Se connecterAruna segera menyadari bahwa menjadi sekretaris pribadi Ravian Elarion bukan tentang kemampuan administratif semata.
Ini tentang ketahanan. Hari pertamanya dimulai tanpa orientasi. Tidak ada penjelasan alur kerja, tidak ada perkenalan dengan jajaran eksekutif, bahkan tidak ada catatan singkat tentang kebiasaan sang CEO. Ia hanya diberi satu tablet, akses penuh ke email eksekutif, dan sebuah kalimat pendek sebelum Ravian masuk ke ruangannya. “Pelajari jadwal saya.” "Baik Pak." Tidak ada tambahan. Tidak ada instruksi lanjutan. Aruna duduk di mejanya, tepat di luar ruang CEO, dan membuka kalender yang hampir sepenuhnya terisi. Rapat internal, pertemuan dengan investor, panggilan lintas zona waktu, semuanya tersusun rapat tanpa jeda. Tidak ada ruang kosong, bahkan untuk kesalahan kecil. Ia menarik napas pelan. Baik, pikirnya. Ini standar yang kau mau. Aruna bekerja dalam diam. Ia mencatat setiap perubahan jadwal, memeriksa ulang setiap detail lokasi dan waktu, serta menyusun ulang prioritas tanpa perlu bertanya. Ia mengamati ritme Ravian dari kejauhan, cara pria itu berjalan cepat tanpa terlihat terburu-buru, cara ia berhenti hanya untuk mendengar poin inti, dan cara orang-orang secara refleks menyingkir memberi jalan ketika ia lewat. Ravian Elarion tidak pernah meninggikan suara. Namun semua orang mendengarkan. Menjelang siang, krisis pertama muncul. “Rapat dengan Orion Capital dimajukan tiga puluh menit.” Suara Ravian terdengar dari ambang pintu ruangannya, datar dan singkat. Ia tidak menunggu jawaban. Aruna langsung membuka detail rapat. Orion Capital adalah investor besar. Perubahan jadwal mendadak berarti risiko, bukan hanya soal waktu, tapi juga kesiapan dokumen dan pihak terkait. “Tim legal belum mengirimkan revisi terakhir,” lapor Aruna setelah mengecek cepat. “Kejar,” jawab Ravian singkat. Tidak ada diskusi. Tidak ada kompromi. Aruna berdiri, berjalan cepat menuju meja tim legal, lalu kembali dengan wajah tetap tenang meski pikirannya bekerja keras. Ia mengirim email, melakukan panggilan singkat, dan menyusun ulang susunan dokumen yang ada. Semua dilakukan dalam waktu terbatas. Saat rapat dimulai, Ravian sudah duduk di ujung meja dengan postur tegak dan ekspresi tak terbaca. Aruna berdiri di samping, menyerahkan map terakhir tepat sebelum diskusi dimulai. Tidak ada komentar. Namun Ravian melirik sekilas ke arahnya, cukup lama untuk memastikan satu hal: pekerjaan itu selesai. Rapat berjalan tegang. Beberapa kali diskusi nyaris keluar jalur, namun Ravian mengembalikannya dengan satu atau dua kalimat dingin. Aruna mencatat semuanya, memastikan tidak ada poin terlewat. Ketika rapat berakhir, Ravian berdiri lebih dulu. “Laporan,” katanya. “Sore ini,” jawab Aruna. “Sekarang.” Aruna mengangguk. Ia kembali ke mejanya dan menyusun ringkasan rapat dalam waktu singkat, merangkum poin utama tanpa embel-embel. Saat ia menyerahkannya, Ravian membaca cepat. “Cukup,” ucapnya akhirnya. Bukan pujian. Namun juga bukan penolakan. Hari berjalan tanpa jeda. Panggilan masuk silih berganti. Perubahan jadwal terjadi hampir setiap jam. Aruna bekerja nyaris tanpa mengangkat kepala, memastikan semua berjalan sesuai ritme yang diinginkan Ravian, ritme yang tidak memberi ruang bagi siapa pun untuk bernapas terlalu lama. Di sela kesibukan itu, Aruna sempat memperhatikan satu hal kecil. Ravian berhenti sejenak di depan pintu ruangannya, menutup mata selama beberapa detik, lalu melanjutkan langkah seolah tidak terjadi apa-apa. Aruna mengalihkan pandangan. Ia tidak datang untuk memperhatikan hal-hal yang tidak perlu. Namun menjelang sore, kejadian serupa terulang. Kali ini lebih lama. Ravian berdiri di dekat jendela ruangannya, tangan bertumpu pada bingkai kaca, bahunya sedikit menegang. Aruna menunggu. Beberapa detik kemudian, Ravian kembali duduk dan memanggilnya. “Jadwal besok.” Aruna menyerahkan tablet tanpa komentar. Ravian memeriksanya singkat. “Batalkan makan siang dengan divisi pemasaran.” “Baik.” “Dan