pak.”Nada Aruna patuh. Sempurna.Namun di dalam kepalanya, satu kalimat terpatri:Kontrolmu bergantung pada kebiasaan. Dan kebiasaan… bisa di

  • Dibalik Dendam Sekretaris   5. Hari terberat

    Pertemuan kali ini diatur di luar kantor pusat. Sebuah rumah tua di pinggir kota. Halamannya luas, tapi kosong. Tidak ada papan nama. Tidak ada tetangga yang terlihat. Hanya suara angin dan daun kering.Aruna tahu satu hal sejak mobil berhenti, ini bukan tempat untuk diskusi bisnis biasa.“Masuk,” kata Ravian.Di ruang tamu, seorang pria menunggu.Tubuhnya kurus. Jasnya kusut. Wajahnya menyimpan kelelahan yang tidak bisa disamarkan. Di depannya, sebuah map cokelat sudah terbuka, seolah ia ingin memastikan isinya terlihat.“Pak Ravian,” ucap pria itu cepat, terlalu cepat.“Terima kasih sudah memberi saya kesempatan.”Ravian duduk tanpa menjawab. Aruna berdiri di sampingnya, tablet di tangan.“Kau tahu kenapa kau ada di sini,” kata Ravian akhirnya.Pria itu mengangguk. “Proyek pelabuhan… gagal. Saya bertanggung jawab penuh.”“Bukan gagal,” koreksi Ravian dingin. “Kau membuat Elion Group rugi besar.”Pria itu menunduk. Tangannya gemetar.“Saya tidak punya uang untuk mengganti semuanya,

  • Dibalik Dendam Sekretaris   4. Cara kerja bisnis

    Pagi itu, Aruna datang dengan satu kesimpulan baru: ia tidak boleh terlihat tahu apa pun.Ia masuk kantor seperti biasa. Wajah tenang.Langkah terukur. Tidak ada perubahan sikap, tidak ada perhatian berlebihan.Ravian sudah ada di ruangannya.Itu jarang terjadi.“Pagi, Pak,” sapa Aruna.“Kopi.”Nada yang sama. Dingin. Terkontrol.Aruna menyiapkan kopi hitam tanpa gula. Ia meletakkannya di tempat yang sama seperti kemarin.Ravian menyesapnya.“Rasa kopinya konsisten.”“Saya tidak mengubah apa pun.”“Bagus.”Pagi berjalan tanpa celah.Rapat demi rapat. Telepon masuk tanpa henti. Jadwal padat, ditekan, dipercepat.Ravian terlihat… terlalu stabil untuk orang yang kemarin terlihat begitu kelelahan. Itu justru yang membuat Aruna waspada.Menjelang siang, satu kesalahan kecil terjadi.Bukan kesalahan besar.Hanya satu dokumen yang seharusnya di meja Ravian, belum sampai.“Dokumen keuangan kuartal dua,” kata Ravian tanpa menoleh.Aruna membeku sepersekian detik.“Maaf, Pak. Lima menit.”Ia

  • Dibalik Dendam Sekretaris   3. Ritme

    Pagi itu dimulai lebih cepat dari yang Aruna perkirakan.Belum pukul tujuh, email di tablet kerjanya sudah berderet. Beberapa ditandai prioritas tinggi. Beberapa lain berisi perubahan jadwal yang datang terlalu dini untuk disebut wajar.Aruna baru saja duduk ketika pintu ruang CEO terbuka.“Kopi.”Satu kata. Nada datar.Aruna berdiri tanpa komentar. Lima menit kemudian, ia kembali dengan secangkir kopi hitam tanpa gula, tanpa krim. Ia meletakkannya di meja Ravian, tepat di sisi kanan laptop.Ravian melirik sekilas.“Kau mengingatnya.”“Bukan hal sulit, Pak.”“Banyak orang gagal pada hal-hal sederhana.”Aruna tidak menanggapi. Ia kembali ke mejanya, membuka agenda hari itu, dan menyiapkan daftar panggilan.Menjelang pukul delapan, rapat internal pertama dimulai.“Divisi operasional terlambat,” lapor Aruna pelan saat mereka berjalan menuju ruang rapat.“Berapa menit?”“Sepuluh.”“Catat.”“Baik.”Di dalam ruang rapat, Ravian duduk di ujung meja. Ia tidak menunggu semua orang hadir. Keti

  • Dibalik Dendam Sekretaris   2. Permulaan

    Aruna segera menyadari bahwa menjadi sekretaris pribadi Ravian Elarion bukan tentang kemampuan administratif semata.Ini tentang ketahanan.Hari pertamanya dimulai tanpa orientasi. Tidak ada penjelasan alur kerja, tidak ada perkenalan dengan jajaran eksekutif, bahkan tidak ada catatan singkat tentang kebiasaan sang CEO. Ia hanya diberi satu tablet, akses penuh ke email eksekutif, dan sebuah kalimat pendek sebelum Ravian masuk ke ruangannya.“Pelajari jadwal saya.”"Baik Pak."Tidak ada tambahan. Tidak ada instruksi lanjutan.Aruna duduk di mejanya, tepat di luar ruang CEO, dan membuka kalender yang hampir sepenuhnya terisi. Rapat internal, pertemuan dengan investor, panggilan lintas zona waktu, semuanya tersusun rapat tanpa jeda. Tidak ada ruang kosong, bahkan untuk kesalahan kecil.Ia menarik napas pelan.Baik, pikirnya. Ini standar yang kau mau.Aruna bekerja dalam diam. Ia mencatat setiap perubahan jadwal, memeriksa ulang setiap detail lokasi dan waktu, serta menyusun ulang priori

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status