majukan rapat internal.” “Pada jam berapa?” Ravian terdiam sejenak. Pandangannya kosong, seolah sedang mencari sesuatu yang tidak ada di ruangan itu. “Jam sembilan,” jawabnya akhirnya. Aruna mencatat. Tidak bertanya. Tidak menatap lebih lama dari yang diperlukan. Menjelang malam, sebagian besar staf sudah pulang. Lampu-lampu kantor meredup, menyisakan keheningan yang tidak nyaman. Aruna masih di mejanya ketika Ravian keluar dari ruangannya. “Kau belum pulang.” Bukan pertanyaan. “Masih ada laporan yang perlu dirapikan,” jawab Aruna. Ravian menatapnya sekilas. Tatapannya dingin, namun ada sesuatu yang lain di sana, bukan emosi, melainkan kelelahan yang tertahan. “Pekerjaan ini tidak menuntut pengorbanan pribadi,” katanya datar. “Tidak semua orang memisahkan keduanya dengan mudah,” jawab Aruna, tanpa bermaksud menantang. Hening. Beberapa detik berlalu sebelum Ravian mengangguk tipis dan melangkah pergi. Saat Aruna akhirnya meninggalkan gedung, langit sudah gelap. Ia berhenti sejenak di depan pintu keluar, menarik napas panjang. Hari ini berjalan sesuai rencana. Ia diterima. Ia bertahan. Ia tidak membuat kesalahan. Namun ada satu hal yang mengganggunya ini bukan simpati, bukan empati, melainkan pengamatan. Ravian Elarion bukan pria yang tampak gelisah. Bukan pula seseorang yang mudah goyah. Namun ada jeda-jeda singkat dalam dirinya, seperti retakan halus yang cepat ditutup kembali. Aruna menepis pikiran itu. Itu bukan urusanku, katanya pada diri sendiri. Ia membuka buku agenda kecilnya begitu sampai di apartemen. Di bawah kalimat pertama yang ia tulis kemarin, ia menambahkan satu catatan baru. Catat semua kejanggalan. Jangan terlewat dan jangan terlibat. Aruna menutup buku itu. Kebenciannya pada Ravian tidak berkurang. Jika ada, justru semakin mengeras. Pria itu berdiri di puncak dengan kendali penuh, sementara Aira berakhir di meja autopsi dengan bekas cekikan di lehernya. Aruna tidak datang untuk bersimpati. Ia datang untuk menunggu waktu yang tepat. Dan hari ini hanyalah permulaan.Pintu kaca gedung terbuka otomatis saat mereka mendekat.Udara dingin dari pendingin ruangan langsung menyambut.Lobi J Corps terlihat mewah, tapi dengan gaya yang berbeda dari Elion.Bukan elegan.Lebih ke… mencolok.Terlalu banyak marmer.Terlalu banyak emas.Terlalu banyak hal yang seolah ingin berkata “kami kaya”.Aruna berjalan setengah langkah di belakang Ravian seperti biasa.Pegawai di lobi yang melihat kedatangan Ravian segera berlari kecil menghampiri. "Selamat datang Pak Ravian Elarion, saya akan memandu anda ke ruangan."Ravian tidak membalas apapun, namun pegawai itu langsung menuntunnya dan Ravian juga langsung mengikuti dari belakang. Aruna mengikuti di belakang Ravian, matanya menyapu lorong panjang yang dipenuhi lukisan besar dan lampu gantung berlebihan.Semakin masuk ke dalam, suasananya semakin sunyi.Hingga akhirnya mereka berdiri di depan pintu ruangan yang begitu besar dan mewah. 'Sepertinya CEO perusahaan ini benar-benar ingin menunjukkan kalau dia kaya.' Ba
Aruna keluar dari apartemen Vio dengan langkah pelan.Lorong apartemen sunyi.Hanya suara langkahnya sendiri yang terdengar.Pukul sudah lewat tengah malam.Udara terasa lebih dingin dari biasanya.Ia menekan tombol lift tanpa benar-benar sadar.Pikirannya masih tertinggal di ruang tamu tadi.Di kata-kata Vio.Di foto dokter.Dan entah kenapa… di senyum Ravian sore tadi.Pintu lift terbuka.Aruna masuk.Bersandar di dinding.Menatap pantulan dirinya di cermin.Wajahnya terlihat lelah.Bukan karena pekerjaan.Tapi karena pikirannya yang tak berhenti berjalan."Aku harus segera pulang, besok masih banyak yang harus dilakukan."Termasuk untuk mencari tahu, apakah dokter itu sungguhan dokter Ravian. Pintu lift terbuka di lantai parkir.Langkahnya kembali terdengar pelan di ruangan luas itu.Mobilnya menyala dengan bunyi halus.Ia keluar dari area apartemen dan menyusuri jalanan kota yang hampir kosong.Lampu-lampu jalan memanjang seperti garis tak berujung di depan matanya.Sepanjang per
Bel pintu restoran berdenting pelan saat Aruna masuk.Aroma makanan hangat menyambut.Tempat itu sama seperti biasa.Tenang.Akrab.Dan terasa nyaman.Vio sudah duduk di meja pojok.Topi hitamnya masih terpasang, dan ekspresinya selalu santai seperti biasanya. Ia langsung berdiri begitu Aruna mendekat.“Kau lama sekali.”“Aku dari luar kantor.”"Sepertinya kau bekerja keras setiap harinya." Vio kembali duduk setelah membantu menarik kursi untuk Aruna duduk. "Ya, begitulah." Ia tak akan bilang bahwa ia selesai menghabiskan waktu dengan es krim dan wahana permainan. "Jadi, hal penting apa yang ingin kau tunjukkan padaku?" tanya Aruna dengan cepat, sebelum Vio mulai menanyainya apa saja yang ia lakukan hari ini. "Ah benar," Vio segera mengeluarkan tabletnya dan meletakkan di atas meja. "Aku menemukan hal baru," ia menggeser layar-layar tabletnya dan membuka ke aplikasi Galeri. Aruna bisa menebak bahwa hal penting ini berupa gambar. Dan saat Vio tengah mencari-cari gambar untuk dit
Kabin bianglala berhenti beberapa detik di puncak.Tidak bergerak.Seolah sengaja memberi waktu lebih lama pada pemandangan itu.Dan pada mereka.Lampu kota di bawah sudah menyala penuh.Langit tinggal menyisakan garis oranye tipis di ujung barat.Ravian tidak mengalihkan pandangannya dari Aruna.“Aneh ya,” ucapnya pelan.“Apa, Pak?”“Aku merasa hari ini kau yang membawaku keluar… tapi entah kenapa rasanya seperti aku yang sedang melihatmu keluar dari sesuatu.”Aruna terdiam.Kalimat itu terasa terlalu dekat.Terlalu tepat.Ravian menyandarkan kepalanya ke kaca.“Sejak tadi, kau terlihat seperti orang yang sedang berpikir keras. Bukan tentang pekerjaanku. Tapi tentang dirimu sendiri.”Aruna refleks mengalihkan pandangan.Ke luar.Ke kota.Ke mana saja asal bukan ke pria di depannya.Bianglala mulai bergerak turun perlahan.Suara wahana mulai terdengar lagi dari bawah.Aruna akhirnya menoleh.Menatap Ravian dengan sorot yang sulit dijelaskan."Apakah anda ingin kembali bekerja lembur?"
Mereka berjalan pelan menjauh dari area rollercoaster.Langkah Ravian masih sedikit tidak stabil.Bukan karena lemah.Tapi karena tubuhnya masih mencoba mengejar napas yang tadi sempat tertinggal di tikungan-tikungan tajam itu.Aruna berjalan di sampingnya tanpa bicara.Sesekali melirik.Memastikan pria itu benar-benar masih “di sini”.Bukan kembali tenggelam ke dalam pikirannya sendiri.Mereka berhenti di dekat bangku panjang di bawah pohon besar, agak jauh dari keramaian.Ravian duduk lebih dulu.Mengusap wajahnya pelan.Lalu tertawa kecil lagi.Pendek.Ringan.Seolah ia sendiri heran kenapa bisa tertawa hari ini.“Aku tidak ingat kapan terakhir kali jantungku berdetak karena hal yang tidak berhubungan dengan pekerjaan,” ucapnya pelan.Aruna ikut duduk.“Berarti terapi kejut saya berhasil, Pak.”Ravian menoleh.Menatap Aruna beberapa detik lebih lama dari biasanya.Tatapan yang tidak tajam.Tidak menilai.Hanya… melihat.“Kau tahu kenapa aku tadi ikut saja waktu kau menarikku ke sin
Aruna mengedip pelan.“…Es krim, Pak?”Ravian sudah mengambil jasnya dari sandaran kursi.“Sekarang.”Tanpa Aruna sempat berpikir lama, mereka berdua sudah berada di dalam Super Mart yang hanya berjarak 7 menit jika berjalan kaki dari Elion Group. Aruna sesekali melirik ke arah pria yang duduk di sampingnya ini. Ia tak menyangka rupanya ia juga bisa makan es krim? Aruna pikir dinginnya sifat Ravian itu sudah tak memerlukan es krim lagi. Mereka duduk tepat menghadap ke jalanan, menatap orang berlalu-lalang dengan es krim di tangan masing-masing. Ravian membuka tutup cup es krimnya pelan.Tidak langsung makan.Ia hanya menatap permukaannya beberapa detik.Putih.Tenang.Rapi.Seperti tidak pernah disentuh.Baru setelah itu ia menyendok sedikit dan memasukkannya ke mulut.Aruna memperhatikannya diam-diam.Aneh.Pria yang biasanya tidak pernah terlihat “berhenti” ini… sekarang terlihat seperti sedang berhenti dari semuanya.Tidak ada dokumen, tidak ada telepon, tidak ada ekspresi tega







